Manuver Cerdik ASSA di Era Penuh Tantangan

Date:

Pembatasan mobilitas, larangan ekspor-impor adalah salah dua dari sekian banyak tantangan industri transportasi dan logistik selama pandemi. Tentu saja, kondisi ini membuat bisnis yang erat kaitannya dengan kapal dan truk besar menjadi tidak ideal. Namun, kondisi tersebut berhasil dimanfaatkan sebagai peluang untuk bertumbuh sejumlah emiten.

Misalnya, Adi Sarana Armada Tbk emiten dengan kode saham ASSA ini merupakan satu dari sedikit emiten yang cukup berhasil bermanuver selama periode pandemi dan sukses memanfaatkan kondisi yang ada untuk meningkatkan kinerja.

Perseroan awalnya dikenal sebagai perusahaan penyedia jasa rental kendaraan, jasa pengemudi, dan car sharing. Namun, belakangan perseroan makin meningkatkan kontribusi pendapatan dari bisnis jual-beli kendaraan atau lelang kendaraan, serta end-to-end logistic yakni logistik dan kurir ekspres Anteraja.

Strategi perseroan yang jitu selama pandemi ini pun menjadikan investor banyak mengapresiasi sahamnya. Saham ASSA pun menjadi sasaran rekomendasi beli banyak analis di pasar modal. Bahkan, di antara emiten-emiten anggota indeks IDX Sector Transportation & Logistic, ASSA paling unggul.

Kinerja sahamnya sepanjang tahun berjalan hingga sesi pertama hari ini, Selasa (15 Oktober 2021), telah tumbuh 448,29% year-to-date (YtD) ke level Rp3.390. Di posisi kedua ada PT WEHA Transportasi Indonesia Tbk. (WEHA), yang telah naik 228,13% YtD ke level Rp210.

Oleh karena itu, menarik untuk mengetahui perkembangan bisnis ASSA selama masa pandemi dan prospeknya di masa mendatang setelah pandami berakhir.

Selama periode pandemi 2020 lalu, hampir semua lini bisnis ASSA masih mencatatkan pertumbuhan, kecuali lini penjualan kendaraan bekas, jasa logistik, dan pendapatan lain-lain. Total pendapatan ASSA sepanjang 2020 mencapai Rp3,04 triliun, naik 30% year-on-year (YoY) dari Rp2,33 triliun pada 2019.

Bisnis sewa kendaraan mobil penumpang dan autopool masih tumbuh tipis 0,26% YoY menjadi Rp1,26 triliun, sekaligus masih menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan ASSA. Sementara itu, di posisi kedua ada jasa pengiriman yang tumbuh pesat 841,95% YoY menjadi Rp794,7 miliar.

Selanjutnya, bisnis penjualan kendaraan bekas turun 7,02% YoY menjadi Rp380,5 miliar dan sewa juru mudi naik 4,5% YoY menjadi Rp284,4 miliar. Jasa lelang melonjak 24,2% Yoy menjadi Rp177,74 miliar, sedangkan jasa logistik turun 17,38% YoY menjadi Rp139,7 miliar.

Pada 2020 lalu laba bersih ASSA justru anjlok 21,1% YoY menjadi Rp87,1 miliar. Kondisi ini terjadi sebab selama masa pandemi tahun lalu, ASSA sibuk berbenah untuk memanfaatkan momentum pandemi guna mengembangkan bisnis kurir dan lelangnya.

Perseroan melakukan akuisisi perusahaan lelang otomotif PT Jepang Bidwin Auction (JBA) sebesar 51% serta investasi awal Anteraja untuk pengembangan express delivery company. Perseroan melakukan transformasi besar bisnis ke arah end-to-end logistic serta inisiatif model bisnis sharing economy dan tech-based business di seluruh pilar bisnis ASSA.

Langkah ini menjadi persiapan bagi lompatan yang terjadi pada bisnis ASSA di tahun berikutnya, yakni tahun ini.

Selama masa pandemi, ketergantungan terhadap layanan digital makin meningkat, sehingga perseroan memutuskan untuk segera beralih ke model bisnis digital ini.

Perseroan mempersiapkan bisnis lelang kendaraan secara online, mengembangkan aplikasi ShareCar, dan memperkuat platform jual beli mobil online yakni Caroline. Perseroan juga kini memiliki bisnis express delivery Anteraja serta layanan e-fulfillment Titipaja bagi para seller, juga layanan pengiriman cargo sharing.

Dengan demikian, beberapa venture teknologi ASSA saat ini antara lain AnterAja, ShareCar, Caroline, Cartalog, JBA Bidwin, TitipAja, Travelite, dan BisnisAja.

