Upaya Bisnis Coworking Space Menjaga Eksistensi Saat Pandemi

Fauzan Ahmad

“Berinvestasi di WeWork adalah keputusan yang bodoh. Saya keliru.”

Kalimat tersebut meluncur dari mulut orang nomor satu di SoftBank, Masayoshi Son dalam sesi wawancara dengan Business Insider pada Mei 2020 silam. Son tengah menyesali keputusan SoftBank menyuntik dana US$18,5 miliar untuk WeWork.

Berpredikat perusahaan raksasa dalam bisnis coworking space, WeWork terus menerus mengalami pelemahan valuasi hingga menyentuh kisaran US$2,9 miliar saja. Padahal, di pertengahan 2019 perusahaan ini sempat menyentuh valuasi US$47 miliar.

Kolapsnya nilai WeWork memang tidak lepas dari gagalnya misi IPO perseroan pada pengujung 2019. Namun, pengaruh tersebut kemudian semakin diperparah dengan kehadiran pandemi Covid-19 yang membuat bisnis andalan mereka, yakni penyewaan kantor dan ruang rapat amblas.

Dalam lanskap lebih luas, krisis semacam itu bukan cuma dialami WeWork. Beberapa pemain besar lain seperti Knotel bahkan telah mengajukan pailit karena tak sanggup lagi menanggung beban kerugian.

Di Indonesia, situasi tidak beda jauh menimpa lebih dari 300 bisnis coworking space yang sebagian besar tersebar di Pulau Jawa, titik yang jadi episenter virus Covid-19. Data Asosiasi Coworking Indonesia, yang dihimpun berdasarkan survei terhadap 250 responden anggotanya, menyebut bahwa tingkat okupansi di lokasi-lokasi coworking space Indonesia nyaris mendekati 0%.

Survei yang dilakukan lembaga kajian asal Inggris, The Business Research Company (TBRC) menyebut bahwa rata-rata perusahaan pengelola bisnis coworking space di seluruh dunia mengalami kontraksi pendapatan pada rentang 10-50 persen. Secara makro, perputaran uang di sektor ini pada 2020 ada di kisaran US$8,24 miliar, susut 12 persen dari US$9,27 miliar setahun sebelumnya.

Menariknya, di tengah situasi buram tersebut, muncul isyarat akan adanya secercah cahaya di ujung lorong. Ini lantaran TBRC menyebut bahwa bisnis coworking space belum akan mati dalam waktu dekat.

Dengan asumsi vaksinasi berjalan bertahap mulai tahun ini, mereka memproyeksi uang masuk ke sektor bisnis coworking space bisa kembali ke level prapandemi pada 2022, dan bahkan menguat ke level US$11,52 miliar pada 2023.

Namun, masih menurut riset yang sama, ada beberapa catatan yang perlu dilakukan oleh para pelaku bisnis coworking space supaya outlook tersebut terealisasi.

Salah satu pendekatan penting yang bisa dan perlu dilakukan bisnis coworking space untuk menjaga neraca pemasukan di tengah tekanan pandemi adalah membuka segmen layanan kantor virtual.

Kantor Virtual alias virtual office merupakan konsep ruang kerja yang berlokasi di dunia internet, tempat seorang individu dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan untuk melaksanakan bisnis profesional atau pribadi tanpa perlu memiliki kantor fisik. Pengaturan operasional dan fungsional suatu kantor virtual memungkinkan pemilik bisnis dan karyawan untuk bekerja dari lokasi di manapun dengan menggunakan teknologi komputer seperti PC, laptop, ponsel dan akses internet.

Sewa gedung yang harganya makin tak manusiawi di hampir seluruh penjuru negara bukan lagi rahasia. Tingginya kebutuhan perkantoran untuk melakukan efisiensi biaya operasional di tengah pandemi bisa menjadi celah yang dimaksimalkan segmen layanan tersebut untuk masuk ke lebih banyak ceruk pasar.

Baca Juga: Strategi Metrodata Electronics (MTDL) Manfaatkan Berkah Pandemi

Mujurnya, di Indonesia, perusahaan-perusahaan penyedia coworking space tampaknya sudah menyadari pentingnya pengimplementasian solusi tersebut. Belakangan semakin banyak perusahaan penyedia layanan coworking space beradaptasi dan merambah segmen kantor virtual. Beberapa di antara mereka bahkan juga agresif melebarkan sayap untuk membuka pangsa pasar baru, seperti penyediaan ruangan untuk live streaming dan pemotretan daring.

