Kenapa Orang Nggak Mau Beli Asuransi?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 4 menit]

Asuransi bukan produk keuangan yang populer.

Data OECD menunjukkan penetrasi asuransi di Indonesia 1,9% (2017). 

Di tahun yang sama, penetrasi di Singapura 9%, Malaysia 4,5%, Australia 4,1%. Penetrasi asuransi adalah rasio premi asuransi dibandingkan PDB.

Dengan kata lain, banyak orang di Indonesia enggan beli asuransi. Mengapa?

1. Citra Negatif

Asuransi punya citra negatif. Citra negatif itu terbentuk karena kasus demi kasus asuransi, khususnya asuransi jiwa, yang terus terjadi di Indonesia.

Kasus itu berupa: perusahaan tidak bisa membayar kewajiban kepada nasabah, perusahaan bangkrut, penipuan agen dan sebagainya. 

Pemikiran sederhana sebagian orang: buat apa ikut asuransi kalau uang tidak dikelola dengan baik? Buat apa ikut asuransi kalau kasus-kasus asuransi tidak terselesaikan?

2. Uang Hangus

Di sebagian produk asuransi, membayar premi asuransi berarti mengeluarkan uang hangus. Apa maksudnya?

Uang hangus berarti uang yang tidak akan kembali kepada pembayar premi atau nasabah jika risiko yang dicakup tidak terjadi.

Contoh: Pak X bayar premi asuransi mobil Rp5 juta untuk setahun. Selama setahun, mobil Pak X baik-baik saja. Rp5 juta menjadi milik perusahaan asuransi dan Pak X tidak menerima kembali uang itu.

Sebagian orang enggan ikut asuransi karena harus mengeluarkan "uang hangus" ini. Uang hangus ini dianggap "kerugian".

Namun, apabila suatu risiko seperti kecelakaan terjadi maka perusahaan asuransi akan membayarkan klaim dengan nilai yang bisa lebih besar daripada premi, misalnya Rp10 juta.

3. Literasi Keuangan Rendah

Literasi keuangan masyarakat Indonesia masih rendah. 

Literasi keuangan merupakan pemahaman atau kesadaran masyarakat mengenai produk dan jasa keuangan formal. Dengan kata lain: banyak orang belum paham jasa keuangan.

Data OJK menunjukkan literasi keuangan 38% pada 2019. Walakin, angka itu naik 8% dari 2016 sebesar 29%.


 

Personal Finance