Kaleidoskop Finansial 2020: Ini Rangkumannya!

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 5 menit]

2020 adalah tahun yang tidak mudah sekaligus mencemaskan bagi masyarakat di seluruh dunia karena pandemi virus corona.

Hampir seluruh sektor di kehidupan masyarakat terkena dampak dari pandemi mematikan tersebut, tidak terkecuali sektor finansial. Dampak itu dapat dilihat dari berbagai indikator finansial di sektor keuangan, baik pasar modal, perbankan atau keuangan non-bank. 

Apa yang terjadi di 2020, termasuk di sektor finansial, akan dikenang di masa depan sebagai bagian dari noktah sejarah penting umat manusia. 2020 memberikan pengalaman berharga yang begitu besar terhadap umat manusia.

Apa saja yang terjadi di tahun ini ? Berikut ini rangkumannya!

1. IHSG dan Covid

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2020 bak roller coaster yang membuat jantung sebagian pelaku pasar saham berdegup kencang.

Secara umum, pergerakan IHSG sepanjang 2020 dibagi ke dua fase: bearish dan bullish yang terjadi di semester yang berbeda.

Fase bearish terjadi pada kuartal I dimana IHSG turun berturut-turut sebesar 3,6% (Januari 2020), 7% (Februari 2020) dan 15% (Maret 2020). Pada 24 Maret 2020, IHSG mencapai titik terendahnya di level 3.937,63.

IHSG terjerembab begitu dalam karena investor panik terhadap perkembangan virus corona di dunia, termasuk Indonesia. Investor melakukan penjualan saham secara besar-besaran yang mengakibatkan penurunan harga.

Sementara itu, fase bullish terjadi pada kuartal IV dimana IHSG merangkak naik disebabkan sejumlah faktor seperti pemilihan Presiden Amerika Serikat, naiknya harga komoditas dan perkembangan vaksin corona. Setelah terpental ke level 5.000, 4.000 hingga 3.000, IHSG kembali ke level 6.000 di kuartal IV.

Berikut ini grafiknya:


2. Suku Bunga Acuan Bank Indonesia

Merespon pandemi yang berdampak signifikan terhadap perekonomian nasional, bank sentral menurunkan suku bunga acuan hingga lima kali sepanjang 2020. Dari 5% pada awal 2020, suku bunga acuan diturunkan beberapa kali hingga menjadi 3,75%. Penurunan BI 7 Days Repo Rate ini adalah yang terendah sepanjang sejarah bunga acuan.

Penurunan suku bunga acuan ini berdampak terhadap sejumlah hal, mulai dari tingkat suku bunga kredit hingga tingkat suku bunga deposito. Berikut ini perubahannya:

  • 23 Januari 2020: 5%
  • 20 Februari 2020: 4,75%
  • 19 Maret 2020: 4,5%
  • 18 Juni 2020: 4,25%
  • 16 Juli 2020: 4%
  • 19 November 2020: 3,75%

3. SBN Ritel

Sepanjang 2020, pemerintah melalui Kementerian Keuangan menerbitkan enam Surat Berharga Negara (SBN) Ritel. Seiring suku bunga acuan bank Indonesia yang turun, kupon yang diberikan oleh pemerintah kepada investor juga disesuaikan. Berikut ini SBN Ritel yang diterbitkan pemerintah sepanjang 2020:

Bingung apa perbedaan SR, SBR, ORI dan ST? Bagaimana perbedaan keuntungan investasi di SBN Ritel dan deposito bank BUMN? Apa saja risiko dari investasi obligasi? Klik link berwarna biru ini untuk mendapatkan jawabannya!

4. Pergerakan Rupiah

Rupiah turut melemah terhadap mata uang acuan dunia, dolar Amerika Serikat seiring kepanikan terhadap pandemi corona. Pelemahan Rupiah menyentuh titik tertinggi Rp16.504 per dolar Amerika Serikat pada 24 Maret 2020 atau tanggal yang sama ketika IHSG tersungkur ke titik terendahnya.

Ada berbagai faktor yang diduga kuat melemahkan Rupiah. Salah satunya adalah sikap investor yang memindahkan dananya dari Rupiah ke dolar AS yang dianggap sebagai safe haven sama seperti emas. Saat itu, investor melepas Rupiah lalu menggantinya dengan dolar. Penjualan Rupiah tersebut menekan nilai tukar mata uang Garuda ini.

Namun, seperti aset lainnya, pelemahan Rupiah ini berlangsung sementara. Setelah itu, nilai tukar Rupiah berangsur menguat kendati belum kembali ke level pra-pandemi di level Rp13.000an. Berikut ini grafiknya:


 

Investasi