4 Rasio Dasar Analisa Perusahaan Dalam Investasi Saham

Yodie Hardiyan

[Waktu baca: 5 menit]

Pada dasarnya, setiap investor saham memiliki cara yang unik dan berbeda dalam menganalisa sebuah perusahaan. Hasil analisa seorang investor saham terhadap suatu perusahaan bisa berbeda dengan analisa investor saham lainnya.

Dalam menganalisa sebuah perusahaan, seorang investor saham dapat memiliki kesimpulan yang berbeda dari investor saham lainnya karena perbedaan penggunaan metode analisa. Hasil dari penggunaan metode yang sama pun dapat ditarfsirkan dengan perspektif yang berbeda.

Penafsiran yang berbeda terhadap suatu perusahaan itu membuat investasi saham terkadang mirip dengan seni dimana tidak ada tafsir tunggal atas sebuah karya. Perbedaan analisa itu juga menyebabkan pasar saham menjadi sesuatu yang dinamis.

Pada umumnya, analisa perusahaan mencakup analisa profitabilitas, analisa likuiditas, analisa solvabilitas, analisa aktivitas dan sebagainya. Aneka analisa tersebut memiliki manfaatnya masing-masing dan terdiri dari aneka rasio yang begitu banyak untuk mengukur setiap indikator.

Bagi investor saham, rasio apa saja yang sebaiknya digunakan? Dari sekian banyak rasio, terdapat sejumlah rasio dasar yang dapat dijadikan pijakan awal bagi investor saham dalam menilai suatu perusahaan. 

Aneka rasio terkait fundamental sebuah perusahaan ini juga dipakai oleh Bursa Efek Indonesia dalam penyusunan Laporan Statistik Bulanan dimana pihak bursa membuat tabel berisi perusahaan terbuka beserta aneka rasio tersebut.

Tentu saja penggunaan aneka rasio ini dapat diperkaya dan dilengkapi sejumlah rasio lain supaya investor saham dapat menghasilkan kesimpulan yang lebih komprehensif. Berikut ini empat rasio dasar tersebut:

1. Net Profit Margin (NPM)

Net profit margin (NPM) atau rasio marjin laba bersih adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari pendapatan yang diperoleh. Rasio ini ditunjukkan dengan satuan persen. Rumus NPM adalah sebagai berikut:

NPM = (Laba Bersih/Perusahaan) x100

NPM dapat menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam mengelola biaya. Semakin efisien suatu perusahaan maka biasanya semakin tinggi NPM-nya, begitupula sebaliknya. Semakin tinggi NPM suatu perusahaan menunjukkan perusahaan tersebut semakin mampu menghasilkan keuntungan (profitable).

2. Return on Equity (RoE)

Return on equity (RoE) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan seberapa besar ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Rasio ini kerap digunakan oleh pemegang saham untuk mengukur keuntungan yang dicetak perusahaan berdasarkan modal yang dimiliki.

Rumus RoE adalah sebagai berikut:

RoE = (Laba Bersih/Nilai Ekuitas) x 100

Contoh perhitungan ROE dapat disimak di artikel ini: Cara Menghitung RoE Untuk Investor Saham Pemula (Plus Contoh)

3. Return on Asset (RoA)

Return on asset (RoA) adalah rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan seberapa aset yang dimiliki oleh perusahaan. Rumus RoA adalah sebagai berikut:

RoA = (Laba Bersih/Total Aset) x 100

RoA dapat dipahami dengan aneka contoh sederhana, misalnya, sebuah perusahaan roti. Katakanlah, perusahaan roti tersebut memiliki sebuah pabrik. Dalam akuntansi, pabrik dikategorikan sebagai aset. Nah, ROA digunakan untuk mengukur seberapa besar laba bersih yang dapat dihasilkan perusahaan roti dari pabrik roti tersebut.

4. Debt to Equity Ration (DER)

Debt to equity ratio (DER) adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar utang perusahaan dibandingkan dengan ekuitas. Secara sederhana, DER dapat digunakan untuk mencermati seberapa besar utang yang dimiliki oleh perusahaan. Rumus DER adalah sebagai berikut:

DER = Total Liabilitas/Total Ekuitas

Mengapa DER penting untuk dilihat? Sebagian investor saham berpandangan bahwa DER perlu dilihat untuk mencermati utang perusahaan sekaligus bunga yang perlu dibayar oleh perusahaan dari utang tersebut. 

Seperti diketahui, bagi sebagian perusahaan, utang adalah aktivitas keuangan yang diperlukan untuk mendukung kegiatan usahanya atau pengembangan usahanya. Dengan kata lain, utang adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh perusahaan.

Kendati demikian, besaran utang tersebut menjadi perhatian bagi sebagian investor mengingat utang memiliki bunga yang perlu dibayar secara berkala oleh perusahaan. Apabila utang beserta bunganya terlalu besar maka hal tersebut dapat menggerus laba yang dicetak oleh perusahaan.

Pada umumnya, tinggi atau rendahnya rasio suatu perusahaan lebih cocok dibandingkan dengan perusahaan lain di sektor sejenis. Sebagai contoh, rasio keuangan di perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan sebaiknya tidak dibandingkan dengan rasio keuangan yang sama di bank.

Investasi