Kilas Balik 2018 dan Outlook 2019

Tirta Prayudha

Well, 2018 sudah hampir berakhir, dan pasar modal Indonesia sudah resmi ditutup oleh Presiden Joko Widodo.

Dari awal tahun, IHSG minus 2.54% dengan dana asing keluar hampir 50 triliun. Ini menjadi salah satu tahun dimana IHSG mencetak kinerja negatif. Bandingkan saja dengan tahun 2017 yang lalu dimana IHSG tumbuh hampir 20%.

Meskipun begitu, IHSG masih mencetak rekor dengan penambahan 57 emiten baru yang masuk ke dalam bursa kita (listing). Sehingga total, sekarang ada 619 emiten yang sahamnya diperdagangkan di bursa kita. Masih tertinggal dari New York Stock Exchange yang sudah melebihi 1900 emiten, namun hal ini membuktikan masih ada ruang untuk bertumbuh yang sangat besar untuk bursa kita.

Meskipun kinerja IHSG memerah di 2018, kinerja bursa kita masih sangat sexy!

Dengan penurunan 2.54%, IHSG masih yang terbaik di ASEAN, terbaik kedua di Asia Pasifik (setelah India) dan posisi tujuh secara global. Ada banyak bursa saham di dunia yang kinerjanya di bawah Indonesia. Jadi secara gamblang, tahun 2018 memang bukan tahun yang baik untuk para investor pasar modal.

Penyebab utama hal ini tentu akibat perang dagang antara USA dan China, menguatnya nilai tukar dolar dan sentimen krisis beberapa negara Eropa. Kepercayaan investor seolah rontoh kepada kinerja Indonesia sepanjang tahun ini. Hal ini terbukti dari derasnya arus modal yang keluar dari Indonesia.

Tapi di sisi lain, penurunan IHSG yang terjadi di sepanjang 2018 malah memberikan peluang untuk para investor retail tanah air.

Ada banyak sekali saham-saham dengan fundamental bagus yang diobral jauh dari harga normalnya. Masih ingat ketika sepanjang bulan Mei 2018, ASII dijual di harga Rp6.100, BBRI di harga Rp2.600 dan BBNI yang turun di bawah Rp7.000.

Hanya dalam beberapa bulan, ketiga saham itu sudah naik tinggi sekitar 20%-30% di bulan Desember. Hal ini menunjukkan bahwa, sebenarnya tidak ada masalah dalam hal kinerja perusahaan-perusahaan yang listing di bursa kita. Mereka masih beroperasi, masih mencetak laba dan masih membagikan dividen.

Bahkan untuk saham-saham pertambangan batubara yang harganya sudah turun 50% dari harga mereka di awal tahun, mereka masih mencetak untung dan masih membagikan dividen kepada para pemegang saham. Contoh paling konkrit adalah INDY yang kemarin membagikan dividen interim sebesar Rp54.43 per lembar saham.

Dan tanpa perlu khawatir, ketika nanti masuk bulan-bulan dimana emiten ini akan membagikan dividen (biasanya April atau Mei), pasti harga sahamnya akan terangkat naik. Dan 2018 menawarkan kita untuk menampung saham-saham tersebut di harga bawah.

Lalu bagaimana kondisi tahun 2019?

Banyak sekali analis yang menyebutkan kondisi 2019 akan lebih baik dari tahun 2018. Pernyataan ini tentu bukan tidak beralasan. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa menjadi patokan.

  1. Tensi perang dagang antara US dan China sudah mulai mereda. Ini terbukti dari beberapa kali pertemuan dan niat untuk bernegosiasi yang dilontarkan pejabat US dan China.
  2. The Fed tidak akan terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga. Tahun ini saja mereka sudah 4x menaikkan suku bunga. Dan tahun depan diprediksi mereka tingkat suku bunga US akan melandai karena ekonomi USA yang sudah mulai mendingin.
  3. Hal ini tentu saja baik untuk nilai tukar Rupiah, dana asing akan mencari tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dari tingkat suku bunga di US, dan otomatis arus modal akan kembali masuk ke Indonesia, memperbanyak stock dolar di pasar dan otomatis menurunkan nilai tukar Rupiah. Hal ini sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir dimana nilai tukar Rupiah terhadap dolar sudah mulai stabil di angka Rp14.500an.
  4. Tahun depan ada event besar yang akan terjadi di dalam negeri yakni : Pemilu. Tahun 2019 rakyat Indonesia akan memilih presiden baru dan hal ini akan menentukan kebijakan ekonomi ke depannya. Dan sejarah membuktikan kinerja bursa Indonesia selalu positif di tahun pemilu (1999, 2004, 2009 dan 2014).
  5. Para investor sebenarnya tidak terlalu memfavoritkan capres tertentu, tapi yang mereka incar adalah kepastikan hokum dan investasi. Jadi siapapun presidennya nanti, kami optimis kinerja bursa akan tetap positif. Tapi tentu saja, capres tertentu memiliki program yang sudah sangat melekat seperti Presiden Jokowi dengan program infrastrukturnya yang tentu jika dia terpilih lagi akan menjadi sentimen sangat baik untuk emiten-emiten konstruksi di pasar modal.

Jadi untuk kalian yang kinerja portfolionya tahun ini masih negatif, bersabarlah. Ada banyak sekali manajer investasi di luar sana, yang notabene melakukan investasi saham secara rutin dan professional, yang juga mencatatkan kinerja negatif. Ada puluhan reksadana saham berkinerja merah tahun ini.

You are an individual investor, a beginner and you have limited resources. Be proud of it!

Jadikan tahu 2018 sebagai tahun pembelajaran untuk mengalokasikan dana investasi, tetap bertindak rasional, berpikir logis, belajar money management (do averaging down if necessary) untuk investasi yang akan bertumbuh tahun-tahun ke depannya.

Jadikan waktu sebagai teman terbaik investasimu. Kita ketemu lagi di tahun 2019!

Investasi