Investasi

Mengenal Saham Farmasi BUMN (Dan Dinamikanya)

[Waktu baca: 6 menit]

Dalam hiruk pikuk perkembangan vaksin corona sejak pertengahan 2020 dan awal 2021, sejumlah saham farmasi sering dibicarakan oleh para pelaku pasar, terutama trader dan scalper, karena pergerakan harganya yang penuh kejutan. 

Saham farmasi itu antara lain saham KAEF (Kimia Farma) dan INAF (Indofarma), "dua bersaudara" yang terbang tinggi sejak 2020 namun perlahan terperosok pada awal 2021. Selain itu ada pula saham PEHA (Phapros) yang merupakan anak usaha KAEF.

Sebenarnya apa itu saham KAEF, INAF dan PEHA? Apa yang terjadi dengan saham-saham tersebut? Apa yang sebenarnya perusahaan tersebut (Kimia Farma, Indofarma, Phapros) lakukan sehingga sahamnya bergerak liar?

Begini penjelasan singkatnya.

Holding BUMN Farmasi

Kimia Farma dan Indofarma adalah dua perusahaan farmasi yang dimiliki oleh negara. Pada masa lalu, status kedua perusahaan ini adalah BUMN. Namun, sejak awal 2020, status tersebut berubah menjadi anak usaha. Mengapa?

Dua perusahaan ini bergabung dengan holding BUMN farmasi yang dipimpin oleh BUMN farmasi lain yang lebih besar yaitu PT Bio Farma (Persero). Jika Kimia Farma dan Indofarma dulu menggunakan atribut (Persero) kini kedua perusahaan itu tidak lagi menggunakan atribut tersebut. Perubahan itu setidaknya dapat dilihat di laporan keuangan Indofarma dan Kimia Farma.

Apa yang terjadi sebenarnya? Menurut peraturan yang dirilis oleh pemerintah, saham seri B dari Kimia Farma dan Indofarma dialihkan dari pemerintah ke Bio Farma. Dengan kepemilikan saham seri B tersebut, Bio Farma yang kini menjadi pemegang saham Kimia Farma dan Indofarma secara langsung, bukan lagi pemerintah.

Kendati demikian, pemerintah masih memiliki kendali terhadap Kimia Farma dan Indofarma melalui kepemilikan saham seri A (saham sakti) dimana pemerintah dapat mengubah anggaran dasar/anggaran rumah tangga hingga mengganti direksi atau komisaris. Mekanisme seperti ini terjadi juga di holding BUMN sektor lain seperti tambang dan energi. Saham BUMN yang berstatus sebagai perusahaan publik biasanya terdiri dari seri A dan seri B.

Baca Juga: Dollar, Bitcoin dan IHSG: Outlook 2021

Pengalihan saham seri B ini tercantum dalam PP Nomor 76 tahun 2019 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham Perusahaan Perseroan (Persero) PT Bio Farma.

Singkat kata, Kimia Farma dan Indofarma kini menjadi anak usaha BUMN ---bukan lagi BUMN--- yang dimiliki oleh Bio Farma. Isu holding BUMN ini sebenarnya sudah berhembus lama, setidaknya sejak periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo dimanaMenteri BUMN masih dijabat oleh Rini Soemarno (2014-2019). Baru setelah Menteri BUMN dijabat oleh Erick Thohir (2019-kini), pembentukan holding BUMN farmasi ini terealisasi.

Pada dasarnya, holding ini dibentuk dengan berbagai tujuan mulia, salah satunya adalah efisiensi. Seperti diketahui, salah satu tantangan yang dihadapi oleh perusahaan farmasi Indonesia, termasuk BUMN farmasi, adalah ketergantungan impor bahan baku.

Impor bahan baku tersebut tentu saja berdampak terhadap biaya yang dirogoh oleh perusahaan yang akhirnya berimbas pula terhadap harga jual terhadap konsumen. Jika impor bisa ditekan dan bahan baku diproduksi di dalam negeri oleh pihak yang terafiliasi maka Kimia Farma dan Indofarma dapat memperkuat kinerjanya.

