Daftar Bank Korsel di Indonesia

Date:

Hingga tahun 2021 ini, total ada delapan bank asal Korea Selatan yang sudah beroperasi di Indonesia, baik dengan mendirikan cabangnya langsung di sini maupun lewat aksi merger dan akuisisi. Berikut profil singkatnya.

1. Bank Hana (Hana Financial Group)

Dahulu, di 27 April 1971, Bank Hana resmi berdiri dengan nama PT Bank Pasar Pagi Madju. Berdasar Keputusan Menteri Keuangan RI No. 1306/KMK.013/1989 tertanggal 30 November 1989, namanya diubah ke PT Bank Bintang Manunggal dengan akronim Bank Bima. 

Namun, sejak diakuisisi lembaga keuangan asal Korsel Hana Financial Group di 2007, nama Bank Bima diganti menjadi PT Bank Hana. Kemudian, di 2013, seiring PT Bank Hana dimerger dengan PT Bank KEB Hana yang merupakan cabang dari KEB Hana Bank di Korsel, nama bank berubah lagi ke PT Bank KEB Hana Indonesia. 

Di 2020 lalu, pergantian nama dilakukan kembali usai perusahaan ini melakukan rebranding dengan nama Bank Hana. Perlu dicatat, kepemilikan KEB Hana Bank di Korsel sudah diambil alih Hana Financial Group di 2013. Dengan begitu, Bank Hana di Indonesia ialah milik Hana Financial Group. 

Hingga detik ini, Bank Hana belum melakukan initial public offering alias IPO. Kendati demikian, Bank Hana sudah resmi menjadi bagian dari bank kustodian sejak 2019 lalu. Karenanya, bank ini telah menyediakan layanan Pembukaan Rekening Kustodian, Penyimpanan Efek, Penyelesaian Transaksi, Corporate Action, Fund Administration serta Pelaporan.

2. Bank Woori Saudara (Woori Bank)

Didirikan di 1906 oleh sepuluh pedagang Pasar Baru di Bandung, awalnya Bank Woori Saudara bernama Himpunan Saudara. Namanya diubah seiring bank itu resmi memiliki badan hukum menjadi PT Bank Himpunan Saudara 1906 di 1975. 

Setelah statusnya menjadi bank umum di 1993, perubahan nama pun dilakukan kembali dengan nama PT Bank HS 1906. Sejak melakukan IPO di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham SDRA di 15 Desember 2006, namanya diganti ke Bank Saudara. Pada 2008, status Bank Saudara menjadi bank devisa.      

Di 30 Desember 2014, Bank Saudara merger dengan PT Bank Woori Indonesia. Sebagai kompensasi, namanya berubah menjadi Bank Woori Saudara sejak tahun itu. PT Bank Woori Indonesia sendiri berdiri pada 1995 dan merupakan cabang dari Woori Bank yang berkantor pusat di Korsel. Serupa Bank Saudara, PT Bank Woori Indonesia mengalami pula beberapa kali perubahan nama. 

Di 1995, misalnya. Di tahun berdirinya itu, PT Bank Woori Indonesia semula bernama PT Bank Comercial Surya alias BKCS. Bank ini kemudian merger dengan PT Hanil Tamara Bank di 2000. Sejalan dengan itu, nama BKCS diubah menjadi PT Bank Hanvit Indonesia. Pada 2002, nama bank ini diganti lagi ke PT Bank Woori Indonesia. 

Berdasar laporan keuangan, pendapatan Bank Woori Saudara sebesar Rp 394,49 miliar di Kuartal I tahun ini atau naik sekitar 15,65 persen secara yoy. Sementara laba bersihnya juga meningkat sekira 24,85 persen dibanding tahun lalu di periode yang sama menjadi Rp 164,81 miliar .

3. PT Bank Shinhan Indonesia (Shinhan Bank)

Lembaga keuangan ini bermula di 1967 dengan nama PT Central Sumatera Djawa Bank Ltd. Pada 21 Desember 1976, nama bank berubah menjadi PT Bank Metro Express (BME). Tertanggal 6 Jan 1993, BME mendapatkan kepercayaan dari pemerintah sebagai bank penerima setoran persepsi perpajakan.

Dua tahun setelah itu, 1995 tepatnya, status BME menjadi bank devisa. Di antara kegiatan utama BME ketika itu ialah pembiayaan di sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Di 2007, lembaga keuangan asal Korsel Shinhan Bank mulai memproses akuisisi BME, dan pada 2015 barulah Shinhan Bank berhasil mengambil alih BME dengan kepemilikan saham mencapai 98 persen. 

Di tahun yang sama, anak perusahaan Shinhan Financial Group itu membeli pula saham PT. Centratama Nasional Bank sebesar 100 persen. Di 2016, dua bank yang sudah dikuasai Shinhan Bank ini kemudian dimerger menjadi PT Bank Shinhan Indonesia. Sampai saat ini, PT Bank Shinhan Indonesia belum mencatatkan sahamnya di BEI. 

