Tipu Daya si Karpet Ajaib Ala Barry Minkow

Ahsan Ridhoi

Seorang remaja berusia 16 tahun membuka perusahaan pencucian karpet di garasi rumahnya. Dalam tempo lebih kurang empat tahun, perusahaan itu menjelma raksasa dengan valuasi puncak ratusan dolar. Membuat remaja tersebut kaya raya, mampu membeli sebuah Ferrari, rumah mewah, menggaji lebih dari seribu pegawai, bahkan membayar pemuda lain untuk menjadi anggota tim softball miliknya.

Anda tentu tercengang dengan cerita semacam itu. Lalu, ketika Anda menyadari kisah itu nyata, Anda langsung mengagumi remaja tersebut. Menjadikan kisahnya sebagai pesan moral bagi anak-anak Anda sebelum tidur sambil berharap suatu saat mereka bisa mengikuti jejaknya dan mengubah ekonomi keluarga yang kini sedang pas-pasan.

Sebelum sampai ke Anda, cerita itu lebih dulu sampai ke telinga seorang wartawan bernama Daniel Akst dari The Wall Street Journal yang langsung menelusurinya. Wartawan itu berusaha keras menyelidiki si remaja dan mewawancarainya. Beberapa hari kemudian, sebuah feature tentang kesuksesan si remaja terbit.

Lalu, koran lain turut meliput kesuksesan si remaja. Dalam waktu singkat, si remaja menjadi terkenal. Stasiun teve juga tertarik padanya. Si remaja pun nongol di acara talk show kenamaan Oprah Winfrey yang mengeluh-eluhkannya sebagai “Whiz Kid”.

Si remaja pun sempat berseloroh ingin menjadi presiden Amerika Serikat (AS) dalam acara tersebut. Seloroh yang wajar karena ia telah mendapat apresiasi sebagai new hero di Wall Street.  

Tom Bradley, Wali Kota Los Angeles, yang tak mau kehilangan panggung politik, memuji si remaja dan menyebutnya sebagai contoh pengusaha muda sukses yang wajib dicontoh pemuda lainnya.

Association of Collegiate Entrepreneurs dan Young’s Entrepreneurs Organization tak mau ketinggalan. Mereka memasukkan nama si remaja dalam daftar ‘100 pengusaha sukses tahun ini’. Bersanding dengan pengusaha-pengusaha muda sukses lain dari seluruh negeri.

Namun, ada satu bagian penting yang sengaja disembunyikan si remaja: ia adalah penipu dan usahanya tak pernah ada. Ketika bagian penting ini terbongkar, saham perusahaannya anjlok dan ribuan orang yang telah berinvestasi merugi. Daniel Akst, Oprah Winfrey, Wali Kota Los Angeles Tom Bradley, dan Anda akhirnya hanya bisa menelan malu dan mengumpat pada diri sendiri.

Begitulah yang terjadi dalam skandal Barry Minkow dan perusahaan pencucian karpetnya—ZZZ Best. Sebuah skandal yang kelak menginspirasi film berjudul Con Man (2018). Film ini dibintangi Barry sendiri dan buruknya minta ampun.

 

Sebuah Awal

Barry dalam wawancaranya dengan The Wall Street Journal mengaku tak terlalu suka sekolah. Ia lebih suka bekerja dan menghasilkan uang. Maka, pada 1982 saat usianya 16 tahun dan duduk di tahun akhir SMA, ia memulai usaha pencucian karpet yang kelak membawanya dalam ketenaran.

Meski di garasi rumahnya, Barry harus membayar sewa sebesar US$ 150 per bulan ke ayahnya—Robert Minkow yang menyatakan boleh dibayar ketika ZZZ Best telah berkembang. Barry menilai pernyataan ayahnya tersebut sebagai peremehan atas usahanya. Kelak, ia akan merekrut ayahnya sebagai salesman dan ibunya, Carol, sebagai Wakil Presiden Senior di perusahaannya untuk membuktikan kesuksesannya.