Sementara itu, Phapros (PEHA) adalah perusahaan farmasi yang dulunya dimiliki oleh BUMN lain yaitu Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). Namun, sesuai rencana pemerintah yang telah dicanangkan beberapa tahun sebelumnya, KAEF kemudian mengakuisisi PEHA senilai Rp1,36 triliun pada 2019. Dengan demikian, PEHA kini menjadi bagian dari KAEF.

Sebagai gambaran, baik Kimia Farma, Indofarma dan Bio Farma memiliki lini usaha yang berbeda.

Kimia Farma: 

  • Produksi kosmetika, obat tradisional, alat kesehatan, produk makanan/minuman, memproduksi pengemas dan bahan pengemas dan sebagainya.

Indofarma 

  • Obat, alat kesehatan dan produk lainnya serta pharmaceutical engineering. 

Bio Farma 

  • Penelitian, pengembangan, produksi, dan pemasaran produk biologi, produk farmasi secara nasional dan global serta mengembangkan riset dan teknologi vaksin.

Vaksinasi

Holding BUMN farmasi tersebut terbentuk pada Februari 2020 saat dunia sedang dibayangi kekhawatiran atas penyebaran virus corona yang mematikan. Pada saat itu, pemerintah belum mengumumkan adanya kasus positif di Indonesia (pemerintah baru mengumumkan pada awal Maret 2020).

Beberapa bulan setelah kasus positif pertama di Indonesia diumumkan, berbagai pihak mulai berpikir mengenai upaya penanggulangan virus tersebut. Salah satunya adalah upaya produksi vaksin oleh Bio Farma dan distribusinya oleh Indofarma serta Kimia Farma.

Kendati perkembangan vaksin pada pertengahan 2020 tersebut belum terlalu jelas, saham INAF dan KAEF mulai "panas". Entah ada atau tidak korelasinya mengenai perkembangan vaksin, kedua saham ini terpantau mulai melesat sejak Juli 2020. 

Dihitung sejak awal Juli 2020 hingga 13 Januari 2020, saham KAEF telah terbang lebih dari 500% dan INAF sudah naik lebih dari 600%, persentase peningkatan yang cukup tinggi di Bursa Efek Indonesia. Tidak banyak saham di bursa Indonesia yang bisa naik dengan peningkatan sebesar itu.

Namun, tidak ada pesta yang tidak usai. Pada suatu hari yang bersejarah ketika Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang disuntik vaksin secara resmi, harga-harga saham farmasi, termasuk KAEF, INAF dan PEHA, justru berguguran. Harga mereka turun hingga menyentuh batas bawah penurunan (auto reject bawah/ARB). Meminjam bahasa teknikal, apakah penurunan itu menandai the end of the trend?

Baca Juga: Menyikapi Pergerakan Harga Saham Farmasi

ARB tersebut terjadi selama lima hari berturut-turut hingga 20 Januari 2021 dan entah akan terjadi sampai kapan. Bukan tidak mungkin, peningkatan harga-harga saham farmasi tersebut telah mencapai puncaknya sebelumnya akhirnya longsor begitu dalam. 

Berkaca dari pengalaman sebelumnya, saham INAF pernah terbang dari Rp3.000 hingga menyentuh puncaknya pada Rp6.500 pada 2018. Apakah saham tersebut terus naik? Tidak. Saham INAF kemudian tergelincir hingga ke bawah Rp400 pada akhir 2019. 

Bagi pelaku pasar yang telah mengkoleksi saham-saham farmasi tersebut di harga rendah lalu menjualnya di harga yang jauh lebih tinggi tentu saja akan mendapatkan keuntungan. Namun, bagi yang membeli saham farmasi di harga tinggi (Rp5.000an, misalnya), risiko kerugian terasa sangat nyata di depan mata.

Pergerakan harga saham farmasi ini lagi-lagi menjadi pengingat bagi para pelaku pasar bahwa permanent bull market is impossible. Selain itu, saat harga saham sudah naik terlalu tinggi, tidak ada salahnya lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Related articles

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login