Prospek HRUM, Emiten Batu Bara Paling Panas

Berkah Rio

PT Harum Energy Tbk. menjadi emiten batu bara dengan kinerja harga saham tertinggi sepanjang tahun ini. Berdasarkan data RTI, sepanjang tahun berjalan hingga sesi pertama perdagangan hari ini, Rabu, 13 Oktober 2021, saham HRUM sudah melesat 175,17% year-to-date (YtD) ke level Rp8.200.

Di posisi kedua ada PT Perdana Karya Perkasa Tbk. (PKPK) yang melesat 172,22% YtD, tetapi harganya hanya Rp147 dan masih mencetak kerugian tahun ini.

Dengan harga tersebut, HRUM menjadi emiten batu bara nomor tiga dengan harga tertinggi secara nilai. Di atas HRUM, ada PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) yang harganya naik 91,34% YtD menjadi Rp26.500 dan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) 84,17% YtD ke level Rp28.500.

Kinerja harga saham emiten-emiten batu bara akhir-akhir ini memang tengah dipanaskan oleh sentimen kenaikan harga batu bara global. Harga komoditas energi ini mulai menembus level US$200 per ton pada akhir September 2021 lalu dan kini ada di kisaran US$240-an per ton.

Sebelumnya, harga batu bara di pasar global bahkan sempat ditutup di level US$269,5 per ton, tepatnya pada 5 Oktober 2021 lalu. Sebagai pembanding, harga batu bara pada periode yang sama tahun lalu hanya sekitar US$50 per ton. Artinya, ada kenaikan harga hampir 5 kali lipat dalam waktu setahun.

Di pasar saham, apresiasi investor terhadap saham HRUM juga sangat mencolok pada akhir September 2021 lalu. Kala itu, saham HRUM bahkan sempat didorong naik dari Rp5.000-an hingga ke level Rp9.300, kendati akhirnya investor mulai profit taking dan menurunkan lagi harga sahamnya.

Meskipun begitu, tampaknya batu bara bukanlah menjadi satu-satunya sentimen penopang bagi kinerja saham HRUM tahun ini. Sebelumnya, saham HRUM memang sudah berada di zona hijau sejak awal tahun dan memantapkan posisi sebagai emiten batu bara dengan kinerja saham terbaik tahun ini.

Oleh karena itu, menarik untuk mencermati sepak terjang HRUM tahun ini dan prospek jangka panjangnya.

 

Kinerja Keuangan H1

Kenaikan harga batu bara yang terjadi akhir-akhir ini tentu saja bakal berdampak pada kinerja keuangan HRUM di masa mendatang, terutama untuk kontrak-kontrak baru yang menggunakan harga kesepakatan yang tidak jauh berbeda dari harga pasar terkini.

Sementara itu, beberapa kontrak yang sudah ditandatangani sebelumnya umumnya tetap mengacu pada harga kesepakatan yang ditentukan sebelumnya dan tidak berubah meski adanya peningkatan harga di pasar.

Meskipun demikian, sepanjang tahun ini HRUM sudah menikmati kenaikan harga jual rata-rata batu bara yang cukup tinggi.

Sepanjang paruh pertama tahun ini, volume penjualan batu bara HRUM turun 5,1% year-on-year (YoY) dibanding capaian periode yang sama tahun lalu, yakni 1,57 juta ton. Namun, perseroan diuntungkan karena harga jual rata-rata batu bara yang lebih tinggi.

Sepanjang paruh pertama tahun ini, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) batu bara perseroan naik 19,4% YoY ke level US$69,6 per ton dari US$58,3 per ton pada semester I/2020.

Kondisi tersebut menyebabkan pendapatan perseroan berhasil tumbuh 12,9% YoY pada paruh pertama tahun ini menjadi US$115,7 juta. Kontribusi pendapatan tertinggi berasal dari kontrak dengan pelanggan yang meningkat dari US$96,09 juta menjadi US%108,96 juta.

Ebitda yang dihasilkan perseroan bahkan mencapai US$44,3 juta, melesat 102,5% YoY dari US$21,9 juta pada periode yang sama tahun lalu. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan perseroan menekan beban pokok dari US$71,21 juta menjadi US$69,47 juta.

