Melacak Jejak Ponzi, Penipu Terbesar Abad ke-20

Date:

Ratusan orang berbaris di depan The Security and Exchange Company, sebuah perusahaan keuangan yang memperjual belikan kupon balasan pos internasional, di Boston, pada 30 Juli 1920. Mereka meneriakkan nama Charles Ponzi, pemilik perusahaan tersebut. Namun, Ponzi tak kunjung membuka pintu kantor.

Kejadian itu dimuat dalam pemberitaan The Boston Post sehari setelahnya. Massa yang mengantre, hendak mencairkan kwitansi hasil dari investasi mereka di perusahaan Ponzi. Setelah enam hari sebelumnya Ponzi berkata kepada auditor pemerintah akan bekerja sama dalam investigasi terkait kegiatan perusahaannya. Ia pun berjanji menutup layanan bagi klien baru sampai proses audit selesai.  

“Dia (Ponzi) adalah orang Italia terhebat,” kata salah seorang pengantre kepada reporter The Boston Post.

Kisah bisnis Ponzi, yang nanti akan membuatnya terkenal sebagai orang Italia terhebat soal tipu-menipu pada abad ke-20, bermula pada Agustus 1919. Saat itu, ia menerima kupon balasan pos internasional dari kenalannya di Italia. Kupon yang ia terima bisa menjadi alat transaksi internasional berskala kecil yang ditukar dengan prangko.

Ponzi menyadari bahwa kupon tersebut dibeli di Spanyol karena harga yang lebih murah daripada di Italia. Nilai kurs mata uang Spanyol kala itu lebih rendah dari Italia, dan tentu saja lebih rendah lagi dari dolar Amerika Serikat (AS). Sementara, kupon itu tetap berlaku di AS dan dapat ditukar dengan prangko setempat yang harganya seperenam kali lebih mahal.

Sebuah peluang bisnis muncul di kepala Ponzi. Ia berencana membeli kupon Spanyol menggunakan dolar AS dalam jumlah besar, lalu menukarnya dengan prangko AS dan menjualnya kembali. Margin ketika menukarkan kupon tersebut dan menjualnya kembali membuat Ponzi mendapat untung besar. Begitulah mula ia membuat perusahaannya.

Untuk lebih banyak menjaring modal, Ponzi membuat skema investasi. Ia menawarkan pengembalian sebesar 50 persen dalam 45 hari dan 100 persen dalam 90 hari kepada investornya. Jauh lebih tinggi ketimbang tingkat bunga yang berlaku saat itu sebesar lima persen.

Ponzi mengklaim telah memiliki agen di seluruh Eropa yang bisa mendatangkan kupon dalam jumlah besar. Sehingga, investor tak perlu khawatir akan keberlangsungan bisnis ini. Ia meminta kepada para investornya untuk menjadi agen pemasaran yang bertugas mencari investor baru dengan iming-iming komisi. Investor baru tersebut akan mencari lagi investor lainnya untuk mendapat komisi, begitu seterusnya.

Bertambahnya investor memang menjadi jangkar utama bagi skema Ponzi. Lewat uang investor baru, Ponzi akan menambal tanggungan pengembalian ke investor lama dan agar terlihat bisnisnya baik-baik saja. Jika dicermati secara baik, tak ada skema investasi yang berjalan. Hanya sebuah sebuah skema si A mengutang ke B untuk membayar C dan seterusnya.

Skema Ponzi, yang disebutnya dalam otobiografinya berjudul The Rise of Mr. Ponzi sebagai alat untuk mewujudkan impian semua orang menuju kekayaan, lekas menyebar. Terlebih Ponzi secara sengaja membuat seolah tak semua orang dapat berinvestasi kepadanya. Satu cara yang mirip dilakukan tokoh fiksi Tom Sawyer untuk memperdaya teman-temannya. Sehingga, semakin banyak yang berinvestasi kepadanya.

“Dia adalah penjahat yang menarik—penipu ulung,” kata Donald Dunn yang menulis biografi Ponzi berjudul Ponzi! The Boston Swindler.

Dunn menilai keunggulan Ponzi bukan pada pengetahuan ekonominya, tapi kemampuannya memanipulasi psikis calon investornya. Ponzi bisa mendekati seorang kenalannya, mentraktir kenalan itu ngopi, lalu membuat si kenalan itu meyakinkan kenalan lainnya untuk berinvestasi padanya. Layaknya Frank Abagnale Jr. dalam film Catch Me If You Can besutan Steven Spielberg. 

Ketika mendekati korbannya, Ponzi bisa sedekat keluarga. Memberikan mereka cara mencapai mimpi dalam semalam. Memberi solusi atas persoalan mereka dengan cara yang tak pernah terpikirkan. Pendeknya, persoalan seseorang adalah pintu masuk baginya. Ia pun mendapat julukan sebagai penyihir keuangan di jalanan Boston.

