Bisnis

Kartel Sinaloa: Kejayaan El Chapo dan Pencucian Uang di Bank Wachovia

Kalau Anda penonton serial Narcos di Netflix, tentu tahu adegan Pablo Escobar menyembunyikan uang hasil perdagangan narkoba di peti dan menguburnya di tanah. Lalu, setelah Pablo Escobar meninggal pada 2 Desember 1993 dan Kartel Medellin runtuh, polisi menemukan banyak peti uang bernilai jutaan dolar Amerika Serikat (AS) di halaman salah satu propertinya. 

Pada 2020 lalu Nicolas Escobar, keponakan Pablo, bahkan melaporkan temuan uang dalam plastik di dinding rumah pamannya. Totalnya mencapai US$ 18 juta, seperti halnya dilansir BBC. Sebuah hal yang menunjukkan belum seluruh uang haram Don Pablo terungkap dan mungkin masih tersimpan di banyak tempat lain.

Uang bagi pengedar narkoba adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, uang memberi kejayaan dan dapat membeli apapun yang mereka inginkan, tidak terkecuali nyawa manusia. Di sisi lain, uang menjadi jejak tindakan kriminal mereka yang bisa ditelusuri polisi. Menempatkan mereka dalam posisi sulit, bahkan kematian seperti Pablo.

Demi menghindari hal yang terakhir disebut itulah, para pengedar narkoba tak menyimpan uangnya di bank. Sistem dan pengawasan perbankan yang ketat, bisa memudahkan polisi mengendus bisnis haram mereka. Bagi bank, menerima simpanan dana dari pengedar narkoba pun sangat berisiko hukum.

Namun, bukan berarti tak ada sama sekali pengedar yang bertransaksi melalui bank. Bukan berarti pula semua bank bersih dari transaksi uang haram. Skandal pencucian uang Kartel Sinaloa di Bank Wachovia, membuktikan hal itu.

 

Sekilas Kartel Sinaloa

Sinaloa adalah sebuah wilayah di Meksiko yang terkenal dengan perdagangan barang selundupan. Pada 1960an-1970an, wilayah ini menjadi pusat penjualan ganja di Meksiko. Salah satu yang paling awal membuka jalan penjualan ganja dari Sinaloa adalah Pedro Aviles dan akhirnya terbentuklah kartel. Ia kemudian mengajak anak temannya, Joaquín Guzmán Loera alias El Chapo. Kisahnya juga difilmkan dalam serial netflix.

Setelah kematian Aviles pada di tangan polisi pada 1978, kegiatan kartel Sinaloa sempat di bawah kuasa kartel Guadalajara. Operasi kartel Guadalajara di bawah beberapa pemimpin, antara lain Miguel Angel Felix Gallardo. Kartel Guadalajara memiliki kongsi bisnis perdagangan kokain dengan Kartel Medellin pimpinan Pablo Escobar, sebelum akhirnya hancur lantaran tersangkut pembunuhan agen Badan Pemberantas Narkoba (DEA) AS pada 1985.

Runtuhnya kartel Guadalajara, seperti dikutip dari insightcrime.org, membuat pimpinan kartel-kartel kecil di Meksiko kembali berkuasa. El Chapo salah satunya yang kemudian mengendalikan kartel Sinaloa bersama kawannya Hector Luiz Palma Salazar.

El Chapo terkenal kejam. Ia memulai serangan kepada keluarga kartel lain di Meksiko. Salah satunya pada 1992 ketika ia mengirim 40 orang bersenjata untuk menyerang pesta kartel Tijuana. Sembilan orang tewas dalam kejadian tersebut.

Akibat serangkaian serangan yang dilakukannya, El Chapo jadi buron kartel lain, polisi dan militer Meksiko, dan DEA. Ia sempat lari ke Guatemala pada 1993 setelah sebuah insiden di Bandara Guadalajara. Saat itu, cardinal Meksiko meninggal sebagai akibatnya. El Chapo tertangkap dua minggu setelah berada di Guatemala.

Namun, penangkapan El Chapo tak menyurutkan aktivitas kartel Sinaloa. El Chapo pun tercatat sempat beberapa kali kabur dari penjara, antara lain pada 2001. El Chapo tertangkap lagi pada 2016 dan diekstradisi ke AS setahun setelahnya.

Selama masa-masa kabur itu, El Chapo sukses membesarkan bisnis kartel Sinaloa. Tercatat kekuasaan kartel Sinaloa membentang dan New York sampai Buenos Aires dengan total jangkauan operasi di 50 negara dunia. Di Meksiko, kartel ini setidaknya mengoperasikan perdagangan narkoba di 17 wilayah.

Kunci sukses kartel Sinaloa, adalah memiliki transportasi aman dalam mengirim narkoba. Kartel ini memiliki banyak pesawat jet pribadi yang sedia mengangkut kokain dan ganja lintas negara. Salah satu pesawat mereka itulah yang menjadi pintu terbongkarnya pencucian uang haram di Bank Wachovia dalam rentang 2004-2006 atau selama perang kartel di Meksiko.

