Bangkitnya Sektor Batu Bara?

Tirta Prayudha

[Waktu baca: 4 menit]

Untuk pembaca website Big Alpha, mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah commodity super cycle yang pernah kami bahas di sini. Secara sederhana, commodity super cycle adalah kondisi di mana harga-harga komoditas di dunia berada dalam fase bullish akibat dari tingginya demand, dan minimnya supply.

Dan terbukti, selama beberapa bulan ke belakang harga nikel, besi, CPO, tembaga hingga kedelai sudah melonjak tinggi. 

Tapi kali ini, fokus kami adalah komoditas unggulan Indonesia; batu bara.

Sama seperti komoditas lain, harga batu bara dunia sedang berada dalam fase bullish yang cukup kuat. Sepanjang Q1 2021 saja, harga batu bara dunia tidak pernah turun di bawah $80 per ton. Dan saat tulisan ini ditulis, harga batu bara sudah menembus $110 per ton untuk kontrak bulan Juni 2021.

Padahal bisa dibilang, masa-masa sekarang adalah low season bagi industri batu bara, di mana penggunaan batu bara sebagai sumber energi sebenarnya akan mencapai puncaknya selama musim panas dan musim dingin. 

Tapi tidak dengan saat ini, kondisi northern hemisphere yang masih berada dalam musim semi pun seolah tidak berpengaruh dengan tajamnya permintaan batu bara.

Harga komoditas ini terus melaju meninggalkan level psikologis $100 per ton.

Dengan harga setinggi ini, kita kembali teringat kepada tahun 2017-2018 di mana harga acuan batu bara juga sempat menembus $100 per ton. Yang pada akhirnya mengerek harga saham-saham batu bara di bursa.

Tapi bagian paling sulit adalah mendefinisikan kenaikan harga ini, apakah ini sebagai bagian dari commodity super cycle yang berkepanjangan atau hanya siklus kenaikan harga biasa yang bersifat sementara.

Kita hanya bisa tau apakah fenomena ini tergolong super cycle ketika kita sudah menjalaninya.

Kenapa batu bara bisa setinggi ini?

Jawabannya: kombinasi meningkatnya permintaan dari China, dan minimnya pasokan batu bara dunia.

Seperti kita ketahui, China sebagai konsumen terbesar batu bara dunia mengalami pertumbuhan gila-gilaan di Q1 2021 pasca covid mereda di negara mereka. Ekonomi mereka tumbuh sebesar 18,3% yang merupakan rekor tertinggi sejak kali pertama mereka mencatat angka pertumbuhan ekonomi yang dimulai di tahun 1992.

Angka tersebut bahkan lebih tinggi dari angka pertumbuhan ekonomi China selama dekade keemasan mereka di awal tahun 2000an yang lalu. Ibarat mesin yang sempat terhenti mendadak karena covid di tahun 2020, kini mesin ekonomi tersebut mulai bergerak dengan sangat cepat.

Dan mereka lapar.

Mereka lapar akan sumber daya, termasuk di dalamnya batu bara, baik itu coking coal untuk industri baja ataupun thermal coal untuk pembangkit listrik (power generation).

Padahal, ketika ekonomi dunia nanti benar-benar pulih, bisa dipastikan bahwa tidak hanya China yang akan menjelma sebagai negara yang lapar akan sumber daya. Ada India, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan yang juga merupakan konsumen batu bara di Asia.

Jadi bayangkan saja ketika kondisi ekonomi dunia sudah benar-benar pulih dan permintaan akan sumber daya alam ini akan melonjak seiring dengan berputarnya kembali roda ekonomi.

Kondisi kedua adalah karena minimnya pasokan batu bara dunia. 

Harga batu bara dunia yang rendah dalam beberapa tahun ke belakang telah memaksa produsen-produsen batu bara dunia untuk memotong capex mereka, termasuk di Indonesia. Sehingga produksi batu bara yang mereka hasilkan cenderung turun atau stagnan.

