Langkah PTBA Amankan Prospek Bisnis Jangka Panjang

Berkah Rio

PT Bukit Asam Tbk. merupakan salah satu emiten yang paling dijagokan oleh kalangan analis di tengah sentimen memanasnya harga batu bara saat ini. Emiten ini pun terbukti mampu meningkatkan kinerjanya dengan cukup tinggi sepanjang tahun ini memanfaatkan kenaikan harga batu bara.

Laba bersih emiten berkode saham PTBA ini mencapai Rp1,8 triliun pada paruh pertama tahun ini, tumbuh pesat 38% jika dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun lalu atau secara year-on-year (YoY).

Pertumbuhannya bahkan lebih tinggi ketimbang pertumbuhan pendapatan yang sebesar 14% YoY menjadi Rp10,3 triliun. Sejatinya, pertumbuhan produksi dan penjualan batu bara PTBA tidak begitu signifikan. Namun, karena kenaikan harga jual, lonjakan pendapatan dan laba menjadi cukup tinggi.

Volume produksinya tumbuh 11% YoY dari 12 juta ton menjadi 13,3 juta ton, sedangkan volume penjualan hanya naik 3% dari 12,6 juta ton menjadi 12,9 juta ton. Sementara itu, harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) naik 12% YoY dari Rp706.000 menjadi Rp787.000 per ton.

Jika dipecah, pertumbuhan kinerja perseroan baru terjadi pada kuartal II/2021. Pada kuartal pertama tahun ini, pendapatan perseroan hanya Rp4 triliun, turun 22% YoY. Namun, pada kuartal II/2021 sudah mencapai Rp6,6 triliun, melesat 62% YoY.

Kinerja itu juga berhubungan dengan ASP pada kuartal I/2021 yang hanya Rp670.000 per ton, lebih rendah 9% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Baru pada kuartal II/2021 ASP perseroan mencapai Rp886.000 per ton, naik 33% YoY.

Pada kuartal ketiga tahun ini kita tahu harga jual batu bara mengalami lonjakan pesat dan tentu saja bakal berdampak pada kontrak-kontrak terbaru perseroan. Dengan demikian, prospek peningkatan kinerjanya bahkan bakal lebih tinggi lagi.

Bahkan, dalam laporan terbarunya, yakni per Agustus 2021, PTBA melaporkan sudah membukukan pendapatan sebesar Rp15,91 triliun, sudah mendekati capaian setahun penuh 2020 yang senilai Rp17,3 triliun. Namun, laba bersihnya mencapai sudah Rp3,58 triliun, melebihi capaian 2020 Rp2,4 triliun.

Capaian per Agustus 2021 itu didukung oleh volume penjualan batu bara sebesar 18,21 juta ton dengan volume produksi 19,6 juta ton. Dalam waktu yang tersisa tahun ini, perseroan masih optimistis dapat mencapai target volume penjualan 30 juta ton dan volume produksi 31 juta ton.

Adapun, pada 2020 lalu realisasi setahun penuh volume penjualan adalah sebesar 26,1 juta ton, sedangkan volume produksi 24,8 juta ton.

Volume angkutan batu bara sudah mencapai 16,5 juta ton per Agustus 2021 dengan ekspektasi akhir tahun mencapai 29 juta ton, lebih tinggi dari realisasi 2020 sebesar 23,8 juta ton.

Target PTBA tampaknya tidak mustahil tercapai, sebab meskipun realisasi per Agustus 2021 itu baru sekitar 55% hingga 65% dari target tahun ini dan waktu yang tersisa tinggal 4 bulan, permintaan batu bara biasanya memang lebih tinggi di akhir tahun akibat kebutuhan musim dingin.

Selain itu, sebesar 92% dari target penjualan tahun ini sudah terkontrak sehingga tinggal direalisasikan saja. Perseroan hanya perlu menambah kontrak sebesar 8% lagi untuk memenuhi target tahun ini.

Pertumbuhan kinerja PTBA selama ini disokong oleh peningkatan permintaan dari China yang tengah mengalami lonjakan aktivitas industri, sehingga mendorong konsumsi listrik. Saat ini, negara tersebut tengah mengalami krisis energi akibat kondisi itu. Memasuki musim dingin, China bakal makin terdesak.

Lonjakan kinerja pada kuartal kedua terjadi karena adanya peningkatan penjualan ekspor sebesar 63% YoY. Perseroan dapat fokus meningkatkan ekspor karena kewajiban pemenuhan pasokan dalam negeri atau DMO 25% sudah jauh terlampaui, bahkan mencapai 63%.

Perseroan mencatat permintaan dari China naik 9 kali lipat dan Filipina 5 kali lipat. Kini, China menjadi negara dengan porsi ekspor terbesar PTBA, yakni 16%, disusul India 5%, Taiwan 4%, Filipina 4%, Malaysia 2%, dan Vietnam 2%.

Negara tujuan ekspor lainnya yakni Hongkong, Kamboja, Thailand, Pakistan, Brunei Darussalam, dan Korea Selatan.