 

Terungkap dari Jejak di Kwitansi Pembelian Pesawat

Reputasi Wachovia sebagai salah satu bank terbesar di AS sangat baik. Hampir tak ada catatan kasus dengan nasabah dan penyelewengan lain sejak bank ini mulai beroperasi pada 1879. Bank ini kokoh sebagai brand yang mengoperasikan pusat finansial di 21 negara bagian AS dan 40 wilayah lain di seluruh dunia.

Sampai pada petang 10 April 2006 sebuah pesawat jet DC-9 mendarat di kota pelabuhan Ciudad del Carmen, di Teluk Meksiko. Tentara Meksiko sudah menunggu di landasan pacu hari itu. Mereka telah bersiaga untuk mendapat tangkapan besar sejak siang, berdasarkan laporan The Observer.

Tentara Meksiko langsung menyergap pesawat tersebut usai mendarat. Dalam penggeledahan, mereka menemukan 128 peti berisi 5,7 ton kokain senilai US$ 100 juta. Temuan lain yang berada di luar jangkauan para prajurit, adalah sebuah kwitansi pembelian pesawat oleh Kartel Sinaloa.

DEA yang terlibat dalam operasi penangkapan, dengan bantuan Internal Revenue Service (IRS), kemudian menyelidiki temuan kwitansi itu lebih lanjut. Setelah 22 bulan penyelidikan, kedua lembaga tersebut menemukan bukti kartel Sinaloa mencuci uang pembelian pesawat di Bank Wachovia.

Berdasarkan dokumen resmi pengadilan AS seperti termuat di Justice.gov, uang pembelian pesawat tersebut dikirim melalui transfer kawat dari akun palsu di rumah pertukaran uang atau casas de cambio (CDC) di Meksiko ke akun koresponden di Bank Wachovia.

CDC bukanlah bank, tapi memiliki izin berbisnis pertukaran uang di beberapa negara, termasuk Meksiko. Melalui CDC, seseorang di Meksiko dapat menukar mata uang tertentu ke mata uang lainnya. Misalnya, dari peso ke dolar AS. Melalui CDC seseorang pun dapat melakukan transfer kawat ke akun bank di AS untuk membeli barang tertentu.

Praktik semacam itu oleh CDC, memungkinkan pencucian uang haram hasil perdagangan narkoba dari Meksiko ke mata uang dolar AS. Wachovia mengelola akun koresponden dari banyak CDC di Meksiko. Lini bisnis Wachovia yang mengelola CDC terletak di Miami, Florida. Miami ditetapkan oleh pengadilan AS sebagai salah satu tempat dengan potensi tingkat pencucian uang kriminal yang tinggi. 

Akun koresponden CDC tercatat disupervisi dan dikelola oleh kantor Bank Wachovia di Miami, Florida. Dari catatan ini, terungkap pembelian beberapa pesawat dalam rentang 2004-2007. Empat di antaranya berhasil tertangkap DEA dengan muatan lebih dari 20 ribu kilogram kokain.

Khusus untuk pembelian pesawat yang tertangkap pada 10 April 2006, dokumen pengadilan AS menyatakan pembelian melalui transfer kawat sebanyak empat kali dalam sehari dari empat akun palsu berbeda dengan total nominal lebih kurang US$ 13 juta.

Temuan lain dari praktik pencucian uang ini, berdasarkan dokumen yang sama, adalah Wachovia menawarkan setidaknya tiga layanan bagi CDC. Pertama, Wachovia mengizinkan CDC melakukan transfer kawat. Kedua, Wachovia memfasilitasi pengiriman uang tunai jumlah besar dari CDC ke AS. Pengiriman ini menggunakan mobil berpengamanan tinggi.

Ketiga, Wachovia memberi layanan setoran kantong. CDC menerima deposit dari bank AS, seperti cek perjalanan yang kemudian disimpan di kantong untuk disetor ke Wachovia. Pada sekitaran 2005, Wachovia mengembangkan layanan bernama Remote Deposit Capture (RDC) yang memungkinkan CDC memindai setoran individu ke dalam format digital. Data terpindai lalu diteruskan ke Wachovia sebagai kredit.

Pengadilan AS mencatat dalam rentang 1 Mei 2004-31 Mei 2007, Wachovia memproses setidaknya US$ 373,7 miliar transaksi transfer kawat. Jumlah yang setara dengan sepertiga Produk Domestik Bruto (PDB) Meksiko pada saat itu. Wachovia juga memproses US$ 4,8 miliar transaksi pengiriman tunai massal. Tak ketinggalan Wachovia memproses US$ miliar dalam bentuk RDC.

 

Demi Bertahan dari Krisis

“Pada 2004, Wachovia telah memahami risikonya. Meski demikian kami tetap dalam bisnis ini,” tulis Wachovia dalam pernyataan resmi saat penyelesaian persoalan di pengadilan federal, mengakui perbuatan mereka.

