Rasionalitas Mr.Market

Kondisi pasar modal seringkali bergerak di luar batas akal sehat manusia. Fluktuasi berlebihan yang terjadi karena emosi manusia yang berada di dalamnya. Ada masa-masa dimana pasar modal dilanda euphoria berjamaah yang sebegitu besarnya yang menyebabkan semua harga saham melambung meninggalkan harga wajarnya.

Namun tidak jarang, kondisi sebaliknya justru terjadi di bursa mengabaikan kondisi fundamental yang sesungguhnya. Kepanikan dan pesimisme membanjiri pasar yang menyebabkan harga saham perusahaan-perusahaan bagus sekalipun turut diobral secara berlebihan.

Seringkali, kita sebagai investor, mau tidak mau ikut terpengaruh oleh hal-hal seperti ini.

Hal itu terasa wajar mengingat sudah kodratnya kita sebagai manusia untuk gampang terpengaruh oleh psikologi massa. Seringkali, keputusan-keputusan jual beli yang kita lakukan (dalam hal apapun, bukan hanya transaksi saham) dipengaruhi oleh rekomendasi atau psikologi massa.

Itu sebabnya kita sering melihat iklan pasta gigi yang dengan bangga menyebutkan kalau merk mereka adalah merk yang direkomendasikan 9 dari 10 dokter gigi.

Hal itu juga yang menyebabkan kita selalu mencari item ‘best seller’ setiap kali kita ingin membeli sesuatu. Dan kita selalu menyortir review produk dari orang-orang yang sudah pernah membeli produk tersebut, ketika kita sedang berbelanja online. Kita selalu mencari approval orang lain bahkan ketika kita ingin menggunakan uang kita sendiri.

Ketika berbelanja saham, hal ini menjadi sangat berbahaya ketika kita memutuskan untuk membeli atau menjual saham mengikuti kemauan pasar. Karena pasar seringkali bergerak di luar batas kewajaran.

Oleh karena itu, ada baiknya kita untuk berkenalan lebih dalam dengan Mr. Market.

Mr. Market adalah istilah yang dipopulerkan oleh Benjamin Graham (mentor sekaligus guru bagi investor paling terkenal di dunia: Warren Buffet) untuk memanusiakan kelakuan pasar modal. Bayangkan Mr. Market sebagai seorang salesman irrasional yang akan datang menawarkan kepada anda 600an saham (jumlah saham di BEI) setiap harinya.

Anda bisa membeli, menjual atau bahkan mengacuhkannya, dan Mr. Market tidak akan baper kepada anda. Dia akan tetap datang esok hari untuk melakukan hal yang sama kepada anda. Menawarkan saham atau membeli saham yang anda miliki.

Mr. Market selalu cemas dan tidak rasional, dia bisa mengubah harga saham sesuai dengan keinginannya. Mungkin akibat artikel yang dibacanya semalam mengenai perang dagang USA-China, atau mungkin karena berita melemahnya Rupiah yang didapatnya di kanal berita online atau bahkan sesederhana akibat rumor yang dilempar di grup-grup Telegram yang dia ikuti.

Itulah yang akan selalu Mr. Market lakukan, menawarkan hal-hal gila di luar batas akal sehat manusia.

Ambil contoh harga saham Bank BRI. Saham bank pelat merah ini di Januari 2018 dijual dengan harga Rp3.900 per lembar saham, dan dengan 123.35 miliar lembar saham beredar, market capitalization BBRI ada di angka Rp480 triliun. Bank BRI dihargai di pasar seharga Rp480 triliun pada saat itu.

Pada saat bursa dilanda kepanikan Mei 2018, BBRI turun hingga Rp2.600 per lembar sahamnya. Yang menyebabkan kapitalisasi BBRI ikut merosot hingga sekitar Rp320 triliun. Bayangkan, hanya dalam empat bulan, kapitalisasi BBRI bisa turun sebesar Rp160 triliun!

Padahal kita tau sama tau, tidak ada sesuatu pun dalam empat bulan itu yang menyebabkan kinerja BBRI terpengaruh sehingga nilainya layak turun Rp160 triliun. Bank pelat merah pemerintah itu tetap beroperasi secara normal. Pegawainya tetap masuk seperti biasa. Orang-orang tetap menabung seperti biasa, dan masyarakat tetap bisa meminjam uang seperti biasa.

Nothing significantly changed in their performance in just 4 months.

Lantas apa yang menyebabkan value BBRI bisa berkurang sepertiganya hanya dalam empat bulan? Psikologi massa.

