Mengenal KakaoPay, Raksasa Fintech Korea yang Bakal IPO Akhir 2021 Ini

Dika Aksara

Kakao menjadi raja di negaranya sendiri, Korea Selatan. Barangkali pernyataan ini tidak sepenuhnya salah. 

Lahir pada 2010, Kakao melalui KakaoTalk langsung sukses merebut pasar. KakaoTalk menjadi aplikasi pesan singkat alias messenger paling banyak dipakai oleh masyarakat Negeri Ginseng, yakni hingga 90 persen dari total 52 juta warganya. 

Kakao juga terus berinovasi dengan meluncurkan produk keuangan digital lain seperti KakaoBank dan KakaoPay. Dua-duanya pun sukses menjadi pemimpin produk keuangan digital di Korea Selatan. 

KakaoBank lebih dulu melakukan penawaran perdana saham (IPO) pada awal Agustus lalu. KakaoBank sukses melantai di bursa dengan harga saham yang melonjak 75% di hari pertama pencatatannya. 

Sementara KakaoPay, yang mestinya melakukan IPO pada 14 Oktober 2021, mengumumkan penundaan tanggal penawaran perdana saham menjadi November mendatang. 

Menjelang IPO-nya di bursa Korea, sepertinya menarik untuk mengulas fakta tentang KakaoPay. Seperti apa? Big Alpha merangkumnya untuk kamu.

1. Diluncurkan pada 2014, sepaket dengan KakaoTalk

Sang induk usaha, Kakao, tampaknya pandai melihat peluang. Sebelum kompetitor bermunculan di Korea Selatan, Kakao dengan sigap meluncurkan KakaoPay. 

Dompet digital ini sepaket dengan KakaoTalk. Jadi siapapun yang memiliki akun KakaoTalk sudah bisa mengoperasikan KakaoPay. 

Kakao meluncurkan KakaoPay pada 2014 lalu. Layanan utamanya adalah fasilitas mentransfer saldo dari satu akun ke akun lain sesuai dengan kontak yang ada di KakaoTalk. 

Seiring berjalannya waktu, layanan KakaoPay mulai merambah pembayaran untuk transaksi online. KakaoPay pun segera terhubung dengan KakaoBank, layanan bank digital pertama Kakao yang kini juga sukses merajai pasar. 

2. Dapat suntikan dari Ant Group China

Bisnis Kakao yang berkembang pesat membuat raksasa teknologi asal China, Ant Group, menyuntikkan dana US$200 juta ke KakaoPay pada 2017. Hal ini memungkinkan pertukaran layanan antara KakaoPay dengan Alipay, anak usaha Ant Group yang juga bergerak di bidang keuangan digital. 

Dengan kerja sama yang ada, Ant Group dari China memegang 45% saham KakaoPay dan sisanya, 55% masih dipegang induk usaha Kakao. 

3. Segera melantai di bursa saham

KakaoPay sejatinya melantai di bursa saham Korea pada 14 Oktober 2021. Hanya, IPO diundur ke 3 November karena alasan regulasi. KakaoPay menargetkan mengumpulkan dana hingga 1,5 triliun won atau setara US$1,28 miliar dalam aksi IPO-nya. 

Mundurnya jadwal IPO KakaoPay disebabkan regulasi perlindungan konsumen keuangan yang baru saja direvisi. Beleid ini mengharuskan aplikasi layanan keuangan seperti KakaoPay menyetop fitur perbandingan dan rekomendasi produk keuangan sebelum mendaftarkan diri ke pemerintah. 

 

Investasi