Riwayat dan Kunci Sukses Hary Tanoesoedibjo Membangun Singgasana Bisnis

Emha Asror

“Sukses adalah proses yang harus diperjuangkan,” kata Hary Tanoesoedibjo. “Banyak yang ingin sukses tapi tidak mau menjalankan prosesnya,” sambung pria bergelar Master of Business Administration dari Ottawa University itu membagikan kunci di balik keberhasilannya dalam membangun dan mengembangkan singgasana bisnis, seperti dikutip sejumlah media tahun lalu.

Memang, bisa dibilang, tanpa ada kerja keras Hary—demikian sosok kelahiran Surabaya 26 September 1965 itu karib disapa—dalam melewati pelbagai macam proses, siapapun tak akan bisa melihat kesuksesan yang sudah diperoleh sederet perusahaan miliknya seperti sekarang ini.

Dalam mengembangkan PT Bhakti Investama Tbk, misalnya. Jika banyak perusahaan bertumbangan di tengah masa krisis ekonomi Indonesia pasca lengsernya Orde Baru, perusahaan yang didirikan di 1989 itu justru banyak melakukan merger dan akuisisi.

Di tahun 2000, kerja keras Hary membawa perusahaan yang kini bernama PT MNC Investama Tbk itu mengambil alih sebagian saham Bimantara Citra. Ketika mayoritas saham sudah ia miliki, nama Bimantara Citra kemudian diubah menjadi Global Mediacom.

Sebelum banyak melakukan akuisisi, perusahaan ini semula hanya berfokus pada jasa sekuritas. Di 1994, dengan berpindah lokasi kantor dari Surabaya ke Jakarta, barulah PT Bhakti Investama Tbk memperluas cakupan usahanya, termasuk penyedia jasa konsultasi saham dan keuangan, jasa riset, juga reksa dana.

Tiga tahun berselang, pada 24 November 1997 tepatnya, perusahaan resmi melantai perdana di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya—kini, dua bursa itu digabung menjadi Bursa Efek Indonesia. Initial public offering alias IPO yang dilakukan Hary ini pun berhasil meraup dana sekitar Rp 80 miliar.

“Padahal, awalnya saya dirikan hanya dengan modal Rp 64 juta. Lalu, saya manfaatkan untuk menghimpun modal sebanyak-banyaknya untuk mengembangkan bisnis dari primary market,” kenang Hary di 2015 silam dalam acara “Investor Summit 2016”.

Hary Tanoe memang dikenal cukup pintar menarik dana dari berbagai pihak. Tercatat, Hary sempat mengajak salah satu anggota Keluarga Cendana, Titiek Soeharto, dan philantrofis global George Soros masuk dalam jajaran pemegang saham minoritas di PT Bhakti Investama, walaupun keduanya tidak lama. 

Di awal-awal 2000-an, Hary bersama PT Bhakti Investamanya itu bisa dibilang merupakan yang paling mengundang decak kagum di pasar saham. Ketika itu, ia dengan Bhaktinya itu terhitung tak sedikit terlibat dalam pembelian banyak perusahaan, seperti Astra Internasional sebanyak 3 persen, PT Bentoel Prima sebesar 75 persen, PT Indomarco Prismatama yang terkenal dengan brand waralaba Indomaretnya sekitar 51 persen, PT Salim Oleochemical 100 persen, dan yang paling utama adalah PT Bimantara Citra.  

“Saat krisis 1998 banyak perusahaan terancam gulung tikar karena terjerat kredit macet. Aset yang murah ini merupakan ceruk yang saya manfaatkan untuk melakukan bisnis jual-beli perusahaan... Dalam krisis, orang bisa melihatnya sebagai kendala, bisa juga tantangan. Pada intinya, kesempatan terbesar hadir saat anomali,” papar Hary mengenai aksi korporasi dengan Bhaktinya itu.

Hari-hari ini, meski menggeluti banyak bidang usaha, Hary dikenal lebih piawai menjalankan bisnis media penyiaran dan telekomunikasi. Terhitung, melalui Bimantara Citra alias Global Mediacom, pria pemegang gelar Bachelor of Commerce (Honours) dari Carleton University itu tak cuma mengendalikan PT Rajawali Citra Televisi Indonesia atau RCTI.

Setidaknya, berdasar laporan keuangan milik perusahaan pada Kuartal III di 2020 lalu, lewat Global Mediacom ada 13 anak perusahaan dimiliki Hary Tanoe yang fokus bisnisnya di bidang media penyiaran dan telekomunikasi. Sedangkan majalah ekonomi dan bisnis Trust, Trijaya FM, juga Global TV hanya menjadi salah satunya.

Sementara itu, dari catatan majalah Forbes di Desember 2020 lalu, total kekayaan bersih Hary Tanoe kini mencapai USD 950 juta yang dihasilkan dari berbagai macam bidang usaha, meliputi bisnis keuangan dengan PT MNC Kapital Indonesia Tbk, transportasi dan infrastruktur melalui PT Global Transport Services, pertambangan lewat PT MNC Energi, properti dengan PT MNC Land Tbk, dan anak usaha lainnya. Kami pernah mengulas secara khusus saham Bank MNC Internasional (BABP) dalam artikel berikut: Menanti Pembuktian Hary Tanoe di Bank Digital (BABP)

Riwayat Mini Hary Tanoe

Tak cuma lahir di Surabaya 55 tahun lalu, Hary Tanoe juga tumbuh dan besar di Kota Pahlawan itu. Rajin mengubah haluan bisnis sejak muda, Hary memang lahir dari seorang ayah pengusaha lokal di kota itu. Hary bukanlah anak tunggal, tapi ia adalah bungsu dari tiga bersaudara.   

Tamat pendidikan menengah di SMAK St. Louis di Surabaya, ia kemudian lanjut ke  Carleton University. Di kampus yang terletak di Ottawa, Kanada, itu ia berhasil beroleh gelar Bachelor of Commerce di 1988. Setahun berselang, di kota yang sama di 1989, ia melengkapi gelar akademiknya dengan mendapat titel Master of Business Administration.

Hary menikah dengan Liliana Tanaja sebelum ia berangkat meneruskan studinya ke Kanada. Satu tahun sebelum ia bergelar sarjana, istrinya melahirkan Angela Herliani Tanoesoedibjo di 1987. Enam tahun usai persalinan anak sulungnya itu, lahir Valencia Herliani Tanoesoedibjo di 1993. Setahun berikutnya, di 1994 giliran anak ketiga Jessica Herliani Tanoesoedibjo yang lahir. Sedangkan anak keempat Clarissa Herliani Tanoesoedibjo dan sang bungsu Warren Haryputra Tanoesoedibjo, masing-masing lahir di 1996 dan 2000.

Di samping aktif di dunia bisnis dan politik, Hary berkecimpung pula di kegiatan sosial. Antara lain, ia sempat menjabat bendahara di Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat untuk peride 2003 hingga 2007.

Selain kerap diundang entah hanya sekadar sebagai pembicara seminar atau dosen tamu di berbagai perguruan tinggi, ia sekarang menjadi ketua di Federasi Futsal Indonesia untuk masa jabatan 2018 sampai 2022. Adapun di Persatuan Tinju Amatir Indonesia, Hary sempat juga menjabat dewan kehormatan untuk periode 2012 hingga 2016.

Tags:

Bisnis