Dengan kinerja yang ciamik ini, tentu tidak mengherankan jika akhirnya kinerja saham PTBA pun kembali rebound. Seperti diketahui, kinerja saham PTBA sempat kembali turun tahun ini hingga ke level Rp2.000 pada akhir Juni 2021 lalu, tetapi mulai bangkit setelahnya.

Lonjakan harganya mulai terjadi pada pekan terakhir September 2021. Kini, saham PTBA ada di kisaran Rp2.800. Dengan level tersebut, saham PTBA masih tercatat terkoreksi tipis -0,36% year-to-date (YtD).

Mengingat tingginya kinerja keuangan PTBA, valuasi perseroan menjadi sangat murah dengan harga tersebut. Rasio harga berbanding laba per saham atau price to earning ratio (PER) PTBA hanya 9,07 kali.

Sebagai pembanding, emiten batu bara lain seperti PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) sahamnya sudah naik 29,37% YtD dengan PER 12,01 kali. Sementara itu, saham PT Harum Energy Tbk. (HRUM) bahkan sudah melesat 173,49% YtD dengan PER 73,4 kali. Jelas, saham PTBA kini jauh lebih murah.

Di samping kinerjanya yang ciamik, ada beberapa sentimen lain seputar strategi bisnis PTBA yang menjadikan prospek bisnisnya makin menjanjikan di masa mendatang.

 

Transformasi Jadi Perusahaan Energi

Sebagai bagian dari holding BUMN tambang, PTBA juga mengemban misi untuk mendukung program pembangunan negara.

Pemerintah sendiri memiliki rencana untuk menambah kapasitas pembangkit listrik dengan energi baru terbarukan (EBT), sehingga dalam 10 tahun ke depan dapat berkontribusi sebesar 51,6% terhadap total tambahan pasokan energi nasional.

Kapasitas pembangkit listrik terpasang PLN pada 2020 adalah sebesar 63,3 Giga Watt (GW), sedangkan pada 2030 mendatang ditargetkan naik menjadi 99,2 GW. Artinya, rencana tambahan pembangkit listrik baru selama 2021-2030 sebesar 40,6 GW.

Dari jumlah tersebut, pembangkit berbasis EBT ditargetkan mencapai 20,9 GW atau 51,6% dan pembangkit listrik berbasis energi fosil sebesar 48,4% atau 19,7 GW.

Nah, PTBA sendiri kini tengah dalam proses transformasi menjadi perusahaan energi dengan salah satu fokus utamanya adalah di bisnis EBT. Sebagaimana diketahui, saat ini komunitas global telah berkomitmen untuk mengurangi ketergantungan terhadap batu bara sebagai sumber energi.

Artinya, dalam jangka panjang, bisnis batu bara akan terus menurun seiring dengan keprihatinan terhadap pemanasan global dan kelestarian lingkungan hidup. Oleh karena itu, sebagai emiten yang selama ini fokus di batu bara, PTBA harus segera mencari kapal baru untuk menyelamatkan bisnisnya.

Perseroan akan menggunakan lahan bekas tambang sebagai lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sehingga aset lahan tersebut menjadi lebih produktif. Rencananya, area yang akan dibangun PLTS yakni di Ombilin - Sumatra Barat, Tanjung Enim - Sumatra Selatan, dan Bantuas - Kalimantan Timur.

Masing-masing bekas lahan tambang itu akan dipasang PLTS berkapasitas mencapai 200 MW. Ini masuk dalam rencana pengembangan EBT PTBA 2021-2030 dan tengah dibahas bersama dengan PLN. Selain itu, perseroan juga bermitra dengan perusahaan lain di aset-aset potensial lainnya.

Salah satu yang paling serius misalnya dengan Commercial Operation Date (CoD) PLTS di Bandara Soekarno Hatta bekerjasama dengan PT Angkasa Pura II (Persero). PLTS tersebut sudah diujicobakan sejak 1 Oktober 2020 lalu. Ada 720 solar panel yang terpasang di atap bandara tersebut dengan kapasitas maksimal 241 kilo watt peak (kWp).

Namun, selain membangun EBT, perseroan juga membangun proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang mengandalkan batu bara. Dengan langkah ini, perseroan memiliki pasar yang terjamin bagi produk batu bara yang dihasilkannya.

Salah satu proyek PLTU yang segera rampung yakni PLTU Mulut Tambang Sumsel-8. Proyek ini diperkirakan mulai beroperasi pada kuartal I/2022 dengan kapasitas 2x620 MW. Proyek ini memiliki nilai mencapai US$1,68 miliar.

PTBA membangun proyek ini melalui PT Huadian Bukit Asam Power [PT HBAP]. PT HBAP sendiri merupakan konsorsium antara PTBA dengan China Huadian Hongkong Company Ltd. PLTU ini nantinya akan membutuhkan setidaknya 5,4 juta ton batu bara per tahun.

Selain itu, diversifikasi usaha lainnya yang diupayakan yakni pengembangan proyek gasifikasi batu bara menjadi dymethil ether (DME) yang bekerja sama dengan dengan Air Product and Chemical Inc beserta PT Pertamina (Persero) sebagai offtaker.

