Saat Popularitas BTS Sukseskan IPO Big Hit Entertainment

Berkah Rio

[Waktu baca: 7 menit] 

Fans sejati grup idola Korea Selatan BTS tentu tahu bahwa pekan lalu terjadi peristiwa besar dalam sejarah grup idol tersebut. Agensi yang menaungi grup idola yang dipimpin oleh Kim Nam-joon atau RM tersebut, yakni Big Hit Entertainment Co. pekan lalu baru saja resmi mencatatkan sahamnya di bursa efek Korea Selatan.

IPO agensi hiburan ini cukup fenomenal, sebab dilakukan di tengah krisis ekonomi akibat pandemi, tetapi tetap sukses besar. Perusahaan tersebut berhasil mengantongi hampir 963 miliar won, atau setara US$840 juta, dan mencetak sejarah sebagai IPO terbesar di Korea Selatan sejak Juli 2017.

Valuasi perusahaan yang masih relatif muda ini bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan gabungan valuasi dari tiga perusahaan agensi hiburan besar K-Pop, atau Big 3, yakni SM Entertainment, YG Entertainment, dan JYP Entertainment. Gabungan valuasi ketiganya sekitar 2,7 triliun won (US$3 miliar) per Senin (19 Oktober 2020).

Hal ini terjadi karena pada hari pertama perdagangan sahamnya, yakni Kamis (15 Oktober 2020) pekan lalu, saham Big Hit Entertainment langsung dibuka di harga 270.000 won per saham (US$235), naik dua kali lipat atau 100% dibandingkan harga penawaran IPO-nya yang senilai 135.000 won per saham (US$118).

Valuasinya melejit menjadi sekitar 9,1 triliun won (US$7,9 miliar). Harganya pada hari pertama tersebut bahkan sempat memuncak menjadi 351.000 won per saham dan menempatkan valuasi perusahaan menjadi sekitar 11,9 triliun won (US$10,3 miliar).

Namun, apakah sukses sesaat ini menjadi jaminan bahwa saham Big Hit Entertainment memang sangat menarik untuk dikoleksi oleh investor mancanegara? Apakah pamor BTS cukup untuk membantu perusahaan tetap mencetak untung di tengah tantangan pandemi dan resesi?

Saham Langsung Terkoreksi

Kenaikan hari pertama saham Big Hit Entertainment rupanya tidak berlangsung lama. Meskipun dibuka di harga 270.000 won per saham, tetapi pada akhir perdagangan hari itu, sahamnya turun ke level 258.000 won per saham. Jika dibandingkan harga IPO-nya, harga penutupan ini memang masih lebih tinggi 91,11%.

Namun, dua hari perdagangan setelahnya, yakni Jumat (16 Oktober 2020) dan Senin (19 Oktober 2020), saham Big Hit Entertainment mulai dilepas oleh investor. Sahamnya pun mulai turun tajam. Berikut ini pergerakan harga sahamnya dalam tiga hari perdagangan terakhir menurut data Yahoo Finance (dalam won):

Tentu masih terlalu dini untuk menghakimi prospek saham Big Hit Entertainment ini hanya berdasarkan pergerakan sahamnya dalam tiga hari. Berbagai kemungkinan masih terbuka untuk terjadi di hari-hari perdagangan selanjutnya. Sahamnya bisa saja naik lagi atau malah turun lebih dalam.

Meskipun demikian, pergerakan harga saham baru serupa ini kerap terjadi juga di pasar modal Indonesia. Tak jarang, kenaikan harga yang luar biasa bahkan terjadi selama beberapa hari berturut-turut. Namun, kenaikan harga yang tak wajar hampir selalu akan diikuti oleh koreksi yang tajam pula setelahnya.

Dari sisi bisnisnya, tahun lalu kinerja Big Hit Entertainment cukup mengesankan. Namun, rupanya perusahaan ini masih membukukan rugi pada 2018. Meskipun demikian, tahun lalu perusahaan sudah membukukan laba. Sayangnya, belum tersedia laporan keuangan perusahaan yang bisa diakses untuk periode paruh pertama 2020.

Berikut ini kinerja keuangan Big Hit Entertainment seperti yang ditampilkan di situs resminya, bighitcorp.com :

Laporan Posisi Keuangan atau Neraca (dalam miliar won):

Laporan Laba Rugi (dalam miliar won):

Dari kedua tabel tersebut, terlihat bahwa kinerja keuangan Big Hit Entertainment mengalami peningkatan yang cukup pesat sepanjang 2019. Ekuitas dan pendapatan perusahaan tumbuh hampir dua kali lipat. Perusahaan juga berhasil membalikkan rugi 70 miliar won pada 2018 menjadi laba senilai 72 miliar won tahun lalu.