Pelebaran segmen layanan tersebut pun berimbas positif. Ini setidaknya tampak bila kita melihat rilis data jual beli yang ada dalam platform XWORK.

XWROK adalah sebuah marketplace yang khusus menyediakan penyewaan ruang kerja dan acara. Singkatnya, platform tersebut menghubungkan transaksi jual beli daring antara perusahaan penyedia layanan coworking space dan jasa sejenis lain dengan para konsumennya. Total ada 650 lebih perusahaan penyedia layanan coworking yang menjadi mitra XWORK.

Pandemi memang menggulung permintaan produk coworking space, namun pihak XWORK pun belakangan menyebut bahwa permintaan dari segmen kantor virtual mulai berpotensi menutup celah yang ada. XWORK juga mengklaim transaksi untuk layanan inovatif ‘ramah pandemi’ lain, seperti permintaan ruangan untuk live streaming dan konferensi virtual meningkat pesat.

Upaya beradaptasi dengan peluncuran produk kantor virtual bukan cuma dilakukan perusahaan-perusahaan yang memasang iklan di XWORK. Beberapa dari mereka yang sudah punya platform sendiri, seperti Conclave, Cohive, hingga Estubizi pun mulai melakukan diversifikasi bisnis yang sama.

Di luar pencetusan inovasi baru macam kantor virtual, hal lain yang tampak menjadi sentimen positif prospek bisnis coworking space adalah mulai bermunculannya layanan-layanan perkantoran sehat sebagai tren baru.

Layanan perkantoran sehat bisa jadi wujud adaptasi perusahaan-perusahaan penyedia sewa kantor, termasuk coworking space, untuk menyambut pemulihan pandemi. Jenis layanan sewa semacam ini biasanya mengedepankan fasilitas-fasilitas penunjang kesehatan. Seperti ruangan lebih luas yang memungkinkan physical distancing, sirkulasi udara lebih baik, hingga infrastruktur penunjang kebersihan yang lebih lengkap.

Sejauh ini, di Indonesia, memang belum banyak penyedia layanan coworking space yang fokus masuk menguatkan branding ke segmen tersebut. Baru korporasi-korporasi besar penjual bangunan kantor seperti PT Intiland yang telah memulainya.

Namun, bila melihat sinyal positif yang dialami perusahaan properti besar tersebut, bukan mustahil bila ke depan perusahaan-perusahaan penyedia layanan coworking space meniru hal serupa.

Sebagai ilustrasi tingginya minat publik terhadap perkantoran sehat, Spazia Tower, nama unit kantor yang baru saja dirilis PT Intiland di Surabaya telah terjual lebih dari 70 persen sejak awal diluncurkan pada tahun baru 2021.

Fakta bahwa bangunan strata atas saja bisa ludes terjual menggunakan kampanye ‘perkantoran sehat,’ agaknya bisa dijadikan rujukan bagi perusahaan-perusahaan coworking space untuk memulai tren serupa.

Apalagi secara tren pangsa pasar, peluang mereka mendominasi permintaan segmen permintaan kantor di Indonesia masih terbuka lebar. Sebelum pandemi Covid-19 datang, sebuah survei yang dilakukan IDC sempat menyebutkan bahwa sekitar 36 persen dari perseroan-perseroan di Indonesia memilih berkantor di coworking space, alih-alih membeli atau menyewa bangunan individual.

Baca Juga: Menerka Ulah Spekulan di Balik Anomali IDX Sector Technology

Dengan perusahaan-perusahaan besar mulai semakin agresif melakukan efisiensi untuk memangkas operasional, porsi tersebut bisa jadi akan semakin bertambah dalam beberapa tahun ke depan.

Softbank, atau lebih tepatnya Masayoshi Son boleh saja menyesali keputusannya jor-joran menanam modal di perusahaan coworking space. Tapi bukan mustahil kata-kata tersebut akan dia tarik. Tentu saja dengan catatan bisnis-bisnis coworking space mampu bertahan dan membuktikan prospek pertumbuhannya dalam beberapa tahun mendatang.

Bisnis