Apakah Wijaya Karya (WIKA) Kena Dampak SWF?

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 6 menit]

Tahun 2020 bukan tahun yang baik bagi Wijaya Karya (WIKA). BUMN konstruksi itu membukukan penurunan laba bersih 95% pada kuartal 3/2020 (year-on-year/yoy) dan penurunan pendapatan sebesar 43%. 

Penurunan kuartalan ini adalah penurunan tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Penyebabnya tidak lain adalah pandemi virus corona yang berdampak signifikan terhadap ekonomi Indonesia termasuk kebijakan fiskal dalam hal anggaran infrastruktur.

Laba WIKA diprediksi turun  92% menjadi hanya Rp208 miliar pada 2020 atau penurunan terdalam dalam 5 tahun terakhir. Kontrak baru diproyeksi hanya Rp23 triliun atau turun hampir 50% pada 2020 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Seperti diuraikan dalam tabel berikut, laba WIKA berkisar Rp600 miliar-Rp1,7 triliun dalam periode 2015-2019.

*Dalam Rp miliar, kecuali EPS

Secara makro, industri konstruksi mengalami kontraksi pada 2020. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan PDB konstruksi mengalami kontraksi 5,39% dan 4,52% masing-masing pada kuartal 2/2020 dan kuartal 3/2020. Pada kuartal 3/2019, sebagai pebandingan, PDB konstruksi tumbuh 5,65%.

Sebagai BUMN yang tidak sedikit bergantung kepada proyek pemerintah, kinerja WIKA turut dipengaruhi oleh anggaran infrastruktur dalam APBN.  Dalam APBN 2020, anggaran infrastruktur diprediksi oleh pemerintah hanya Rp281,1 triliun atau lebih rendah 32% dari rencana awal sebesar Rp419 triliun. Sebagian anggaran pemerintah dialihkan untuk penanganan pandemi dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Namun, penurunan anggaran infrastruktur kemungkinan tidak berlanjut pada 2021 mengingat adanya peningkatan anggaran infrastruktur hingga Rp414 triliun dalam APBN 2021 yang menciptakan harapan baru bagi WIKA. Peningkatan anggaran ini berpotensi mendongkrak kembali pendapatan perusahaan yang selama ini didominasi oleh proyek infrastruktur. 

Baca juga: Mansurmology dan Prospek Bisnis WSKT

Sekilas WIKA

Siapa WIKA sebenarnya? WIKA adalah BUMN yang didirikan pada 1960 dengan nama Perusahaan Negara Bangunan Widjaja Karja. WIKA bergerak di bidang usaha engineering, procurement and construction (EPC) dengan proyek yang terdiversifikasi.

WIKA memiliki empat segmen bisnis yaitu industri, infrastruktur dan bangunan, pabrik industrial dan energi dan properti. Perusahaan ini pernah menggarap aneka proyek infrastruktur nasional seperti jalan tol Balikpapan-Samarinda, simpang susun Semanggi, Bendungan Jatigede, Terminal 3 Bandar Udara Soekarno-Hatta, Bandara Ngurah Rai, Jembatan Suramadu, Jalan Tol Serang-Panimbang dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

WIKA memiliki tujuh entitas anak usaha dengan kepemilikan mayoritas yaitu Wika Beton (WTON), Wika Gedung (WEGE), Wika Industri Kontruksi, Wikaya Rekasyaa Konstruksi, WIka Realty, Wika Bitumen dan Wika Serang Panimbang.

Dari entitas anak usaha itu, WIKA memiliki belasan cucu usaha yang bergerak di berbagai bidang sesuai dengan segmen bisnis WIKA (infrastruktur, bangunan, industri, energi, properti).

Selain itu, WIKA juga memiliki investasi di entitas asosiasi yang bergerak di bidang usaha infrastruktur transportasi (jalan tol, pelabuhan, kereta api), energi dan pengelolaan air.

Di bidang infrastruktur transportasi antara lain Jasamarga Manado Bitung, Jasamarga Balikpapan Samarinda, Jasamarga Kunciran Cengkareng, Jasamarga Bali Tol, Kereta Cepat Indonesia China dan sebagainya.