Bila hanya berkaca dari kinerja keuangan 2019, tentu saja sangat mengesankan. Namun, dalam laporan tersebut belum terefleksi dampak pandemi yang terjadi secara global terhadap bisnis Big Hit Entertainment tahun ini.

Adapun, berdasarkan data worldometers, total kasus Covid-19 di Korea Selatan mencapai 25.275 orang per Senin (19 Oktober 2020). Dari jumlah tersebut, total kematian mencapai 444 orang, sedangkan kesembuhan mencapai 23.368 orang. Penderita aktif kini tinggal 1.463 orang.

Korea Selatan sendiri sudah resmi masuk dalam jurang resesi, setelah selama dua kuartal berturut-turut mengalami penurunan ekonomi, yakni -1,3% quarter on quarter (qoq) pada kuartal I/2020 dan -3,3% qoq pada kuartal II/2020.

Ditentukan oleh BTS

Sukses dan gagalnya bisnis Big Hit Entertainment dalam jangka pendek tampaknya akan sangat bergantung pada grup idola BTS.

BTS beranggotakan tujuh pemuda, yakni Kim Tae-hyung (lebih dikenal dengan nama panggung V), Jung Ho-seok (J-Hope), Kim Nam-joon (RM), Kim Seok-jin (Jin), Park Ji-min, Jeon Jung-kook, and Min Yoon-gi (Suga). Sejak 2013, mereka memulai debut bersama Big Hit Entertainment.

Sepanjang 2019 lalu, Big Hit Entertainment memang berhasil mencetak pendapatan 587 miliar won, naik 95% secara tahunan (year on year/yoy). Namun, kabarnya sekitar 97% di antaranya disumbangkan oleh BTS sendiri.

Dalam websitenya, Big Hit Entertainment mengungkapkan bahwa artis di bawah labelnya hanya tiga, yakni BTS, yang disebut sebagai "The Beatles of the 21st Century", lalu ada TOMORROW X TOGETHER (TXT), dan penyanyi solo pria beraliran ballad soul Lee Hyun. Kontrak dengan BTS sendiri akan berakhir pada akhir 2024.

Pertanyaan yang akan membayangi kelanjutan bisnis dan saham Big Hit Entertainment adalah seberapa lama mereka akan mampu mempertahankan kepopuleran BTS? Saat ini, kepopuleran grup idola tersebut disejajarkan dengan The Beatles pada zamannya.

Grup ini menjadi band ketiga, setelah The Beatles dan The Monkees, yang berhasil menempatkan tiga albumnya di posisi puncak di tangga lagu Billboard 200 dalam waktu kurang dari 12 bulan pada 2019 lalu. Kesuksesan itulah yang melejitkan pendapatan Big Hit Entertainment tahun lalu.

Namun, sudah menjadi rahasia bersama bahwa debut artis atau grup idola tidak selamanya akan berada di puncak. The Beatles pun memiliki akhir.

Akan tiba saatnya kemunduran mulai terjadi, terutama seiring bertambah tuanya para personilnya. Sayangnya, pandemi pun melanda dunia persis di periode puncak kepopuleran grup idola ini.

Isu yang juga cukup mengganggu yakni wajib militer sekitar 20 bulan yang kemungkinan harus dijalankan oleh para anggota personil grup ini. Meskipun demikian, ada kemungkinan mereka akan dibebaskan dari kewajiban ini karena mengingat kontribusi mereka terhadap pendapatan devisa negara.

Selama masa pandemi, kepopuleran BTS tampaknya tidak merosot. Grup ini masih merilis beberapa lagu dan video musik baru serta menggelar pertunjukkan secara daring dengan cukup sukses. Perusahaan juga mengembangkan aplikasi Weverse untuk menampilkan pertunjukan daring.

Terbaru, BTS menggelar konser daring bertajuk Map of the Soul ON:E pada Sabtu (10 Oktober 2020) melalui aplikasi itu. Jumlah penontonnya pun diklaim hampir mencapai 1 juta. Rencananya, pada November 2020 nanti BTS akan kembali merilis album kedua tahun ini, yakni “BE”.

Suksesnya IPO Big Hit Entertainment juga tidak terlepas dari peran para ARMY, sebutan untuk penggemar BTS, yang melakukan upaya promosi mandiri terhadap BTS dan meningkatkan kepopuleran BTS.

Daya tarik saham Big Hit Entertainment sangat erat berhubungan dengan prospek yang menjanjikan dari kepopuleran BTS ini akibat peran ARMY. BTS saat ini menjadi aset terbesar dan paling diandalkan oleh perusahaan ini.

Lantas, apakah para ARMY akan tinggal diam menyaksikan saham idolanya mulai terjun bebas dua hari terakhir? Apakah kekuatan penggemar yang mampu mendongkrak kepopuleran BTS hingga ke level internasional akan mampu juga mengerek sahamnya naik makin tinggi? Kita tunggu saja.
 

Investasi