Menanti Pembuktian Hary Tanoe di Bank Digital (BABP)

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 5 menit]

Hary Tanoesoedibjo sudah lama dikenal sebagai pengusaha kakap dengan jaringan bisnis yang membentang dari media hingga properti, dari pariwista hingga bank. Di samping sebagai pengusaha, Hary adalah politisi pendiri Partai Persatuan Indonesia (Perindo).

Orang terkaya ke-33 di Indonesia versi Forbes itu seringkali membuat kejutan dengan manuver di perusahaan-perusahaan yang dimilikinya. Mengingat sebagian perusahaan itu adalah perusahaan terbuka, manuver itu berdampak terhadap harga saham perusahaan itu

Manuver terbaru dari suammi Liliana Tanoesoedibjo itu adalah memutuskan untuk mentransformasikan Bank MNC Internasional (BABP) menjadi bank digital. Bank MNC Internasional akan mengoperasikan aplikasi bank digital bernama MotionBanking. Aplikasi itu, menurut manajemen Bank MNC, telah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Setelah pengumuman mengenai rencana pengoperasian bank digital itu pada 27 Mei 2021, saham BABP langsung melejit. Dalam 11 hari perdagangan, saham BABP menghijau di 9 hari perdagangan. Hanya pada Jumat (11 Juni 2021) BABP turun. 

Pada 10 Juni 2021, perdagangan saham BABP juga sempat dihentikan sementara (suspen) oleh Bursa Efek Indonesia. Secara year to date, harga saham BABP sudah melonjak lebih dari 600 persen sampai 14 Juni 2021. 

Peningkatan harga BABP ini segendang sepenarian dengan lonjakan harga saham bank digital lainnya seperti ARTO (Bank Jago), BBYB (Bank Neo Commerce) dan sebagainya yang telah terjadi lebih dulu.

Kenaikan harga BABP tersebut menunjukkan ekspektasi yang besar terhadap kinerja perusahaan di masa depan, bukan kondisi pada saat ini. Bagaimana sebenarnya prospek BABP? Seberapa menarik saham ini ditinjau dari prospek perusahaannya? Mari kita ulas.

Perjalanan Bank MNC

Sebagai pengingat, Bank MNC Internasional bukanlah bank yang didirikan oleh Hary Tanoe. Bank ini semula bernama Bank Bumiputera dan resmi beroperasi pada 12 Januari 1990. Sesuai namanya, bank itu terafiliasi dengan salah satu perusahaan asuransi jiwa tua Indonesia, AJB Bumiputera 1912.

Pada 2009, bank ini kemudian diakuisisi oleh ICB Financial Group sehingga nama bank berubah menjadi Bank ICB Bumiputera. Pada 2014, kendaraan bisnis milik Hary Tanoe yang mengendalikan bisnis jasa keuangan di grup MNC, MNC Kapital, mengakuisisi saham Bank Bumiputera tersebut. 

Bank itu kemudian berubah nama menjadi Bank MNC Internasional sekaligus memperkaya portofolio bisnis grup MNC yang sebelumnya telah bergerak di berbagai bidang, termasuk sekuritas hingga pembiayaan. Kepemilikan Bank MNC Internasional menambah panjang daftar konglomerat yang memiliki bisnis bank.

Belum pernah mendengar nama Bank MNC? Wajar. Kantor cabang Bank MNC hanya 16 di seluruh Indonesia. Bandingkan dengan bank-bank pelat merah seperti Bank Mandiri atau BRI yang memiliki ribuan cabang di seluruh Tanah Air, baik di pusat kota hingga pelosok desa. 

Ya, Bank MNC tidak masuk dalam kategori bank besar. Pada saat ini, bank ini masuk ke dalam kategori bank BUKU II atau bank yang memiliki modal Rp1 triliun-Rp5 triliun. Dari seluruh bank BUKU II, pangsa pasar Bank MNC sebesar 1,32 persen pada 2020.

