PPKM Darurat dan Paceklik Panjang Bisnis Jalan Tol

Fauzan Ahmad

Ketika secercah cahaya di ujung lorong sudah mulai tampak, tiba-tiba muncul kegelapan baru yang bikin segalanya serba tak pasti lagi. Situasi tersebut agaknya tepat untuk menggambarkan kondisi perusahaan-perusahaan pengelola tol di Indonesia.

Sejak pekan lalu, pemerintah memberlakukan PPKM Darurat yang di dalamnya mencakup kebijakan soal penyekatan dan pembatasan lalu lintas tol. Konon, menurut Asosiasi Jalan Tol Indonesia (ATI), kebijakan ini membuat jumlah rata-rata pengguna tol merosot 30-40 persen dalam sepekan terakhir.

“Di beberapa ruas tol bisa minus sampai 60 persen, karena di beberapa lokasi dilakukan [bukan hanya penyekatan] tapi bahkan ditutup aksesnya,” tutur Sekretaris Jenderal ATI Krist Ade Sudiyono seperti diwartakan Bisnis Jumat (9/7/2021). 

Sepanjang tahun lalu, ATI mencatat kunjungan tol hanya 20-30 persen jika dibandingkan masa pra pandemi, dan angka ini sebenarnya sudah berangsur membaik pada semester pertama tahun ini. Meskipun, besarannya memang belum mampu menyamai kondisi sebelum pandemi.

Namun, andai laju kasus Covid-19 dalam negeri kembali tak terbendung dan PPKM Darurat berjalan lebih panjang daripada patokan awal, bisa saja kondisi berbalik. Bila laju kasus harian Covid-19 tak kunjung landai dan PPKM Darurat harus diperpanjang, kondisi bahkan bisa lebih buruk dari tahun lalu.

Perusahaan, di sisi lain, tak punya pilihan selain taat. Mereka kompak menyatakan siap berkorban demi mengusir pandemi Covid-19.

"Dalam rangka pembatasan dan pengendalian mobilitas masyarakat selama PPKM Darurat, PT Jasa Marga atas diskresi dan berkoordinasi dengan pihak Kepolisian dan TNI mendukung pelaksanaan pembatasan tersebut dengan melakukan pengaturan lalulintas di beberapa titik lokasi di jalan tol Jasa Marga Group," kata Corporate Communication & Community Development Group Head Dwimawan Heru dalam siaran pers di Jakarta, Sabtu (3/7) pekan lalu.

Sebagaimana dilaporkan Tempo, setidaknya ada 31 titik tol kelolaan JSMR yang terdampak penyekatan maupun penutupan. Termasuk di dalamnya adalah beberapa tol strategis ramai pengguna seperti Jalan Tol Dalam Kota, Jalan Tol Padaleunyi hingga Jalan Tol Jagorawi.

Padahal, sejak kedatangan pandemi Covid-19 yang memukul segmen konstruksi JSMR, pendapatan tol menjadi komponen terbesar penyusun kinerja keuangan perusahaan.

Tahun lalu misalnya, pendapatan dari segmen tol memang mengalami kontraksi 13,5 persen. Tepatnya dari Rp10,13 triliun menjadi Rp8,76 triliun saja. Namun, nominal tersebut berkontribusi terhadap 63,94 persen pendapatan total perusahaan yang cuma sebesar Rp13,7 triliun.

Padahal, di tahun 2019 alias saat kondisi normal, pendapatan tol JSMR yang sebesar Rp10,13 triliun hanya berkontribusi terhadap 38,45 persen total pemasukan di tahun yang sama.

Tren ketergantungan perseroan terhadap segmen operasi jalan tol juga semakin kuat di awal tahun ini. Terbukti sepanjang kuartal I/2020 pendapatan tol JSMR yang mencapai Rp2,54 triliun berkontribusi terhadap 72,7 persen pendapatan total perusahaan di periode yang sama, yang hanya mentok pada nominal Rp3,49 triliun.

JSMR bukan satu-satunya pengelola tol yang berjuang dan banyak berkorban di tengah pandemi.

