Harga Minyak Negatif, Artinya Apa?

Tirta Prayudha

Tadi malam, untuk pertama kali nya, harga minyak acuan untuk Amerika Serikat (WTI Crude Price) menyentuh harga negatif.

Harga minyak WTI bahkan sempat menyentuh -$40.32 per barrel, sebelum akhirnya mendarat di settlement price (harga rata-rata untuk kontrak) hari Senin di angka -$37.63 per barrel.


Trend harga minyak yang menurun ini sebenarnya sudah terjadi beberapa minggu terakhir, di mana demand yang melemah akibat aktivitas ekonomi yang berkurang drastis sejak pandemic covid-19 dimulai. 

Tapi harga minyak negatif, yang pertama kali terjadi sepanjang sejarah, merupakan titik kulminasi dari penurunan tersebut.

Ada dua hal penting yang harus diperhatikan mengenai harga minyak negatif ini:

1.    Harga ini hanya berlaku untuk WTI (West Texas Intermediate) Crude Oil, sebuah index harga minyak yang digunakan di Amerika Serikat. Oil index lain, Brent Crude, masih di harga $25 per barrel. Brent Crude adalah oil index yang berbasis di North Sea, dan digunakan sebagai harga acuan 2/3 perdagangan minyak dunia. Brent merupakan harga acuan untuk perdagangan minyak mentah di Eropa, Afrika dan Timur Tengah.

2.    Harga WTI yang negatif, merupakan harga untuk kontrak bulan Mei, di mana untuk kontrak WTI bulan Juni 2020 sendiri masih berada di $21 per barrel.

Oke, lalu kenapa harga WTI bisa negatif? Dan maksudnya apa?

Sebelumnya kita harus memahami dulu mekanisme perdagangan minyak mentah. Minyak mentah adalah komoditas yang membutuhkan lokasi penyimpanan (storage) yang cukup besar.

Pada kondisi normal, keseimbangan konsumsi dan produksi menyebabkan kapasitas inventory terus terjaga. Namun ketika demand melemah akibat aktivitas ekonomi yang jauh berkurang, peralihan inventory (turnover) menjadi lebih lambat. Ini juga diperparah dengan supply minyak yang masih terus berjalan, sehingga komoditas energi ini membanjiri pasar.

Akhirnya stock minyak menumpuk di tangki penyimpanan karena tidak ada pihak yang mau membelinya. 

Dan perlu dimengerti, minyak merupakan komoditas yang dijual menggunakan futures contracts bulanan. Dengan future contracts, maka kita sepakat akan membayar sekian dollar untuk sekian barrel pada waktu tertentu (expiry date).

Untuk kontrak minyak WTI bulan Mei, akan jatuh tempo hari ini (Selasa, 21 April 2020). Itulah sebabnya para pemegang kontrak bulan Mei tidak mau mengambil minyaknya karena tidak ada lagi ruang untuk penyimpanan (storage) yang tersedia.

Akhirnya harga minyak menyentuh angka negatif, yang berarti jika penjual ingin menjual minyak mereka, maka mereka harus membayar pembeli minyak tersebut. 

Artinya untuk konsumen apa?

Ini akan membuat harga jual minyak eceran akan semakin murah, terutama untuk warga negara Amerika Serikat sendiri. Diperkirakan untuk tipikal rumah tangga di Amerika Serikat akan bisa menghemat $150-$175 dari konsumsi bahan bakar bulan mereka akibat menurunnya harga minyak US ini.

Untuk konsumen Indonesia sendiri, mungkin tidak akan berdampak banyak, karena minyak di Indonesia tidak menggunakan index WTI. Kita memiliki oil index sendiri bernama Indonesian Crude Price (ICP).

Tapi bukan berarti Pertamina diam saja. 

Akibat melimpahnya supply minyak dunia, itu berarti akan banyak minyak mentah yang akan diobral secara mendadak. Menggunakan bahasa pasar, akan banyak minyak yang dijual di spot market, menggunakan harga di tempat (on the spot/spot price). Berbeda dengan future contract, spot contract berarti harga yang dibeli atau dijual menggunakan harga saat itu.

Pertamina terus mencari peluang untuk berburu minyak murah untuk memenuhi konsumsi energi dalam negeri. 

Saat ini Pertamina sudah menyewa beberapa kapal tankers besar untuk menyimpan minyak yang bisa dibeli dengan harga murah.

Harapannya, ini bisa ikut meningkatkan ketahanan energi kita dan juga menurunkan harga jual minyak di dalam negeri.

 

PS: Big Alpha menjual e-book kuartalan yang berisi 15 emiten yang kami analisa secara fundamental, anda bisa mendapatkannya di sini.

 

Ekonomi