Anthoni Salim, Pribadi Tertutup Pewaris Pilar Cendana

Emha Asror

Siapa yang mengalami kesulitan saat mencari informasi tentang pribadi saudagar terkaya nomor 3 di Indonesia versi majalah Globe Asia, Anthoni Salim? Toh, jika pun ada informasi soal pribadi Anthoni di sebuah portal berita lokal dan luar negeri, itu pun pasti hanya sedikit. Tapi tak cuma Anda dan kami yang merasa demikian. Marleen Dieleman, ilmuwan sosial Belanda, juga mendapati hal serupa.

Dalam proses penulisan disertasinya di Leiden University yang belakang hari ia cetak sebagai buku The Rhythm of Strategy: A Corporate Biography of the Salim Group of Indonesia, Marleen pernah mengeluh kepada keluarga Salim. Di karyanya bertahun 2007 itu, ia menuliskan: “Termasuk Anthoni (sapaan karibnya), keluarga Salim memang tertutup.” 

Betul, Anthoni ialah pribadi yang tertutup, dan itu bukanlah masalah sebab siapapun berhak untuk itu. Tapi kami akan mencoba mengulasnya sedikit lebih rinci.

Dari Network Strategies ke Market-Based Strategies

Salim Group dikuasai penuh keluarga Salim dan beberapa orang kepercayaannya. Perusahaan ini mengalirkan uangnya ke sejumlah lini usaha, seperti perbankan, asuransi, makanan, semen, hingga otomotif dan bahan kimia. Di 1996, perusahaan ini memiliki omset lebih dari USD 20 miliar dan memperkerjakan sekitar 200.000 karyawan, yang menjadikannya salah satu perusahaan swasta terbesar di Indonesia. Perusahaan-perusahaan milik Salim Group bukan hanya beroperasi di Indonesia, tapi juga di sejumlah negara Asia. 

Pendiri Salim Group, Liem Sioe Liong alias Sudono Salim—ayah Anthoni, ialah seorang Tionghoa dari Provinsi Fujian di Tiongkok Selatan yang berimigrasi ke Jawa sebelum Perang Dunia II. Bersama keluarga dan orang terdekatnya, Sudono—sapaan akrabnya—awalnya hanya berbisnis kecil-kecilan hingga kemudian berkembang.

Setelah Perang Dunia II berakhir, di antara bisnis Sudono ialah memasok segala jenis keperluan tentara Indonesia. Selama periode ini, Sudono bertemu hingga mengenal dekat Suharto, yang kala itu masih menjadi tentara. Kontaknya dengan tentara, terutama Soeharto, itu memungkinkan dia bertumbuh dan memulai bisnis baru manufaktur skala kecil. 

Ketika Soeharto menjadi presidenlah bisnis Sudono meningkat pesat. Bahkan, berkat hubungan dekatnya sejak lama dengan pemimpin Orde Baru itu, perusahaan Sudono tumbuh hingga menyentuh 7 persen tiap tahunnya. Sebuah pertumbuhan bisnis yang belum pernah dirasakan perusahaan manapun di Indonesia di masa itu.

“Dalam mengembangkan bisnisnya, dari hanya seorang pedagang keliling menjadi pengusaha terkaya di Indonesia, Liem Sioe Liong (Sudono Salim) menerima perlindungan dari beberapa jenderal, tetapi yang paling penting dari Soeharto itu sendiri,” tulis Liem Sioe Liong’s Salim Group: the Business Pillar of Suharto’s Indonesia, buku milik Richard Borsuk dan Nancy Chng yang sudah masuk cetakan keempat itu.  

Salim Group memang sangat diuntungkan di era Orde Baru, terlebih saat kepala Keluarga Cendana itu membuat komitmen untuk membangun ekonomi Indonesia dengan basis industri modern di 1970-an. Di tahun-tahun inilah Sudono memperluas kegiatan dagangnya ke bidang semen, penggilingan tepung, jual-beli mobil, perbankan, dan tekstil.

“Presiden Suharto dan Liem Sioe Liong bekerja sangat erat, membangun hubungan simbiosis yang menghasilkan manfaat besar bagi keduanya.... Hingga akhirnya Liem Sioe Liong dan Salim Groupnya menjadi pilar Soeharto,” sambung Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam tulisan bertanggal rilis 2016 itu.  

Di 1970-an pula, sepulangnya meraih gelar Bachelor of Arts di Ewell County Technical College di Inggris pada 1971, barulah Anthoni mulai masuk membantu bisnis Sudono. Tetapi ada perbedaan cara dan strategi antara anak-ayah itu. 

