Lis Lengkap Saham Emiten Rokok Berikut Profil Mininya

Emha Asror

Ada banyak jenis emiten yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), termasuk perusahaan-perusahaan produsen rokok. BEI sendiri menghimpun emiten-emiten yang bergerak di bidang ini ke dalam sektor Consumer Non-Cyclicals alias Barang Konsumen Primer. 

Setidaknya, ada lima emiten rokok yang sahamnya telah terdaftar di BEI, baik yang sudah terklasifikasi ke dalam papan utama ataupun papan pengembangan. 

Sebagai catatan, merujuk edaran berjudul Panduan Go Public milik BEI, papan utama ialah untuk emiten yang mempunyai ukuran besar, mempunyai track record, juga harus memenuhi syarat-syarat tertentu. 

Sementara papan pengembangan dimaksudkan untuk perusahaan-perusahaan yang belum dapat memenuhi persyaratan pencatatan di papan utama, termasuk perusahaan yang prospektif namun belum menghasilkan keuntungan, dan perusahaan yang sedang dalam penyehatan. Di bawah ini adalah masing-masing profilnya. 

Papan Utama

1. PT Gudang Garam Tbk (GGRM)

Setelah menduduki posisi direktur di pabrik rokok NV Tjap 93, perusahaan rokok terkenal di masa itu yang berlokasi di Jawa Timur, Tjoa Jien Hwie atau Surya Wonowidjoyo lalu resign dari perusahaan milik pamannya itu di tahun 1956. Surya kemudian membeli tanah di Jalan Semampir, Kediri.

Di tanah seluas ±1000 m² itu, Surya memulai industri rumah tangga yang memproduksi rokok juga. Semula, ia memproduksi rokok kretek dari kelobot dengan merek Inghwie. Sukses berjalan dua tahun dengan Inghwienya, ia memberi nama perusahaannya menjadi Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam dan menggantinya dengan PT Gudang Garam di 26 Juni 1958. 

Di 1985, setahun sebelum ia wafat, Surya menyerahkan kontrol perusahaan itu ke anaknya, Cai Daoheng alias Rachman Halim. Selang bertahun-tahun beroperasi di bawah kendali Halim, PT Gudang Garam resmi go public di BEI pada 27 Agustus 1990. 

Berdasar catatan Bloomberg bertajuk Made billions from clove cigarettes di 2008 lalu, usai mencatumkan sahamnya di bursa efek, pangsa pasar perusahaan berkode saham GGRM itu melesat hingga 35 persen. Tujuh tahun kemudian, atau di 1997 tepatnya, pangsa pasar PT Gudang Garam Tbk meroket sampai 45 persen. 

Kini, dengan menjadi satu di antara 10 perusahaan terbesar dalam kapitalisasi pasar di Indonesia, PT Gudang Garam Tbk berhasil menguasai 20 persen pasar rokok Tanah Air dengan pendapatan bersih mencapai Rp 134 triliun dan memiliki total aset hinpgga Rp 150 triliun di 2018 silam.

2. H.M. Sampoerna Tbk (HMSP)

Datang dari Fujian, Tiongkok, ke Indonesia di 1898 bersama kakak perempuan dan ayahnya, Liem Seeng Tee langsung dititipkan ke sebuah keluarga Tionghoa di Bojonegoro, Jawa Timur. Di keluarga ini, Liem diasuh hingga umur 11 tahun dan kemudian hidup mandiri dalam memenuhi kebutuhannya dengan berjualan makanan kecil hingga beberapa saat setelah ia menikah.

Barulah di 1912, Liem mendapatkan pekerjaan sebagai peracik dan pelinting rokok di sebuah pabrik rokok di Lamongan. Namun, Liem tidak lama bekerja di perusahaan ini. Setelah berhenti dari pekerjaannya itu, ia pun menyewa sebuah warung kecil di Jln. Tjantian di Surabaya. Di warung itu, Liem dan istrinya menjual makanan ringan dan rokok racikannya sendiri. 

Dengan uang tabungan hasil ia berjualan, Liem membeli perusahaan kecil produsen rokok yang tengah bangkrut. Dari sinilah Liem melayani pesanan rokok dengan aneka citarasa, menggunakan mesin pelinting sederhana. Awalnya, perusahaan kecilnya ini ia beri nama  Handel Maatschappij Liem Seeng Tee, dan berganti menjadi NVBM Handel Maatschapij Sampoerna di 1913. 

