Investasi

Kinerja Department Stores (RALS, LPPF) dan Data Penjualan Ritel

[Waktu baca: 4 menit]

Dibandingkan beberapa tahun terakhir, 2020 adalah tahun terburuk bagi bisnis department stores seperti Ramayana Lestari Sentosa (RALS) dan Matahari Department Stores (LPPF).

Sampai kuartal 3/2020, RALS dan LPPF rugi besar dibandingkan dengan kuartal 3/2019:

  • LPPF (rugi Rp616, miliar vs untung Rp1,86 triliun)
  • RALS (rugi Rp95 miliar vs untung Rp612 miliar)

Mengapa rugi? Pendapatan LPPF dan RALS paling banyak berasal dari gerai di Jawa, termasuk Jakarta di dalamnya. Jawa adalah pulau dengan penduduk terpadat yang paling parah terkena dampak pandemi virus corona di seluruh Indonesia.

Tidak semua orang berani mengambil risiko kesehatan untuk berbelanja kebutuhan sandang, komoditas utama yang dijual RALS dan LPPF, di pusat perbelanjaan dimana gerai RALS dan LPPF berada.

Sebagian konsumen belum memiliki alasan untuk membeli pakaian baru di tengah pandemi karena berkurangnya aktivitas sosial. Baju kerja? Di Jakarta, sebagian kantor masih menerapkan kebijakan bekerja dari rumah (WFH). Baju kondangan? Aktivitas pesta pernikahan juga masih dibatasi. Dan aneka jenis pakaian lainnya.

Kalaupun berbelanja, belanja lewat saluran penjualan melalui e-commerce menjadi pilihan alternatif yang lebih aman dalam aspek risiko kesehatan karena bisa dilakukan tanpa harus keluar rumah.

Penurunan penjualan itu tercermin dalam hal pendapatan di Q3/2020 vs Q3/2019:

  • LPPF turun 57% (Rp3,3 triliun vs Rp7,82 triliun)
  • RALS turun 57% (Rp1,9 triliun vs 4,42 triliun)

Angka penurunan pendapatan itu tidak jauh berbeda dari data Indeks Penjualan Riil (IPR) yang dirilis oleh Bank Indonesia. Pertumbuhan IPR untuk sub kelompok sandang di kuartal 3/2020 secara keseluruhan terkontraksi 63,7%. Secara bulanan:

  • Juli (62,2)
  • Agustus (-62,7) 
  • September (-64,8)

Dari bulan ke bulan, tampak perbaikan IPR itu. Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan IPR Oktober 2020 kembali membaik menjadi minus 59,4%. Namun, membaik bukan berarti sudah kembali ke masa pra-pandemi.

Data Google Mobility Report (12 November 2020) juga menunjukkan tren mobilitas ke tempat seperti jasa ritel (pusat perbelanjaan, salah satunya, selain kafe, restoran, bioskop dan sebagainya) turun 17%. Seperti kami singgung di artikel ini, data dengan sumber sama menunjukkan penurunan 48% pada awal Mei 2020.

Artinya, tren penurunan mobilitas ke pusat perbelanjaan masih terjadi, tapi telah berkurang. Penurunan tren mobilitas dari Google dan membaiknya data IPR dapat menjadi petunjuk kinerja RALS dan LPPF di kuartal 4/2020 serta 2021.

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login