Pandemi Tak Kunjung Usai, Bagaimana Nasib Ekonomi Dunia?

Berkah Rio

[Waktu baca: 6 menit] 

Penerapan pembatasan sosial atau karantina di berbagai negara di dunia sebagai respons atas penyebaran Covid-19 benar-benar memukul aktivitas ekonomi global. Dampak dari pandemi ini pun diperkirakan akan berkepanjangan.

Meskipun pemulihan ekonomi diperkirakan sudah mungkin terjadi tahun depan, tetapi efek luka ekonomi dan resesi yang terjadi tahun ini butuh waktu bertahun-tahun untuk sembuh, demikian perkiraan Bank Dunia.

Kondisi ini pun menuntut adaptasi masyarakat global, sebab kehidupan ekonomi kemungkinan belum akan berjalan benar-benar normal dalam waktu dekat.

Penurunan aktivitas ekonomi atau resesi yang sudah terkonfirmasi di banyak negara, dan sebentar lagi di Indonesia, telah menghapus pertumbuhan ekonomi yang dicapai beberapa tahun belakangan.

Untuk menebus penurunan ekonomi itu, tiap negara perlu bekerja ekstra keras di tahun-tahun mendatang. Sementara itu, setiap orang memerlukan strategi pengelolaan keuangan agar dapat bertahan, atau lebih baik lagi bila dapat menemukan peluang baru bagi sumber penghasilan.

Berikut ini beberapa tren ekonomi global selama pandemii:

PHK Massal Meluas

Pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan konsekuensi yang sulit terhindarkan di tengah tekanan kinerja bisnis. Pembatasan aktivitas ekonomi telah memukul dunia usaha dengan sangat keras. Tidak banyak yang bisa bertahan di tengah kondisi ini.

Di Amerika Serikat, Walt Disney Co., misalnya, mengumumkan pemangkasan 28.000 pekerja di bisnis resor mereka pada akhir September lalu. Pada saat yang sama, Allstate Corp, perusahaan asuransi mobil terbesar ke-4 di AS juga mengumumkan akan memangkas 3.800 pekerja, atau sekitar 8% dari total pekerjanya. Perusahaan keuangan dan investasi Goldman Sachs Group Inc. juga berencana memangkas sekitar 400 pekerja.

Di Eropa, pemangkasan kerja antara lain sudah diumumkan oleh Royal Dutch Shell Plc., yakni perusahaan minyak dan gas asal Belanda yang sering dikenal dengan Shell di Indonesia, akan memangkas 9.000 pekerja.

Di industri airlines, PHK secara masif juga terjadi, di antaranya pada perusahaan-perusahaan penerbangan papan atas seperti American Airlines Group Inc., United Airlines Holdings Inc., Singapore Airlines, dan Cathay Pacific.

Di Inggris, sekitar 500.000 pekerjaan kemungkinan besar akan hilang pada sisa tahun 2020. Institute for Employment Studies (IES) memperkirakan ada sekitar 445.000 pemecatan selama Juli – September 2020.

Terjadinya PHK juga merupakan konsekuensi logis akibat kebangkrutan perusahaan. Dampak pandemi dan pembatasan aktivitas ekonomi global telah mendorong banyak perusahaan untuk mengajukan pailit karena terlilit utang dan kehilangan sumber pendapatan.

Beberapa perusahaan besar global yang tercatat telah mengajukan pailit tahun ini yakni restoran waralaba Pizza Hut yang dipegang NPC International di AS, perusahaan ritel asal Jepang Muji, ritel pakaian pria AS Brooks Brothers yang sudah berusia 200 tahun, dan maskapai terbesar Amerika Latin Latam Airlines Group.

Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan melaporkan hingga akhir Juli 2020 saja sudah ada lebih dari 3,5 juta pekerja yang terkena PHK.

Selain itu, survei terbaru JobStreet terhadap 5.131 pencari kerja dan 486 perekrut di Indonesia menunjukkan bahwa angka pengangguran diprediksi meningkat 4 juta-5 juta orang tahun ini. Oleh karena itu, pada akhir tahun ini, angka pengangguran dapat mencapai 11 juta orang. 


Kemiskinan Meningkat

Bank Dunia telah memperkirakan bahwa kemiskinan ekstrem akan meningkat secara drastis di berbagai belahan dunia akibat pandemi tahun ini. Ini menjadi peningkatan pertama dalam 20 tahun terakhir. Upaya pengentasan kemiskinan dunia pun menjadi melambat akibat pandemi.

Dalam laporannya awal bulan ini, Bank Dunia memperkirakan sekitar 88 juta hingga 115 juta orang akan jatuh dalam kemiskinan ekstrem tahun ini. Tahun depan, jumlahnya akan meningkat menjadi 150 juta, tergantung keparahan penurunan ekonomi.

Adapun, kategori kemiskinan ekstrem adalah jika seseorang menghasilkan penghasilan kurang dari US$1,90 per hari, atau Rp28.000 per hari dengan kurs Rp14.700 per dolar AS.

Menurut Bank Dunia, jika tanpa pandemi, tingkat kemiskinan dunia tahun ini diperkirakan tinggal 7,9% dari total populasi dunia. Namun, adanya pandemi menyebabkan tingkat kemiskinan akan meningkat lagi ke level 9,1% - 9,4%. Kondisi ini seperti kembali ke kondisi 2017 lalu yang mana tingkat kemiskinan global mencapai 9,2%.

