Strategi BCA Menjaga Takhta

Berkah Rio

PT Bank Central Asia Tbk. hingga kini masih menjadi bank swasta nasional terbesar dengan kinerja paling efektif. Meskipun asetnya belum setinggi dua bank BUMN besar seperti Bank Mandiri dan BRI, BCA justru lebih unggul dalam hal efektivitas menghasilkan laba.

Kinerja yang unggul itu pun tampaknya masih mampu dipertahankan BCA pada paruh pertama tahun ini. Perseroan telah merilis kinerja keuangannya untuk periode 6 bulan 2021. Hasilnya, BCA berhasil membukukan kinerja positif, bahkan dengan pertumbuhan yang cukup baik.

Kondisi pandemi memang belum berakhir pada paruh pertama tahun ini. Namun, pembatasan mobilitas sudah jauh lebih longgar ketimbang tahun lalu. Di samping itu, proses vaksinasi yang telah dimulai pun kembali membangkitkan optimisme dunia usaha sehingga ekonomi kembali bergerak.

Hal ini tampaknya menjadi latar belakang bagi membaiknya kinerja BCA pada paruh pertama tahun ini. Hanya saja, mengingat pandemi belum berakhir, bahkan cenderung lebih buruk memasuki paruh kedua tahun ini, tantangan bagi kinerja BCA masih besar.

Meskipun demikian, dengan fundamentalnya yang solid serta pengalaman menghadapi pandemi setahun belakangan dengan cukup berhasil, tampaknya tidak sulit bagi BCA untuk dapat menjaga irama bisnisnya tetap stabil.

 

Tetap Terjaga

BCA melaporkan pertumbuhan di berbagai komponen kinerjanya pada paruh pertama tahun ini. Meskipun kinerja pertumbuhan kreditnya masih turun, perseroan dapat mengoptimalkan pendapatan dari kredit yang ada.

Selain itu, BCA pun mampu menjaga kualitas kreditnya sehingga rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tidak banyak berubah. Alhasil, beban pencadangan pun menjadi tidak lagi terlalu berlebihan. Hal ini memungkinkan perseroan membukukan pertumbuhan laba yang tinggi.

Berikut ini kinerja lengkap BCA pada semester I/2021:

Berdasarkan data tersebut, pendapatan bunga bersih BCA sebenarnya tidak tumbuh terlalu tinggi, yakni hanya 3,8% year on year (yoy) menjadi Rp28,3 triliun. Sementara itu, pendapatan nonbunga justru masih turun 1,2% yoy menjadi Rp10,2 triliun.

Turunnya pendapatan nonbunga terutama disebabkan oleh turunnya pendapatan dari lini trading yang anjlok 54% yoy dari R2,2 triliun menjadi Rp1 triliun. Sebaliknya, pendapatan fee dan komisi masih naik 7,5% yoy dari Rp6,6 triliun menjadi Rp7,1 triliun.

Meskipun demikian, BCA mampu menekan beban operasionalnya dengan cukup dalam, yakni turun 12,1% yoy. Alhasil, dengan pertumbuhan pendapatan yang terbatas, BCA mampu mendongkrak pertumbuhan labanya hingga dua digit menjadi Rp14,5 triliun.

Selain itu, dari data itu juga terlihat bahwa beban pencadangan BCA hanya naik 0,4% yoy menjadi Rp6,5 triliun. Selama kuartal-kuartal sebelumnya, beban pencadangan ini telah menjadi biang turunnya kinerja laba BCA dan bank-bank lainnya.

Seperti sudah disebutkan sebelumnya, beban pencadangan ini erat hubungannya dengan NPL. Pada paruh pertama tahun ini, NPL BCA hanya naik 0,3%. Alhasil, beban pencadangannya pun menjadi lebih terbatas. Secara umum, hal ini menunjukkan kuatnya kinerja BCA pada paruh pertama tahun ini.

Selain menjadi bank swasta terbesar, BCA juga menjadi bank dengan kinerja yang sangat efektif. Hal ini terlihat dari rasio ROA dan ROE BCA yang sangat tinggi. Aset BCA memang belum setinggi Bank Mandiri dan BRI, tetapi dari sisi ROA dan ROE, BCA lebih unggul.