Investor Ponzi berasal dari banyak strata sosial dan profesi. Mulai dari imigran Italia seperti dirinya, buruh, tukang pos, polisi, sampai politikus. Setelah melalui audit dan penyelidikan selama delapan bulan, pengadilan Boston resmi menetapkan pekerjaan Ponzi sebagai penipuan. Jumlahnya tak main-main, tercatat korbannya berkisar 40 ribu orang di Boston dengan total kerugian mencapai US$ 15 juta.

Selama masa kejayaannya, Ponzi banyak membeli aset di Boston. Ia punya banyak properti, mobil mewah, dan membeli apapun yang dia inginkan. “Semakin banyak aku membeli, semakin aku ingin membeli yang lainnya,” tulisnya dalam otobiografinya. “Ini adalah sebuah candu.”

Namun, sebetulnya Ponzi hanya ingin mengambil alih Hanover Trust—bank yang pernah menolak aplikasi pinjamannya. Ia mendepositokan banyak uangnya di bank tersebut sampai akhirnya mampu mengakuisisinya. Nanti, saat Ponzi bangkrut, bank tersebut ikut jatuh.

 

“Dia adalah penjahat yang menarik—penipu ulung,” kata Donald Dunn yang menulis biografi Ponzi berjudul Ponzi! The Boston Swindler.

 

Datang Membawa Mimpi, Pulang Dideportasi

Ponzi turun dari tangga kapal SS Vancouver yang bersandar di pelabuhan Boston pada 15 November 1903. Hari itu adalah pertama kali ia menginjakkan kaki di negeri Paman Sam sebagai imigran. Ia meninggalkan Italia setelah gagal menyelesaikan studi di Universitas Roma dengan harapan mendapat peruntungan baru di AS.

“Aku tiba di negeri ini dengan uang US$ 2,50 di kantong dan US$ 1 juta di harapan, dan harapan itu tak pernah meninggalkanku,” klaimnya kepada The New York Times pada musim panas 1920. Sebab, nanti The Boston Post akan mengungkap masa lalu Ponzi yang ternyata bukan dari keluarga mapan di Italia seperti klaimnya dan pernah terlibat beberapa kasus kejahatan, seperti penyelundupan imigran Italia dari Kanada ke AS. 

Untuk mencapai harapannya tersebut, Ponzi harus menjadi buruh kasar di New York, tukang cat papan di Florida, dan pada akhirnya kembali ke Boston pada 1917 sebagai pegawai pialang dagang bernama J. R Poole. Ketika masa kejayaannya, Ponzi berbalik mempekerjakan Poole.

Hidup di Boston tetap tak mudah bagi Ponzi. Gaji dari Poole tak cukup untuk membangun tangga menuju harapannya menjadi jutawan. Dalam sebuah perjalanan di trem sambil memikirkan ulang harapannya, Ponzi bertemu Rose Gnecco. Ia jatuh hati pada gadis itu dan merayunya.

Rose yang lebih muda merasa kagum dengan rayuan-rayuan Ponzi. Gadis itu kemudian membalas cinta si penyihir keuangan. Keduanya menikah pada Februari 1918. Ponzi kemudian mengambil alih toko kelontong milik mertuanya dan mengabaikannya. Sebuah hal yang tak pernah menjadi pelajaran bagi Rose dan tetap mempercayai Ponzi, seperti tampak pada senyumannya yang menghiasi koran-koran Boston beberapa tahun kemudian.

Kekacauan. Barangkali itulah yang hanya bisa dilakukan Ponzi dalam meniti harapannya. Skema yang ia gadang akan mendatangkan uang tak terbatas, ternyata punya bolong besar dan membuatnya menjadi tak lebih dari sekadar penipu. 

Ponzi tak memperhitungkan bahwa otoritas pos akan menyesuaikan harga saat melihat permainan pada kupon balasan pos internasional. Itu lah yang terjadi kemudian. Departemen Pos AS mengumumkan tingkat konversi baru kupon balasan pos internasional. Otoritas ini menyatakan keputusan diambil bukan terkait kegiatan Ponzi dan memastikan tak akan ada yang bisa bermain-main seperti itu. 

Pada awal Februari 1920 Departemen Pos AS dan otoritas legal AS menginvestigasi praktik Ponzi. Investigasi ini hanya menemukan sedikit bukti, tapi menjadi awal bagi keruntuhan Ponzi. Bulan demi bulan setelahnya, adalah kisah ketegangan antara Ponzi dan otoritas hukum AS di media.

Dalam posisi tertekan, Ponzi berlagak bekerja sama dengan auditor pemerintah. Pada 26 Juli 1920, ia menyatakan tak akan menerima investor baru sampai proses audit kelar.Menyebabkan antrean panjang investor di depan kantornya untuk mencairkan kwitansi mereka. The Boston Post pada suatu hari di bulan Juli melaporkan Ponzi membayar US$ 1 juta pada investor yang ketakutan dan hanya mendapatkan modal pokoknya.