Namun sayangnya, laba bersih perseroan justru anjlok cukup dalam sebesar -52,8% YoY menjadi US$10,4 juta. Kondisi ini terjadi lantaran adanya kenaikan beban yang cukup besar pada sejumlah pos. Peningkatan paling mencolok adalah pada komponen beban lainnya, yakni dari hanya US$4.859 menjadi US$11 juta.

Berdasarkan keterangan di laporan keuangan perseroan, beban tersebut yakni berasal dari perubahan nilai wajar aset keuangan, khususnya pada nilai wajar melalui laba rugi (NWLR). Nilainya mencapai US$10,64 juta pada paruh pertama tahun ini, sedangkan periode yang sama tahun lalu nihil.

Transaksi ini berhubungan dengan biaya perolehan investasi pada instrumen ekuitas Nickel Mines Limited. Perusahaan ini merupakan emiten di bursa efek Australia yang bergerak di bidang pertambangan dan pengolahan nikel. Sejak tahun lalu, HRUM telah membeli sahamnya.

Adapun, Nickel Mines memegang kepemilikan 80% terhadap PT Hengjaya Mineralindo, perusahaan yang melakukan eksplorasi nikel di daerah Sulawesi Tengah, tepatnya di kawasan Morowali.

HRUM memang cukup serius untuk mendiversifikasikan bisnisnya di luar batu bara. Apalagi, meskipun harga komoditas ini tengah memanas, masa depannya sebagai penopang energi global cenderung kurang menjanjikan, seiring dengan komitmen banyak negara untuk menekan emisi karbon.

Pada paruh pertama 2021, HRUM telah menggelontorkan investasi sebesar  US$194 juta untuk ekspansi di bisnis nikel. Nilai itu terdiri atas US$80 juta untuk akuisisi PT Position, US$69 juta untuk PT Infei Metal Industry (IMI), dan terakhir akuisisi tambahan saham di Nickel Mines Ltd US$45 juta.

Jika diperinci, HRUM membeli saham PT Position sebanyak 24.287 saham dari Aquila Nickel Pte Ltd. atau setara 51% dengan harga jual beli US$80 juta pada akhir Januari 2021.

Pembelian itu dilakukan melalui entitas usaha perseroan, PT Tanito Harum Nickel (THN). Adapun, PT Position memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk komoditas nikel di Weda Bay.

Kemudian, pada Februari 2021 juga melalui THN perseroan membeli saham perusahaan smelter nikel PT IMI sebesar 259.603 saham atau setara 24,5% dengan harga jual beli US$68,6 juta.

Terbaru, pada medio Mei 2021 perseroan kembali membeli saham Nickel Mines Ltd sebanyak 51,25 juta saham dengan nilai US$45 juta. Dengan pembelian tersebut perseroan memiliki 6,737% dari seluruh modal ditempatkan dalam Nickel Mines. Adapun, sepanjang 2020 HRUM tiga kali menambah kepemilikan di Nickel Mines.

Aktivitas investasi tersebut dilakukan dengan mengandalkan dana internal dan fasilitas pinjaman perbankan. Pada kuartal pertama tahun ini saja, HRUM telah menarik pinjaman bank US$68 juta utnuk investasi di PT Position dan PT IMI.

Kendati demikian, jika menilik laporan keuangannya, belum terlihat adanya kontribusi dari penjualan nikel. Namun, perseroan menargetkan kontribusi bisnis nikel nantinya dapat menyaingi bisnis batu bara.

HRUM pun masih berambisi untuk menambah kepemilikan saham pada perusahaan-perusahaan nikel yang telah dibeli itu.

 

Prospek HRUM

Keputusan HRUM untuk mendiversifikasikan bisnisnya ke nikel menjadi salah satu faktor utama yang mengerek harga sahamnya sepanjang tahun ini. Ditambah lagi dengan sentimen panasnya harga batu bara, tidak mengherankan jika akhirnya saham HRUM meroket.

Seiring dengan naiknya harga batu bara, margin operasional perseroan pun menjadi lebih tebal. Sebab, dengan ongkos yang relatif tidak berubah, pendapatan justru meningkat. Hal ini tentu meningkatkan efisiensi bisnis perseroan.

Tingginya harga batu bara saat ini tentu bakal mengamankan kinerja perseroan hingga akhir tahun ini. Di sisi lain, labanya yang tergerus disebabkan oleh aktivitas investasi yang produktif dengan strategi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Bagaimanapun, perseroan harus segera meninggalkan ketergantungannya pada bisnis batu bara jika ingin mempertahankan kelangsungannya dalam jangka panjang.