Pasar ZZZ Best awal adalah di sekitar tempat tinggal Barry, di San Fernando Valley, sebuah distrik kelas buruh di Los Angeles. Sebab belum bisa membuat surat izin mengemudi dan masih berbagi waktu dengan sekolah, ia mempekerjakan beberapa orang sebagai sopir dan pembersih karpet.

Barry benar-benar serius dengan usahanya. Ia menekan seluruh pegawainya untuk bekerja selama berjam-jam dan menghasilkan pelanggan baru. “Aku terobsesi,” katanya terkait dengan kegiatannya tersebut. Ia bahkan tak melanjutkan kuliah demi mengembangkan usahanya.

Scott Dear yang sempat bekerja sebagai pengawas di ZZZ Best selama lima bulan pada 1985, mengilustrasikan Barry sebagai sosok yang otoriter di tempat kerja. Salah satu kalimat yang paling ia ingat dari mulut Barry adalah “Anda mau mengikuti jalanku atau berada di jalan raya.”

Kalimat “jalan raya”, menurut Dear, adalah ancaman pemecatan. Artinya, pegawai yang tak mau mengikuti pola kerja Barry akan terlunta di jalan raya sebagai penganggur. “Barry sangat agresif. Sangat keras kepala,” kata Dear. Meski demikian, Dear mengenang Barry sebagai sosok yang sangat mengerti tentang lini usahanya.

Dalam masa awal ZZZ Best, Barry bertemu dengan Tom Padgett di sebuah gimnasium di San Fernando Valley. Padgett, seperti ditulis The Los Angeles Times, adalah lulusan kedokteran hewan asal Vietnam yang bekerja sebagai pengatur klaim untuk Allstate Insurance.

Padgett pegulat brilian, tapi kehilangan kemampuannya setelah terkena pukulan di mata dan penglihatannya menurun. Sementara, bekerja di Allstate tak membuat finansialnya berkembang. Saat mendengar ide bisnis Barry, ia tertarik. Terlebih Barry telah membelanya dari hinaan para pegulat lain.

Padgett mencairkan pinjaman US$ 4.500 untuk Barry. Ditambah sumbangan US$ 1.500 dari seorang pegulat lain, maka bertenggerlah sebuah vans berlogo ZZZ Best di depan garasi rumah orangtua Barry. Vans inilah yang nantinya berkeliling menawarkan jasa pencucian karpet seharga US$ 39,95 tanpa biaya tambahan.

Kongsi dengan Padgett membawa berkah bagi Barry. Padgett mengarahkan pekerjaan restorasi asuransi, seperti memperbaiki lantai rumah setelah kamar mandi kebanjiran, kepada ZZZ Best. Keleluasaan itu dimiliki Padgett sebagai penilai asuransi di Allstate.

Tak cuma itu, ketika Barry kesulitan membayar pinjaman dari bank, Padgett mengatur pencairan cek kosong atas nama Allstate untuk ZZZ Best. Sebuah tindakan yang kemudian terus dilakukan Padgett dan Barry dan menjadi pola penipuan dalam skandal ZZZ Best. Termasuk membuat kwitansi atas proyek restorasi fiktif untuk mendongkrak pemasukan yang berimplikasi pada valuasi ZZZ Best.

 

Masa Jaya

“Para perundung tak mampu lagi mengarahkan samsak pada mukanya (Barry). Kini ia (Barry) yang mengarahkan samsak ke muka mereka.”

Kalimat tersebut disampaikan salah seorang mantan pegawai ZZZ Best kepada The Wall Street Journal. Menjadi perumpamaan bagi kesuksesan Barry membawa ZZZ Best berjaya.

