Investasi

PSBB Diberlakukan, Saham Ini Melesat 30% Dalam 5 Hari

Penyebaran virus corona kian mengkhawatirkan. Hampir setiap hari pemerintah mengumumkan peningkatan jumlah orang positif corona dan orang yang meninggal karena virus tersebut.

Sampai 12 April 2020, pemerintah menyatakan lebih dari 4.000 orang positif corona dan 373 orang meninggal di Indonesia. Jumlah tersebut terus bertambah sejak pemerintah mengumumkan kasus pertama pada awal Maret 2020.

Situasi yang mengkhawatirkan itu mendorong pemerintah pusat dan daerah mengambil sejumlah kebijakan, salah satunya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Sejak 10 April 2020, PSBB telah diberlakukan di Jakarta, daerah yang menjadi pusat penyebaran virus corona ini. Kebijakan serupa rencananya juga akan diterapkan di berbagai daerah lain seperti Kota Depok, Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Kabupaten Bekasi, dan Kota Bekasi pada 15 April 2020. 

Dengan adanya kebijakan ini, sejumlah hal tidak boleh dilakukan oleh masyarakat seperti mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah, berkunjung ke fasilitas umum, bekerja di kantor, menggelar resepsi pernikahan dan sebagainya.

Di samping itu, pemerintah masih memperbolehkan beroperasinya layanan pemerintahan dan sejumlah kegiatan  usaha. Usaha itu antara lain di sektor komunikasi, logistik, energi hingga ritel yang memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti supermarket atau swalayan.

Swalayan

Salah satu layanan yang masih dibutuhkan oleh masyarakat adalah tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari seperti toko, warung, supermarket atau swalayan. Salah satu supermarket yang tetap beroperasi saat pandemi corona ini adalah Hypermart.

Hypermart adalah toko serba ada yang dikelola oleh PT Matahari Putra Prima Tbk., perusahaan yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham MPPA. Berdasarkan situs resminya, Hypermart memiliki 102 cabang di seluruh Indonesia yang tersebar dari Medan, Sumatera Utara sampai Jayapura, Papua. 

Dari lebih dari 100 cabang itu, Hypermart memiliki banyak cabang di wilayah diterapkannya PSBB yaitu Jakarta dan sekitarnya. Lokasi Hypermart di Jakarta antara lain di Kelapa Gading, Gajah Mada Plaza, Thamrin City (Tanah Abang), Daan Mogot, Puri Indah, Pejaten, Kemang Village dan Cibubur.

Selain di Jakarta, Hypermart juga memiliki cabang di berbagai daerah yang akan menerapkan kebijakan PSBB seperti Depok (3 cabang), Bogor (2 cabang), Tangerang (5 cabang) dan Bekasi (4 cabang).

Belum dapat diketahui pasti seberapa besar penjualan Hypermart menjelang atau setelah diberlakukannya PSBB di Jakarta dan berbagai daerah tersebut. Namun, seperti diberitakan CNBC Indonesia (31 Maret 2020), Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyatakan terdapat lonjakan penjualan ritel saat ini.

Lonjakan itu disebut-sebut sebagai imbas dari perilaku masyarakat yang mulai mempersiapkan stok pangan berlebihan dari kekhawatiran adanya karantina wilayah atau lockdown akibat pandemi virus corona.

Situasi yang berbeda dihadapi oleh bisnis ritel yang memasarkan pakaian, sepatu, tas seperti Matahari Departement Store atau Ramayana. Matahari terpaksa menutup sementara seluruh gerai di Indonesia dan Ramayana memberhentikan sejumlah karyawannya di berbagai cabang.

Saham MPPA

Setelah wacana PSBB bergulir, terutama setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengajukan izin PSBB kepada pemerintah pusat pada awal April 2020, saham MPPA terus meningkat di tengah fluktuasi IHSG.

Dalam 5 hari perdagangan bursa (3 April 2020-13 April), saham MPPA telah melesat sekitar 30%. Peningkatan itu terjadi di saat IHSG turun signifikan 3,18% (Rabu 8 April 2020) dan 0,69% (Selasa 7 April 2020) atau berbalik arah setelah memantul 4% (6 April 2020).

Saham MPPA kembali ke level di atas Rp100 per lembar setelah sempat "terjun bebas" ke level Rp70 saat bursa saham mengalami guncangan keras pada Maret 2020 akibat mewabahnya virus corona di seluruh dunia dan Indonesia.

Pada saat ini, kontribusi Hypermart terhadap pendapatan MPPA sangat besar dibandingkan dengan lini usaha perusahaan lainnya seperti Foodmart, Boston Health & Beauty, FMX dan SmartClub & B2B.

Gerai dan Kontribusinya 

Gerai

Kontribusi Terhadap
Penjualan

Penjualan Bersih

(Rp miliar)

Hypermart

77%

8.226

Foodmart

8%

859

Boston Health & Beauty

0,7%

79

FMX

0,3%

30

SmartClub & B2B

14%

1.498

Sumber: Laporan Tahunan MPPA

Belum dapat dipastikan apakah kenaikan ini akan berlanjut dalam jangka panjang atau tidak. Berdasarkan data kinerja saham MPPA, harga saham ini telah turun drastis sejak 5 tahun lalu dimana harganya pernah mencapai Rp4.500 per lembar.

 

Pergerakan Saham MPPA

Saham

1 Pekan

1 Bulan

3 Bulan

6 Bulan

1 Tahun

3 Tahun

5 Tahun

MPPA

31%

25%

-26%

-39%

-62%

-92%

-96%

Sumber: RTI, diakses pada 13 April 2020 pukul 16.00)

Secara fundamental, kinerja perusahaan ini tidak menguntungkan. Perusahaan ini membukukan kerugian dalam dua tahun berturut-turut (2017-2018). Di samping itu, pendapatan perusahaan juga berada dalam tren menurun hingga 2018.

Ringkasan Kinerja MPPA (dalam Rp miliar)

Ringkasan

2018

2017

2016

2015

Penjualan

10.692

12.563

13.527

13.802

Laba (Rugi) Bersih

(898)

(1.243)

38

222

Sumber: website perusahaan

Berdasarkan pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, penjualan ritel terkerek menjelang atau pada masa bulan Ramadhan. Namun, wabah corona menyisakan banyak tanda tanya mengenai kelanjutan tren tersebut pada 2020.

Bagaimana kinerja saham MPPA menjelang bulan Ramadhan pada 23 April 2020 atau pada masa Ramadhan hingga 23 Mei 2020? Apakah akan mengulangi pola yang sama seperti menjelang PSBB di Jakarta dimana harganya melesat hingga lebih dari 30% atau tidak? Kita tunggu saja.

 

 

Mulai 20 April 2020, Big Alpha akan menyelenggarakan berbagai seri Webinar. Klik di sini untuk informasi lebih lanjut.

 

 


 

 

 

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login