Rendahnya harga jual selama beberapa tahun ke belakang, tidak menawarkan insentif bagi para produsen untuk terus mengeruk dan meningkatkan produksi mereka.

Ditambah lagi dengan terjadinya beberapa kecelakaan kerja di tambang-tambang batu bara di China bagian utara beberapa waktu yang lalu dan memanasnya hubungan China dan Australia (yang merupakan produsen coking coal terbesar di dunia).

Kombinasi dari semua hal ini menjadi resep sempurna naiknya harga acuan batu bara dunia yang terjadi dalam beberapa minggu ke belakang.

Lalu di mana peran Indonesia?

Posisi Indonesia sebagai eksporter thermal coal terbesar di dunia tentu diuntungkan dengan hal ini. Mayoritas batu bara thermal yang ditambang di Indonesia bertujuan ekspor setelah dikurangi oleh kewajiban domestik (DMO) ke PLN.

Dan hal ini juga sudah disadari oleh Pemerintah. Tidak ingin kehilangan momentum, Pemerintah langsung merevisi target produksi batu bara nasional dari awalnya sebanyak 550 juta ton, menjadi 625 juta ton untuk tahun ini.

Dan benar saja, neraca perdagangan RI mencatatkan surplus sebesar USD 2,19 miliar di bulan April 2021. Indonesia mencatatkan kenaikan ekspor tertinggi dalam 11 tahun terakhir pada bulan April 2021, di mana ekspor Indonesia naik 51,94% (YoY) jika dibandingkan dengan tahun 2020. Di dalamnya, ekspor non-migas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (menurut Mendag) sebesar USD 17,45 miliar.

Dan yang termasuk sebagai salah satu komponen ekspor non-migas tersebut adalah CPO dan batu bara.

Lalu bagaimana dengan saham-saham batu bara di bursa kita?

Belum bergerak banyak. 

Bahkan perhatian pelaku bursa belum tertuju kepada sektor ini. Padahal bisa dipastikan akan terjadi perbaikan kinerja di laporan keuangan emiten baru bara untuk periode Q1 2021 dengan mempertimbangkan harga jual yang cukup tinggi.

Cash cost produsen batu bara di Indonesia rata-rata sekitar $30 per ton, dan dengan harga jual yang sudah menembus $100 per ton, maka bisa diperkirakan margin keuntungan para emiten arang-arangan di bursa akan semakin tebal.

Saat ini, ada delay antara naiknya harga acuan batu bara dunia dengan pelaporan kinerja emiten-emiten batu bara, di mana kenaikan harga jual tersebut sebenarnya bisa kita jadikan leading indicator terhadap pergerakan harga saham-saham batubara di bursa.

Oleh karena itu, tulisan ini menjadi pembuka bagi analisis di artikel premium untuk beberapa emiten batu bara yang ada di bursa, menggunakan laporan keuangan terakhir yang mereka terbitkan. Sehingga momentum ini bisa dijadikan saat yang baik bagi anda yang tertarik mengoleksi atau bahkan averaging down emiten-emiten batu bara. 

Hingga nantinya mereka menerbitkan laporan keuangan kuartalan di tahun 2021 ini.

Tapi bukan berarti sektor batu bara tanpa risiko. Faktor kesadaran bahwa batu bara merupakan salah satu sumber daya yang tidak ramah lingkungan juga semakin kuat. 

Bahkan Pemerintah kita menargetkan untuk menutup pembangkit listrik batu bara mulai tahun 2025 demi mencapai target netral karbon (carbon neutral) pada tahun 2060. Jadi, masa depan industri batu bara juga semakin gelap dalam jangka panjang.

Tapi, bagaimana pun sektor ini tetap menarik untuk dibahas mengingat harga acuan batu bara dalam jangka pendek masih berada di level yang cukup tinggi.

Tags:

Investasi