Lagi pula, HRUM tidak sendiri dalam persaingan di bisnis nikel ini. Sejumlah perusahaan lain, termasuk dari kalangan emiten batu bara, juga mulai melakukan diversifikasi bisnis. Nikel pun menjadi salah satu komoditas yang banyak disasar oleh perusahaan lain, selain energi baru terbarukan.

Sebagai contoh, emiten pertambangan batu bara, PT Resources Alam Indonesia Tbk. (KKGI) juga melakukan pengikatan jual beli saham dua perusahaan nikel sebesar 70%, yaitu PT Buton Mineral Indonesia (BMI) dan PT Bira Mineral Nusantara (BMN).

Nikel menjadi pusat perhatian investor dalam beberapa bulan terakhir terutama karena harganya kini makin tinggi. Hal ini tidak terlepas dari faktor perkembangan mobil listrik di pasar global. Nikel merupakan salah satu komponen utama bagi baterai kendaraan listrik ini.

Sementara itu, pemerintah Indonesia juga cukup serius untuk menggarap potensi bisnis baterai kendaraan listrik ini dan mendorong hilirisasi industri nikel di dalam negeri. Hal ini menjadikan prospeknya sangat menjanjikan.

Oleh karena itu, langkah HRUM untuk terjun ke bisnis ini tentu masuk akal dan membuka peluang pertumbuhan yang besar di masa mendatang. Apalagi, saat ini banyak perusahaan produsen kendaraan listrik dunia yang mencari mitra untuk rantai pasok bahan baku mereka.

Mereka hampir pasti tidak akan melewatkan Indonesia, sebab Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Menurut Survei Geologi Amerika Serikat (2019), Indonesia telah menghasilkan 800 ribu ton bijih nikel per tahun dengan cadangan sekitar 21 juta ton.

Sembari menanti buah dari investasinya di bisnis nikel, HRUM cukup beruntung karena kini harga batu bara memanas. Di luar langkah investasi nikel, HRUM juga mengoptimalkan bisnis batu baranya, selagi komoditas ini masih menjadi kebutuhan banyak negara.

Sepanjang tahun ini, HRUM menganggarkan belanja modal atau capex senilai US$7 juta. Capex tersebut akan digunakan untuk menambahkan properti dan prasarana pertambangan batu bara, pembelian alat berat, dan pemeliharaan kapal tunda dan tongkang.

Perseroan menargetkan dapat memproduksi dan menjual batu bara sebanyak 3,5 juta ton hingga 4 juta ton tahun ini. Target itu sekitar 25%-30% lebih tinggi dari realisasi tahun lalu. Hingga September 2021 atau kuartal III/2021, perseroan sudah merealisasikan penjualan 2,5 juta ton.

Target perseroan kemungkinan besar bisa tercapai sebab biasanya permintaan akan meningkat jelang musim dingin di belahan bumi utara pada akhir tahun ini.

Perseroan sudah mengamankan kontrak untuk akhir tahun ini pada bulan lalu. Kendati harga batu bara bulan lalu memang tidak setinggi saat ini, nilainya tetap saja jauh lebih tinggi ketimbang tahun lalu. Oleh karena itu, sudah tentu kinerja perseroan akan tetap bertumbuh pada akhir tahun ini.

Kondisi krisis energi yang dialami China menjadi berkah tersendiri bagi HRUM. Perseroan pun sudah menyatakan akan menggenjot penjualan ke China seiring dengan tingginya kebutuhan di sana. China sendiri sudah menjadi pasar terbesar HRUM dalam 2 tahun terakhir.

Sebesar 80% penjualan HRUM kini tertuju ke China, sedangkan Thailand hanya 8%, Bangladesh 7%, India 3%, dan Pakistan 2%.

Kendati China memang terdesak oleh komunitas global untuk menekan konsumsi energi yang bersumber dari batu bara, sulit bagi negara itu untuk seketika meninggalkan ketergantungannya pada batu bara.

Oleh karena itu, HRUM masih memiliki peluang setidaknya dalam 20 tahun ke depan untuk tetap menjual batu bara ke China. Hal ini cukup untuk mempersiapkan perseroan dalam mengembangkan kontribusinya dari bisnis lainnya, terutama nikel.

 

Bisnis