Ramainya Antrean Calon Unicorn Indonesia

Fauzan Ahmad

[Waktu baca: 6 menit]

Pandemi Covid-19 yang mempercepat era digitalisasi bukan hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan e-commerce. Di Indonesia, kedatangan wabah turut menggeser peta kekuatan perusahaan-perusahaan startup.

Fenomena paling menonjol adalah makin moncernya rapor startup-startup jasa pengiriman logistik. Beberapa di antaranya bahkan telah mengalami peningkatan valuasi signifikan dalam setahun terakhir.

SiCepat salah satunya. Seperti diwartakan Republika akhir Maret kemarin, di tengah pengumuman perusahaan tersebut sebagai peraih medali perunggu Indonesia WOW Brand 2021, CEO SiCepat The Kim Hai membeberkan bahwa layanan yang yang beroperasi di bawah naungan PT Sicepat Ekspres Indonesia ini telah berstatus unicorn.

Unicorn merupakan label yang biasa disematkan bagi startup yang telah memiliki valuasi minimal US$ 1 miliar alias Rp14,5 triliun bila dikonversi dengan kurs Rp14.500 per US$.

Belum ada penjelasan rigid mengenai asal usul klaim tersebut. Namun bila dirunut mundur, kemungkinan besar keberhasilan SiCepat merengkuh gelar unicorn terjadi setelah putaran Pendanaan Seri B terakhir yang mereka lakukan awal Maret 2021.

Laporan Nikkei Asia menyebut bahwa putaran pendanaan tersebut diikuti beberapa investor seperti Falcon House Partners, Pavilion Capital, MDI Ventures, DEG, Trihill Capital, Daiwa Sekuritas hingga dua investor lama Kejora Capital dan Indies Capital. Total pendanaan tambahan yang didapat mencapai US$170 juta.

Terakhir kali, pada akhir tahun lalu SiCepat dikabarkan telah mengumpulkan valuasi US$736 juta. Artinya, bila klaim Kim Hai benar, selain pendanaan US$170 juta terakhir SiCepat juga telah mendapat investor lain di awal tahun ini.

Prestasi SiCepat tersebut kemudian berpotensi besar diikuti oleh kompetitor mereka yang usianya lebih muda, J&T Express. Perusahaan yang dirintis mantan CEO Oppo Indonesia, Jet Lee tersebut juga dikabarkan tengah mengejar status unicorn sebelum berencana melantai di Wall Street pada akhir tahun, demikian menurut laporan Bloomberg. 

The Information, media investigasi teknologi asal AS, sempat melaporkan bahwa investor-investor lama J&T sudah siap memberikan injeksi modal tambahan sebesar US$2 miliar atau setara Rp29 triliun lebih. Investor-investor lama yang dimaksud adalah Boyu Capital, Sequoia China dan Hillhouse Capital. 

Laporan The Information tersebut kemudian divalidasi Deal Street Asia. Mereka menyebut J&T sebenarnya mengejar valuasi setelah IPO di AS sebesar US$6 miliar alias Rp77 triliun lebih. Nilai tersebut diyakini hanya akan tercapai bila J&T bisa terlebih dulu menggenggam label unicorn sebelum benar-benar melantai di bursa. 

Getolnya agresivitas kedua perusahaan logistik di atas berburu status unicorn membuat Indonesia berpotensi mempertegas statusnya sebagai raja unicorn Asia Tenggara.

Bila diranking, Indonesia masih bersaing ketat dengan Singapura sebagai negara dengan jumlah unicorn terbanyak di Asia Tenggara.

Total hingga akhir tahun 2020 Indonesia telah memiliki 6 perusahaan startup berstatus unicorn. Mereka adalah Tokopedia, Ovo, Traveloka, JD.ID, GoJek dan Bukalapak.

Singapura, di saat bersamaan, diperkuat oleh 5 unicorn yang masing-masing adalah Grab, Trax, induk ecommerce Shopee SEA Group , Razer serta Lazada.

Baca juga: Prospek IPO Unicorn Indonesia, Seberapa Besar?

