Ancaman Taper Tantrum Muncul Lagi? Kok Bisa?

Dika Aksara

Belakangan ini isu taper tantrum kembali mengemuka. Bahkan istilah ini kembali disebut oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sebuah rapat bersama parlemen pada Juni 2021 lalu. 

Menkeu mengingatkan adanya potensi Indonesia kembali mengalami taper tantrum, seperti yang sempat terjadi pada 2013 lalu. Fenomena ini tidak lepas dari semakin kencangnya sinyal tapering off yang dijalankan Bank Sentral Amerika Serikat pada 2021 ini. 

Lantas apa itu taper tantrum? Bagaimana Indonesia menghadapi ancaman ini? Yuk simak ulasan Big Alpha berikut ini. 

 

1. Apa itu taper tantrum?

Istilah ini jadi populer setelah dipakai media-media asing saat ramai memberitakan mengenai fenomena pasca dilakukannya tapering off oleh Bank Sentra AS pada 2013 lalu. Saat itu, The Fed memutuskan menarik stimulus ekonominya dengan memangkas pembelian obligasi. 

Perlu dipahami, langkah tapering off diambil Bank Sentral AS saat kondisi perekonomian mereka dinilai membaik dan stabil. 

Kondisi itu memicu capital outflow alias aliran dana dari seluruh emerging market, termasuk Indonesia. Pada 2013 lalu, kebijakan tapering off oleh The Fed membuat pasar keuangan terguncang. 

Imbas paling nyata yang dirasakan Indonesia saat itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat jeblok ke level 4.000-an, dari sebelumnya di atas 5.000. Arus modal yang keluar dari Indonesia di periode taper tantrum pun mencapai Rp36 triliun. 

Taper tantrum sendiri, dikutip dari investopedia, merupakan reaksi spontan dari pasar keuangan yang memicu lonjakan US treasury, setelah investor tahu bahwa The Fed mulai menyetop pembelian obligasi. 

Kok bisa sih, penyetopan pembelian obligasi AS justru membuat arus kas mengalir ke AS?

Sederhananya, selama ini The Fed membantu pembelian obligasi untuk menjaga stabilitas ekonomi. Ketika bantuan berupa pembelian obligasi dipangkas, maka harga obligasi akan anjlok. Penurunan harga obligasi ini tentu berdampak pada kenaikan imbal hasil alias US Treasury yang melambung. 

Kondisi itulah yang akhirnya membuat arus kas dari negara berkembang lari menuju AS. 

2. Menimbang rencana tapering off pada 2021

Sinyal kuat sudah disampaikan Bank Sentral AS untuk melakukan pemangkasan pembelian obligasi pada tahun ini. Hal ini dilandasi bahwa iklim ekonomi AS mulai membaik, terutama terlihat dari inflasi yang cukup tinggi. Namun, The Fed masih perlu menimbang-nimbang data tenaga kerja. 

Aspek ketenagakerjaan menjadi satu-satunya pertimbangan The Fed dalam melakukan tapering off pada tahun ini. Jika jumlah pengangguran menurun dalam waktu dekat, maka sinyal pengurangan stimulus semakin kuat. 

Tapi The Fed sudah cukup transparan. Mereka menyampaikan bahwa pengurangan pembelian obligasi bisa saja dilakukan pada 2021 ini. Namun, kenaikan suku bunga kemungkinan belum akan dilakukan sekaligus. 

3. Indonesia lebih siap

Indonesia diyakini lebih siap dalam menghadapi rencana tapering off yang akan dilakukan Bank Sentral AS dalam waktu dekat. Dengan begitu, fenomena taper tantrum yang sempat terjadi pada 2013 lalu pun lebih siap dihadapi Indonesia. 

Bank Indonesia (BI) merangkum ada tiga aspek yang membuat Indonesia lebih siap dalam menghadapi risiko taper tantrum saat ini. Pertama, The Fed dianggap lebih transparan dalam menjalankan kebijakannya. Kedua, BI sudah melakukan sejumlah langkah antisipatif. Ketiga, iklim moneter yang lebih stabil. Terutama, cadangan devisa nasional yang sudah jauh lebih tinggi ketimbang 2013 lalu saat taper tantrum terjadi.

Ekonomi