IHSG Hancur Lebur Empat Hari Beruntun, Ada Apa?

Date:

[Waktu baca: 4 menit]

Dalam empat hari perdagangan terakhir, dimulai Kamis (21 Januari) hingga Selasa (26 Januari), IHSG terperosok cukup dalam.

Hingga akhir perdagangan Selasa (26 Januari), IHSG jatuh 1,89% ke 6.149,17 yang membuat performanya menjadi medioker. Padahal, IHSG pernah mencetak kinerja terbaik di Asia Tenggara beberapa waktu yang lalu dan sempat mencatat kenaikan sebesar 7,63% dari awal tahun 2021.

Dengan penurunannya secara empat hari terakhir, saat ini kinerja IHSG hanya 2,7% secara year-to-date (YTD).

Baca juga: Kinerja IHSG Tertinggi Se-Asean, Seberapa Lama Bisa Bertahan?

Pertanyaan besarnya adalah: kenapa?

Seperti lazimnya penurunan atau kenaikan indeks yang terjadi di bursa, jurnalis media massa keuangan biasanya akan mencari berita yang sepertinya memiliki hubungan lalu menjahit cerita tersebut dengan naik turunnya IHSG.

Untuk kali ini, beberapa media massa lokal mengaitkannya dengan diperpanjangnya PSBB (yang kini bernama PPKM - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang diberlakukan oleh Gubernur Anies Baswedan hingga tanggal 8 Februari 2021 mendatang.

Penurunan IHSG kali ini juga tidak lepas oleh laju infeksi corona yang masih tidak terkendali. Di hari Selasa (26 Januari), kasus positif corona di Indonesia sudah menembus 1 juta kasus.

Tingginya kasus penyebaran corona ini dikhawatirkan akan menyebabkan ekonomi domestik di kuartal I/2021 kembali merosot setelah sempat menunjukkan gejala-gejala membaik.

Padahal, kondisi serupa juga terjadi di pasar modal Asia lain seperti China, Hong Kong dan Korea Selatan. Namun menurut media massa luar, ceritanya sedikit berbeda. Penyebab turunnya mayoritas bursa di Asia disinyalir oleh khawatirnya investor terhadap kepastian diloloskannya stimulus covid di US sebesar $1,9 triliun.

Untuk kondisi pasar US sendiri, kondisinya masih belum banyak berubah. 

Seolah tidak peduli dengan pandemi, Dow Jones dan Nasdaq masih terus mendaki dan memperlebar jurang antara Wall Street dan Real Street. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa saat ini kondisi pasar US sedang mengalami bubble.

Apapun berita yang anda pilih untuk menjustifikasi penurunan IHSG sekarang, kondisinya akan tetap sama. Secara jangka pendek, bursa adalah sebuah voting machine, di mana naik atau turunnya indeks dipengaruhi oleh kekuatan jual beli.

Dan saat ini, kekuatan untuk menjual lebih kuat daripada kekuatan untuk membeli.

Baca juga: Dollar, Bitcoin, IHSG: Outlook 2021

Lalu sebagai investor saya harus bagaimana?

Yang perlu dipahami adalah fakta bahwa secara jangka panjang, kenaikan sebuah saham atau indeks akan dipengaruhi oleh kondisi fundamental saham-saham di dalamnya.

Kenaikan IHSG yang lumayan ‘ngebut’ selama beberapa bulan terakhir juga murni bersumber dari optimisme para pelaku pasar, bahwa terjadi perbaikan kondisi ekonomi Indonesia selama bulan-bulan ke depan. Kenaikan berbahan bakar optimisme ini membuat beberapa saham seolah tidak memiliki batas atas, dan tidak perlu memiliki alasan masuk akal dibalik naiknya sebuah saham.

Padahal, kondisi fundamental mayoritas emiten di kuartal III tahun 2020 juga belum banyak yang mengalami perbaikan. Mayoritas perusahaan masih mencatatkan kinerja yang menurun atau beberapa yang bisa bertahan, kinerjanya stagnan.

Apalagi ‘saham-saham corona’ yang murni kenaikannya bermodalkan spekulasi dan optimisme seperti ANTM, BRIS dan saham-saham farmasi yang ada di bursa.

Baca Juga: Seberapa Mahal Saham BRIS Saat Ini?

Pun terjadi pesimisme dalam empat hari terakhir, yang menyebabkan IHSG kembali rontok, merupakan suatu hal yang sangat wajar. 

Ketika kita mempercayai bahwa kondisi fundamental lah yang berpengaruh, maka yang menjadi fokus harusnya adalah hanya hal tersebut. Itulah kenapa sentimen yang paling krusial dalam beberapa bulan ke depan adalah earning season para emiten yang ada di bursa.

Musim di mana mereka mengeluarkan laporan keuangan audited mereka untuk tahun 2020 yang lalu. 

Momentum inilah yang nanti akan menjadi penyebab utama naik atau turunnya sebuah saham atau indeks karena akan benar-benar berdasarkan dari kinerja mereka, bukan hanya bermodal optimisme saja.

Dalam beberapa bulan ke depan kita akan mengetahui emiten-emiten mana yang berhasil meloloskan diri dari jeratan pandemi dan emiten mana saja yang terpukul jatuh secara operasional oleh covid-19.

Dan hal itu akan menentukan arah IHSG ke depan. 

Dari sana lah kita baru bisa menilai apakah IHSG sudah ‘kemahalan’ atau tidak. Baik secara relatif terhadap posisi IHSG di masa lalu, atau jika dibandingkan dengan bursa lain di emerging market lainnya di dunia.

Meanwhile, nikmati saja fluktuasi indeks yang terjadi saat ini.

Toh ketika fokus anda adalah investor jangka panjang, momentum seperti ini bisa menawarkan peluang untuk membeli saham-saham yang anda yakin masih bisa kembali naik.

Namun jika anda membeli saham dengan margin atau uang hasil berutang, maka bisa lain cerita.