Kemelut Utang BUMI dan Bayang-Bayang Emisi Karbon

Berkah Rio

Menjadi salah satu pemain besar dalam industri batu bara nasional, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) punya kinerja yang jauh dari kata mengesankan. Perseroan masih bergulat dengan beban utang yang besar serta kerugian yang kian membengkak, apalagi selama pandemi.

Selain itu, ada tantangan yang kian berat bagi industri batu bara akibat perubahan iklim dan rencana sejumlah negara untuk mengurangi emisi karbon di tahun 2030 mendatang. Sudah pasti hal ini membuat BUMI semakin tertekan.  

Bagaimana tidak, dikala emiten batu bara lain sudah mulai berkonsentrasi untuk melakukan diversifikasi pada bisnis mereka, BUMI masih harus bergulat pada kas internal. 

Sebagai gambaran, pada kuartal pertama tahun ini, meskipun nilai ekuitas neto BUMI masih positif yakni US$125 juta, defisiensi modal yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induknya justru negatif, yakni -US$608. Ekuitas milik kepentingan non-pengendalinya mencapai US$733 juta.

Kondisi ini sudah bertahan dalam beberapa tahun terakhir. Adapun, total aset BUMI pada kuartal pertama tahun ini mencapai US$3,41 miliar, sedangkan liabilitasnya mencapai US$3,29 miliar. Debt to equity ratio (DER) BUMI jika mengacu pada ekuitas bersihnya yang negatif mencapai -5,4 kali.

Dengan kondisi keuangan yang berat ini, BUMI hingga kini masih memikirkan strategi untuk melunasi utangnya serta melakukan penambahan modal baru. Meskipun demikian, perseroan bukannya sama sekali belum menyiapkan inisiatif strategi untuk menjaga kesinambungan bisnis jangka panjangnya.

 

Produsen dan Pemilik Cadangan Terbesar

Produksi batu bara tahunan BUMI saat ini menjadi yang terbesar di Indonesia. Perseroan memiliki dua anak usaha yang menjalankan tambang batu bara, yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia. KPC sendiri saat ini sudah menjadi produsen batu bara terbesar nasional. Ditambah kontribusi Arutmin, produksi BUMI menjadi yang terbesar secara nasional.

Tahun ini pun, BUMI masih menargetkan peningkatan produksi batu bara, yakni antara 85 juta metrik ton hingga 89 juta metrik ton. Perinciannya, KPC menargetkan produksi sebesar 62 juta metrik ton, sedangkan Arutmin 27 juta metrik ton.

Adapun, dalam beberapa tahun terakhir, produksi batu bara BUMI konsisten di atas 80 juta metrik ton per tahun. Berikut ini data realisasi dan target produksi batu bara BUMI:

Lantas, apakah BUMI sanggup untuk memproduksi batu bara dalam jumlah besar?

Berdasarkan data Laporan Tahunan 2020, BUMI melaporkan memiliki cadangan batu bara sebanyak 2,7 miliar ton. Di samping itu, BUMI juga memiliki cadangan potensial batu bara lainnya sebesar 11 miliar ton. Dengan cadangan sebesar ini, prospek jangka panjang BUMI di bisnis batu bara jelas punya potensi. Modal yang sedemikian besar seharusnya membuat BUMI punya kemampuan cukup untuk membenahi keuangan internal. 

Dengan asumsi laju produksi tahunan BUMI mencapai 100 juta ton per tahun, cadangan sebesar itu cukup untuk produksi lebih dari 100 tahun. Pertanyaan yang tersisa adalah, bagaimana BUMI memastikan bisnisnya dapat bertahan selama itu dengan kualitas kondisi keuangan yang seperti sekarang?

Berdasarkan Laporan Keuangan Kuartal I/2021 BUMI, pendapatan BUMI kembali menurun, tetapi tingkat kerugiannya berkurang. Adapun, dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan dan laba BUMI cenderung menurun. Selama pandemi tahun lalu, kerugian BUMI mencapai US$338 juta.

Penurunan laba tidak terlepas dari tingginya beban keuangan yang harus dibayarkan BUMI setiap tahun.

Tahun lalu, BUMI berhasil menyelesaikan pembayaran pinjaman senilai US$331,6 juta secara tunai, terdiri atas pokok Tranche A senilai US$195,8 juta dan bunga US$135,8 juta.

Tahun ini pun, BUMI sudah beberapa kali melakukan pembayaran utang Tranche A. Pada awal Januari 2021, BUMI telah memproses pembayaran kedua belas senilai US$3,2 juta untuk bunganya.

Lalu, pada April 2021 BUMI memproses pembayaran ketiga belas sebesar US$6,9 juta, atau setara Rp100,6 miliar berdasarkan kurs Jisdor Rp14.580, untuk bunga pinjaman.

Terbaru, BUMI memproses pembayaran keempat belas pada Juli 2021 senilai US$23,3 juta untuk pinjaman Tranche A, terdiri atas pinjaman pokok US$15,9 juta dan bunga US$7,4 juta.

Dengan demikian, total pembayaran utang tersebut sudah mencapai US$365 juta, terdiri atas pokok US$211,7 juta dan bunga US$153,3 juta. Pembayaran selanjutnya akan dilakukan pada Oktober mendatang.

Sementara itu, saat ini industri tambang batu bara sedang di atas angin sebab permintaan dan harga jual batu bara meningkat, bahkan mencapai rekor tertinggi dalam satu dekade terakhir, baik di pasar domestik maupun luar negeri.