Di 1930-an NVBM HM Sampooerna sudah membikin rokok dengan aneka macam merek dagang seperti Dji Sam Soe, 720, 678, dan Djangan Lawan untuk beragam segmen pasar. Namun, khusus membidik pasar premium, Dji Sam Soe merupakan brand yang paling diandalkan Liem. 

Tapi demikian, bisnis NVBM HM Sampooerna sempat porak-poranda seturut kedatangan Jepang di 1942, dan Liem kembali membangun perusahaan ini dari semula. Tahun 1956, bertepatan wafatnya Liem, dua putri tertuanya mengambil alih jalannya perusahaan. Di tangan dua putriya itu, NVBM HM Sampooerna tak lagi memproduksi Dji Sam Soe, tapi ke rokok putihan. 

Sayang, rokok jenis white cigarettes tak begitu laku di pasar Indonesia kala itu, dan strategi dagang ini nyaris membuat NVBM HM Sampooerna bangkrut. Putra bungsu Liem, Liem Swie Ling alias Aga Sampoerna, yang sebelumnya mengelola pabrik kretek Panamas di Bali, kembali ke Surabaya pada tahun 1959 untuk menyelamatkan perusahaan. Ia pun mengalihkan fokus produksi ke rokok kretek Dji Sam Soe lagi. 

Di 1970-an, Aga menyerahkan kendali bisnis ke anak bungsunya, Putera Sampoerna. Di tangan Putera, Panamas dan NVBM HM Sampooerna dimerger menjadi PT HM Sampoerna di 1989. Putera kemudian mendaftarkan saham PT HM Sampoerna ke BEI di 27 Agustus 1990 dengan kode saham HMSP. Di 2000, ia memutuskan untuk menyerahkan sebagian kekuasaannya kepada Michael Ryan Sampoerna, anak ketiganya.

Bersama Michael, Putera mengizinkan Philip Morris International mengakuisisi 97,95 persen perusahaanya itu di 2005, di mana sebelumnya di 1998 produsen rokok asal Swiss itu sudah menguasai saham PT HM Sampoerna Tbk sebesar 40 persen. Dengan mengontrol 35 persen pasar rokok Indonesia, presiden direktur saat ini PT HM Sampoerna ialah Mindaugas Trumpaitis, salah seorang perwakilan dan pejabat tinggi di Philip Morris International. 

3. PT Bentoel Internasional Investama Tbk (RMBA)

Di tahun 2000-an, siapa yang tak kenal rokok Ardath juga Star Mild? Betul, dua merek rokok yang sudah tidak lagi dibuat ini ialah salah satu produk PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Sebelum memproduksi dua merek rokok legendaris itu, perusahaan ini hanyalah pabrik rokok kecil bernama Strootjes Fabriek Ong Hok Liong. Di 10 September 1930, pabrik mini itu resmi didirikan Ong Hok Liong di Malang, Jawa Timur.

Kala itu, Ong dengan pabriknya itu sudah merintis banyak merek rokok, termasuk Gendang, Kelabang, Lampu, Turki, dan Djeruk Manis. Sayang, semua rokok racikannya itu tak terlalu disambut baik oleh pasar. Gagal dengan banyak merek, Ong membuat produk rokok baru bernama Bentoel di 1935. 

Menurut Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes, buku bertahun 2000 milik Mark Hanusz, nama Bentoel tidaklah sembarang diberikan Ong. Semuanya bermula ketika ia berkunjung ke Gunung Kawi pada satu waktu. Di sebuah tempat keramat di Gunung Kawi, Ong tak sengaja tertidur. 

Dalam istirahatnya itu, konon Ong bermimpi bertemu sosok Mbah Djoego, juru kunci Gunung Kawi yang sudah lama meninggal. Mbah Djoego, tutur Ong, dalam mimpinya itu mengatakan bila ingin sukses dalam bisnis rokok, maka Ong harus memberi nama produk barunya dengan Bentoel. Percaya atau tidak, nyatanya Bentoel ialah merek rokok milik Ong yang paling sukses di pasaran setelah kejadian itu.

