Mengatasi Ketakutan Berinvestasi di Pasar Modal

Salah satu kesulitan untuk menarik orang untuk terjun berinvestasi di pasar modal di Indonesia adalah stigma negatif tentang pasar modal itu sendiri.

Entah apa yang terjadi di pasar modal di masa lalu, hingga sekarang pasar modal bisa mendapat reputasi sejelek ini. Hampir semua calon investor yang BigAlpha temui mempunyai kecurigaan cukup mendalam tentang investasi di pasar modal.

Mulai dari takut ditipu broker, risiko keamanan transaksi, hingga risiko kehilangan uang bercampur baur semuanya. Hal ini diperparah dengan agresifnya beberapa broker dalam mencari nasabah, sehingga menimbulkan ketidaknyamanan dari calon investor di pasar modal.

“Gue berasa banget diprospekin, nih!” begitu rata-rata pola pikir calon investor pasar modal.

It feels like everyone is trying to take your money away.

Itu juga kami alami waktu pertama kali terjun di pasar modal.

Padahal, kenyataannya tidak seperti itu.

Kali ini BigAlpha akan buka-bukaan kepada kalian, membongkar semua yang perlu diketahui sehingga kecurigaan kalian terhadap pasar modal bisa hilang, atau setidaknya berkurang.

  1. How do you guys make money?

Biasanya yang cukup agresif dalam mengajak orang untuk terjun ke pasar modal ada tiga pihak: Regulator, broker, dan konsultan.

Dari sisi Regulator (dalam hal ini adalah BEI), mereka punya kepentingan untuk mengajak masyarakat Indonesia berinvestasi di pasar modal. Sebagai perwakilan dari pemerintah, mereka ingin memastikan kalau perusahaan-perusahaan yang go public di bursa, beroperasi di Indonesia, juga dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Ada isu kedaulatan yang dimainkan di sana.

Nasionalisme di Pasar Modal

Jadi harapannya, bursa Indonesia (yang selama ini cukup dipengaruhi oleh investor asing) tidak terlalu rapuh terhadap pergerakan dana asing.

Yang terjadi pada saat ini, jika terjadi suatu kepanikan di luar (entah itu di Amerika atau China), biasanya akan ikut membuat para investor asing panik. Mereka ingin segera menarik dananya dari pasar Indonesia untuk menutupi kerugian atau sekadar mengurangi risiko investasi mereka.

Saat dana mereka ditarik keluar dari bursa Indonesia, hal itu bisa membuat index kita jatuh berdarah-darah.

Situasi seperti itu membuat seolah-olah fundamental ekonomi Indonesia juga ikut terseret oleh isu di negara lain, yang pada kenyataannya sedang baik-baik saja.

Oleh karena itu, untuk mengurangi risiko-risiko seperti ini, pemerintah mengajak rakyat Indonesia untuk ikut berinvestasi di pasar modal (contohnya dengan program Yuk Nabung Saham). Mereka berpendapat sudah saatnya investor Indonesia jadi tuan rumah di negara kita sendiri. Dengan begitu, pasar modal Indonesia diharapkan akan semakin kuat dengan banyaknya investor lokal.

Keuntungan yang didapatkan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia bisa juga dinikmati oleh rakyat Indonesia, bukan hanya mengalir ke investor asing.

Pihak otoritas bursa mendapatkan keuntungan dari fee yang mereka kenakan ke emiten-emiten yang listing di bursa.

Yang kedua adalah Broker (Perusahaan Sekuritas).

Seperti halnya bank yang agresif mencari nasabah, broker saham juga demikian. Mereka mendapatkan keuntungan dengan mengenakan fee terhadap transaksi jual/beli yang dilakukan investor. Semakin sering investor bertransaksi, maka mereka akan semakin diuntungkan. Oleh karena itu, broker seringkali terkesan agresif dalam mencari nasabah, karena dengan semakin banyaknya nasabah, maka fee yang mereka terima juga akan semakin besar. Hal ini pernah kami jelaskan di tulisan ini.

