Harapan "Semu" Ramadan Bagi Emiten Restoran (KFC, Pizza Hut, Duck King)

Berkah Rio

[Waktu baca: 5 menit]

Momentum Ramadan kerap menjadi tumpuan harapan bagi begitu banyak sektor bisnis untuk memacu penjualannya. Bulan Ramadan identik dengan peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat, terutama pada produk pangan. Namun, beberapa sektor lain turut terimbas.

Periode Ramadan tahun ini pun menjadi tumpuan harapan bagi sektor bisnis restoran. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terpukul selama pandemi, sebab pemerintah memberlakukan pembatasan sosial serta pembatasan jam operasi bagi tempat-tempat umum.

Tahun ini, pembatasan sosial tidak lagi seketat tahun lalu. Namun, suasana pandemi belum sepenuhnya berakhir. Nuansa kekhawatiran masih tetap ada, sehingga gairah masyarakat untuk mengunjungi restoran pun masih relatif terbatas, kendati jelas mulai meningkat lagi.

Baru-baru ini, kabar tentang aksi demonstrasi serikat pekerja PT Fast Food Indonesia Tbk., yakni pemegang hak waralaba merek Kentucky Fried Chicken (KFC) di Indonesia, menyita perhatian publik. Pekerja protes terhadap sejumlah kebijakan yang ditempuh manajemen emiten berkode FAST itu.

FAST diprotes karena mengeluarkan kebijakan pemotongan dan penahanan upah, pemotongan rasio pembayaran tunjangan hari raya (THR), serta penundaan pembayaran sejumlah tunjangan dan penghargaan masa kerja.

Tentu ada alasan di balik keputusan sulit manajemen FAST tersebut, meskipun akhirnya ditarik lagi karena menuai protes keras. Perusahaan jelas tidak sedang dalam kondisi yang baik-baik saja. Perusahaan butuh langkah penyelamatan, tetapi tidak mudah untuk menempuhnya saat ini.

Lantas, apakah periode Ramadan kali ini akan mampu menopang kinerja penjualan restoran, seperti FAST?

Sektor Restoran Lesu

Lesunya kinerja sektor restoran jelas terkonfirmasi dari data kinerja ekonomi Indonesia 2020 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Secara total, ekonomi Indonesia turun 2,19% year on year (yoy) sepanjang 2020 lalu.

Sementara itu, penurunan kinerja ekonomi di sektor akomodasi dan makan minum menjadi salah satu yang terburuk, yakni turun 8,88% yoy. Kinerja sektor ini hanya lebih baik dibanding sektor transportasi dan pergudangan yang turun paling dalam, yakni -13,42% yoy.

Pada September 2020, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) sempat membuat survey yang menyatakan jumlah restoran yang tutup permanen mencapai 1.100. Pada April 2021, Wakil Ketua PHRI bidang Restoran Emil Arifin memperkirakan jumlahnya sudah bertambah lagi menjadi 1.600-an.

Itu merupakan data penutupan di wilayah DKI Jakarta saja. Kondisi bisnis restoran makin berat karena muncul pula banyak pesaing baru yang membuka bisnis restoran dan memasarkannya secara online.

Periode Ramadan tahun ini ditandai oleh pembatasan sosial yang relatif lebih longgar dibanding tahun lalu. Namun, mengingat banyak restoran yang sudah terlanjur tutup tahun lalu, kinerja sektor ini secara umum tentu masih akan terbatas.

Beberapa restoran yang masih bertahan, terutama di pusat-pusat perbelanjaan, kemungkinan masih akan dapat menikmati peningkatan jumlah kunjungan, terutama pada petang hari saat berbuka puasa.

Saat ini, mobilitas masyarakat memang terlihat mulai meningkat. Proses vaksinasi masyarakat yang kini terus berjalan juga memberikan optimisme bagi banyak masyarakat untuk mulai kembali beraktivitas normal, termasuk mengunjungi pusat perbelanjaan dan restoran.

Kendati demikian, aktivitas buka puasa bersama yang kerap dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tampaknya belum akan seramai seperti sebelum pandemi. Pemerintah juga masih mewanti-wanti masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, sehingga peningkatan kunjungan restoran pun tetap akan terbatas.

Kredit Sektor Restoran Dipacu

Menariknya, di tengah tren penurunan PDB sektor penyediaan akomodasi dan makan minum, permintaan kreditnya justru konsisten meningkat. Selain itu, meskipun rasio kredit bermasalahnya (nonperforming loan/NPL) cukup tinggi di atas 5%, hal itu bukanlah hal yang baru.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), permintaan kredit di sektor ini per Januari 2021 masih tumbuh 6,2% yoy, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan hingga akhir 2020 yang sebesar 5,8% yoy.