Agaknya, pegawai ZZZ Best itu pun tak berlebihan. Pada 1984, atau lebih kurang dua tahun setelah Barry memulai usahanya, ZZZ Best telah mengantongi pendapatan US$ 1,3 juta. Saat itu, ZZZ Best sudah memiliki 21 cabang di tiga negara bagian AS. Total karyawannya mencapai 1.200 orang.

Pada masa jaya inilah Barry mulai menarik perhatian media massa AS. Menggunakan setelan yang rapi, ia tampil talk show Oprah Winfrey. Dengan mantap ia menceritakan keberhasilannya membangun ZZZ Best dan impiannya terus menjadikan perusahaannya bernilai multimillion. Ia tak ingin kapiran di bidangnya.

Tak cuma itu, Barry bahkan menyatakan dengan bangga bahwa perusahaannya bersih dari narkoba. Ia mengklaim mengetes seluruh karyawannya dan memecat mereka yang terbukti menggunakan narkoba. Sebuah kampanye yang membuatnya kian dipuja, mengingat saat itu pemerintah AS sedang gencar memberantas narkoba.

“Perusahaanku selalu bersih, apakah kalian sudah?” Kata Barry.

Kampanye itu, nantinya akan menjadi ironi tersendiri. Mengingat, kepolisian AS akan menyelidiki kemungkinan pencucian uang hasil transaksi kriminal termasuk narkoba di ZZZ Best. Salah satu dugaan yang kian memberatkan Barry di akhir masa jayanya.

Ketenaran Barry saat itu, seperti tertulis dalam laporan The Los Angeles Times, membuat Jack Polevoi sangat mengagumi sosoknya. Jack yang sebetulnya sudah memiliki usaha mapan dan tak membutuhkan tambahan uang, rela bekerja di ZZZ Best.

“Barry adalah kebanggaan komunitas kami. Aku menceritakannya pada kawan-kawanku. Dia adalah bintang. Banyak orang bertanya padaku, ‘hei, bagaimana rasanya menjadi kawan Barry?” Kata Jack.

Tak tanggung-tanggung, Jack bahkan rela berpura-pura menjadi pelayan saat Barry mengencani seorang gadis dan membawanya ke rumah megahnya. Jack yang tak tahu cara menata sendok dengan rapi seperti halnya di meja para aristokrat, kemudian mengajak istrinya menjalankan peran tersebut. Akting itu berhasil dan gebetan Barry terkesima.

Pada Januari 1996, ZZZ Best menjadi perusahaan publik dan melantai di bursa setelah mengakuisisi Morningstar Investment, Inc, sebagaimana diberitakan The New York Times saat itu. Morningstar adalah perusahaan cangkang yang berbasis di Utah.

Sebelas bulan kemudian, ZZZ Best melakukan penawaran umum satu juta unit yang terdiri dari tiga saham biasa dan masing-masing satu waran. Dalam pernyataan penawaran, ZZZ Best mengumumkan penghasilan utamanya tak lagi membersihkan karpet, melainkan 86% pendapatan berasal dari kegiatan restorasi asuransi.

Penawaran tersebut ludes terjual. ZZZ Best mengantongi US$ 13 juta. Valuasinya pun mencapai US$ 200 juta pada titik tertinggi. Impian Barry jadi bos perusahaan bernilai multimillion terwujud di usia 20 tahun. Bahkan mungkin belum bisa disamai remaja seusianya sampai saat ini.

 

Babak Akhir Barry Minkow   

Wartawan dan media massa yang melambungkan nama Barry. Mereka pula yang menjungkalkannya. Pada 22 Mei 1987, The Los Angeles Times menerbitkan reportase tentang penggunaan nomor kartu kredit pelanggan oleh ZZZ Best untuk meningkatkan biaya setidaknya US$ 72.000.

Praktik tersebut terjadi dalam rentang 1984-1985. Namun, Barry menyatakan kejadian itu lantaran kelalaian karyawannya yang telah tertangkap dan dipecat. Ia pun menyebut hal itu karena perusahaannya menggunakan sub-kontraktor yang mencoba ambil untung lebih. Ia menegaskan tak lagi menggunakan sub-kontraktor untuk setiap proyek setelah rentang tahun itu.

