Dokter Bank itu Bernama Mochtar Riady

Emha Asror

Ia menjadi figur kunci dalam perkembangan bank-bank besar di Indonesia. Ia beroleh reputasi sebagai “dokter bank”, lantaran mampu membawa lembaga keuangan yang tengah “sakit” kembali dalam kondisi sehat. Ia adalah Mochtar Riady yang, menurut Forbes di Desember 2020 lalu, total bersih kekayaannya menembus USD 1,8 miliar.  

Tapi semua bermula dari obsesinya menjadi bankir. Ketika Mochtar masih duduk di sekolah dasar di Malang, setiap kali berjalan menuju kelas, ia melewati satu-dua gedung bergaya Eropa. Dalam gedung itu, ia melihat banyak orang berpakaian formal dan terlihat sangat sibuk. “Segalanya menurut saya sangat menarik,” batin Mochtar saat itu, sebagaimana kisahnya ini ia tulis dalam Mochtar Riady: My Life Story.

Mochtar penasaran dan betul-betul ingin tahu, sebenarnya bisnis macam apa yang dijalankan dalam gedung semegah itu hingga mengharuskan orang-orang di dalamnya berpakaian serba rapi. Suatu hari, apa yang terus mengganggu pikirannya ini ia utarakan pada Luo, kepala sekolahnya. “Luo berbisik kepada saya, ‘itu bank milik Belanda,’” kenang Mochtar, masih dalam buku setebal 300 halaman lebih itu.

Usai mendapat penjelasan sederhana dari Luo bagaimana bank beroperasi dan menyelenggarakan bisnisnya, kendati ia dan keluarganya hidup miskin tapi Mochtar muda berambisi besar bahwa suatu saat kelak ia harus jadi bankir yang sukses.

Selang beberapa tahun kemudian, kala mulai beranjak dewasa, ia mendalami berbagai ihwal isu perbankan dari buku-buku dan majalah. Pokoknya, ia habiskan waktunya untuk segala hal yang berkait erat dengan dunia perbankan. “Saya menikmati setiap lembar buku The Messages of the Wanderer milik Zou Taofen yang membahas tema-tema perbankan. Bankir benar-benar menjadi mimpi saya,” tulis Mochtar.

Mendapat kabar bila Mochtar ingin membuka bank, di suatu waktu di 1959, seorang kerabat dekatnya, Wu Wenrong, datang ke rumahnya. Wu mengajak Mochtar bertemu dan mengenalkannya pada Andi Gappa. Kebetulan, nama terakhir ialah pemilik Bank Kemakmuran, sebuah bank kecil yang sedang berjuang dari kebangkrutan dan membutuhkan modal segar.

Gappa berasal dari keluarga terpandang di Makassar. Keluarga Gappa dikenal jujur, namun tak punya pengetahuan perbankan. Inilah yang mengakibatkan Bank Kemakmuran miliknya tidak tumbuh dengan cepat. 

Saat itu, total aset Bank Kemakmuran kira-kira senilai USD 3 juta dan modal usaha yang dikeluarkan Gappa untuk menjalankan operasional banknya itu kurang lebih mencapai USD 100 ribu. Setelah berdiskusi panjang, Mochtar tertarik membeli sebagian besar sahamnya. Gappa memberi syarat, Mochtar harus menyerahkan USD 200 ribu jika ingin menguasai 66 persen sahamnya. 

Tak lama dari pertemuan itu, Mochtar menemui ayah dan paman Wu yang merupakan pebisnis tajir. Ia melobi mereka berdua agar mau bergabung membeli saham Bank Kemakmuran. Ayah dan paman Wu kemudian mengajak tiga orang temannya dari Fujian. Terjadilah enam orang itu menjadi pemegang saham baru dan Mochtar diminta untuk duduk di posisi ketua dewan dan manajer umum. 

“Impian saya kenyataan: saya telah menjadi seorang bankir,” lanjut Mochtar dalam buku bertahun terbit 2017 itu. Di hari pertama ia sebagai manajer umum, lima orang temannya itu mengirimkan laporan keuangan ke Mochtar. Setelah meraba-raba laporan itu seharian penuh, ia masih tak dapat memahami. Mochtar mengaku dirinya memang belum bisa membaca laporan keuangan ketika itu.

Akhirnya, Mochtar membujuk Yang Dingliu, seorang direktur departemen valuta asing di Bank Dadong, untuk mengajarinya membaca laporan keuangan. Ia pun menawari Yang agar bekerja bersamanya sebagai asisten pribadi dan mengambil alih urusan keuangan serta administrasi Bank Kemakmuran. Alhasil, hanya butuh waktu 16 bulan saja, posisi keuangan Bank Kemakmuran kembali sehat.

Di 1962, usai keluar dari Bank Kemakmuran karena pengalaman yang kurang menyenangkan bersama para pemegang saham di sana, Mochtar mencari bank lagi yang keuangannya tidak dalam keadaan baik. Ia lalu bertemu dengan beberapa teman semasa di sekolahnya dahulu. Dari reuni kecil-kecilan ini, mereka sepakat membeli saham Bank Buana.

Cuma lebih dari setahun Mochtar bersama koleganya bekerja keras, Bank Buana menjelma sebagai bank terbesar di Indonesia yang dimiliki etnis Tionghoa, dengan berhasil membuka cabang di Bandung, Semarang, Surabaya, Malang, Makassar, Solo, Yogyakarta, Palembang, Medan, Jambi, Manado, Pekanbaru, dan Telok Betong.

“Namun, di tahun 1965 Bank Buana sempat menghadapi kendala seiring tingginya inflasi ekonomi Indonesia yang menyentuh angka 600 persen ketika itu,” catat Mochtar. Dengan bermacam strategi dan siasat, Bank Buana berhasil keluar dari tekanan krisis. “Meski sempat selamat dari krisis 1965, Bank Kemakmuran hampir bangkrut karena kredit macet dan saya pun mengambil alih bank ini di 1966.”               

Di 1971, Mochtar sudah menguasai empat bank, yakni Bank Kemakmuran, Bank Buana, Bank Industri Dagang Indonesia, juga Bank Industri Dagang Indonesia Surabaya. Di tahun yang sama, takut bank-bank miliknya terdampak krisis yang masih berlanjut dari 1965 itu, empat bank itu kemudian dimerger dan beralih nama menjadi Panin Bank.

Mochtar keluar dari Panin Bank di 1975, dan bersamaan dengan itu ia bergabung ke Bank Central Asia alias BCA. Di bank ini, ia mendapatkan share sebesar 17,5 persen saham. Aset BCA ketika ia bergabung hanya Rp 12,8 miliar. Mochtar baru keluar dari BCA pada akhir 1990 dan ketika itu aset bank itu sudah di atas Rp 5 triliun. 

Lippo Group sendiri berawal saat Mochtar membeli sebagian saham di Bank Perniagaan Indonesia (BPI) milik Haji Hasyim Ning. Sewaktu ia beli, aset bank BPI hanya sekitar Rp 16,3 miliar. Setelah ia bergabung, aset bank naik menjadi Rp 257,73 miliar di 1987. Di 1989, bank ini melakukan merger dengan Bank Umum Asia dan sejak saat itu lahirlah Lippobank, yang menjadi cikal bakal Lippo Group di kemudian hari.

Bisnis