Pada data tersebut terlihat bahwa ROA dan ROE BCA masing-masing 3,1% dan 16,6%. Bandingkan dengan ROA dan ROE Bank Mandiri, bank BUMN dengan aset terbesar, yang juga sudah merilis kinerja keuangannya pada paruh pertama tahun ini, yakni 2,3% dan 12,4%.

Artinya, dengan modal dan aset yang lebih terbatas, BCA mampu menghasilkan keuntungan yang lebih besar ketimbang Bank Mandiri. Bank-bank BUMN seringkali dikritik karena hal ini, yakni dengan asetnya yang begitu besar, kemampuan mereka untuk menghasilkan laba masih kalah ketimbang BCA.

Hal inilah yang tampaknya menjadi latar belakang tingginya minat investor pada saham BCA. Meskipun ekuitas dan asetnya tidak setinggi Bank Mandiri dan BRI, BCA justru memiliki kapitalisasi pasar terbesar di bursa, yakni Rp755,68 triliun per sesi pertama perdagangan hari Selasa, 3 Agustus 2021.

Pada saat yang sama, market cap Bank Mandiri dan BRI masing-masing hanya Rp266 triliun dan Rp462,55 triliun.

 

Alih Fokus ke Digital

BCA menjadi salah satu bank swasta besar yang paling serius dengan rencana transformasi menuju perbankan digital. Ketika sebagian besar bank lain berupaya mengoptimalkan layanan digital mereka, BCA melangkah lebih jauh dengan mempersiapkan anak usaha khusus di lini ini.

BCA sendiri tetap memperkuat transformasi digital di tubuh perusahaan dengan terus mengoptimalkan aplikasi digital banking mereka. Namun, perseroan juga telah mempersiapkan anak usahanya, PT Bank Digital BCA, untuk menjadi bank yang bakal beroperasi sepenuhnya secara digital.

BCA akan tetap beroperasi dengan mengandalkan kantor cabang dan kehadiran fisik, sama seperti bank-bank umum lainnya, sembari tetap memperkuat aplikasi digital. Sementara itu, BCA Digital akan mewujudkan mimpi menjadi bank yang sepenuhnya digital, branchless, dan menjangkau pasar lebih luas yang selama ini dibatasi oleh masalah geografis.

Berbeda dibandingkan dengan banyak bank kecil yang saat ini berlomba-lomba menerbitkan saham baru untuk menambah modal guna bertransformasi menjadi bank digital, BCA justru tak ingin terburu-buru masuk ke pasar modal.

Dalam kesempatan paparan publik kinerja semester I/2021 BCA pada 22 Juli 2021 lalu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan bakal terlebih dahulu membesarkan BCA Digital agar mampu membuktikan diri sebagai bank yang unggul, sebelum benar-benar menjajaki pasar modal.

“Kita tidak mau menjual cerita, tetapi menjual fakta yang sudah kita jalani,” demikian katanya.

BCA bakal menyuntikkan modal sendiri untuk membesarkan anak usahanya itu. Bagaimanapun, bank digital adalah produk baru di Indonesia yang masih harus diuji keandalannya oleh pasar. Oleh karena itu, jika proyek bank digital ini sukses, barulah langkah besar seperti initial public offering (IPO) akan ditempuh.

Jika berjalan sesuai rencana, upaya pembuktian diri BCA Digital hingga akhirnya melantai di bursa sebagai perusahaan terbuka akan membutuhkan waktu setidaknya 1 hingga 2 tahun ke depan.

Jika langkah pengembangan bisnis dan IPO BCA Digital ini sukses, tentu bakal menjadi pesaing terberat bagi bank-bank kecil yang selama ini begitu getol mempromosikan diri menjadi bank digital.

Pada akhirnya, hanya akan ada segelintir yang menguasai kue terbesar. Dengan dukungan induk yang kuat, bukan tidak mungkin BCA Digitallah yang akan merajai pasar perbankan digital ke depannya.

Dengan dukungan brand BCA yang sudah kuat di benak konsumen, relatif tidak sulit untuk membesarkan BCA Digital dan mengalahkan pesaing-pesaing di lini bank digital ini.

