Adaro Energy (ADRO) dan Zaman yang Berubah

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 5 menit]

Dalam suatu forum yang digelar oleh Kedutaan Besar Indonesia di London, Inggris pada akhir Mei 2021, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia akan menghentikan operasional pembangkit listrik berbahan bakar batu bara secara bertahap.

Sebagai gantinya, Indonesia disebut akan fokus mengembangkan pembangkit listrik berbahan bakar energi baru dan terbarukan (EBT). Alasannya, energi fosil dianggap tidak ramah lingkungan. Perbankan internasional juga disebut tidak mau mendanai proyek batubara. Di sisi lain, Indonesia punya potensi besar pengembangan EBT.

Dalam kesempatan itu, Luhut tidak menyampaikan secara rinci bagaimana rencana pemerintah menghentikan operasional pembangkit listrik bertenaga batubara secara bertahap tersebut. Luhut menyatakan bahwa energi fosil kini telah menjadi musuh bersama di dunia.

Rencana mengurangi atau bahkan menghentikan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) merupakan hal yang perlu diapresiasi. Namun, menilik besarnya kontribusi batubara terhadap sumber listrik di Indonesia yang hampir mencapai 50 persen dan belum masifnya pengembangan EBT, rencana itu tampaknya butuh waktu yang tidak sebentar. 

Bukan tidak mungkin rencana baru bisa terealisasi ketika masa pemerintahan Joko Widodo telah berakhir pada 2024. Transisi penggunaan energi dari energi fosil menjadi energi terbarukan membutuhkan modal yang luar biasa besar, komitmen politik dan dukungan pasar.

Bagaimana dengan nasib perusahaan-perusahaan yang mengelola bisnis batubara seperti Adaro Energy? Apa yang mereka lakukan pada saat ini untuk mengantisipasi skenario terburuk bagi mereka yang barangkali bisa terjadi di masa terdepan? Apakah saham perusahaan ini masih menarik untuk dikoleksi? Mari kita ulas.

Inisiatif Baru: Energi Hijau

Adaro Energy adalah perusahaan tambang batubara raksasa di Indonesia. Berdasarkan kapitalisasi pasarnya yang mencapai Rp38 triliun pada awal Juni 2021, ADRO merupakan emiten batubara terbesar di Indonesia. Bisnis utamanya sejak awal sampai hari ini adalah batubara. Batubara itu dijual ke pasar dalam negeri dan luar Indonesia.

Menghadapi perubahan global dimana banyak negara, terutama negara maju, berupaya mengurangi penggunaan energi fosil seperti batubara, Adaro tidak tinggal diam. Perusahaan yang dikuasai oleh para konglomerat Indonesia seperti Garibaldi "Boy" Thohir, Edwin Soeryadjaya dan  Theodore Permadi Rachmat ini berupaya menyiapkan inisiatif bisnis baru.

Kendati rencana tersebut belum terlalu jelas dan mendapat tanggapan negatif dari aktivis lingkungan, inisiatif baru dari Adaro Energy disebut sebagai "inisiatif hijau" (green initiative). Seperti dilaporkan sejumlah media massa pada April 2021, Direktur Utama Adaro Energy Boy Thohir menyatakan  salah satu bentuk green energy itu biomassa dengan memanfaatkan wood pellet dan limbah kelapa sawit.

Boy mengungkapkan bahwa potensi pasar biomassa itu cukup besar di pasar internasional. Sejumlah pembeli batubara Adaro dari berbagai negara seperti Jepang juga disebut mengkombinasikan batubara dan biomassa tersebut. Dalam kombinasi itu, emisi karbon disebut lebih baik.

Menarik untuk menanti kelanjutan inisiatif hijau ini. Upaya ini merupakan bagian dari upaya menghadapi zaman yang berubah dimana batubara perlahan-lahan ditinggalkan dan sumber energi baru, khususnya energi terbarukan, mulai diincar. Kendati porsinya masih sangat kecil dan masih jauh dari besar, langkah kecil ini perlu mendapatkan sambutan hangat. 

Inisiatif hijau itu kabarnya akan menjadi pilar bisnis tersendiri alias pilar kesembilan bagi Adaro Energy yang saat ini mencapai 8 pilar. Pilar itu antara lain Adaro Mining, Adaro Services, Adaro Logistics, Adaro Power, Adaro Land, Adaro Water, Adaro Capital dan Adaro Foundation.

Jika inisiatif hijau itu direalisasikan maka akan menambah daftar bisnis non-pertambangan batubara Adaro. Pada saat ini, di luar bisnis inti tambang batubara yang dikelola oleh Adaro Mining melalui 31 perusahaan terafiliasi, Adaro juga memiliki bisnis non-pertambangan batubara seperti yang dikelola oleh Adaro Services, Adaro Logistics dan Adaro Power.

Di Adaro Services, Adaro mengelola bisnis eksplorasi sampai kontrak pertambangan dan perdagangan batu bara yang memungkinkan perusahaan menawarkan jasa pendukung kepada para pelanggan di industri pertambangan. Kendati tidak terlibat secara langsung dalam pertambangan batubara, kondisi fundamental batubara juga akan berdampak terhadap bisnis ini/

Sementara itu, Adaro Logistics mengelola dan mengkordinasikan bisnis logistik dari rantai pasokan batu bara grup Adaro dengan bisnis yang meliputi angkutan tongkang batu bara dan pemuatan kapal, pengerukan dan pemeliharaan alur, jasa bongkar muat dan sebagainya.

