Menguji Keberuntungan Grup Kresna di Bisnis Motor Listrik

Berkah Rio

Isu kelestarian lingkungan hidup, pengembangan energi baru terbarukan, keuangan berkelanjutan, dan teknologi ramah lingkungan telah menjadi perhatian makin banyak kalangan. Seiring dengan itu, bisnis-bisnis yang berfokus pada isu-isu tersebut turut mendapatkan perhatian dan menjadi prospektif. Salah satunya adalah bisnis kendaraan listrik. Bisnis ini bahkan menghantar Elon Musk di puncak jajaran orang terkaya dunia dan turut mendorong Indonesia bersiap diri untuk menjadi pemasok komponen penting industri baterai kendaraan listrik global.

Bisnis ini tergolong baru, sehingga potensi pasarnya pun masih sangat besar. Dalam jangka panjang, kendaraan listrik kemungkinan besar bakal menggantikan sepenuhnya kendaraan berbahan bakar fosil. Seiring dengan itu, banyak pemain baru pun terjun ke industri ini.

Terbaru, emiten teknologi nasional PT NFC Indonesia Tbk. memutuskan untuk mencoba peruntungan di industri ini. Emiten dengan kode saham NFCX ini menggandeng PT SiCepat Expres Indonesia untuk membentuk perusahaan patungan bernama PT Energi Selalu Baru (ESB).Fokus bisnis perusahaan ini adalah di bidang distribusi sepeda motor listrik, penukaran baterai, dan berbagai layanan pendukungnya. Menariknya, dua emiten lain yakni PT Digital Mediatama Maxima Tbk. (DMMX) dan PT Telefast Indonesia Tbk. (TFAS) ikut serta menjadi pemegang saham EBS, kendati dengan porsi minoritas. Keduanya berperan menyediakan dukungan komersial, infrastruktur, dan ekosistem.

Sementara itu, ESB sendiri bakal memiliki saham mayoritas dalam perusahaan manufaktur kendaraan listrik atau electric vehicle (EV), yakni PT Volta Indonesia Semesta. Volta akan menjadi rumah produksi utama sepeda motor listrik untuk ESB. Saat ini, di Indonesia masih cukup jarang ditemui pengguna sepeda motor listrik. Sebagai produk yang masih sangat baru, tentu butuh waktu lebih panjang untuk memperkenalkan produk ini pada masyarakat, serta membuktikan ketangguhan dan keandalannya.

Oleh karena itu,  visi EBS adalah untuk meningkatkan penyerapan dan penerimaan penggunaan EV di Indonesia dengan menyediakan distribusi sepeda motor listrik yang seamless dan layanan penukaran baterai (battery exchange), diberdayakan oleh platform digital dan teknologi internet-of-things (IoT).

NFCX akan berperan sebagai penyedia dan pengelola platform digital untuk registrasi dan pengelolaan kendaraan, pembayaran, dan rewards. Sementara itu, kemampuan logistik serta jaringan SiCepat dan TFAS akan mendukung dari sisi perencanaan dan penyebaran stasiun penukaran baterai. Nah, DMMX yang memiliki jaringan toko ritel yang luas di seluruh Indonesia akan berperan sebagai menjadi penyedia jaringan pemasaran dan penukaran baterai ini. Dengan demikian, sinergi ini bakal saling menguntungkan bagi semua pemegang saham EBS.

Untuk diketahui, NFCX, DMMX, dan TFAS merupakan satu grup usaha di bawah bendera Kresna. DMMX merupakan anak usaha dari NFCX, sedangkan SiCepat juga turut memiliki saham DMMX sebanyak 4,5%. Sementara itu, NFCX dan TFAS merupakan sister company di bawah PT M Cash Integrasi Tbk. (MCAS).

MCAS sendiri dikendalikan oleh PT Kresna Graha Investama Tbk. (KREN). Grup usaha ini selama ini fokus di bisnis pengembangan teknologi digital dalam berbagai lini usaha. Sebelum masuk ke bisnis EV, NFCX merupakan perusahaan yang menawarkan berbagai produk layanan digital.