Pada saat ini, infrastruktur berkontribusi paling besar kepada pendapatan WIKA, diikuti energi, properti dan sebagainya. Dua anak usahanya itu WTON dan WEGE telah IPO. WIKA berencana melakukan IPO Wika Realty pada 2022 yang dapat memperkuat struktur permodalan WIKA.

Baca juga: Katalis Saham Konstruksi 2021

WIKA Pasca Pandemi: Anggaran Infrastruktur dan SWF

Seperti sudah disinggung di atas, pada 2020, laba bersih WIKA diprediksi anjlok hingga 92% atau hanya Rp208 miliar pada 2020. Penurunan ini adalah penurunan terburuk dalam 5 tahun terakhir.

Kinerja itu disebabkan sejumlah faktor. Pertama, realokasi anggaran infrastruktur di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk anggaran penanganan pandemi virus corona pada April 2020. 

Kedua, penundaan aneka proyek pembangunan infrastruktur oleh BUMN atau swasta karena kondisi perekonomian yang terkontraksi akibat pandemi. Pemerintah, BUMN dan swasta adalah sumber proyek bagi BUMN konstruksi yang pasarnya besar di dalam negeri.

Pada 2020, anggaran infrastruktur diprediksi oleh pemerintah hanya Rp281,1 triliun atau lebih rendah 32% dari rencana awal sebesar Rp419 triliun. Anggaran itu turun 28% dibandingkan dengan anggaran 2019.

Namun, peningkatan anggaran infrastruktur hingga Rp414 triliun dalam APBN 2021 menciptakan harapan baru bagi WIKA. Nominal anggaran itu sudah kembali ke level sebelum pandemi. Pemerintah juga akan memprioritaskan pengerjaan konstruksi proyek-proyek yang tertunda selama 2020.

Di samping itu, omnibus law dapat menjadi katalis positif bagi WIKA dalam hal pendanaan proyek infrastruktur mengingat aturan itu mengatur pembentukan Sovereign Wealth Fund (SWF). SWF akan mengelola dana investasi sehingga pembangunan infrastruktur tidak lagi hanya mengandalkan APBN.

SWF (Lembaga Pengelola Investasi) dibentuk untuk mengatasi kesenjangan domestik dan kebutuhan pembiayaan infrastruktur nasional. Jika SWF sudah beroperasi, beban yang ditanggung WIKA tidak lagi seberat sebelumnya jika mendapatkan tugas mengerjakan proyek infrastruktur.

Seperti diketahui, dalam mengerjakan proyek, WIKA bukan hanya menggunakan ekuitasnya, namun juga menambah utang baru. Dalam beberapa tahun terakhir, utang WIKA kian besar yang ditandai dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang mencapai 2,8x (dalam praktek, DER yang wajar biasanya sekitar 3-4x). DER BUMN konstruksi memang mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir seiring penugasan pemerintah terhadap mereka dalam membangun infrastruktur.

Utang yang besar memiliki konsekuensi biaya bunga yang tidak kecil pula. Bunga tersebut pada akhirnya dapat menekan profitabilitas perusahaan. Pada saat ini, belum dapat dipastikan proyek WIKA yang mana yang akan didanai SWF. Dalam pernyataan terbarunya, manajemen WIKA juga menyatakan belum mengkaji secara spesifik aset mana yang akan dilibatkan dalam SWF.

Di pasar saham, keberadaan lembaga ini menjadi sentimen positif dalam jangka pendek bagi WIKA. Dalam beberapa hari perdagangan, perkembangan mengenai SWF menjadi sentimen jangka pendek yang positif bagi WIKA.  Hal itu terbukti setiap kali ada pemberitaan mengenai perkembangan SWF, saham WIKA bergerak naik sama seperti saham-saham BUMN konstruksi lainnya. 

Namun, jika nantinya proyek-proyek yang akan ditangani oleh SWF ternyata bukan proyek WIKA, keberadaan SWF tidak menjadi suatu sentimen yang berarti bagi saham ini. Kinerja fundamental WIKA, termasuk bagaimana perusahaan ini mengelola utang-utangnya, akan menjadi faktor utama yang perlu dicermati sebelum mengambil keputusan investasi.

Investasi