Itu adalah contoh konkrit bagaimana Mr. Market bekerja. Tidak masuk akal dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya perusahaan itu (dalam kasus di atas adalah kinerja fundamental BBRI).

Sayangnya, mayoritas investor (terutama investor pemula) sangat gampang terpengaruh oleh Mr. Market. Mereka runtuh oleh tindakan-tindakan yang pasar lakukan.

Keputusan membeli atau menjual seringkali didasari oleh sifat FOMO (fear of missing out) yang mereka rasakan. Takut rugi terlalu besar, atau takut untuk ‘ketinggalan kereta’ sehingga memaksakan diri untuk membeli saham yang sudah mahal.

Padahal yakinlah, dalam jangka panjang, harga saham selalu mengikuti kinerja fundamentalnya. Pergerakan harga saham dalam jangka pendek murni diakibatkan oleh permintaan dan penawaran.

Dalam timeframe yang sempit, hanya konsensus pasar lah yang menentukan harga. Tidak kurang dan tidak lebih.

Dalam jangka pendek, pasar modal ibarat sebuah mesin voting dimana harga saham yang diperdagangkan akan mengikuti jumlah suara yang meminta naik (permintaan) atau turun (penjualan). Mana yang lebih kuat lah yang menentukan harga saham dalam jangka pendek.

Seringkali perubahan harga yang signifikan di pasar terjadi bukan karena perubahan kondisi fundamental perusahaan yang sebenarnya.

Hampir tidak ada gunanya mengetahui dan belajar semua rasio, kondisi keuangan atau bahkan laba perusahaan jika timeframe yang kita miliki sangat pendek.

Lantas apa yang bisa kita lakukan?

Harus disadari kondisi Mr. Market ini tidak akan berubah, sifatnya yang moody dan irasional akan terus berulang.

Selama ada trader-trader di pasar modal yang mencari keuntungan jangka pendek, maka fluktuasi harga akan terus terjadi.

Keberadaan trader ini juga penting mengingat tidak mungkin semua penghuni pasar modal adalah investor jangka panjang. Jika itu kasusnya, pasar modal kita akan menjadi sepi dan menjadi sangat tidak menarik akibat tidak ada perubahan harga yang terjadi di pasar modal karena lesunya permintaan dan penawaran.

Perlu juga dimengerti bahwa ada kebutuhan bagi para broker saham agar investor mereka melakukan transaksi sesering mungkin. Karena salah satu sumber pendapatan mereka adalah fee transaksi jual beli yang dikenakan kepada trader ataupun investor.

Inilah sebabnya kenapa brokerage house rutin menerbitkan market research atau rekomendasi saham yang hampir keluar setiap hari. Hal itu dilakukan sebagai insentif bagi para pelaku pasar untuk melakukan transaksi setiap hari.

Begitupula dengan fund manager atau manajer investasi yang mengelola dana nasabah dalam jumlah besar, mereka punya target untuk terus mencetak laba yang kinerjanya harus bisa diukur setiap bulan, atau bahkan mingguan. Hal ini tentu saja menimbulkan pressure bagi mereka untuk terus bertransaksi secara rutin. Anda tentu tidak akan mau menitipkan uang anda ke manajer investasi yang kinerjanya hanya bisa diukur setiap tiga tahun atau yang kinerjanya berfluktuasi setiap bulannya.

Munculnya tekanan semacam inilah yang menimbulkan adanya kebutuhan bagi orang-orang untuk bertransaksi secara harian di pasar modal Indonesia.

Mengetahui kondisi permanen seperti ini, yang kita bisa lakukan adalah menjadi teman baik Mr. Market.

  1. Gali dan pelajar lagi kondisi fundamental perusahaan yang kita incar, dan ketika Mr. Market datang untuk menawarkan pembelian atau penjualan yang bisa menguntungkan kita, lakukan hal itu! Ketika Mr. Market sedang pesimis dan mengobral saham secara murah, lakukan pembelian. Dan sebaliknya, ketika dia sedang dilanda euphoria, lakukan penjualan ketika valuasi saham yang kita miliki sudah terlalu tinggi.
  2. Lakukan investasi ke saham-saham yang kita mengerti fundamental dan nature bisnisnya. Sehingga kita bisa paham mana perubahan harga yang disebabkan kondisi fundamental atau hanya temporer belaka.
  3. Perpanjang holding period saham yang kita punya. Biarkan investasi saham kita tumbuh seiring waktu, karena hanya waktulah yang pada akhirnya bisa mengeluarkan true value dari saham yang kita pegang.

Related Posts

Krisis Ekonomi 2020?

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.