Produk dan jasa yang ditawarkan antara lain mencakup top up aggregator produk digital di Indonesia untuk jaringan offline (retail) dan online (e-commerce), periklanan digital berbasis komputasi awan, konten hiburan digital yang berkualitas, serta usaha brand communication yang terintegrasi. NFCX merupakan perusahaan yang masih sangat muda. Perusahaan ini berdiri pada 26 Agustus 2013 dan listing di Bursa Efek Indonesia pada 12 Juli 2018.

Prospek Motor Listrik

Berdasarkan riset dari Allied Market Research (AMR), nilai pasar dari industri motor listrik global pada 2019 lalu mencapai US$40,3 miliar. Pada 2030 nanti, nilainya diperkirakan akan mencapai US$118,7 miliar. Dengan demikian, tingkat pertumbuhan rata-rata tahunannya (CAGR) sebesar 10,5% dari 2020 ke 2030. Menurut riset ini, pandemic Covid-19 menjadi salah satu faktor yang bakal mempercepat tingkat pertumbuhan industri ini secara global.

Adapun, industri motor listrik yang dimaksud mencakup sepeda listrik berpedal yang dapat dikayuh, tetapi dilengkapi penggerek motor dan baterai yang terintegrasi untuk meningkatkan daya dorong, hingga motor listrik yang sepenuhnya digerakkan oleh motor bertenaga listrik. Pandemi menyebabkan banyak orang, terutama para komuter, memutuskan untuk menghindari transportasi publik dan memilih motor listrik sebagai alternatif pengganti yang aman, nyaman, dan terjangkau.

Moda transportasi baru ini dinilai fleksibel, serbaguna, ramah lingkungan, dan trendi. Konsumen global memandang motor listrik sebagai pengganti ideal untuk skuter, smart cars, dan transportasi publik. Ukurannya yang lebih ramping membantu mengatasi kemacetan. Menurut riset tersebut, peralihan tren ini kemungkinan bakal bertahan setelah pandemi berlalu. Oleh karena itu, bisnis motor listrik di masa mendatang kemungkinan besar bakal bertumbuh pesat.

Ada beberapa faktor yang dapat menjadi pendorong tumbuhnya industri ini. Pertama, dukungan regulasi pemerintah yang mendorong adopsi teknologi ini, antara lain untuk mengurangi emisi karbon atau jejak karbon. Di Indonesia, pemerintah juga menyediakan jalur khusus bagi sepeda, yang tentu diperuntukkan juga bagi sepeda listrik. Riset AMR memperkirakan pemerintah global kemungkinan akan memberikan insentif pajak guna mendorong perkembangan industri ini, demi visi mengurangi jejak karbon.

Kedua, kecenderungan konsumen untuk lebih memilih motor listrik sebagai solusi bepergian ramah lingkungan, sehat, dan efisien. Isu lingkungan hidup telah menjadi narasi yang hangat diperbincangkan bertahun-tahun, sehingga perlahan kesadaran publik terhadap pentingnya isu ini pun meningkat. Peningkatan polusi dan kemacetan di perkotaan bakal meningkatkan popularitas produk motor listrik. Selain itu, tingginya biaya operasi dan perawatan kendaraan yang berbasis bahan bakar fosil juga bakal mengalihkan minat masyarakat ke kendaraan listrik.

Ketiga, motor listrik lebih murah ketimbang mobil, tidak membutuhkan izin khusus, dan dapat digunakan di infrastruktur jalur sepeda yang sudah ada. Pemerintah di banyak negara pun makin fokus dalam mengembangkan infrastruktur bagi motor listrik, baik itu jalur khusus maupun stasiun isi ulang baterai. Selain itu, pemain di industri motor listrik pun tentu akan terus berinovasi untuk menyempurnakan produk ini dan sarana pendukungnya, seperti infrastruktur penukaran baterai, isi ulang, teknologi parkir, dll.

