Biografi Ma Huateng, Pendiri Tencent yang Kelola WeChat

Dika Aksara

[Waktu baca: 4 menit]

Pernah dengar nama Tencent? Coba cek di ponsel kamu apakah ada aplikasi-alikasi berikut ini: WeChat, QQ, atau games seperti Honour of Kings, PUBG Mobile, hingga League of Legends? Itulah beberapa aplikasi atau produk teknologi yang dibidani oleh Tencent. 

WeChat bahkan sudah dipakai lebih dari 1 miliar orang. Jangan lupa juga, grup raksasa Tencent juga sempat menyuntikkan modalnya ke startup Indonesia, Gojek, sebesar US$1,2 miliar pada 2017 lalu. 

Tencent juga masuk ke pasar Indonesia melalui aplikasi musik, Joox. Belum cukup, kepemilikan Tencent juga tercatat di startup JD.com, yang memiliki anak usaha di Indonesia yaitu JD.id. Siapa yang mendirikan Tencent? Dia adalah Ma Huateng.

Ma Huateng bukan orang sembarangan lagi di industri teknologi China. Pria yang bernama asli Pony Ma itu mencatatkan kekayaan hingga US$58,9 miliar per Juni 2021, setara dengan Rp 853,4 triliun (kurs Rp14.500). 

Dengan kekayaan sebanyak itu, Ma Huateng duduk di urutan 15 orang terkaya dunia versi Forbes. Ia juga menjadi salah satu orang terkaya di China versi majalah yang sama, pada 2020 lalu. 

Lantas seperti apa profil lengkap Ma Huateng? Pelajaran hidup apa yang bisa diambil dari perjalanan karirnya? Big Alpha merangkumnya untuk kamu. 

1. Minati Ilmu Komputer Sejak Muda

Ma Huateng lahir di Chaoyang, Shanfou, Guangdong, China pada 29 Oktober 1971. Ma muda ikut ayahnya pindah ke Shenzhen yang bekerja sebagai manajer pelabuhan. Di kota tersebut, Pony Ma merampungkan pendidikan menengahnya. 

Ma Huateng lantas melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Shenzhen pada 1989 di jurusan ilmu komputer. Minat Ma terhadap cabang ilmu ini sudah muncul sejak remaja. Ia pun lulus tahun 1993 dan memulai karir profesionalnya di perusahaan telekomunikasi. 

2. Mendirikan Tencent

Karir Ma Huateng terus berkembang. Lantas pada tahun 1998, tepatnya saat Ma Huateng berusia 27 tahun, mulai muncul gagasan untuk merintis perusahaan teknologi sendiri. 

Ma Huateng lantas merintis cikal bakal Tencent bersama empat orang rekannya. Pendanaan awal Tencent ini memanfaatkan dana dari modal ventura (venture capital). 

Ma kemudian mendapat ide dari layanan pesan instan ICQ. Ia berinovasi membuat produk serupa di China, bernama OICQ. Namun produk ini digugat oleh ICQ. Saat itu, ICQ dimiliki oleh American Online (AOL).

Tencent pun mengubah nama produk OICQ menjadi QQ, yang bertahan sampai saat ini. Tencent sendiri tumbuh dengan cukup pesat. Pada 2004, Tencent menjadi penyedia layanan pesan instan terbesar di China. 

3. Bisnis Tencent Terus Berkembang

Bisnis yang dijalankan Ma Huateng terus berkembang. Pada 2005, Tencent memulai ranah gim daring alias game online. Tencent juga mulai masuk ke dunia e-commerce. Pada tahun 2005 juga, Tencent merilis Paipai, sebuah e-commerce pesaing Alibaba milik triliuner Jack Ma. 

Salah satu kesuksesan terbesar Tencent adalah bisnis game online yang meledak sejak 2010-an. Seiring dengan terus tumbuhnya penetrasi internet di seluruh dunia dan bertambahnya pemain game online, produk Tencent melejit. 

Pada saat ini, Tencent juga membenamkan dananya di sejumlah perusahaan teknologi di Indonesia. Simak ulasan kami mengenai kiprah Tencent di Indonesia dalam artikel ini: Palagan Alibaba Vs Tencent di Indonesia.

4. Menghindari Sorotan Kamera

Ma Huateng dikenal sebagai sosok yang low profile. Ia tidak ingin seluruh gerak-geriknya terus disorot kamera. Ma Huateng lebih suka bekerja di balik layar tanpa liputan media. Bahkan Ma juga memiliki lembaga sosial sendiri yang dikelolanya. 
 

Tags:

Bisnis