Ekonomi

Mengenal Konsep Inflasi dan Manfaatnya

[Waktu baca: 5 menit]

Salah satu konsep ilmu ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari adalah inflasi. 

Pada dasarnya, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu secara berkelanjutan. Inflasi adalah konsep yang nyata dan dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh sederhana dari inflasi adalah peningkatan harga rokok. Pada 2010, harga satu bungkus rokok merk X sebesar Rp10.000. Pada 2020, harga satu bungkus rokok yang sama mencapai Rp25.000.

Data inflasi biasanya diumumkan secara berkala oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Berbagai pihak, terutama otoritas moneter seperti Bank Indonesia, berusaha menjaga angka inflasi dalam tingkatan tertentu.

Inflasi biasanya dikategorikan berdasarkan tujuh kelompok pengeluaran:

1.     Bahan Makanan.
2.     Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau.
3.     Perumahan.
4.     Sandang.
5.     Kesehatan.
6.     Pendidikan dan Olahraga.
7.     Transportasi dan Komunikasi.

Selain berdasarkan pengeluaran tersebut, BPS biasanya juga mengumumkan data disagregasi inflasi yang terdiri dari inflasi inti dan inflasi non-inti. Inflasi inti merupakan komponen inflasi yang cenderung tetap dan biasanya menggambarkan faktor fundamental yang mempengaruh harga seperti pergerakan harga komoditas, dinamika permintaan dan penawaran, nilai tukar dan sebagainya.

Sementara itu, inflasi non-inti merupakan komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya dan biasanya menggambarkan faktor non-fundamental yang mempengaruhi harga. Inflasi non-inti terdiri dari dua jenis yaitu inflasi komponen bergejolak dan komponen harga yang diatur pemerintah. Faktor kejutan, misalnya ada bencana alam yang mengakibatkan harga-harga barang naik, adalah salah satu contoh inflasi non-inti.

Bagaimana Inflasi Muncul?

Ada asap maka ada api. Ada inflasi maka ada faktor-faktor yang mempengaruhinya. Secara umum, inflasi terjadi karena tiga faktor yaitu faktor penawaran (cost push), faktor permintaan (demand pull) dan ekspektasi.

Dalam faktor penawaran, inflasi dapat terjadi karena berbagai sebab, misalnya depresiasi nilai tukar. Bayangkan seorang pengusaha asal Salatiga yang mengimpor bahan baku senilai US$1 dari Amerika Serikat. Pada bulan 1, dia mengimpor bahan baku saat nilai tukar Rupiah sebesar Rp13.000 per dolar AS. Pada bulan 3, dia mengimpor saat nilai tukar sebesar Rp15.000 per dolar AS.

Di bulan 3, pengusaha itu mengimpor bahan baku saat Rupiah terdepresiasi terhadap dolar AS. Dengan kata lain, uang yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku itu menjadi lebih banyak karena depresiasi tersebut. Akibat kenaikan harga bahan baku, harga barang yang diproduksi dengan bahan baku tersebut turut meningkat karena peningkatan harga pokok penjualan. 

Itu baru satu jenis bahan baku. Padahal, suatu negara mengimpor begitu banyak barang dari luar negeri. Dengan kata lain, depresiasi nilai tukar memiliki peran signifikan terhadap inflasi, selain faktor-faktor lainnya misalnya seperti inflasi yang terjadi negara lain.

Baca Juga: Tidak Gratis, Kenali Biaya Investasi Saham

Di sisi yang berlainan, faktor pemicu inflasi lainnya yaitu faktor permintaan yang dapat terjadi ketika permintaan barang dan jasa yang lebih tinggi dari penawaran yang ada. Misalnya, pada suatu masa, permintaan daging begitu tinggi. Di saat yang bersamaan, pasokan daging di pasar tidak sebanyak permintaannya. Akibatnya, harga daging itu menjadi lebih mahal daripada biasanya.

Inflasi Sebaiknya Tinggi atau Rendah?

Pada umumnya, inflasi diharapkan tidak terlalu tinggi karena akan menyulitkan masyarakat. Bisa dibayangkan jika inflasi terlalu tinggi maka masyarakat akan kesulitan membeli barang dan jasa yang ada di pasar.

Indonesia pernah mengalami inflasi yang sangat tinggi (hyperinflation) hingga lebih dari 600% pada 1965 yang terjadi akibat pencetakan Rupiah oleh Presiden Indonesia saat itu, Soekarno. 

Inflasi yang tinggi dan tidak stabil juga dapat berdampak negatif terhadap perekonomian masyarakat. Salah satu efeknya adalah tergerusnya pendapatan masyarakat akibat inflasi tersebut seiring peningkatan harga-harga.

Dengan kata lain, inflasi yang ideal adalah inflasi yang "rendah dan stabil". Namun, inflasi yang terlalu rendah juga menjadi suatu penanda bahwa perekonomian sedang lesu. Salah satu contoh inflasi yang terlalu rendah adalah saat wabah corona menghantam ekonomi Indonesia. 

Baca Juga: Mana Lebih Baik: Investasi Saham atau Trading Saham?

Inflasi aktual 2020 sebesar 1,68% atau terendah dalam 20 tahun terakhir. Inflasi yang terlalu rendah dapat menjadi penanda bahwa daya beli masyarakat secara umum sedang terganggu seiring penurunan pertumbuhan ekonomi.

Berikut ini data inflasi 2001-2020:

Buat Apa Data Inflasi?

Pada dasarnya, data inflasi dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Salah satu yang sering dikenal dalam penggunaan data inflasi adalah penetapan upah minimum pekerja di suatu daerah (kota/kabupaten atau provinsi). Formula penetapan upah minimum biasanya menggunakan inflasi sebagai salah satu komponennya.

Contoh sederhananya, perusahaan atau pemberi kerja biasanya menggunakan acuan inflasi untuk meningkatkan gaji para pekerjanya. Misalnya, inflasi tahunan sebesar 2% maka peningkatan gaji para pekerja biasanya ditetapkan di atas 2%.

Selain itu, data inflasi juga dapat digunakan acuan untuk berinvestasi. Tidak sedikit orang yang melakukan investasi untuk mengantisipasi inflasi di masa depan. Dengan kata lain, imbal hasil investasi tahunan diharapkan dapat mengungguli besaran inflasi tahunan.

Dalam prakteknya, tidak sedikit orang yang mengurangi porsi simpanannya di bank lalu memindahkan uang tabungan tersebut ke aset seperti obligasi, saham, emas reksa dana dan sebagainya karena bunga yang diberikan oleh bank lebih rendah daripada inflasi. Daripada "termakan" inflasi, menurut sebagian orang, lebih baik uang tersebut ditempatkan di instrumen lain.
 

Related articles

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login