Berhasil mendapat perhatian masyarakat Tanah Air cukup lama dengan produk barunya itu, Ong selanjutnya mengakuisisi sebuah pabrik rokok di Blitar di 1950, dan jumlah total karyawannya telah mencapai 3000 orang ketika itu. Sebelum Ong wafat di 1967, Strootjes Fabriek Ong Hok Liong ia ubah dengan nama NV Pertjetakan Liem An di 1951, dan di 1954 menggantinya lagi menjadi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel. 

Di 1968, seiring tingginya permintaan pasar, PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel mulai menggunakan mesin pelinting rokok, yang pada masa itu belum ada produsen rokok manapun di Indonesia yang memakai alat itu. Jumlah produksi PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel meningkat tajam setelah membuat langkah teknis ini, sekaligus menjadikannya duduk di posisi ketiga sebagai produsen rokok terbesar di Tanah Air di akhir 1970-an.

Di 5 Maret 1990, barulah PT Perusahaan Rokok Tjap Bentoel go public di BEI. Tapi sayangnya, ekspansi bisnis ini tak disertai manajemen yang rapih, hingga di 1991 keluarga Ong pun menjual 70 persen sahamnya kepada Rajawali Corpora, perusahaan investasi milik Peter Sondakh. 

Di 2000, perusahaan ini berganti nama menjadi PT Bentoel Internasional Investama Tbk setelah keluarga Ong menjual lagi 30 persen sisa sahamnya ke PT Transindo Multi Prima. Sekarang, sejak 2009 tepatnya, seluruh saham PT Bentoel Internasional Investama Tbk diakuisisi British American Tobacco, produsen rokok berkantor pusat di Inggris.

4. Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM)

Setelah hampir membuat bangkrut NVBM HM Sampooerna, puteri ketiga Liem Seeng Tee, Sinta Dewi Sampurno dan suaminya Wisman Ali mendirikan PT Gelora Djaja di September 1962. Mereka tak hanya berdua membangun perusahaan rokok itu, tapi juga ditemani Oei Bian Hok alias Budiono Widjajadi. 

Dengan hanya memiliki 10 karyawan, awalnya PT Gelora Djaja memproduksi rokok kretek merek Galan. Setahun berselang, perusahaan yang semula berlokasi di Jl. Petemon Barat, Surabaya itu mengeluarkan rokok baru dengan merek Wismilak Kretek Special. 

Sukses bertahun-tahun bersama dua mereknya ini, pabrik PT Gelora Djaja pindah di lahan seluas 10 hektare di Jl. Buntaran 9 di Surabaya di 1976, dan karyawannya pun bertambah hingga mencapai ribuan di periode ini. 

Di 1979, tiga pemilik PT Gelora Djaja sepakat mendirikan PT Putri Gelora Djaja. Menurut rencana, Putri Gelora Djaja akan fokus memproduksi bungkus rokok untuk Galan dan Wismilak yang ketika itu masih dibuatkan di perusahaan lain. 14 Januari 1983 giliran PT Gawih Jaya dibangun, yang ditugaskan khusus mendistribusikan produk Wismilak. 

Di 1994, untuk mengintegrasikan tiga lini perusahaan itu, dibuatlah PT Wismilak Inti Makmur sebagai holding company alias perusahaan induk. Barulah di 2012, saham PT Wismilak Inti Makmur dicatatkan di BEI dengan kode saham WIIM. 

Papan Pengembangan

5. Indonesian Tobacco (ITIC)

Berkode saham ITIC, PT Indonesian Tobacco Tbk mencatatkan sahamnya di BEI pada 4 Juli 2019 lalu. Setidaknya, ada 274.060.000 saham yang ditawarkan ke masyarakat ketika itu dengan nilai nominal Rp50 per saham dengan harga penawaran Rp219 per saham. Mulai beroperasi secara komersial di 1980, perusahaan ini hanya mendagangkan tembakau iris dalam kemasan, dan nantinya konsumenlah yang melintingnya sendiri. 

ITIC memiliki berbagai merek Roll Your Own Tobacco Product alias tembakau linting sendiri, termasuk Manna, Butterfly, Kuda Terbang, DC 9, Djago Tarung, Mawar Anggrek, Kuda Terbang Merah, Kuda Terbang Biru, Roda Terbang, Deer, Roadhouse, Lampion Lilin, Anggur Kupu, Bunga Sakura, Pohon Sagu, Deer, Save, dan Black Bear.