Di luar perusahaan yang memiliki tol lewat anak usaha, saat ini setidaknya ada dua emiten lain yang menjadikan bisnis pengelolaan tol sebagai ladang cuan utama. Mereka adalah PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (CMNP) dan PT Nusantara Infrastructure Tbk. (META).

Nama yang disebut awal, CMNP, bahkan bisa dibilang akan lebih rentan dipengaruhi kebijakan PPKM Darurat. Pasalnya tak seperti JSMR yang punya sumber pendapatan lain di bidang konstruksi, CMNP murni menggantungkan nasibnya pada bisnis jalur darat.

Perusahaan yang dirintis juragan tol Jusuf Hamka tersebut saat ini membagi bisnis tol mereka ke dalam lima segmen. Masing-masing adalah segmen ruas lingkar dalam kota Jakarta, simpang susun Waru-Juanda di Surabaya, ruas Depok Antasari, ruas tol Soreang Pasir Koja di Jawa Barat dan terakhir adalah segmen lain-lain.

Apesnya, empat dari lima segmen tersebut terletak di Pulau Jawa, titik yang jadi konsentrasi pemerintah dalam kebijakan PPKM Darurat. Bila PPKM Darurat berlangsung lama dan tekanan pengunjung tol terus terjadi, bukan tidak mungkin ambisi perseroan untuk memperbaiki kinerjanya di tengah pandemi bakal pupus.

Terlebih, berbeda dari JSMR yang masih relatif solid, di awal tahun ini kinerja CMNP cenderung memburuk. Perusahaan hanya mampu membukukan laba konsolidasi tahun berjalan Rp125,,23 miliar sepanjang Januari-Maret 2021. Angka ini turun 24 persen dari rapor Rp165,19 miliar secara year on year (yoy).

Bila diklasifikasikan berdasarkan segmen, seluruh segmen operasi CMNP mengalami tekanan sepanjang kuartal I/2021 lalu. Termasuk segmen ruas lingkar dalam kota Jakarta yang dari tahun ke tahun selalu menjadi sumber keuntungan utama perusahaan.

Makin miris lagi karena kemerosotan bisnis mereka bukanlah yang pertama. Sepanjang tahun lalu, perseroan juga mengalami tekanan secara signifikan akibat pembatasan sosial yang berjilid-jilid.

Sementara itu, satu nama terakhir yakni META, memang punya bisnis sampingan di luar pengelolaan tol. Namun, kinerja bisnis-bisnis yang di antaranya meliputi bisnis pelabuhan, energi, dan penyediaan air tersebut juga relatif tak bisa diandalkan.

Secara proporsi kontribusi segmen-segmen lain mereka tak sebesar kontribusi bisnis pengelolaan tol. Sepanjang 2020 misal, perseroan membukukan pendapatan jasa pengelolaan tol sebesar Rp1,37 triliun. Nominal ini setara 87 persen total pendapatan konsolidasi perseroan yang berkisar Rp1,57 triliun.

Sepanjang 2020, laba segmen bisnis jalan tol META yang mencapai Rp132,97 miliar juga jadi juru selamat perseroan.

META, dalam laporan keuangannya, membukukan laba konsolidasi sebesar Rp112,61 miliar atau lebih rendah dari laba segmen jalan tol. Artinya, perusahaan ini nyaris tak punya tenaga jika bisnis tol mereka diamputasi.

Pihak META, seperti diwartakan Kontan pada Jumat (9/7) kemarin, sudah menyuarakan kekhawatiran bila musim paceklik kinerja keuangan mereka kian panjang. Dampak PPKM Darurat selama sepekan terakhir diakui META mulai terasa.

“Untuk jalan tol META, yakni tol Makassar dan tol BSD mengalami penurunan sekitar 12-20 persen dari kondisi sebelum PPKM,” tutur General Corporate Affairs META Deden Rochmawati pada Kontan

Namun seperti halnya JSMR ataupun CMNP, META selaku salah satu pengelola tol dari kalangan swasta juga menegaskan komitmen mereka untuk tetap mendukung keputusan apapun yang diambil pemerintah. Tentu saja dukungan tersebut mereka berikan sambil harap-harap cemas agar kasus Covid-19 di dalam negeri segera anjlok dan PPKM Darurat tak perlu diperpanjang

Investasi