Proyek itu berlokasi di Tanjung Enim, Sumatera Selatan dan akan memproses 1,4 juta ton DME dengan target beroperasi secara komersil pada kuartal II/2024. Proyek ini memiliki total nilai investasi US$2,1 miliar.

Langkah ini juga merupakan bagian dari upaya perseroan untuk mendukung perekonomian nasional. Selama ini, Indonesia masih tergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan LPG. Dengan memproduksinya sendiri di dalam negeri, akan sangat menghemat neraca perdagangan dan cadangan devisa.

PTBA juga tengah menyiapkan proyek produksi batu bara menjadi karbon aktif. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi dengan produsen dan pemasok karbon aktif Activated Carbon Technologies Pty Ltd (ACT) yang nantinya juga akan bertindak sebagai offtaker.

Dua perusahaan ini telah menandatangani kesepakatan pada akhir Desember 2020. PTBA berencana membangun pabrik di Kawasan Industri Tanjung Enim (BACBIE) untuk mengolah sebanyak 60 ribu ton batu bara dan memproduksi karbon aktif sebanyak 12.000 ton per tahunnya.

Karbon aktif adalah salah satu upaya hilirisasi di mana batu bara diolah dan mengalami proses aktivasi sehingga menjadi material yang di dalamnya terdapat banyak pori-pori yang berfungsi menyerap zat lain di sekitarnya. 

Karbon aktif dapat dimanfaatkan untuk proses penjernihan dan pemurnian air, pemurnian gas dan udara, filter industri makanan, penghilang warna untuk industri gula dan MSG, hingga penggunaan di bidang farmasi sebagai penetral limbah obat-obatan agar tidak membahayakan lingkungan.

Diharapkan pada tahun 2023, realisasi pengapalan pertama karbon aktif dari Tanjung Enim ke pelabuhan di Australia dapat terwujud. Semua langkah ini akan memberikan nilai tambah bagi produk batu bara yang dihasilkan perseroan, sekaligus mendukung jaminan penyerapan terhadap hasil tambangnya.

 

Peningkatan Kapasitas

Meskipun prospek bisnis batu bara memang suram dalam jangka panjang, perseroan tetap tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk mengoptimalkan produksi. Umumnya, negara-negara dalam komunitas global menargetkan nol emisi karbon baru pada 2050 hingga 2070. Indonesia sendiri yakni pada 2060.

Sementara itu, hingga kini mayoritas pembangkit listrik di banyak negara masih mengandalkan energi batu bara, sebab jauh lebih murah dibanding jenis pembangkit dengan sumber energi lain. Penurunan terhadap konsumsi batu bara akan terjadi secara perlahan atau tidak akan sangat drastis.

Secara global, kapasitas PLTU yang terpasang sudah ada 20.000 GW. Ada 185 GW tambahan PLTU di seluruh dunia, terbesar di China dan India. Di Indonesia sendiri ada 73 GW kapasitas PLTU yang terpasang.

Dari sisi permintaan untuk batu bara metalurgi diperkirakan masih akan mencapai 400 juta ton pada 2030. Negara-negara Asia masih akan sangat tergantung pada batu bara untuk mempercepat peningkatan rasio elektrifikasi. Tidak semua negara itu memiliki cadangan batu bara untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, sehingga harus impor, termasuk dari Indonesia.

Vietnam, misalnya, masih akan bergantung pada batu bara impor karena pasokan listriknya masih terbatas. Selain itu, masih akan ada 7 GW lagi PLTU baru mereka yang akan beroperasi. Dengan kondisi ini, sejatinya penurunan permintaan batu bara belum akan mengkhawatirkan dalam waktu dekat.

Oleh karena itu, PTBA masih akan tetap berupaya menaikkan target produksi dan penjualan batu baranya dalam beberapa tahun ke depan, sembari mempersiapkan bisnis EBT. Seiring dengan itu, perseroan juga berupaya meningkatkan kapasitas angkut.

Lagi pula, perseroan juga mengoperasikan PLPU serta gasifikasi batu bara yang bakal membutuhkan pasokan batu bara dari perseroan.

PTBA bahkan menargetkan dapat meningkatkan penjualan dan kapasitas produksi hingga dua kali lipat pada 2024-2026 nanti, yakni menjadi 48 juta hingga 60 juta ton per tahun. Untuk mendukung itu, dari sisi logistik, perseroan menargetkan kapasitas angkut tahun ini mencapai 32 juta ton, sedangkan pada 2026 mencapai 72 juta ton.

Untuk meningkatkan kapasitas angkut itu, perseroan membenahi sejumlah jalur pengangkutan kereta api dan pelabuhan melalui kerja sama dengan PT KAI.

PTBA juga telah menandatangani Head of Agreement (HoA/Perjanjian Induk) dengan Pelindo II untuk pengembangan kapasitas angkutan batu bara dan/atau komoditas lainnya melalui sungai dan pelabuhan di Sumatera Selatan.

Dengan semua langkah ini, perseroan memastikan bisnisnya dalam 10 tahun ke depan akan tumbuh dengan cukup pesat.

Investasi