5 Peristiwa Penting di Pasar Saham 2020

Date:

[Waktu baca: 4 menit]

Tahun akan segera berganti. Tahun 2020, tahun yang akan segera ditinggalkan ini, adalah tahun yang sangat menantang, tidak terkecuali  bagi pasar saham Indonesia.

Pada 2020 terjadi sejumlah peristiwa penting di pasar saham Indonesia yang dapat menjadi pengalaman dan pelajaran berharga bagi semua pihak, termasuk para pelaku pasar saham, dalam mengambil keputusan investasi. Berikut ini sejumlah peristiwa penting yang terjadi di pasar saham sepanjang 2020:

1. IHSG Terjungkal

Dunia digegerkan dengan penemuan virus mematikan bernama corona di Wuhan, China. Dalam kurun waktu hanya beberapa bulan, virus itu menular cepat ke masyarakat di seluruh penjuru bumi, tidak terkecuali negara Asia Tenggara seperti Indonesia.

Sejak berbagai kabar mengenai virus corona itu menyebar ke seluruh dunia, harga-harga saham di bursa berbagai negara rontok karena kepanikan terhadap dampak virus tersebut terhadap perekonomian. 

Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjungkal sejak Januari (turun 3,6%), lalu Februari (turun 7%) dan mencapai klimaksnya pada Maret 2020 ketika IHSG turun lebih dari 15% hingga menyentuh level 3.937.

Hari-hari pada Maret 2020 diwarnai dengan anjloknya harga-harga saham, tidak terkecuali saham perusahaan berkapitalisasi pasar atau blue chips. Investor melakukan sell-off besar-besaran seiring kepanikan terhadap virus tersebut.

Kendati demikian, penurunan harga-harga saham tersebut menjadi momentum yang berharga bagi para investor saham untuk mengkoleksi saham di harga-harga yang relatif murah.

Terbukti, banyak saham yang harganya terus mendaki pada semester 2/2020, terutama kuartal 4/2020, setelah turun dalam pada Maret 2020. Sebagian di antaranya bahkan melewati level harga pra-pandemi. 

2. Perubahan Kebijakan ARB

Penurunan harga-harga saham itu membuat otoritas Bursa Efek Indonesia mengubah kebijakan Auto Reject Bawah (ARB) atau batas bawah penurunan harga saham untuk mengurangi potensi kerugian yang besar bagi investor.

Semula, ARB tersebut ditetapkan sebesar 35% (harga saham Rp50 s/d Rp200), 25% (>Rp200 s/d Rp5.000) dan 20% (>Rp5.000). Setelah itu, ARB diubah menjadi 10%. 

Namun, besaran ARB 10% itu dianggap tidak cukup. BEI mengubah lagi besaran ARB menjadi <7%. Kondisi berlaku selama pandemi. Kebalikan dari ARB yaitu Auto Reject Atas (ARA) tidak diubah kebijakannya oleh BEI. Penjelasan mengenai ARA dan ARB dapat dibaca di artikel ini.

3. Dua Indeks Baru

Pada 2020, BEI meluncurkan dua indeks baru yaitu IDX Quality30 dan IDX ESG Leaders. Kedua indeks ini memiliki sejumlah kriteria.

IDX Value30 adalah indeks yang mengukur kinerja harga dari 30 saham yang memiliki valuasi harga yang rendah dengan likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.

Sementara itu, Indeks IDX ESG Leaders mengukur kinerja harga dari saham-saham yang memiliki penilaian Environmental, Social, dan Governance (ESG) yang baik. Saham itu juga dianggap tidak terlibat pada kontroversi secara signifikan serta memiliki likuiditas transaksi serta kinerja keuangan yang baik.

Dengan kehadiran dua indeks baru itu, BEI memiliki 26 indeks pada saat ini. Pada 2019, indeks yang diluncurkan oleh BEI antara lain IDX80, IDXValue30 dan IDX Growth30.

4. IPO Terbanyak di Asia Tenggara

Di tengah pandemi, jumlah aksi korporasi berupa penawaran umum perdana saham (IPO) di Indonesia terbanyak di Asia Tenggara.

Sampai awal Desember 2020, jumlah IPO di Indonesia mencapai 46 perusahaan, tertinggi dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand (14 perusahaan), Singapura (5 perusahaan) dan FIlipina (2 perusahaan).

Kendati demikian, nilai IPO itu masih relatif kecil yaitu Rp5,22 triliun (US$360 juta) dibandingkan dengan Malaysia (US$480 juta), Thailand (US$4,19 miliar). Pada 2020 memang belum ada IPO "jumbo" di pasar saham Indonesia.

5. Menguatnya Investor Domestik

Dalam beberapa tahun silam, kepemilikan saham di BEI didominasi oleh investor asing. Namun, keadaan tersebut perlahan berubah pada 2020.

Menurut data Bursa Efek Indonesia yang dirilis pada pertengahan Desember 2020, dari Rp3.491 triliun jumlah kepemilikan saham yang tercatat di BEI, 50,44% merupakan milik investor ritel domestik, sedangkan 49,56% dimiliki investor asing.

Peningkatan juga terjadi dalam nilai transaksi harian. Sepanjang Januari-November 2020, dari nilai transaksi Rp8,42 triliun, 45,9% di antaranya dikontribusikan oleh aktivitas transaksi investor ritel. Angka tersebut merupakan tertinggi sepanjang sejarah.

Di dalam negeri, menurut BEI, jumlah SID naik 93% menjadi 488.088 Single Investor Identification (SID) hingga awal Desember 2020 dibandingkan dengan 252.370 SID pada 2019. Peningkatan jumlah investor lokal ini menjadi kabar yang membanggakan bagi pasar saham Indonesia!