BCA pun sudah terbukti tahan banting di tengah masa pandemi dan kini kembali sehat. Fundamental yang kokoh seperti ini tentu menjadi landasan yang solid bagi pertumbuhan BCA Digital.

Hadirnya BCA Digital dengan potensi yang besar di lini perbankan digital tentu bakal menjadi sumber pertumbuhan bisnis masa depan bagi BCA. Dengan demikian, tampaknya masih akan sulit bagi pesaing-pesaingnya untuk dapat menggeser dominasi BCA di industri perbankan nasional.

 

Rencana Stock Split

Kabar menarik terbaru dari BCA adalah rencana perseroan untuk melakukan pemecahan nilai saham atau stock split. Hingga kini, BCA masih terkenal sebagai saham yang mahal. Bukan karena valuasinya yang sudah terlampau tinggi, melainkan karena harga sahamnya yang tinggi.

Untuk diketahui, valuasi mencerminkan mahal atau murahnya saham secara relatif terhadap nilai intrinsiknya. Misalnya, saham dengan harga Rp200 bisa jadi jauh lebih mahal secara valuasi dibandingkan dengan saham seharga Rp10.000.

Jika kemampuan menghasilkan laba dari emiten yang harganya Rp200 itu hanya Rp1 per saham, itu artinya price to earning ratio (PER) saham itu mencapai 200 kali. Sementara itu, jika emiten yang harga sahamnya Rp10.000 itu mampu menghasilkan laba per saham Rp1.000, PER-nya hanya 10 kali.

Dalam konteks ini, saham seharga Rp10.000 dengan PER 10 kali jauh lebih murah daripada saham seharga Rp200 dengan per 200 kali.

Bagaimana dengan BCA? Berdasarkan data Stockbit, PER BCA saat ini ada di level 24,03 kali. PER BCA ini tidak jauh dibandingkan dengan mean atau nilai tengah PER-nya dalam 5 tahun terakhir yakni di kisaran 24,81 kali. Artinya, PER BCA ini tergolong wajar, sebab secara historis PER BCA memang di level itu.

Dengan harganya yang kini mencapai Rp30.650, valuasi BCA sebenarnya tergolong murah. Namun, dari sisi harganya, untuk membeli satu lot saham BBCA, investor harus merogoh kocek Rp3,06 juta.

Bandingkan misalnya dengan saham BRI hanya kini hanya Rp3.750 per saham. Hanya butuh Rp375.000 untuk membeli satu lot saham BRI. Namun, berdasarkan data Stockbit, PER BBRI kini di level 26,65 kali, sedikit lebih tinggi ketimbang BCA.

Selain itu, mean PER BBRI dalam 5 tahun terakhir adalah di level 15,53 kali. Artinya, secara valuasi, saham BBRI kini cenderung lebih mahal ketimbang level harga historisnya dalam 5 tahun terakhir.

Jadi, secara valuasi BCA sebenarnya masih murah. Namun, dari sisi harga belinya sudah terlalu mahal. Hal ini menjadikan saham BCA sulit dijangkau oleh investor ritel yang kemampuan investasi bulanannya hanya di bawah Rp1 juta.

Oleh karena itu, rencana BCA untuk melakukan stock split dengan rasio 1:5 tentu menjadi kabar baik bagi investor ritel. Jika mengacu pada harga terkini, artinya harga saham BCA akan menjadi sekitar Rp6.000 per saham. Untuk membeli satu lot, cukup Rp600.000 saja.

Jika rencana ini terealisasi, saham BBCA kemungkinan besar bakal lebih ramai diperdagangkan, sebab kini harganya makin terjangkau. Jika ramai diperdagangkan, besar peluang kenaikan harganya pun bakal lebih cepat.

Ditambah lagi dengan fundamentalnya yang kuat dan sentimen kinerja yang positif serta rencananya mengembangkan bank digital, makin kuat alasan investor untuk mengoleksi saham BCA. Jika demikian, tampaknya BCA masih akan lebih lama lagi berada di takhta puncak emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar.

Bisnis