Membedah Saham BMTR Pilihan Lo Kheng Hong

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 6 menit]

Pada Agustus 2020, investor saham legendaris Indonesia, Lo Kheng Hong, membuat pernyataan mengejutkan di sejumlah media massa: dia memiliki saham BMTR (PT Global Mediacom Tbk.). 

Mengejutkan karena tidak sering investor berusia 61 tahun yang sering dijuluki "Warren Buffet Indonesia" itu menceritakan saham apa yang sedang dipegangnya saat itu.

Di samping itu, sejumlah foto yang menampilkan dirinya sedang berpose dengan pengusaha sekaligus pemegang saham mayoritas BMTR, Harry Tanoesoedibjo, beredar secara luas.

Sontak, foto itu mendapatkan sorotan dari media massa dan para investor saham. Entah ada hubungannya atau tidak, saham BMTR melesat 61% sejak 2 Agustus hingga 19 Agustus, tidak lama setelah Lo Kheng Hong mengkofirmasi kepemilikannya di BMTR.

Setelah sempat tembus ke level di atas Rp300 per lembar, saham BMTR kembali turun hingga mendekati level Rp200. Tidak lama kemudian, manajemen BMTR mengumumkan jumlah kepemilikan mantan pegawai bank tersebut di BMTR.

Secara keseluruhan, Lo Kheng Hong memiliki 6,14% saham BMTR atau di atas 5% sehingga namanya harus dilaporkan oleh manajemen kepada publik melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.

Lo Kheng Hong membeli saham BMTR di berbagai harga dengan rentang Rp199-Rp204 di hari yang berbeda (5 Agustus, 6 Agustus, 10 Agustus, 11 Agustus) dengan jumlah yang bervariasi, termasuk saat private placement yang digelar perusahaan.

Salah satu pertanyaan yang mencuat dari aksi itu adalah mengapa seorang Lo Kheng Hong membeli saham BMTR? Apa yang menarik dari saham perusahaan itu pada saat ini? Tentu saja, Pak Lo, begitu dia biasa disapa, memiliki alasan dan analisisnya sendiri. Namun, berikut ini sejumlah fakta menarik mengenai BMTR

Profil BMTR

Perusahaan apa sebenarnya Global Mediacom ini? Berdasarkan kategori dari Bursa Efek Indonesia, Global Mediacom diklasifikasikan sebagai perusahaan investasi. Perusahaan ini memiliki dua lini bisnis utama yang memberikan pendapatan terbesar bagi perusahaan.

Lini pertama, perusahaan media berbasis iklan dan konten bernama PT Media Nusantara Citra Tbk. (MNCN) yang berkontribusi sekitar 63% terhadap pendapatan perusahaan. Lini kedua, perusahaan media berbasis langganan bernama PT Sky Vision Networks Tbk. (IPTV) yang berkontribusi 29% ke pendapatan perusahaan.

Punya TV di rumah dan pernah menyaksikan RCTI, MNCTV, GTV atau iNews? Nah, empat stasiun televisi itu dikelola oleh Media Nusantara Citra yang tidak lain adalah anak dari Global Mediacom. 

Empat stasiun TV itu menguasai sekitar 40% pangsa penonton TV di Indonesia dan pangsa iklan sebesr 45%. Anak Global Mediacom tersebut memperoleh pendapatan dari iklan TV, produksi konten hingga lisensi konten.

Sementara dari Sky Vision, perusahaan mendapatkan pendapatan dari jaringan TV berbayar seperti MNC Vision dan K Vision. Berdasarkan presentasi perusahaan, MNC Vision membidik kalangan menengah ke atas dan menguasi 90% pangsa pasar di kelasnya dengan 2,4 juta pelanggan.

Dalam tiga tahun terakhir, kinerja perusahaan relatif solid dan terus bertumbuh. Dua indikator utama, pendapatan dan laba bersih, terus mengalami peningkatan sejak 2017 hingga 2019.

Sumber: laporan tahunan Global Mediacom 2019

Aneka Rasio

Ada sejumlah rasio yang dapat digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan. Di samping itu, rasio ini juga dapat digunakan membandingkan kinerja Global Mediacom dengan kinerja perusahaan sejenis. Berikut ini sejumlah rasionya:

1. RoE

Return on equity (RoE) atau tingkat keuntungan yang diperoleh dari modal (ekuitas) yang ditanam di sebuah perusahaan. Pada umumnya, RoE dipakai oleh investor saham untuk mengukur tingkat keuntungan yang dapat diperoleh sebuah perusahaan. 