Hasilnya, pada paruh pertama tahun ini kinerja keuangan ASSA melonjak pesat. Pendapatannya tumbuh 50,4% YoY menjadi Rp2,11 triliun, sedangkan laba bersihnya melonjak 68,8% YoY menjadi Rp72,6 miliar. Berikut ini perkembangan kinerja pendapatan dan laba ASSA beberapa tahun terakhir:

Jika diperinci lebih dalam, telah terjadi perubahan signifikan pada komposisi pendapatan ASSA pada paruh pertama tahun ini. Kontributor terbesar pendapatan bukan lagi berasal dari bisnis sewa kendaraan mobil penumpang dan autopool, melainkan dari lini bisnis jasa pengiriman.

Lini bisnis pengiriman melalui Anteraja meroket 263,92% YoY menjadi Rp982,3 miliar dari hanya Rp270 miliar pada paruh pertama 2020. Kontribusinya terhadap total pendapatan meningkat dari semula hanya 19,2% pada paruh pertama 2020 menjadi 46,6% pada periode yang sama tahun ini.

Di sisi lain, bisnis sewa kendaraan mobil penumpang dan autopool justru turun 2,28% YoY menjadi Rp672,4 miliar. Hal ini tidak mengherankan, sebab tahun ini kasus baru pandemi mencapai puncaknya dan menuntut terjadinya pembatasan mobilitas masyarakat oleh pemerintah.

Kesuksesan perseroan mengerek kinerja ini menjadi bukti bahwa langkah yang ditempuh perseroan pada tahun lalu untuk segera beralih ke lini bisnis jasa pengiriman adalah langkah yang tepat. Perseroan berhasil mendapatkan momentumnya dan memanfaatkannya seoptimal mungkin.

Perseroan menargetkan pendapatan bisa tumbuh setidaknya 25% hingga 30% pada akhir tahun ini, sedangkan laba bersih dapat meningkat sekitar 170%. Jika menimbang capaian perseroan pada paruh pertama tahun ini, terutama dari dukungan Anteraja, tampaknya target ini tidak sulit tercapai.

Bisnis Anteraja mencatatkan volume pengiriman rata-rata sebesar 500.000 paket per hari sepanjang paruh pertama tahun ini. Volume ini tumbuh lebih dari 100% dibandingkan dengan volume pada periode yang sama tahun lalu. Saat ini, jumlahnya naik lagi menjadi sekitar 700.000 paket per hari dan ditargetkan mencapai 1 juta paket per hari pada akhir tahun ini.

Adanya PPKM menyebabkan masyarakat menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Alhasil, transaksi e-commerce pun meningkat sehingga turun meningkatkan permintaan terhadap jasa kurir. Sementara itu, sektor logistik termasuk dalam sektor kritikal sehingga tetap beroperasi 100% selama PPKM.

Perseroan mencatatkan adanya lonjakan kebutuhan untuk jasa pengiriman alat medis, obat-obatan, produk barang konsumsi habis pakai (FMCG) dan barang-barang kebutuhan lainnya. Untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan, perseroan telah menambah kurir hingga 19.000 prang.

Perseroan menargetkan bisnis Anteraja dapat tumbuh di atas 200% setidaknya hingga tahun depan dan tetap menjadi kontributor utama pendapatan perusahaan.

Menariknya, ASSA tampaknya belum berhenti dengan langkah-langkah strategisnya. Terbaru, perseroan bersiap melakukan rights issue dan mengumumkan adanya calon investor strategis guna mendorong kinerjanya lebih baik lagi di masa mendatang. Hal inilah yang turut meningkatkan daya tarik sahamnya selama ini.

 

Rights Issue dan Ketertarikan Bank Dunia

Salah satu kabar paling menarik terkait ASSA tahun ini yakni masuknya Bank Dunia melalui International Finance Corporation (IFC) sebagai bagian dari pemegang saham ASSA. IFC masuk sebagai pemegang saham ASSA melalui aksi rights issue berupa obligasi konversi yang tuntas pada 27 Juli 2021 lalu.

IFC telah menggelontorkan dana US$31 juta atau Rp451 miliar melalui keikutsertaan dalam rights issue ini.

Langkah strategis ASSA untuk mengakuisisi JBA dan mengembangkan Anteraja pada 2020 lalu menyebabkan naiknya beban pinjaman, sebab keduanya dibiayai oleh pinjaman perbankan. Oleh karena itu, perseroan memutuskan untuk menggelar rights issue tahun ini dengan target dana Rp720 miliar.

Senilai Rp639,3 miliar digunakan untuk tujuan tersebut, sedangkan Rp18,52 miliar lainnya akan digunakan untuk mengembangkan usaha jasa pergudangan atau e-fulfilment TitipAja. Dana selebihnya akan digunakan untuk modal kerja.

Rights issue ini diterbitkan dalam bentuk obligasi konversi dengan tenor 2 tahun dan bersifat zero-coupon atau tanpa kupon. Artinya, awalnya instrumen ini diterbitkan sebagai utang obligasi yang ditawarkan kepada pemegang saham perseroan.