4. PT Bank Oke Indonesia (APRO Financial Group)

Melalui akta pendirian No. 99 tanggal 15 Agustus 1990, perseroan terbatas jasa keuangan ini resmi berdiri dengan nama PT Liman International Bank. Setahun setelahnya, berdasar surat izin dari Bank Indonesia tertanggal 21 November 1991, perusahaan ini berstatus bank umum. Perubahan nama dilakukan pada 8 November 2012 menjadi PT Bank Dinar Indonesia.

Berkode saham DNAR, perseroan itu tercatat di BEI sejak 11 Juli 2014. Di 25 Oktober 2018, 77,38 persen saham Bank Dinar dibeli APRO Financial Group, sekaligus menandai kepemilikannya diakuisisi institusi keuangan besar asal Korsel itu. 

Dua tahun sebelumnya, APRO Financial Group lebih dulu mengambil alih PT Bank Oke Indonesia di 2016 dengan kepemilikan saham mencapai 99 persen. Berdiri di 1980, Bank Oke semula bernama Maskapai Andil Indonesia Bank Pasar Seri Partha. Izin sebagai bank umum diperoleh bank ini di 1989. Pada 1997, perusahaan mengubah nama ke PT Bank Sri Partha dan fokus pada pembiayaan untuk UMKM yang berdomisili di Bali.

Di 2009, setelah APRO Financial Group membeli sebagian sahamnya, PT Bank Sri Partha beralih nama menjadi Bank Andara. Bank Andara selanjutnya berganti nama lagi ke Bank Oke Indonesia di 2017. Dua tahun berselang, atau di 2019 jelasnya, APRO Financial Group memerger Bank Oke Indonesia dan Bank Dinar serta mengganti nama ke PT Bank Oke Indonesia.

5. Bank KB Bukopin (KB Kookmin Bank)    

Dengan nama Bank Umum Koperasi Indonesia, perusahaan jasa keuangan ini berdiri di 1970, dan mulai beroperasi sejak 16 Maret 1971. Dari tahun 1990 hingga 23 Februari 2021 kemarin, bank ini menggunakan nama Bank Bukopin. Bank ini tercatat di BEI sejak 10 Jul 2006 dengan kode saham BBKP. 

23 Februari 2021 lalu, bank ini resmi berganti nama menjadi Bank KB Bukopin seiring sudah selesainya proses akuisisi KB Kookmin Bank pada Bank Bukopin, dengan total kepemilikan saham yang dipegang perusahaan pembiayaan asal Korsel itu sebesar 67 presen.

6. PT KDB Tifa Finance Tbk (Korea Development Bank/KDB) 

PT Tifa Mutual Finance Corporation ialah nama pertama yang digunakan perusahaan ini ketika berdiri di 1989. Tahun 1996, lembaga pembiayaan ini menjadi joint venture usai Tan Chong Credit Pte Ltd (TCC) membeli sahamnya sebanyak 48 persen. 

Beralih nama ke PT Tifa Finance di 2000, dan sebelas tahun kemudian membuka Unit Usaha Syariah serta mulai melantai di BEI dengan kode saham TIFA. 8 September 2020 lalu, The Korea Development Bank (KDB) resmi mengambil alih dengan menguasai sahamnya mencapai 80,65 persen. Akuisisi ini juga disertai perubahan nama menjadi PT KDB Tifa Finance Tbk. 

7. PT Bank IBK Indonesia Tbk (Industrial Bank of Korea/IBK)

PT Bank IBK Indonesia Tbk ialah hasil merger di pertengahan 2019 lalu antara dua bank milik Industrial Bank of Korea (IBK), yakni PT Bank Agris Tbk dan PT Bank Mitraniaga Tbk. Sebelumnya, di 28 Januari 2019, perbankan asal Korsel itu membeli saham PT Bank Mitraniaga Tbk sebesar 71,68 persen.

Pada bulan dan tahun serupa, di 17 Januari 2019, IBK terlebih dahulu menguasai 95,79 persen saham milik PT Bank Agris Tbk. kini, dua bank asal Indonesia itu berada di satu badan dan manajemen atas nama PT Bank IBK Indonesia Tbk.

8. LINE Bank (Bank Hana, LINE Corporation, dan LINE Financial Asia) 

LINE Bank ialah milik tiga perusahaan asal Korsel, yaitu Bank Hana, LINE Corporation, dan LINE Financial Asia yang dilucurkan di pertengahan 2021. Berkantor pusat di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, LINE Bank menyediakan layanan perbankan digital.

Hingga kini, 47 kantor cabang LINE Bank sudah berdiri meliputi di beberapa kota, termasuk Medan, Solo, Purwokerto, Purbalingga, Bali, Surabaya, Lampung, Makassar, Palembang, dan sejumlah kota lainnya.