Besar atau kecilnya RoE suatu perusahaan biasanya berbeda di setiap industri. Salah satu cara sederhana untuk menginterpretasikan RoE sebuah perusahaan adalah membandingkannya dengan RoE perusahaan lain atau rata-rata RoE di sebuah industri. 

Berdasarkan data Statistik Bulanan BEI Agustus 2020, BMTR dikategorikan sebagai perusahaan investasi (investment company) bersama 12 perusahaan lainnya. Mengacu kepada data statistik tersebut, RoE BMTR sebesar 5,71% (data di RTI 9,67%) dan paling tinggi di antara 12 perusahaan sejenis berdasarkan laporan keuangan terakhir yaitu per 30 Juni 2020. 

Perusahaan-perusahaan lainnya tercatat memiliki RoE negatif karena membukukan kerugian pada semester I/2020 atau memiliki ekuitas negatif. Dengan kata lain, BMTR adalah perusahaan paling menguntungkan di antara perusahaan sejenis yang melantai di BEI.

2. NPM

Net profit margin (NPM) biasanya dipahami sebagai rasio untuk mengukur seberapa besar laba bersih yang dapat dihasilkan oleh perusahaan dari pendapatan yang dikumpulkannya. Rasio ini membandingkan laba bersih dengan pendapatan perusahaan.

Mengacu kepada data statistik tersebut, BMTR memiliki NPM tertinggi sebesar 18,8% di antara 12 perusahaan sejenis mengingat mayoritas perusahaan membukukan kerugian pada semester I/2020.

Sepanjang paruh pertama 2020, Global Mediacom membukukan laba bersih sebesar Rp551,65 miliar, turun 7,7% dibandingkan dengan Rp597,34 miliar pada semester I 2019. Penurunan itu berkurang setelah pada kuartal I/2020 perusahaan mengalami penurunan laba sebesar 46%.

3. DER

Sementara itu, debt to equity ratio (DER) atau rasio utang terhadap ekuitas perusahaan di Global Mediacom berada di level 0,6 atau masih di bawah 1. Sebagian kalangan meyakini DER di bawah level 1 adalah posisi yang masih dapat diterima. 

Investor saham biasanya khawatir utang yang terlalu tinggi dapat menekan laba perusahaan menjadi lebih kecil. Berdasarkan laporan keuangan pada semester I/2020, Global Mediacom membayar beban keuangan sebesar Rp475 miliar. Dengan beban itu, perusahaan masih bisa menghasilkan keuntungan Rp597,34 miliar.

4. PER

PER adalah salah satu rasio keuangan yang sering dipakai oleh investor saham dalam menyeleksi saham yang akan dipilih. Sesuai namanya, PER atau price to earning ratio adalah perbandingan antara harga sama dan laba bersih per saham.

Dengan laba bersih per saham Rp72 (disetahunkan) pada saat ini, PER BMTR sebesar 2,95 kali. Rasio ini sering digunakan untuk menilai mahal atau murahnya sebuah saham dengan cara membandingkannya dengan perusahaan sejenis. Beberapa investor saham menilai PER di bawah 5 kali dianggap murah.

Saham yang dianggap murah menjadi incaran para value investor supaya dapat dijual lagi ketika harganya sudah menjadi lebih "mahal". Perlu diingat, PER bukan satu-satunya indikator yang perlu dijadikan pertimbangan, melainkan juga perlu dibarengi dengan berbagai indikator lainnya.

Risiko Hukum

Keputusan Lo Kheng Hong membeli saham BMTR dilakukan di tengah gugatan pailit yang diajukan oleh KT Corporation di Pengadilan Niaga, Jakarta Pusat, karena masalah perjanjian yang dibuat tahun 2006. 

Gugatan pailit yang diajukan kepada perusahaan, termasuk perusahaan yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia, bukanlah hal baru. Sejumlah perusahaan telah mengalami situasi ini dan sebagian di antaranya lolos dari gugatan pailit.

Pada saat berita mengenai gugatan pailit itu muncul, harga saham BMTR sempat turun walau hanya dalam jangka pendek. Sampai tulisan ini diturunkan, belum ada keputusan dari hasil sidang gugatan pailit tersebut. 

Dengan risiko ini serta kondisi fundamental BMTR, seberapa lama Lo Kheng Hong akan memang BMTR? Berdasarkan rekam jejaknya, LKH bukan investor yang memegang suatu saham dalam waktu harian atau minggu, melainkan bisa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Kita tunggu bagaimana pergerakan BMTR di masa mendatang.

Investasi