Penjelasan Sederhana Tentang Futures dan Harga Minyak

Rayenda Brahmana

Belum lama ini kita dihebohkan dengan turunnya harga minyak untuk pengiriman Mei 2020 sampai ke level di bawah 0 alias minus.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan di Amerika Serikat itu terjun bebas hingga lebih dari 100% ke level minus US$37,63 per barel.

Kendati akhirnya rebound ke level di atas 0, fenomena itu menimbulkan banyak pertanyaan, terutama mengenai konsep futures. Apa itu futures? Apa pula oil futures?

Apa yang dimaksud dengan futures bulan Mei? Futures bulan Juni? Kok bisa negatif? Berikut ini penjelasan sederhananya:

Derivatif

Pada dasarnya, futures adalah salah satu produk derivatif. Derivatif adalah produk turunan dari sebuah aset berupa kontrak perjanjian jual beli atas aset tersebut. 

Selain futures, jenis derivatif lainnya adalah forward, swap dan option. Beberapa futures bisa digabung-digabung.

Sementara itu, oil futures artinya kontrak perjanjian jual beli minyak. Selain itu, ada juga futures komoditas lainnya dari gula, kelapa sawit, emas, sampai gas.

Oil futures juga dapat dipahami secara sederhana dengan ilustrasi seperti ini: dengan menggunakan futures contracts, kita membuat perjanjian untuk membeli minyak yang diantar di masa mendatang tapi harganya ditentukan hari ini.

Lalu, apa maksudnya futures bulan Mei sebesar US$2 per barel?  Artinya, saya sepakat untuk membeli minyak dari kamu seharga US$2 per barel dan kamu akan mengantar minyaknya di bulan Mei.

Sebaliknya, kalau saya membeli minyaknya hari ini dan diantarnya hari ini juga maka transaksi tersebut dinamakan spot. 

Kok ada yang mau membuat perjanjian beli minyak di kemudian hari? Apakah ini bentuk lain dari spekulasi? Secara empiris, pasar derivatif ini memang didominasi spekulasi. Tapi tujuan awalnya untuk "meminimalisir resiko" atau dalam bahasa finance, aktivitas ini yang biasa dikenal dengan istilah hedging. 

Maksudnya? 

Tujuan hedging adalah melindungi para pelaku usaha dari fluktuasi harga komoditas yang mereka butuhkan. Misalnya, saya memiliki pembangkit tenaga listrik yang menggunakan bahan bakar minyak dan diminta untuk membuat estimasi anggaran pembelian minyak untuk operasional usaha saya.

Kalau saya menganggarkan US$50 per barel untuk bulan Mei, tapi ternyata harganya mencapai US$80 per barel di bulan tersebut maka saya tekor US$30. Ini akan merugikan bisnis saya akibat selisih harga yang cukup jauh.

Sebaliknya, kalau ternyata harganya US$20 per barel, ya tentu ini akan menguntungkan. Tapi mengingat bahwa aktivitas bisnis itu perlu kepastian, apa yang saya lakukan? Jawabannya: membeli oil futures bulan Mei. Demi ‘mengunci’ harga yang saya beli.

Kalau saya ambil harga futures-nya US$60, artinya, berapapun harga yang terbentuk di bulan Mei nanti maka saya akan membayar US$60 dan minyak masuk ke pembangkit listrik saya. Usaha lancar jaya.

Harga Negatif

Lalu apa artinya harga negatif di bulan Mei? Artinya, kamu membayar saya untuk mengambil minyak daripada kamu membayar storage cost (biaya penyimpanan minyak), transportation cost dan biaya-biaya lainnya.

Lalu kenapa harganya bisa berbeda dengan futures Juni? Perlu diingat bahwa harga tercipta dari mekanisme supply and demand. Artinya, untuk Juni masih ada demand meskipun harganya masih rendah. (Pada saat tulisan ini ditulis, WTI Futures untuk bulan Juni 2020 seharga $14 per barrel).

Lalu kenapa harga minyak dunia akhir-akhir ini bisa drop banget? Selain karena perang melawan Covid-19, ada perang minyak yang terjadi antara OPEC dan Rusia. Komoditas minyak mentah sekarang ini sudah mengalami overproduction karena produsen-produsen minyak tidak ada yang mau mengalah untuk memotong produksi mereka

Kalau terjadi overproduction maka diperlukan tempat menyimpan minyak yang banyak (storage). Sayangnya, tempat penyimpanan itu terbatas. Selain itu, ada satu faktor yang membuat situasinya menjadi parah: spekulan.

Beberapa investor bermain di oil futures sebagai bagian dari portofolio mereka. Jadi, mereka membeli futures dan harus menjual kontrak tersebut sebelum jatuh tempo kontrak itu "dieksekusi". 

Dieksekusi?

Iya, kalau kita masih pegang futures itu sampai tenggat waktu maka minyak tersebut akan diantar ke rumah kita (physical delivery). Jadi, biasanya sebelum tanggal itu datang, investor akan menjual futures-nya. Karena nggak mungkin beribu barel minyak datang ke rumah kita.
Mau dipakai buat apa minyak mentah?

Nah, karena tenggat waktu futures bulan Mei itu adalah 21 April 2020, maka semua berlomba menjual futures mereka. Kan nggak lucu kalau minyak datang ke rumah!

Kenapa nggak dari kemarin saja jualnya? Posisinya tertahan. Harga minyak drop terus. Posisi yang mau beli pun nggak ada. Daripada terpaksa menerima minyak, ya jual murah saja kontrak Mei nya.

Semoga penjelasan di atas bisa membantu kita semua dalam memahami konsep futures contracts. Lalu impact nya apa ke masyarakat Indonesia dengan harga minyak mentah dunia semurah ini? Kamu bisa membacanya di artikel berikut.
 

 

Ekonomi