Namun, kasus-kasus lain mulai terbongkar setelahnya. Salah satunya kasus pembengkakan biaya dan proyek fiktif di sebuah toko bunga di Canoga Park, California. Angkanya mencapai US$ 91 ribu.

Proyek fiktif lain adalah restorasi asuransi gedung delapan lantai di Arroyo Grande, California. Proyek ini bernilai US$ 2,3 juta yang ditangani bersama ZZZ Best dan B&M Insurance. Nyatanya, menurut pejabat setempat, tak ada gedung lebih dari tiga lantai di kawasan tersebut.

Dari proyek ini pula terungkap bahwa B&M Insurance adalah milik Robert Victor yang punya nama lain Robert Viggiano. Biro Investigasi Federal New York, melalui juru bicaranya bernama Joseph Valiquette, pernah terlibat tuduhan menjadi lintah darat pada Desember 1968.

ZZZ Best juga terbukti memalsukan proyek restorasi senilai US$ 7 juta di Sacramento, California. Lalu, proyek restorasi senilai US$ 2,8 juta di San Diego. Dalam proyek San Diego ini, ZZZ Best mengklaim bekerja sama dengan Travelers Corp yang merupakan perusahaan milik Tom Padgett. Perusahaan tersebut dibikin oleh Barry usai Padgett dipecat dari Allstate Insurance karena terbukti curang.

Sebagian besar pekerjaan ZZZ Best juga berasal dari Interstate Assurance. Perusahaan asuransi ini juga milik Padgett yang berbasis di Van Nuys, California. Departemen Asuransi California menyatakan perusahaan Padgett tak berlisensi.

 Lembaga auditor independen bernama Ernst & Whinney yang semula menyatakan ZZZ Best adalah perusahaan sehat, kemudian menyatakan terdapat banyak transaksi fiktif. Pada Juni 1987, auditor ini mengundurkan diri dan melaporkannya pada Security Exchange Commission (SEC). Penyelidikan lebih lanjut atas ZZZ Best dilakukan setelahnya dan bukti-bukti antara lain seperti disebutkan sebelumnya terungkap.

Saham ZZZ Best jatuh. Pada 15 Juni 1987, 1,5 juta saham ZZZ Best di tangan publik terjual dalam waktu singkat. Harga saham terjun dari US$ 18 ribu menjadi US$ 1. Pada Juli, saham perusahaan ini hanya bernilai sen dan lebih dari 5 juta di tangan publik terjual.

The Wall Street Journal mencatat para investor ZZZ Best merugi dari ratusan ribu sampai jutaan dolar. Bahkan, ada salah satu yang tak disebutkan namanya merugi hingga US$ 7 juta. Leonard Weinstein, seorang investor dari Miami yang merugi ratusan ribu dolar menyatakan, “saya akan bunuh diri jika termasuk pemegang saham besar.”

Barry berakhir masuk bui selama 25 tahun. Ia terbukti melanggar 57 dakwaan yang merugikan investor dan kreditur senilai US$ 100 juta. Sungguh perbuatan yang tak layak diteladani remaja manapun di dunia ini. 

 

________________________________________________

Tulisan ini adalah bagian dari serial #SkandalEkonomi dan akan terbit setiap akhir pekan. 

Semua orang berhak mendapatkan akses informasi keuangan. Kami bertujuan untuk terus menyampaikan informasi tanpa adanya potensi konflik kepentingan. Menganalisa sebuah isu agar mudah dipahami dan mengapa hal tersebut penting. Kontribusi dari kamu memastikan kami untuk tetap independen serta terus memproduksi konten secara inklusif. Jika kamu suka dengan tulisan ini, kamu bisa traktir kami satu gelas kopi yang biasa kamu beli.

Bisnis