Ponzi pun menekan balik otoritas yang sedang menyelidikinya dengan mengatakan, “rahasia saya adalah bagaimana menguangkan kupon. Saya tidak menceritakannya kepada siapapun. Biarkan AS mengetahuinya jika bisa.” Pernyataannya ini dimuat di Washington Post dengan judul berita: Rasa Pengiriman Pos Menanti Pemerintah Federal Mempelajari Bagaimana Dia Mendapat Untung. 

Namun, kekacauan terlanjur menjadi bola salju yang kian membesar. Audit otoritas terhadap bisnis Ponzi semakin gencar. Pada Agustus 1920, auditor pemerintah bernama Edwin Pride menemukan catatan merah sebesar US$ 3 juta dalam pembukuan perusahaan Ponzi. Temuan yang mengakhiri petualangan Ponzi.

Pengadilan federal menghukum Ponzi atas tuduhan menggunakan surat untuk menipu. Ia sempat menjalani hukuman selama 3,5 tahun sebelum bebas bersyarat. Ia lantas dihukum lagi dengan tuduhan penipuan negara dan keluar lagi secara bersyarat saat masih proses banding. Lalu, ia menuju Florida untuk menjual tanah rawa dengan menggunakan nama palsu Chapron. Sekali lagi ia tertangkap dan dihukum.

Kehidupan Ponzi di AS berakhir pada 7 Oktober 1934. Imigrasi menolak permohonannya untuk tetap tinggal di AS. Ia dideportasi ke Italia dan dianggap sebagai alien yang tak diterima di AS. Dua tahun setelah masa deportasinya, Rose menceraikan Ponzi. 

Akhir hayat Ponzi di Brazil. Ponzi sempat mengajar bahasa Inggris dan Prancis di Rio de Janeiro, sebelum akhirnya terkena stroke lalu meninggal di sebuah Rumah Sakit Amal seorang diri pada 18 Januari 1949. Ponzi hanya meninggalkan uang US$ 75 sebagai biaya pemakaman. 

 

Menyembah “Si Tukang Sihir”

Ponzi telah lama tiada, tapi para penipu ulung setelahnya tetap menggunakan skemanya. Meskipun namanya kerap kali berubah, dari skema piramida sampai Multi Level Marketing (MLM). Masih pula banyak orang yang percaya pada skema Ponzi demi menjadi kaya dalam semalam.

Bernard Madoff adalah penipu dengan skema Ponzi terbesar di dunia pada abad ke-21. Ia terbukti mengemplang dana SU$ 64,8 miliar atau sekitar Rp 950 triliun dari ribuan investornya di AS. Seperti halnya Ponzi, ia mampu membuat para investornya meyakini konsep investasinya bisa mendatangkan keuntungan besar dan cepat. Bahkan, membuat mereka menganggapnya sebagai dewa. Mulai dari pensiunan sampai Yayasan milik pemenang Nobel Perdamaian Elie Wiesel menjadi korbannya. 

Kasus Madoff terungkap pada 2008, ketika AS sedang mengalami krisis finansial. Para investornya tak bisa menguangkan investasinya dan menyadari telah tertipu. Pengadilan federal pun memutuskan ia bersalah atas tuduhan investasi fiktif dan menjatuhkan hukuman 150 tahun penjara pada 2009. Ia meninggal di penjara pada 14 April 2021 lalu tanpa sepeserpun uang.

Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat serangkaian kasus penipuan dengan skema Ponzi telah terjadi sejak 1990-an. Salah satu kasus yang paling belakangan terungkap adalah First Travel. Jasa perjalanan milik Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari Hasibuan ini terbukti melakukan penipuan pada 63 ribu jamaahnya dengan kerugian mencapai Rp 905,3 miliar. 

Pasangan suami istri tersebut menarik minat korbannya dengan paket umroh murah seharga Rp 14,5 juta per orang. Seperti halnya skema Ponzi, setiap agen mendapat komisi umroh gratis bila membawa jumlah jamaah tertentu. Namun, pada akhirnya ribuan jamaah gagal berangkat dan menuntut mereka hingga akhirnya kasus ini terungkap.

Pada 2018, pengadilan menetapkan Andika dan Anniesa bersalah. Andika dijatuhi hukuman selama 20 tahun penjara dan Anniesa 18 tahun penjara. Keduanya pun wajib membayar denda Rp 10 miliar serta seluruh asetnya disita negara.

Seperti kata pepatah lama, sepandai-pandai tupai melompat akan terjatuh juga. Begitulah nasib Ponzi dan para pengimitasi skemanya. Meski demikian, selama orang masih memupuk mimpi untuk kaya secara singkat, maka selalu ada celah bagi penipu berskema Ponzi beraksi.

________________________________________________

Tulisan ini adalah bagian dari serial #SkandalKeuangan dan akan terbit setiap akhir pekan.