Terakhir, Adaro Power mengelola sejumlah pembangkit listrik di Indonesia. Dalam pilar bisnis ini, Adaro telah mulai mengembangkan energi terbarukan dalam proyek proyek solar panel PV 130 kWP di Terminal Khusus Batu Bara Kelanis. Adaro Power juga mengklaim terus melakukan studi berbagai sumber energi terbarukan seperti angin, solar panel dan biomassa sebagai alternatif dari batubara.

Bagi Adaro Energy, bisnis non-pertambangan batubara tidak bisa dipadang sebelah mata. Pada 2020, menurut laporan tahunan perusahaan, kontribusi bisnis non-pertambangan batubara berkontribusi sekitar 46 persen dari laba sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) operasional. Lini bisnis ini yang diusahakan menjadi "penyeimbang" bagi bisnis batubara yang dikelola oleh Adaro.

Belum Bisa Berpaling dari Batubara

Kendati telah mengembangkan berbagai bisnis non-pertambangan batubara, Adaro Energy tetap belum bisa berpaling dari bisnis utamanya yaitu batubara, setidak-tidaknya dalam jangka menengah. Harga batubara memang siklikal dan fluktuatif karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, namun bisnis ini tetap menjadi tulang punggung perusahaan pada saat ini.

Adaro menambang dan memasarkan produk batubaranya yang dikenal dengan merk utama Envirocoal. Produk batubara termal ini diklaim sebagai salah satu batubara yang relatif ramah lingkungan yang dipasarkan ke pasar global. Batubara ini ditambang di wilayah pertambangan Adaro yang terletak di Kalimantan Selatan.

Pada saat ini, penjualan Adaro paling banyak ditujukan untuk pasar ekspor dengan porsi lebih dari 75 persen dan sisanya untuk pasar dalam negeri. Pada kuartal I/2021, penjualan batubara Adaro untuk pasar ekspor mencapai US$512 juta atau sekitar 78 persen dari total penjualan US$652 juta secara keseluruhan.

Negara-negara Asia Timur (Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong dan China) merupakan konsumen utama batubara yang dipasarkan oleh Adaro Energy dengan porsi sekitar 38 persen, sisanya negara Asia Selatan, Indonesia dan negara-negara lainnya. Dengan kata lain, kondisi perekonomian global, termasuk secara spesifik kondisi ekonomi negara pembeli batubara Adaro, berdampak signifikan terhadap kinerja perusahaan.

Porsi Penjualan ADRO

 

Sumber: Laporan Tahunan 2020

Pada 2020, misalnya, penjualan Adaro turun 8 persen akibat pandemi yang berdampak signifikan terhadap perekonomian global. Penguncian wilayah di sejumlah negara mengakibatkan penurunan aktivitas ekonomi yang berpengaruh terhadap penggunaan listrik. Ketika penggunaan listrik turun, permintaan batubara juga akan turun.

Dalam jangka menengah, berbagai negara Asia yang menjadi konsumen utama batubara Adaro Energy berencana mengurangi penggunaan batubara sebagai sumber energi mereka. China, misalnya, yang berencana membatasi proyek pembangkit listrik tenaga batubara dalam 5 tahun mendatang sejak 2021. 

Dalam pernyataannya yang dikutip oleh media massa, Presiden China Xi Jinping menyatakan bahwa pemerintah China berencana mengurangi batubara dalam periode 2025-2030. Sebagai gantinya, China yang kini merupakan importir batubara terbesar di dunia mulai melirik energi baru terbarukan sebagai sumber energi. 

Sementara itu, negara Asia Timur lainnya, Jepang dan Korea Selatan juga menunjukkan gelagat berpaling dari batubara secara perlahan. Dikutip dari Argus Media, pemerintah Korea Selatan berencana menurunkan pembangkit listrik berbahan bakar batubara sebesar 23 persen pada 2030 dibandingkan dengan level 2019.

Jika permintaan dari negara Asia Timur itu turun tentu saja akan berdampak terhadap pendapatan Adaro. Kendati demikian, penurunan itu kemungkinan akan "ditambal" dari peningkatan permintaan dari negara Asia Selatan yaitu India, Pakistan dan Bangladesh serta Asia Tenggara yaitu Vietnam dan Filipina. 

Di negara-negara Asia Selatan dan Asia Tenggara itu, permintaan batubara masih relatif tinggi mengingat batubara adalah sumber energi yang relatif lebih murah daripada sumber energi lainnya. Vietnam merupakan negara yang memiliki program pengembangan batubara terbesar ketiga di dunia setelah India dan China.

Menilik kondisi itu, Adaro mungkin menghadapi tantangan dari penurunan permintaan dari Asia Timur. Kendati demikian, negara-negara dari wilayah regional lain yaitu Asia Tenggara dan Asia Selatan masih membangun banyak pembangkit listrik berbahan bakar batubara yang berarti membutuhkan banyak pasokan batubara dari negara pengekspor seperti Indonesia.

Secara fundamental, Adaro kemungkinan masih relatif "aman" setidaknya dalam jangka menengah. Kondisi ini yang dapat dijadikan salah satu pegangan oleh investor saham dalam mengambil keputusan investasi saham ADRO, tentu saja selain berbagai aspek penting lainnya, seperti harga batubara yang berdampak besar terhadap fluktuasi kinerja perusahaan.

 

Investasi