Komoditas Impor Terbesar Indonesia, Apa Saja?

Dika Aksara

Aktivitas impor pasti dilakukan oleh setiap negara di dunia. Impor tak selamanya buruk. Impor barang modal dan bahan baku tentu punya peran dalam menggerakkan industri. Hal ini berbeda dengan impor barang konsumsi. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor Indonesia per Juli 2021 mencapai US$15,11 miliar. Angka ini turun lebih dari 12% dibanding Juni 2021, namun naik 86,39% ketimbang Juli 2020. 

Berdasarkan golongannya, produk impor dibagi dua: impor migas dan nonmigas. Impor migas tentu saja berkaitan dengan seluruh produk migas dan turunannya. Sementara impor nonmigas di luar kelompok tersebut. 

Nah, impor barang nonmigas ini dibagi lagi berdasarkan klasifikasinya. Di Indonesia, klasifikasi barang ekspor-impor menggunakan kode HS (HS code). HS sendiri merupakan singkatan dari Harmonized System. 

Nilai impor nonmigas Indonesia pada Juli 2021 mencapai US$13.328,3 juta. Berikut adalah peringkat komoditas impor nasional berdasarkan kode HS-nya (Januari-Juli 2021)

  1. Mesin dan peralatan mekanik, U$13,4 miliar
  2. Besi dan baja US$6,2 miliar
  3. Plastik dan barang dari plastik US$5,7 miliar
  4. Ampas/sisa industri makanan US$2,5 miliar
  5. Produk farmasi US$1,8 miliar
  6. Logam mulia dan perhiasan/permata US$1,3 miliar
  7. Bijih, terak, dan abu logam US$963 juta
  8. Garam, belerang, batu, dan semen US$627 juta
  9. Kereta api, trem, dan bagiannya US$187,5 juta
  10. Kendaraan bermotor/komponen dalam keadaan terbongkar tidak lengkap US$182,8 juta

Pada Juli 2021, golongan barang farmasi mengalami peningkatan paling besar yakni 66,67%. Hal ini tak lepas dari importasi produk-produk farmasi terutama vaksin Covid-19 dari berbagai negara. 

Dari golongan penggunaan barang, maka porsi impor terbesar ditempati impor bahan baku/penolong yakni 75,84%. Sementara sisanya, barang modal menyumbang porsi 14,35% dan barang konsumsi 9,81%. 

 

Ekonomi