Personal Finance

Yuk Diatur! Ini 4 Pengeluaran Utama di Bulan Puasa 2021

[Waktu baca: 4 menit]

Bagi sebagian orang, bulan puasa adalah bulan dimana pengeluaran justru meningkat. Pengeluaran itu tentu saja perlu disadari dan diatur supaya nggak bikin kantong jebol.

Bulan Ramadan 2021 adalah kali kedua dimana masyarakat menjalani bulan puasa di tengah pandemi. Pada saat pandemi seperti ini, pola konsumsi masyarakat berubah karena berbagai faktor eksternal dan internal. Faktor-faktor itu mempengaruhi pengambilan keputusan keuangan.

Misalnya, jika dulu ada pos pengeluaran untuk mudik, kini sudah tidak ada lagi karena pemerintah melarang seluruh masyarakat untuk mudik pada Lebaran 2021. Pos pengeluaran itu kemudian dialihkan untuk pengeluaran lainnya.

Pengeluaran apa saja yang biasanya dikeluarkan di bulan puasa di tengah pandemi yang belum usai ini? Apakah pos-pos pengeluaran itu bisa dikelola menjadi lebih baik lagi? Ini dia daftarnya!

1. Makanan dan Minuman 

Makanan dan minuman adalah salah satu pos pengeluaran utama di bulan puasa. Makanan itu antara lain makanan yang disiapkan untuk sahur, berbuka puasa dan Lebaran. Bagi sebagian orang, pos pengeluaran makanan dan minuman ini menjadi pengeluaran paling besar di antara pengeluaran-pengeluaran lainnya.

Pengeluaran untuk makanan biasanya meningkat karena berbagai hal.Pertama, peningkatan harga-harga yang biasanya terjadi menjelang atau saat bulan puasa. Seperti diketahui, inflasi hampir selalu terjadi dalam beberapa tahun terakhir ketika bulan puasa.

Kedua, pengeluaran untuk makanan meningkat karena adanya peningkatan konsumsi untuk berbuka puasa yang biasanya lebih "ramai" daripada biasanya seperti makanan pembuka, makanan utama dan sebagainya. Sebagian orang justru mengkonsumsi lebih banyak makanan di bulan puasa!

Pengeluaran lainnya adalah untuk makanan untuk Lebaran yang biasanya terdiri dari makanan utama dan makanan ringan yang biasanya disajikan untuk tamu. Contoh makanan ringan yang sangat populer disajikan di bulan puasa adalah kue kering. Sebagian orang merasa "wajib" menyediakan kue kering di atas meja.

2. Pakaian dan Alas Kaki

Salah satu budaya yang belum luntur di sebagian masyarakat Indonesia adalah membeli dan mengenakan pakaian (baju, celana) atau alas kaki (sepatu, sandal) untuk Lebaran. Lebaran kerapkali diidentikkan dengan segala sesuatu yang bersifat baru, salah satunya pakaian dan alas kaki. Apakah budaya ini masih ada di keluargamu?

Pengeluaran untuk pakaian juga biasanya meningkat karena penjual uga berusaha menggenjot penjualan melalui berbagai saluran pemasaran. Promosi melalui berbagai cara seperti iklan ditingkatkan untuk mendorong konsumsen melakukan transaksi. Dengan kata lain, penjual berusaha "menggoda" konsumen untuk membeli pakaian dan alas kaki baru saat Lebaran.

Tentu saja, kamu perlu lebih menyadari mengenai keputusan untuk pembelian pakaian baru di tengah Lebaran. Jangan sampai dompet tekor karena uangnya habis untuk membeli pakaian baru ya!

3. Paket Data dan Biaya Berlangganan

Pandemi corona mempercepat perubahan pola konsumsi masyarakat. Salah satunya adalah konsumsi segala sesuatu yang bersifat digital.  Misalnya, menonton video, mendengarkan musik, membaca informasi dan sebagainya dilakukan melalui smartphone. Tentu saja, konsumsi itu tidaklah gratis. 

Kamu perlu mengeluarkan uang untuk membeli paket data dan membayar biaya berlangganan sejumlah platform. Bukan tidak mungkin, pengeluaran itu akan meningkat di bulan Ramadan karena kamu akan mengakses platform-platform tersebut sambil menunggu waktu berbuka puasa atau ngabuburit.

Tentu saja, setiap orang memiliki pola pengeluaran yang berbeda-beda. Yang terpenting, pengeluaran-pengeluaran tersebut disadari, dikelola dan tidak menganggu berbagai tujuan keuangan yang hendak dicapai. 

4.  Zakat dan Sedekah

Nah, berbeda dari berbagai jenis pengeluaran di atas, jenis pengeluaran ini bukan jenis pengeluaran konsumtif, melainkan pengeluaran sosial yang ditujukan untuk membantu sesama manusia. 

Dalam bulan suci ini, umat Islam akan melakoni kewajiban berpuasa. Di samping itu, umat Muslim laki-laki dan perempuan juga harus membayar zakat fitrah atau zakat yang wajib dikeluarkan sebagai bentuk santunan kepada fakir miskin.

Dalam salah satu hadis dijelaskan bahwa zakat fitrah dianggap sebagai salah satu penyuci bagi orang yang berpuasa dari hal-hal yang menodai puasa. Sejak awal bulan Ramadan hingga pelaksanaan Idul Fitri adalah salah satu waktu yang dianjurkan untuk membayar zakat fitrah.

Besaran zakat fitrah adalah beras atau makanan pokok seberat 2,5 kg atau 3,5 liter per jiwa. Nilai zakat fitrah juga ditetapkan setara dengan uang sebesar Rp40.000 per jiwa untuk wilayah Jabodetabek (2020). Nilai itu bisa saja berubah pada 2021 ini.

Selain zakat, bulan puasa adalah waktu yang sangat baik untuk bersedekah. Menurut salah satu hadis, sedekah yang paling utama dilakukan di bulan Ramadan. Pengeluaran untuk sedekah ini perlu dipikirkan sejak awal. 

Sebagian orang mengurangi konsumsi di bulan puasa ini demi memperbanyak sedekah. Tentu saja, setiap orang memiliki cara tersendiri yang unik dalam mengelola pengeluaran di bulan puasa. Selamat menjalankan ibadah puasa, ya!

 

Related articles

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login