Saat ini, biaya produksi motor listrik memang relatif lebih mahal jika dibuat dengan kapasitas baterai dengan jarak tempuh yang sama seperti kapasitas tangki motor berbahan bakar minyak. Oleh karena itu, umumnya kapasitas baterai yang digunakan masih kecil guna menekan harga jual. Namun, riset tersebut meyakini permasalahan ini bakal segera ditemukan jalan keluarnya dalam waktu dekat oleh para pelaku industri ini.

Euforia Pasar

Kabar masuknya Kresna Group dalam industri EV telah mendorong antusiasme investor terhadap saham-saham emiten di grup ini yang terlihat dengan industri tersebut. Hal ini tidak berbeda dengan yang terjadi pada Elon Musk dengan saham Tesla. Sebagai contoh, harga IPO saham NFCX adalah di level Rp1.850. Pada awal tahun ini hingga April 2021, sahamnya ada di level Rp1.600 hingga Rp2.500. Namun, sejak Mei 2021 harganya terus melambung bahkan hingga sempat menyentuh level Rp6.200. Kini, sahamnya telah turun lagi ke Rp4.850 pada sesi pertama perdagangan Jumat (18 Juni 2021). Meskipun demikian, sepanjang tahun ini saja, saham NFCX tercatat sudah meningkat 109,96% year to date (ytd).

Tren yang sama terjadi pula pada MCAS dan DMMX, masing-masing sudah naik 87,97% ytd menjadi Rp7.500 dan 446,61% ytd menjadi Rp1.290. Sementara itu, saham TFAS masih disuspensi lantaran sudah melonjak 1.511,11% ytd menjadi Rp2.900. Adapun, kinerja keuangan NFCX sendiri secara konsisten tumbuh cukup tinggi dari tahun ke tahun, bahkan di tengah pandemi tahun lalu. Namun, kinerja laba bersihnya tidak konsisten akibat tingginya beban pokok dan beban usaha. Berikut ini kinerjanya dalam beberapa tahun terakhir:

 

Dari data ini terlihat bahwa pendapatan NFCX setiap tahun cukup tinggi. Tahun 2020 lalu, pendapatannya mencapai Rp7,6 triliun, melonjak 23% year on year (yoy). Namun, laba bersihnya hanya Rp24 miliar, turun 33% yoy. Capaian pendapatan ini bahkan jauh melebihi asetnya yang hanya Rp1,4 triliun. Namun, tipisnya laba bersihnya menyebabkan margin laba bersih atau net profit margin (NPM) NFCX hanya 0,32%. Sementara itu, rasio laba berbanding aset (RoA) ada di level 5,21%, sedangkan rasio laba berbanding modal (RoE) hanya 1,71%.

Berdasarkan rasio tersebut, terlihat bahwa NFCX sebenarnya belum cukup optimal dalam menghasilkan laba. Meskipun pendapatannya terus bertumbuh, NPM perseroan justru turun. Pada 2018 NPM masih di level 0,63%, sedangkan pada 2019 sebesar 0,58%. Dengan capaian laba yang masih sangat rendah ini, menjadikan kenaikan harga saham NFCX terlihat berlebihan. Rasio harga saham berbanding laba per sahamnya atau price to earning ratio (PER) mencapai 135 kali. Bandingkan dengan PER IHSG yang hanya 11,9 kali.

Jelas, kenaikan saham ini lebih ditopang oleh sentimen dan euforia semata. Prospek bisnis EV memang menjanjikan, tetapi tantangan di industri ini tentu tidak dapat dinafikan begitu saja, sebab industri ini masih belum populer di Indonesia. Oleh karena itu, upaya pembuktian kesuksesan NFCX dan kawan-kawannya di industri ini tentu bakal berat. Namun, jika berhasil, tentu saja menjadi kabar gembira bagi industri otomotif di Indonesia.

Bisnis