Dengan kata lain, pemegang saham mendapatkan hak atau rights untuk lebih dahulu memesan obligasi ini. IFC bertindak selaku pembeli siaga untuk menyerap hak obligasi konversi yang belum ditebus. Oleh karena bersifat zero coupon, ASSA tidak membayar kupon bulanan untuk obligasi ini.

Namun, kompensasinya yakni adanya diskon harga. Obligasi ini diterbitkan sebanyak 600 juta unit. Setiap pemegang 453 lembar saham lama berhak atas 80 hak untuk memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Tiap HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli satu unit obligasi konversi dengan harga Rp1.200 per unit.

Saat jatuh tempo, pokok obligasi akan langsung dikonversikan menjadi penyertaan saham. Jika menimbang harga saham ASSA di pasar yang kini sudah di kisaran Rp3.480-an, harga HMETD ini jelas sangat terdiskon sehingga bakal menguntungkan bagi pemegang saham.

Apabila seluruh obligasi ini nantinya dikonversi menjadi saham, totalnya akan mencapai sekitar 600 juta lembar atau setara dengan 15,01% dari saham beredar perseroan usai rampungnya konversi tersebut 2 tahun yang akan datang.

Ketertarikan IFC untuk menjadi pembeli siaga atau standby buyer bagi ASSA menjadi sentimen yang sangat positif bagi ASSA sehingga turut mengerek sahamnya naik. Hal ini menunjukkan kepercayaan institusi asing besar terhadap kinerja, manajemen, dan prinsip keberlanjutan perseroan.

Kehadiran IFC tidak saja bakal memperkuat reputasi ASSA, tetapi juga memberikan dukungan keuangan dalam jangka panjang. IFC sendiri memang tengah tertarik pada bisnis logistik yang diperkirakan bakal tumbuh pesat seiring dengan penetrasi e-commerce yang makin dalam di masyarakat.

Pasar e-commerce di Indonesia saat ini diperkirakan menyumbang gross merchandise value (GMV) sebesar US$12 miliar per tahun, diproyeksikan akan tumbuh menjadi US$30 miliar per tahun pada tahun 2025. Pertumbuhan di 24 provinsi di Indonesia bahkan kini sudah melampaui pertumbuhan di Jakarta.

 

Pengembangan Lanjutan

Kendati bakal memperkuat modal melalui emisi saham baru berupa obligasi konversi, ASSA juga tetap menambah utang untuk meningkatkan percepatan bisnis. Perseroan bahkan telah mengantongi restu pemegang saham untuk menambah pinjaman Rp,12 triliun tahun ini melalui penjaminan aset.

Dana tersebut ditujukan untuk tambahan belanja modal. Adapun, belanja modal yang sudah terserap hingga paruh pertama tahun ini baru mencapai Rp400 miliar, antara lain untuk pembelian mobil baru dalam rangka jasa sewa senilai Rp300 miliar, serta pembelian tanah 4 hektare untuk balai lelang JBA Rp100 miliar.

Adapun, tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal senilai Rp1,2 triliun hingga Rp1,5 triliun khusus untuk pengadaan kendaraan baru. Perseroan memproyeksikan akan ada tambahan kendaraan baru antara 5.000 hingga 6.000 unit untuk penyewaan.

Sementara itu, belanja modal untuk bisnis AnterAja justru tidak besar. Perseroan telah mempersiapkan sistem pengelolaan dan penyortiran paket menggunakan robot yang akan meningkatkan efisiensi dan akurasi perseroan.

Investasinya lebih ringan sebab perseroan menggunakan sistem sewa, sedangkan pergudangan TitipAja juga sewa dan hanya investasi di sistem racking.

Sementara itu, terkait bisnis lelang kendaraan, ASSA telah merambah tiga kota baru melalui JBA, yakni di Bandung, Jawa Barat; Kalimantan; dan Sulawesi.. PT JBA Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan sebesar 13% YoY untuk lelang mobil semester I tahun ini, yakni sebanyak 21.000 unit.

Sejak 2019, JBA telah mengembangkan sistem online untuk lelang ini guna menarik lebih banyak peminat. Bahkan, sejak 2020 sistem lelang online ini juga telah dikembangkan menjadi aplikasi lelang JBA Indonesia.

Berbagai inisiatif strategis di lini digital ini menjadikan prospek bisnis ASSA kian menarik sebab sesuai dengan kondisi zaman dan perkembangan tren. Oleh karena itu, peluang bagi pertumbuhan yang makin tinggi di masa mendatang juga lebih terbuka.

Memang benar bahwa kinerja sahamnya sejauh ini memang tampak sudah naik cukup berlebihan dan menempatkan sahamnya ke level yang cukup mahal. Namun, jika pandemi berakhir dan bisnis transportasi kembali meningkat, perseroan kemungkinan bakal dapat kembali menikmati peningkatan kinerja dari bisnis sewa kendaraan.

Dengan demikian, ditambah lagi dengan bisnis barunya yang dikembangkan selama masa pandemi, peluang bagi pertumbuhan kinerja ASSA memang cukup tinggi.