BUMI sendiri memutuskan untuk tidak mengubah target produksi maupun penjualannya tahun ini. Biasanya, BUMI menjual 45% dari targetnya pada paruh pertama, sedangkan 55% sisanya pada paruh kedua.

Mengingat kenaikan harga yang tinggi terjadi pada paruh kedua, kemungkinan BUMI akan mencatatkan pemulihan kinerja signifikan pada akhir tahun nanti. Untuk meningkatkan efisiensi produksi, perseroan berupaya meningkatkan utilitas alat-alat produksi.

BUMI juga menggenjot penjualannya ke Cina yang permintaannya tengah tinggi dan menjadi biang kenaikan harga batu bara global. Sekitar 20% dari total ekspor BUMI ditujukan ke Cina. Tingginya permintaan Cina ini cukup wajar, menimbang sebagai negara dengan ekonomi terbesar dunia, Cina saat ini sedang dalam fase pemulihan ekonomi.

Dengan tren pemulihan ekonomi global yang masih berlanjut, kebutuhan terhadap energi akan terus meningkat. Oleh karena itu, perseroan meyakini kuarva harga batu bara global akan tetap berada di atas level US$100 per ton hingga akhir tahun ini, jauh lebih tinggi dibanding tahun lalu yang rata-ratanya US$44,2 per ton.

Jika kinerja terus membaik, BUMI optimistis dapat membayar utangnya dengan nilai lebih besar pada sisa tahun ini untuk segera mengeluarkan perseroan dari tekanan finansial.

 

Prospek BUMI di Masa Depan

Tantangan perubahan iklim global saat ini menjadikan pertambangan batu bara berada dalam sorotan. Batu bara disebut menjadi biang pemanasan global, sebab tingkat emisi karbon dari pembangkit listrik yang berbahan bakar batu bara tersebut sangat tinggi dan memicu pemanasan global.

Banyak negara sudah menyatakan komitmennya untuk terus menekan tingkat konsumsi batu bara di masa mendatang, termasuk Cina yang menjadi konsumen batu bara terbesar dunia. Negara tersebut berencana untuk meninggalkan energi batu bara pada 2050 dan menuju netralitas karbon pada 2060.

Indonesia juga memiliki target yang sama. Hal ini sebenarnya mengacu pada Paris Agreement yang telah diratifikasi oleh banyak negara. Indonesia telah meratifikasinya menjadi UU No. 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to The United Nations Framework Convention On Climate Change.

Jika wancana negara-negara dunia menjadi kenyataan, maka prospek cadangan batu bara yang besar milik BUMI terancam menjadi sia-sia. Tren permintaan batu bara di masa mendatang kemungkinan besar akan cenderung terus berkurang, bukannya meningkat.

Meskipun demikian, BUMI sebenarnya belum kehilangan asa. Sasaran diversifikasi perseroan yakni gasifikasi batu bara menjadi metanol. Dengan cadangan batu bara yang besar, BUMI memiliki potensi yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan proyek gasifikasi ini.

Adapun, KPC sendiri memiliki proyek gasifikasi di Kalimantan Timur yang ditargetkan akan segera beroperasi secara komersial antara 2023 atau 2024. KCP akan menjadi penyedia tetap material batu bara untuk proyek tersebut. Sementara itu, proyek gasifikasi batu bara di area Arutmin saat ini masih dalam tahap studi.

Pasokan batu bara di proyek gasifikasi KCP ditargetkan sekitar 6 juta ton per tahun. Proyek tersebut merupakan proyek kerja sama senilai US$2 miliar antara Bakrie Capital Indonesia, Air Products and Chemicals Inc., dan PT Ithaca Resources.

Jika proyek gasifikasi ini berjalan lancar, BUMI dapat keluar dari jerat penurunan permintaan batu bara. Lagi pula, Omnibus Law diperkirakan dapat menjadi landasan untuk memberikan insentif terhadap proyek gasifikasi ini.

BUMI juga sejatinya memiliki diversifikasi bisnis di bidang tambang mineral yang kini dijalankan oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS). Salah satu produk prospektifnya yakni tambang emas. Namun, batu bara tetap menjadi andalan utama BUMI.

Dibandingkan dengan emiten batu bara lainnya yang getol berekspansi di banyak lini bisnis lain untuk mengantisipasi era senjakala tambang batu bara, BUMI tampaknya cenderung tidak tergoda untuk mendiversifikasikan bisnisnya terlalu jauh.

Hal ini bisa jadi kekuatan bagi BUMI, sebab seluruh konsentrasi bisnisnya terpusat di industri ini. Namun, menimbang tantangan yang nyata di industri batu bara di masa mendatang, jelas BUMI harus segera bersiap.

Dengan kapasitas awal proyek gasifikasi KCP yang hanya 6 juta ton per tahun, jelas tidak sebanding dengan bisnis penjualan batu bara BUMI yang mencapai lebih dari 80 juta ton per tahun. Jika ingin cepat mengimbangi tekanan di penjualan batu bara, BUMI tentu perlu lebih agresif di lini barunya ini.

Hanya saja, dengan tantangan keuangan yang kini belum selesai, pekerjaan rumah bagi BUMI untuk membenahi kinerjanya sembari bertahan dan mencari cela pertumbuhan di tengah situasi yang menantang masih sangat banyak.

Bisnis