Pernyataan resmi Wachovia membuktikan analisis dari Antonio Maria Costa, Direktur Eksekutif PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (2002-2010) yag dilansir The Observer. Menurut Antonio, pada rentang 2004-2008 kondisi perbankan di AS sedang kolaps. Puncaknya adalah krisis keuangan 2008. Guna menghindari bangkrut, mereka membutuhkan tambahan likuiditas dan mengekspos diri ke organisasi kriminal.

Demi menjaga likuiditas tersebut, bank rela mengabaikan protokol anti-pencucian uang. Menabrak sistem yang mereka buat sendiri. Dalam kasus Wachovia, protokol know your client (KYC) tak berjalan semestinya. Tak ada lagi kroscek terhadap setiap transaksi melalui layanan mereka. Begitulah yang disampaikan Martin Woods, salah satu whistle blower penting dalam kasus ini.

Woods orang Inggris asal Liverpool. Ia bekerja sebagai petugas anti-pencucian uang senior di kantor Wachovia cabang London pada 2005. Sebelumnya, ia sempat menjadi regu anti-narkoba di kepolisian Metropolitan. Ia pun sempat bergabung dengan regu investigasi pencucian uang dari National Crime Squad dan berhasil mengungkap skandal Bank of New York pada 1990an.

Ketelitian sebagai seorang detektif menuntunnya pada serangkaian laporan transaksi mencurigakan berkaitan dengan CDC di Meksiko. Pada 2006, ia melaporkan ke atasannya di kantor pusat Wachovia, di Charlotte, Carolina Utara, lebih dari 50 aktivitas transaksi mencurigakan dari CDC. Namun, laporan itu mentah.

“Mereka tidak menjawab pertanyaan saya dengan jelas. Apakah transaksi itu nyata atau sintetis? Apakah semua cek perjalanan memenuhi protokol? Jika ya atau tidak, kenapa?” Kata Woods kepada The Guardians.

Jawaban demi jawaban tak memuaskan didapat Woods. Penyelidikannya sengaja dihalangi oleh atasannya di AS. Ia justru mendapat tuduhan telah mencoba melintasi batas kewenangannya yang berpotensi mengganggu bisnis perusahaan.

Saat itu, Wachovia memang sedang tak sehat. Harga sahamnya sempat anjlok hanya di kisaran US$ 1-2 per lembar. Namun, nama besar Wachovia dengan jaringan ritel yang luas, mampu menarik perhatian Citigroup untuk mengakuisisinya. Meskipun, pada akhirnya Wells Fargo lah yang mengakuisisi Wachovia pada 2008 senilai US$ 15,1 miliar.

Wells Fargo bukan bank yang sepenuhnya bersih, meskipun nilai sahamnya sangat tinggi dan menjadi salah satu portofolio andalan Warren Buffet. Bank ini pada 2020 nanti terbukti memaksa pegawainya untuk terus membuka rekening baru demi mendongkrak jumlah nasabah, termasuk rekening palsu. The New York Times memberitakan pada 21 Februari 2020 lalu, nilai rekening palsu di Wells Fargo mencapai US$ 3 miliar.

Secara kebetulan atau telah direncanakan, tindakan Wells Fargo tersebut juga terjadi di sekitaran krisis finansial 2008. Bertepatan dengan pencucian uang dari kartel Sinaloa di Bank Wachovia. Wells Fargo pun menikmati untung dari seluruh skandal ini. Pada 24 Maret 2010, sahamnya naik 1% menjadi US$ 30,86. Pada hari itu, putusan dari skandal pencucian uang di Wachovia diumumkan.

Meski demikian, tak ada tuntutan kepada individu dalam skandal pencucian uang kartel Sinaloa melalui Wachovia. Bank ini hanya harus membayar denda US$ 50 juta karena terbukti gagal memantau uang tunai untuk transaksi kokain sebear 22 ton. Lalu, membayar US$ 110 juta karena mengizinkan transaksi yang terbukti berkaitan penyelundupan narkoba. Angka yang tak lebih dari 2% keuntungan Wachovia yang sebesar US$ 12,3 miliar pada 2009. 

Bank Wachovia kemudian dinyatakan bersih berdasarkan peraturan kerahasiaan nasabah. Kesimpulan dari kasus ini, adalah bahwa institusi perbankan legal sangat berpotensi menjadi agen pencucian uang kriminal. Lalu, seperti kata Antonio Maria Costa, menguji pemerintah di negara-negara dunia untuk mampu membuat peraturan yang memberangus praktik ini.

“Wachovia tentu bukan yang terakhir,” kata Costa.

 

________________________________________________

Tulisan ini adalah bagian dari serial #SkandalEkonomi dan akan terbit setiap akhir pekan. 

Semua orang berhak mendapatkan akses informasi keuangan. Kami bertujuan untuk terus menyampaikan informasi tanpa adanya potensi konflik kepentingan. Menganalisa sebuah isu agar mudah dipahami dan mengapa hal tersebut penting. Kontribusi dari kamu memastikan kami untuk tetap independen serta terus memproduksi konten secara inklusif. Jika kamu suka dengan tulisan ini, kamu bisa traktir kami satu gelas kopi yang biasa kamu beli.

Related articles

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login