Pangsa pasar itu ditilik dari jumlah kredit yang disalurkan oleh Bank MNC yang mencapai Rp7,12 triliun pada 2020 dari seluruh kredit dari bank BUKU II sebesar Rp539 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank MNC yang berkisar Rp9,2 triliun juga sekitar 1,4 persen dari total DPK bank BUKU II di Indonesia.

Kinerja Bank MNC juga relatif tidak mengesankan dibandingkan dengan bank Buku II lainnya atau industri bank secara keseluruhan. Kita bisa melihatnya dari berbagai indikator berikut ini:

Sumber: Laporan Tahunan Bank MNC

Pada 2020, pertumbuhan kredit yang disalurkan bank mengalami kontraksi akibat pandemi virus corona. Secara keseluruhan, pertumbuhan kredit industri bank Indonesia mengalami kontraksi 2,4 persen sepanjang 2020.

Kontraksi yang dialami oleh Bank MNC lebih besar daripada rata-rata penurunan di industri bank tersebut. Begitupula dengan pertumbuhan DPK yang masih lebih kecil daripada industri bank, walaupun lebih tinggi daripada pertumbuhan bank BUKU II secara khusus.

Sementara itu, marjin bunga bersih (net interest margin/NIM) Bank MNC sebesar 4,01 persen atau lebih kecil daripada rata-rata NIM di bank BUKU II sebesar 4,57 persen dan industri bank 4,45 persen.

Rasio profitabilitas bank MNC juga relatif rendah dibandingkan dengan rata-rata bank BUKU II dan industri bank. Return on asset (ROA) Bank MNC hanya 0,15 persen dan return on equity (ROE) hanya 0,88 persen. Sebagai contoh, salah satu bank besar di Indonesia yaitu Bank Central Asia (BBCA) memiliki ROE sebesar 16 persen pada 2020.

Secara bottom line, kinerja Bank MNC terpangkas hampir separuh pada 2020. Laba Bank MNC sebesar Rp10,4 miliar pada 2020 atau turun 49 persen dibandingkan dengan Rp20,4 miliar pada 2019. Penurunan laba bank itu bukan hanya dialami oleh Bank MNC, melainkan juga berbagai bank besar di Indonesia karena dampak pandemi. 

Pada 2021, seperti diungkapkan dalam Laporan Tahunan 2020, Bank MNC membidik peningkatan penyaluran kredit double digit hingga 15-16 persen. Aset diperkirakan meningkat hingga 5-6% pada 2021. 

Kompetisi Bank Digital

Seiring perjalanan waktu, di tengah euforia rencana berbagai bank menjajaki model bisnis baru bernama “bank digital”, Bank MNC juga tidak ingin ketinggalan. Bank ini mendaku telah mendapatkan izin digital onboarding dari regulator.

Dengan izin ini, nasabah dapat membuka rekening simpanan di MNC Bank secara online (digital) tanpa perlu ke kantor cabang. Selain menjangkau pengguna dalam negeri, MotionBanking juga membidik masyarakat Indonesia di luar negeri. 

Dengan layanan pembukaan rekening secara digital, pertumbuhan MNC Bank tidak lagi bergantung pada kantor cabang fisik, sehingga layanan perbankan dapat diakses dimanapun dan kapanpun juga.

MotionBanking berencana meningkatkan layanannya untuk mengaktifkan fungsi e-money, e-wallet, transfer digital, poin loyalitas, dan QRIS, menyajikan pembayaran billing dan pembelian dalam aplikasi secara nyaman, serta menawarkan pelayanan perbankan digital yang lengkap bagi penggunanya.

Menurut penjelasan manajemen Bank MNC, kombinasi rekening tabungan dan kartu kredit dalam MotionBanking, memungkinkan penggunanya untuk membayar cicilan kartu kredit dari rekening tabungan mereka dengan mudah, mengurangi risiko cicilan, serta meningkatkan kualitas kredit dan pengalaman pengguna.

Salah satu strategi MotionBanking untuk menumbuhkan bisnisnya adalah dengan memanfaatkan ekosistem MNC Gorup dengan jumlah pengguna yang besar. Ekosistem itu antara lain lebih dari 9 juta pelanggan TV berbayar dengan penambahan 3-4 juta pelanggan baru setiap bulan.