Hal ini cukup menggembirakan, sebab pada saat yang sama, total kredit perbankan hingga Januari 2021 masih turun 1,92%. Baru-baru ini, Bank Indonesia bahkan melaporkan kinerja kredit per Maret 2021 turun lebih dalam lagi, mencapai -4,13%, rekor baru dalam dua dekade terakhir.

Sayangnya, belum tersedia data kinerja kredit per sektor untuk mengetahui kinerja kredit pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum. Berikut ini data perkembangan kredit dan NPL sektor ini dalam beberapa waktu terakhir:

Meskipun kinerja kreditnya tampak positif, perkembangan PDB di sektor ini yang turun sangat tajam hingga akhir tahun lalu tentu menjadi perhatian serius.

Oleh karena itu, baru-baru ini OJK memperbolehkan perbankan untuk mengucurkan kredit baru untuk perusahaan-perusahaan di sektor ini, meskipun mereka masih memiliki kredit yang tengah direstrukturisasi.

Sektor pariwisata, yang mencakup pula hotel, restoran, dan kafe (horeka) menjadi salah satu sektor prioritas pemulihan. OJK telah berkomunikasi dengan bank-bank swasta dan BUMN agar mulai mendata nasabahnya di sektor ini guna mendapatkan modal kerja tambahan.

Kendati demikian, belum ada insentif khusus tambahan untuk sektor ini, seperti halnya yang diberikan pemerintah pada sektor properti, otomotif, dan konstruksi. Di sektor-sektor tersebut, pemerintah memberikan relaksasi pajak hingga uang muka kredit.

Sementara itu, larangan mudik juga akan membatasi peningkatan aktivitas di restoran-restoran yang ada di pusat-pusat pariwisata.

Masyarakat yang tidak mudik kemungkinan tidak akan begitu bergairah juga untuk mengunjungi restoran di daerahnya yang sudah sering dikunjungi.

Sementara itu, peningkatan kunjungan masyarakat lokal ke daerah wisata setempat juga kemungkinan tidak akan signifikan, seperti halnya jika ada banyak pendatang yang mudik.

Kinerja Emiten Restoran

Prospek bisnis restoran yang tampaknya belum cukup cerah, bahkan di saat Ramadan, akan bermuara pada kinerja emiten restoran yang masih akan terbatas.

Saat ini, di pasar modal setidaknya ada beberapa emiten pengelola restoran, yakni PT Fast Food Indonesia Tbk. (FAST) untuk merek KFC, PT Sarimelati Kencana Tbk. (PZZA) untuk Pizza Hut, dan PT Cipta Selera Murni Tbk. (CSMI) untuk Texas Chicken Indonesia.

Selain itu ada juga PT MAP Boga Adiperkasa Tbk. (MAPB) dengan merek Starbucks dan PT Jasa Bersama Indo Tbk. (DUCK) dengan merek Duck King.
Kinerja saham-saham mereka sepanjang tahun ini cukup bervariasi:


 

Dari data tersebut, mayoritas mengalami koreksi harga. Sementara itu, peningkatan pada MAPB ditopang oleh peningkatan pada sesi pertama perdagangan hari ini, Kamis (22 April 2021), yang sebesar 6,99%. Namun, hal itu hanya terjadi dari empat kali transaksi.

Hal yang sama juga terjadi pada CSMI. Kenaikan sebesar 288,89% cenderung lebih didorong oleh spekulasi. Saham CSMI bukanlah saham yang likuid di pasar. Jumlah transaksi hariannya rata-rata kurang dari lima kali sehari.

Hal ini menunjukkan bahwa sejauh ini pelaku pasar belum melihat adanya sentimen positif yang mampu menopang pemulihan kinerja emiten-emiten ini, baik kinerja keuangan maupun sahamnya. Sentimen Ramadan belum cukup kuat untuk mendorong bankitnya kinerja saham-saham ini.

Dari sisi kinerja keuangannya, emiten-emiten ini juga melaporkan penurunan yang signifikan. Mayoritas emiten-emiten ini belum merilis kinerja keuangannya untuk periode akhir tahun 2020, sehingga kita akan menggunakan perbandingan kinerja per September 2020:

Dari data tersebut, terlihat bahwa kinerja semua emiten ini mengalami penurunan yang signifikan. Sebanyak empat emiten menderita kerugian, hanya DUCK yang masih mencatatkan laba. Itu pun hanya Rp21 miliar.

Dengan kondisi pandemi yang sejauh ini belum berakhir, tentu tantangan bagi emiten-emiten restoran masih tetap tinggi. Masyarakat sudah terlanjur terbiasa memasak sendiri di rumah dan masih membatasi aktivitas fisik, sedangkan daya beli pun secara umum belum membaik.

Tags:

Investasi