Konsultan. Jika ditilik lebih jauh, sebenarnya ada banyak konsultan pasar modal Indonesia yang rutin mengadakan kelas, mentoring, exclusive membershipmengeluarkan e-book dll. Ada grup-grup telegram yang mengkhususkan diri untuk membahas saham. Salah satunya tentu saja BigAlpha.

Kecurigaan utama orang-orang terhadap konsultan adalah:

“Kalau kalian tau saham-saham undervalue, kenapa informasi itu kalian jual ke orang lain? Kenapa gak kalian beli sendiri? It’s too good to be true!

Jawabannya adalah; keterbatasan dana.

Jujur, saat ini kami di BigAlpha juga membeli saham-saham undervalue yang ditulis di e-book kuartalan yang kami keluarkan.

We believe on our own analysis.

Dan pada postingan-postingan di website ini, kami berikan disclaimer jika BigAlpha sedang dalam memegang posisi di saham tersebut apa tidak.

Namun, dengan jumlah dana yang terbatas yang kami miliki, tentu saja kami tidak bisa membeli semua saham undervalue yang kami temukan. Jadi, kenapa informasi ini tidak kami jual ke orang lain? Orang-orang yang tidak tau atau tidak punya waktu untuk mencari sendiri saham-saham tersebut?

Simbiosis mutualisme, bukan?

Para konsultan biasanya mendapatkan uangnya dari jasa yang mereka jual, baik itu menerbitkan e-book, membership atau membuat kelas investasi.

  1. Are you trying to steal my money?

No, you are the only one responsible for your own money.

Dulu, masih ada pencampuran dana antara rekening broker dan rekening nasabah. Jadi broker punya akses terhadap uang nasabah mereka. Bayangkan jika broker itu bangkrut atau kabur dengan dana nasabah? Nasabah tentu saja akan mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Mungkin itulah awal mulanya isu ‘ketakutan ditipu broker’ bermulai.

Sekarang, dana nasabah disimpan terpisah di rekening bank yang berbeda dengan rekening broker. Namanya adalah Rekening Dana Investor yang tercatat atas nama masing-masing investor. Jadi, selama broker itu merupakan broker yang memiliki ijin dari otoritas bursa, maka keamanan untuk membuka akun di perusahaan sekuritas itu tentu saja terjamin.

Saham yang anda miliki pun tidak disimpan oleh broker, semuanya tercatat dan tersimpan di entitas lain yang bernama KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Dan KSEI akan memberikan kartu kepada masing-masing investor sebagai bukti keanggotaan.

  1. Why did you keep asking people to invest in stock market?

Selain alasan-alasan yang sudah kami berikan di atas, ada alasan lain yaitu; likuiditas pasar. Dengan semakin banyaknya investor di pasar modal, maka frekuensi transaksi dipastikan akan meningkat. Likuiditas transaksi akan semakin baik. Bayangkan saja seperti suatu pasar tradisional, dimana jumlah penjual dan pembeli ada jutaan orang. Tentunya kemudahan bertransaksi akan semakin meningkat, bukan?

Belum lagi faktor keamanan yang akan semakin diperhatikan otoritas bursa. Insentif yang mungkin akan diberikan pemerintah, broker-broker yang akan semakin berperang tarif untuk merebut hati calon investor. Dan hal-hal lainnya yang mungkin akan terjadi.

Pada akhirnya akan sama-sama untung, kan?

  1. Is it safe?

Jawabannya sekarang sudah bisa Alpha Investor jawab sendiri. Dengan dibukanya rahasia dapur BigAlpha, pemisahan tugas (segregation of duties) yang dilakukan broker dan pihak otoritas bursa, apakah investasi di pasar modal itu aman?

***

Jadi begitulah, kenapa menurut Big Alpha orang harus terjun investasi di pasar modal Indonesia. Semoga tulisan ini bisa menghilangkan kecurigaan-kecurigaan terhadap orang-orang yang mengajak anda menjadi investor di pasar modal.

Atau ada pertanyaan lain yang belum kami jawab? Coba tuliskan di kolom komentar di bawah.

 

PS: Untuk mendapatkan informasi yang terupdate, silakan join dengan channel Telegram kami di sini.

Related Posts

Mengapa Sulit Untuk Berinvestasi Saham?
Potensi Sektor Perkapalan di Tahun 2018

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.