Menghitung Cuan Indika Energy (INDY).

Tirta Prayudha

Sebelum membaca lebih dalam mengenai analisis emiten ini, sebaiknya anda membaca artikel bangkitnya sektor batu bara yang sudah kami tulis di sini. Selayaknya sektor-sektor lain, energi juga mengalami fase bullish akibat tingginya permintaan. 

Ketika membicarakan Indika, umumnya orang akan merujuk pada cerita keberhasilan pengelolaan properti, media, dan seterusnya. Apakah keberhasilan itu juga didapatkan oleh sektor energi? Tentu saja. Indika menjadi salah satu perusahaan tambang terbesar dan sukses di tanah air. 

Sebagai perkenalan, PT. Indika Energi Tbk. (INDY) merupakan holding company dari banyak perusahaan lain di bidang energi yang terintegrasi. Mereka melakukan diversifikasi sejumlah lini usaha, antara lain: energy resources (Kideco, Mutu, Indika Trading), energy services (Petrosea, Tripatra Engineering), dan energy infrastructure (Mitrabahtera Segara Sejati, Cirebon Power, Interport). 

Meskipun begitu, investor pasar modal Indonesia masih mengenal INDY hanya sebagai emiten pertambangan batu bara. Yang sebenarnya tidak salah juga, kontribusi anak perusahaan INDY yang bergerak di pertambangan batu bara memang sangat dominan. 

Melansir laporan perusahaan per 3M21 saja, kontribusi Kideco masih mentereng. Nilainya sebesar 65% dari total revenue. Total kontribusi lini bisnis batu bara mereka juga mencapai 86,6% di tiga bulan pertama tahun 2021.

Perlu diketahui, kondisi INDY masih merugi. Per 3M21, INDY mencatatkan kerugian sebesar $9,4 juta. Meski demikian, kondisi ini sudah jauh lebih baik daripada 3M20 di mana INDY merugi sebesar $21 juta.

Kendati mencatatkan kerugian, harga batu bara saat ini membuat secercah harapan pada kondisi keuangan perusahaan. Akibat bangkitnya harga jual batu bara yang terjadi sejak akhir tahun 2020 lalu, perbaikan kinerja juga mulai terlihat di INDY. Secara kuartalan (QoQ), kinerja INDY mulai terkerek naik. 

Revenue naik 8% di 1Q21 menjadi $582 juta (4Q20: $538,6 juta). Operation profit naik 1000% lebih dari $7,1 juta (4Q20) menjadi $84,9 juta (1Q21). Kerugian pun berkurang jauh baik jika dibandingkan dengan 1Q20 ataupun 4Q20.

 

Sumber: Indika Energy Group Company Update 3M21

Oke, sekarang bagaimana kita bisa memproyeksikan kinerja INDY di kuartal-II tahun ini?

Hingga Mei 2021, INDY telah merilis pernyataan bahwa penjualan batu bara mereka sudah mencapai 15,2 juta ton, yang terdiri dari 5,4 juta ton untuk pasar domestik dan 9,8 juta ton untuk pasar ekspor. Dengan demikian, rata-rata penjualannya sebesar 3 juta ton per bulan, hingga total penjualan di Q2 nanti juga kira-kira akan sebesar 9 juta ton. 

Hal yang perlu diperhatikan berikutnya hitung-hitungan perihal average selling price (ASP) yang dikenakan INDY kepada para pelanggannya. Per 29 Juni 2021, harga acuan batu bara ICE Newcastle sudah berada di level $120 per ton, harga tersebut tidak bisa serta merta digunakan sebagai bahan menghitung kinerja keuangan INDY.

Harga acuan ICE Newcastle coal merupakan harga jual untuk batu bara berkalori tinggi (6,000 kcal/kg), sementara jenis batu bara yang dihasilkan INDY adalah batu bara berkalori 4,300 – 4,900 kcal. Otomatis, harganya juga akan berbeda.

Manajemen INDY juga sudah memberikan chart pergerakan harga jual rata-rata batu bara mereka dalam beberapa tahun terakhir, dan membandingkan nilai Newcastle Coal ataupun indeks batu bara dalam negeri.

 

 

Sumber: Indika Energy Group Company Update 3M21

Average selling price (ASP) INDY selama kuartal I tahun 2020 adalah sebesar $45,2 per ton di saat harga ICE Newcastle Coal berada di level $90 per ton. Dengan asumsi ASP INDY untuk kuartal II tahun ini sebesar $60 per ton (atau konsisten sekitar 50% dari harga Newcastle), maka revenue INDY mencapai $540 juta dollar.

Angka tersebut didapat dari total penjualan selama tiga bulan (April - Juni) dengan harga jual rata-rata di atas (9 juta ton batu bara di kali $60 per ton). Alhasil, INDY akan mampu mencatatkan kinerja lebih baik dan bisa mencetak 10% net profit margin saja, maka laba bersihnya mencapai $54 juta di kuartal II nanti.

Jika digabung dengan rugi sebesar $9juta di 1Q21, maka selama setengah tahun pertama untuk tahun ini, laba bersih INDY akan sebesar $45 juta. Total laba bersih INDY untuk setahun penuh akan mencapai $90 juta ($45 juta dikali dua) atau sekitar Rp1,3 triliun.

Oke, sebagai bentuk rekapitulasi, angka laba bersih itu akan didapat dengan asumsi:

  1.  Average selling price INDY sebesar $60 per ton.
  2. Volume penjualan INDY sebesar 3 juta ton per bulan, di mana target produksi batu bara INDY untuk tahun 2021 sebesar 31,4 juta ton.
  3. INDY bisa mencetak net profit margin sebesar 10%, di mana dalam 10 tahun terakhir angka ini bergerak cukup fluktuatif antara -3% hingga 25%.
  4. Angka tersebut murni sumbangan dari sektor pertambangan batu bara (Kideco & Mutu), di mana INDY juga memiliki anak perusahaan lain seperti PTRO, MBSS dll.

 

Berapa harga sahamnya dimasa mendatang?

Di harga sahamnya saat ini sebesar Rp1,275 per lembar (29 Juni 2021), maka kapitalisasi pasar INDY sebesar Rp6,6 triliun. Angka itu sendiri sudah lebih kecil dari posisi cash yang dimiliki INDY saat ini sebesar Rp8,4 triliun.

Jika nanti proyeksi laba bersih yang kita lakukan di atas mendekati kenyataan, dan laba bersih INDY untuk tahun 2021 sebesar Rp1,3 triliun, maka P/E ratio INDY hanya 5x, di mana PBV nya saat ini saja sudah 0,67x 

Untuk kembali ke PBV 1x saja, itu berarti harga saham INDY sekitar Rp1,900 per lembar. Di mana pada saat booming batu bara tahun 2018 yang lalu, harga saham INDY sempat terbang ke atas Rp4,000 per lembar yang mencerminkan PBV sebesar 3x.

Jadi, sekarang keputusan investasi di saham INDY menjadi keputusan anda. Apakah anda percaya bahwa batu bara sedang menuju fase super cycle? Di mana harga jual yang tinggi ini akan bertahan selama beberapa tahun?

Atau ini hanya dinamika sesaat saja?

Yang jelas, kenaikan harga batu bara saat ini belum sepenuhnya tercermin di kinerja INDY. Seperti mayoritas harga saham batu bara di bursa, harga saham INDY masih adem-ayem saja. Naik atau tidaknya harga saham INDY akibat tingginya harga jual, baru akan terkonfirmasi ketika laporan keuangan kuartal II resmi dirilis. 

Ingat, akal tak sekali tiba. Jadi, mari menunggu bersama. 

Investasi