Jika Sudono menggunakan prinsip berjejaring alias network strategies—khususnya dengan Soeharto, maka Anthoni berpendirian market-based strategies dalam membangun dan mengembangkan Salim Group. “Visi Anthoni ialah memodernisasi bisnis keluarga dan mengurangi ketergantungannya pada pemerintah,” ungkap Marleen dalam buku yang sudah disinggung di atas tadi. 

Visi Anthoni untuk Salim Group baru terimplementasi di periode 1990-an, sewaktu Sudono menyerahkan separuh kendalinya kepada anaknya itu. Sedikit demi sedikit akhirnya Anthoni berani mereorganisasi Salim Group. Berbagai langkah baru juga ia jalankan, termasuk melakukan Initial Public Offering (IPO) untuk beberapa anak perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan bursa efek negara lain.    

Tangan dingin Anthoni pula yang membawa Salim Group membuka anak perusahaan baru, include di Belanda dan Amerika. Ia pun berinvestasi di Singapura, Filipina, juga Hongkong atas nama Salim Group. 

Sebelum “Krisis Finansial Asia”, tak sedikit yang mengira Salim Group polesan Anthoni bakal bermasa depan cerah. Tak disangka, sekitar 1998, Salim Group tak kuasa juga menahan gempuran krisis. 

Sejumlah anak perusahaan Salim Group bertumbangan. Bahkan, sebagiannya harus dijual, termasuk PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA, dan PT Indomobil Sukses Internasional. Kendati demikian, tak semua aset Salim Group dijual Anthoni, yang antara lain PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bogasari Flour Mills.

Di tengah krisis itu, Anthoni tak mundur. Malah, tak sampai lima tahun, Salim Group kembali bangkit di bawah arahannya. Berkat usahanya mencegah hampir matinya perusahaan-perusahaan milik Salim Group, ia masuk sebagai “10 Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh” versi Warta Ekonomi di 2005. Atas usahanya ini pula, ia dijuluki “Eksekutif Bermesin Ferrari” oleh banyak jurnalis Indonesia saat itu. 

Tapi Anthony belum puas atas pencapaiannya. Ia pun banyak melakukan inovasi dengan sejumlah anak perusahaan Salim Group. Bersama Indomaret, misalnya. Hanya memilik 1 gerai di Jakarta di 1988, lewat strategi Anthoni kini gerai Indomaret kurang lebih mencapai 18.708 yang tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.  
Hal serupa juga dilakukan Anthoni untuk PT Indofood Sukses Makmur, anak perusahaan Salim Group lainnya. Di saat harga komoditas terus bergejolak di 2009, Indofood malah mencatat laba bersih hingga Rp 2 triliun. 

Situasinya tak jauh berbeda dengan hari-hari ini. Dalam situasi pandemi, Anthoni justru berhasil membawa beberapa perusahaan Salim Group mencatatkan pendapatan yang tak sedikit. PT Salim Ivomas Pratama Tbk, misalkan, berhasil mencetak laba tahun berjalan sebesar Rp 234,28 miliar. Sementara kekayaan bersih Anthoni sendiri, dari laporan Forbes di Desember 2020 lalu, mencapai USD 5,9 miliar. Kami pernah mengulas secara khusus saham DCII dalam artikel berikut ini: DCII di Masa Depan dan Ambisi Anthoni Salim 

Keluarga Kecil Anthoni           

Anthoni bukanlah anak sulung Sudono Salim, tapi ia anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertama Anthoni, Albert (Liem Sien Pin), lahir tahun 1945. Yang kedua, Andree (Liem Sien Tjong) lahir di 1947. Sementara Anthoni (Liem Fung Seng) lahir di 25 Oktober 1949 di Kudus. Adik Anthoni, Mira, lahir di 1951.

Meski Anthoni lahir di Indonesia, sekolah dasar hingga menengah akhir justru ia tamatkan di Singapura. Usai itu, ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Inggris. Sehabis meraih gelar Bachelor of Arts di Ewell County Technical College di 1971, ia pulang ke Indonesia. Tak berselang lama, di usianya ke-21 ia bertunangan dengan Siti Margareth Jusuf, kemudian keduanya menikah setelah empat tahun berpacaran.

Dari hasil pernikahannya, Anthoni memiliki tiga anak. Anak pertama, Axton Salim, lahir pada 1979. Kini, Axton menjabat sebagai direktur Indofood setelah menyelesaikan studi Bachelor Administrasi Bisnis di Colorado di 2002. Anak kedua, Astrid Salim, lahir di 1983 dan ia memiliki jabatan strategis di anak perusahaan Salim Group, yakni KMP Private Ltd di Singapura. Sementara si bungsu, Alston Salim alias Alston Stephanus, lahir pada 1987. Alston merupakan perancang aksesori juga cosplayer kondang.

Bisnis