Ini Daftar Saham BUMN Konstruksi 2021

Dika Aksara

[Waktu baca: 4 menit]

Saham BUMN konstruksi di Bursa Efek Indonesia menarik untuk diperhatikan. Pada periode pertama masa pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 2014-2019, saham BUMN konstruksi mendapatkan perhatian khusus dari para pelaku pasar.

Saham BUMN konstruksi sering menjadi perhatian karena pemerintah memiliki agenda besar dalam pembangunan infrastruktur Indonesia. Infrastruktur di sejumlah daerah Indonesia, terutama di luar Jawa, dianggap perlu dibangun dan dikembangkan.

Oleh karena itu, pemerintah mengalokasikan dana yang begitu besar dari APBN untuk pembangunan infrastruktur. Pengerjaan proyek-proyek infrastruktur itu membutuhkan jasa perusahaan konstruksi, terutama BUMN konstruksi. Selain sebagai kontraktor, sebagian perusahaan itu juga menjadi investor proyek infrastruktur.

Dari berbagai BUMN konstruksi, sebagian perusahaan telah menjadi perusahaan terbuka (emiten) di BEI. Mereka antara lain Waskita Karya (WSKT), Adhi Karya (ADHI), Pembangunan Perumahan (PTPP) dan Wijaya Karya (WIKA). Sebagian anak usaha BUMN konstruksi juga telah IPO mereka antara lain Wijaya Karya Beton (WTON), Waskita Beton (WSBP), PP Properti (PPRO), PP Presisi (PPRE) dan sebagainya.

Berikut ini daftar saham BUMN konstruksi:

1. ADHI - PT Adhi Karya (Persero) Tbk

Perusahaan konstruksi pelat merah ini adalah perusahaan yang merupakan hasil nasionalisasi dari perusahaan milik kolonial Belanda. ADHI menjadi BUMN pertama yang berstatus perusahaan publik. ADHI melakukan IPO pada 2004. 

Ruang lingkup bidang usaha yang dijalankan Adhi Karya meliputi lima bidang, yakni konstruksi, engineering & construction (EPC), properti, industri, dan investasi. Adhi Karya memiliki empat entitas anak usaha, di antaranya PT Adhi Persada Properti, PT Adhi Persana Gedung, PT Adhi Persada Beton, dan PT Adhi Commuter Properti. 

2. WSKT - PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

Perusahaan ini didirikan pada 1961. Sama dengan Adhi Karya, Waskita Karya (WSKT) juga merupakan hasil nasionalisasi perusahaan yang awalnya dioperasikan oleh kolonial Belanda. 

Tahu Gedung BNI46 yang menjulang di BNI City, Jakarta? Itu adalah hasil karya WSKT. Gedung Bank Indonesia (BI), Menara Mandiri Plaza, hingga Hotel Shangri-La juga sebagian contoh bangunan yang merupakan hasil kerja dari Waskita Karya. Waskita Karya melakukan IPO pada 2012.

3. WIKA - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk

WIKA adalah BUMN yang didirikan pada 1960 dengan nama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja. WIKA bergerak di bidang usaha engineering, procurement and construction (EPC) dengan proyek yang terdiversifikasi.

WIKA memiliki empat segmen bisnis yaitu industri, infrastruktur dan bangunan, pabrik industrial dan energi dan properti. Perusahaan ini pernah menggarap aneka proyek infrastruktur nasional seperti jalan tol Balikpapan-Samarinda, simpang susun Semanggi, Bendungan Jatigede, Terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai, Jembatan Suramadu, Jalan Tol Serang-Panimbang dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Selain itu, WIKA juga memiliki investasi di entitas asosiasi yang bergerak di bidang usaha infrastruktur transportasi (jalan tol, pelabuhan, kereta api), energi dan pengelolaan air. Di bidang infrastruktur transportasi antara lain Jasamarga Manado Bitung, Jasamarga Balikpapan Samarinda, Jasamarga Kunciran Cengkareng, Jasamarga Bali Tol, Kereta Cepat Indonesia China dan sebagainya. Pada saat ini, infrastruktur berkontribusi paling besar kepada pendapatan WIKA, diikuti energi, properti dan sebagainya.

Sejumlah BUMN konstruksi dikabarkan akan mendapatkan manfaat dari keberadaan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) yang dibentuk oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo pada awal 2021. Apakah WIKA akan terkena dampak pembentukan lembaga yang merupakan perwujudan Sovereign Wealth Fund (SWF) tersebut? Simak ulasannya dalam: Apakah Wijaya Karya (WIKA) Kena Dampak SWF?
   

4. PTPP - PT PP (Persero) Tbk

PTPP awalnya bernama NV Pembangunan Perumahan. Berdiri pada 1953, cikal bakal PTPP ini bertugas secara khusus membangun kompleks perumahan untuk karyawan PT Semen Gresik Tbk. 

Di era Presiden Soekarno, PTPP juga mendapat mandat dari pemerintah untuk membangun sejumlah proyek monumental menggunakan kompensasi perang dari Jepang yang dibayarkan kepada Indonesia. Proyek tersebut adalah Hotel Indonesia (HI) di Jakarta, Bali Beach Hotel, Ambarukmo Palace Hotel di Yogyakarta, dan Samudera Beach Hotel (kini menjadi Grand Inna Samudera Beach) di Pelabuhanratu. 

PTPP melakukan IPO pada 2009. PTPP memiliki cukup banyak anak usaha yang bergerak di berbagai bidang usaha, yaitu konstruksi, properti, EPC, urban, presisi, dan investasi.

Investasi