Negara dengan Unicorn Terbanyak di Asia Tenggara per 31 Desember 2020

Dalam beberapa waktu ke depan, selain SiCepat dan J&T, Indonesia juga masih punya antrean panjang startup yang valuasinya berpotensi besar menembus US$1 miliar.

Salah satu yang sudah digadang-gadang sejak lama bakal bertumbuh adalah Akulaku. Platform pendanaan digital, menurut data Pitchbook, kini telah punya valuasi di atas US$500 juta. Valuasi tersebut berpotensi berlipat ganda karena Akulaku disokong oleh investor-investor global dengan reputasi cemerlang.

Total perusahaan memiliki 13 pendana. Di antaranya adalah entitas anak Alibaba yakni Ant Group, Sequoia Capital India, IDG Group dan IDG Capital hingga Qiming Ventures Partners.

Selain Akulaku, kompetitor dengan layanan serupa, Kredivo juga tak bisa dipandang remeh. Per akhir tahun lalu perusahaan tersebut juga telah mencapai angka valuasi di atas US$500 juta alias Rp7,1 triliun. Mengingat setahun sebelumnya valuasi Kredivo baru mentok di US$100 juta, artinya dalam kurun setahun perusahaan ini berhasil menaikkan nilai mereka hingga 5 kali lipat. 

 Ruangguru, platform pembelajaran daring yang nyaris tak punya saingan di Indonesia, juga punya valuasi fantastis. Bila mengacu laporan tech in asia, setelah pendanaan terakhirnya per awal 2020 mereka memiliki valuasi di kisaran US$500 juta. 

Di segmen ecommerce Blibli.com yang terafiliasi dengan Grup Djarum juga punya prospek besar. Startup yang satu ini sebenarnya terbilang menarik, karena jarang mempublikasikan berapa putaran pendanaan yang mereka dapat. Namun di balik itu semua, mereka justru berkali-kali membuat kejutan.

Sekitar 3 tahun lalu misal, Blibli pernah menjadi salah satu perusahaan yang berpartisipasi dalam putaran Pendanaan Seri E senilai US$1,5 miliar yang didapat GoJek. Mereka juga pernah berpartisipasi dalam putaran pendanaan untuk Halodoc pada 9 September 2016.

Tak cuma itu, Blibli juga beberapa kali melakukan akuisisi terhadap perusahaan lain. Beberapa yang paling menonjol adalah akuisisi terhadap Indonesia Flight pada November 2017 dan Tiket.com 5 bulan sebelumnya. Tanpa kepemilikan modal yang kuat, investasi-investasi semacam itu jelas mustahil tercapai.

“Kalau tentang status [apakah sudah unicorn atau belum], kami enggak akan pernah cerita apa-apa ke media. Jadi mau dikasih tatus apapun, kami ketawa saja. Buat kami yang terpenting adalah bisnis bisa langgeng atau enggak,” kata Kepala Eksekutif Blibli Kusumo Martanto dalam sebuah wawancara dengan Viva 2 tahun lalu. 

Terlepas dari misteri valuasi Blibli dan dominannya startup-startup dalam negeri pada persaingan status unicorn Asia Tenggara, sebenarnya posisi perusahaan asal Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara maju seperti AS dan China.

Bila mengacu data terakhir Statista per akhir tahun lalu, Indonesia bahkan belum masuk dalam 7 besar negara dengan unicorn terbanyak di dunia.

Baca juga: Tokopedia dan Antisipasi Euforia Saham Startup

Amerika Serikat (AS) masih jadi yang terdepan dengan koleksi 265 unicorn, disusul China sebanyak 204 unicorn.

Kemudian negara-negara di belakangnya terpaut jauh. Inggris menempati urutan ketiga dengan 24 unicorn, disusul India 21 unicorn serta Jerman dan Korea Selatan yang masing-masing punya 12 unicorn. Israel adalah negara terakhir dengan jumlah unicorn dua digit yakni 10 startup.

Namun, dengan panjangnya daftar antrean calon unicorn Indonesia, bukan mustahil bagi Indonesia untuk—setidaknya—masuk dalam deretan 5 besar negara dengan unicorn terbanyak dalam beberapa tahun ke depan.
 
 

Tags:

Investasi