Selain itu, grup MNC yang memiliki jaringan kuat di industri media memiliki 63 juta Monthly Active User (MAU) dari layanan Over The Top (OTT) seperti RCTI+ dan Vision+. Lebih dari 50% populasi Indonesia yang menjadi pemirsa TV Free To Air (FTA).

Di samping itu, MNC memiliki lebih dari 75 juta MAU dari portal berita MNC Group, 230 juta pengikuti akun media sosial MNC Group di YouTube, Facebook dan TikTok dengan 45 miliar views. MNC juga memiliki koneksi ke lebih dari 400 artis dan entertainer papan atas.

Berbagai angka tersebut tentu saja begitu mempesona. Tidak semua bank yang memiliki lini usaha bank digital memiliki ekosistem dengan user base begitu besar seperti Bank MNC. Ekosistem jaringan MNC menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa dahsyat bagi Bank MNC.

Secara teoritis, sumber daya, infrastruktur dan jaringan bisnis MNC Group itu akan membantu pemasaran Bank MNC atau MotionBank untuk mencapai berbagai target pertumbuhan yang telah dipancang.

Namun, medan pertempuran bank digital tidaklah semudah itu ditaklukkan. Pemasaran memang merupakan aspek penting, namun pemasaran bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesukesan bank digital.

Di Indonesia, berbagai bank telah lebih dulu berlaga memperebutkan nasabah sejak beberapa tahun lalu. Persaingan itu  kian hangat pada 2020 dan 2021 ini.

Pada awal Juni 2021, OJK bahkan menyebut ada 7 bank yang sedang bersiap menjadi bank digital. Mereka adalah Bank BCA Digital, BRI Agroniaga, Bank Neo Commerce, Bank Capital, Bank Harda Internasional, Bank QNB Indonesia dan KEB Hana Bank.

Bank lain yang telah mengoperasikan bank digital antara lain Bank BTPN (Jenius), Bank Bukopin (Wokee), Bank DBS Indonesia (digibank), Bank UOB Indonesia (TMRW) dan Bank Jago. 

Artinya, MotionBank milik Bank MNC juga berhadapan dengan bank-bank lain, termasuk bank dengan kapasitas modal lebih besar. Industri bank adalah industri yang padat modal dimana modal berperan penting dalam menentukan kemampuan bank itu “berlaga” di medan pertempuran.

Oleh karena itu, Bank MNC akan menambah modalnya untuk memperkuat permodalan perusahaan. Pada 9 Juni 2021, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Bank MNC telah menyetujui rencana right issue dan private placement sebagai bagian dari rencana penambahan modal. 

Modal itu juga akan dipakai untuk memperluas kapasitas pinjaman serta mengakuisisi nasabah secara digital untuk mendukung pertumbuhan bisnis, dan yang  terpenting untuk mendukung pengembangan MotionBanking sebagai aplikasi perbankan digital paling terintegrasi.

Pengembangan itu termasuk pengembangan credit scoring berbasiskan kecerdasaran buatan (AI) dan pengintegrasian MotionPay serta kartu kredit virtual (Visa dan Mastercard) dan aplikasi fintech terkait lainnya yang dimiliki MNC Group maupun pihak eksternal. 

Apa yang mau dicapai oleh MotionBank di masa depan? Dalam 5 tahun ke depan sejak 2021, MotionBank menargetkan dapat meraih 30 juta pengguna atau rata-rata 6 juta pengguna setiap tahunnya. Target itu tentu bukan angka yang kecil bagi sebuah bank kecil seperti Bank MNC. 

Menarik untuk menantikan bagaimana Bank MNC mengakuisisi nasabah dengan pertumbuhan fantastis setiap tahunnya. Jika itu perkembangan akuisisi itu lambat, bukan tidak mungkin lonjakan saham BABP yang terjadi seperti belakangan ini juga hanya terjadi sesaat.

Tags:

Investasi