Artinya, pandemi dan resesi global akan menyebabkan lebih dari 1,4% populasi dunia jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem.

Bank Dunia juga menemukan bahwa kebanyakan orang miskin baru akan muncul di negara-negara yang telah memiliki tingkat kemiskinan yang tinggi. Sekitar 82% dari total kemiskinan ekstrem kemungkinan akan ada di negara-negara berpenghasilan menengah.

Selain itu, temuan lain Bank Dunia yakni target pengentasan kemiskinan pada 2030 tidak akan tercapai. Pandemi menyebabkan upaya pengentasan kemiskinan menjadi sangat terhambat. Alhasil, pada 2030 tingkat kemiskinan diperkirakan masih sekitar 7% dari total populasi dunia.

Di Indonesia, dalam laporan Indonesia Economic Prospects dari Bank Dunia bertajuk Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi yang terbit Juli 2020, kondisi yang sama juga terjadi.

Bank Dunia mengungkapkan bahwa tanpa adanya bantuan dari pemerintah untuk rumah tangga, pandemi akan menyebabkan 5,5 juta hingga 8 juta penduduk Indonesia jatuh ke dalam kemiskinan tahun ini. Tingkat kemiskinan Indonesia pun akan naik menjadi antara 10,7% - 11,6% tahun ini.

Artinya, pandemi akan menghapus capaian pengentasan kemiskinan yang diperjuangkan selama 7 tahun terakhir.

Hal ini terjadi karena turunnya penghasilan rumah tangga secara agregat antara 5%-7% serta hilangnya pekerjaan di antara 2,6 juta hingga 3,6 juta penduduk Indonesia. Penurunan penghasilan paling tajam diperkirakan akan terjadi di sektor-sektor jasa tradisional dan pertanian, lalu disusul manufaktur.

Akan tetapi, jika langkah-langkah bantuan yang direncanakan pemerintah dapat terlaksana seluruhnya dengan  tepat sasaran, dan jika masyarakat dapat kembali bekerja karena pelonggaran pembatasan sosial pada kuartal III dan IV, tingkat kemiskinan akan turun menjadi sekitar 8,2% - 9,0% tahun ini.

Artinya, ada potensi tingkat kemiskinan justru membaik, lebih rendah dibandingkan skenario acuan tingkat kemiskinan tahun ini jika tanpa pandemi, yakni 8,7%. Itu berarti, dalam skenario sedang dengan tingkat kemiskinan 8,2%, ada sekitar 1,3 juta rumah tangga keluar dari kemiskinan.
Sementara itu, dalam skenario berat tingkat kemiskinan 9,0%, artinya paling banyak 920.000 rumah tangga jatuh di bawah garis kemiskinan.

Prospek Pemulihan Masih Panjang

Dalam Laporan Perkembangan Ekonomi Asia Timur dan Pasifik, Bank Dunia memperkirakan dampak dari pandemi akan panjang dan mengganggu pertumbuhan investasi, produktivitas, dan pertumbuhan modal manusia atau kualitas sumber daya manusia (SDM) global.

Dari sisi investasi, dampak pandemi yang memukul aktivitas ekonomi negara-negara menyebabkan aktivitas investasi turut terhambat. Utang publik dan swasta yang memburuk—terefleksi dalam pemburukan neraca perbankan—serta meningkatkan ketidakpastian, akan menghambat investasi publik dan swasta, serta mendatangkan risiko terhadap kestabilan ekonomi.

Produktivitas dunia usaha juga akan terganggu dalam waktu yang panjang, sejalan dengan perdagangan dan rantai nilai global yang terganggu. Hal ini menyebabkan kurang efisiennya pengalokasian sumber daya di berbagai sektor dan memperlambat penyebaran teknologi. Penutupan usaha dan terganggunya hubungan perusahaan dengan pekerjanya juga menghambat produktivitas

Terkikisnya SDM berkualitas terjadi karena serangan penyakit yang mengganggu kesehatan, kelangkaan pangan, hilangnya pekerjaan, dan penutupan sekolah. Ini turut menghambat produktivitas dan mengancam hilangnya pendapatan. Hal ini dampaknya bisa seumur hidup.

Menurut Bank Dunia, jika tantangan ini tidak diatasi, konsekuensi pandemi dapat mengurangi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik selama satu dekade mendatang sebesar 1 poin persentase per tahun.

Dampak yang terparah akan dialami oleh masyarakat kelas bawah, yang aksesnya terhadap kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan keuangan, sangat terbatas.

Dalam salah satu pidatonya awal Oktober ini, Presiden Bank Dunia David Malpass mengatakan kemerosotan ekonomi saat ini lebih luas dan lebih dalam menghantam pekerja sektor informal dan warga miskin, terutama perempuan dan anak-anak.

Dampaknya lebih parah di negara-negara berkembang, sebab kapasitas pemerintah untuk melindungi dan mendukung warganya melalui stimulus ekonomi juga terbatas. Di negara-negara maju, pemerintahnya memperluas pengeluarannya demi menstimulus aktivitas ekonomi.

Bagi negara miskin, tidak ada jalan pintas untuk membalikkan penurunan ekonomi, memulihkan anjloknya pendapatan wisata, atau mencegah turunnya remitansi. Selain itu, ekonomi di negara yang miskin juga hanya memiliki perangkat dan stabilisator makro ekonomi yang lebih sedikit.
 
 
 
 

Ekonomi