Tips Detoks Finansial di Masa Pandemi

[Waktu baca: 4 menit]

Detoksifikasi atau detoks biasa dikenal sebagai upaya untuk membersihkan sesuatu dari racun. Detoks dikenal di bidang kesehatan untuk membersihkan tubuh dari racun.

Dalam konteks tersebut, detoks bertujuan untuk membuat badan menjadi lebih sehat. Dengan badan yang sehat, kualitas hidup juga dapat meningkat.

Detoks juga dapat diterapkan dalam aspek finansial. Detoks finansial adalah upaya untuk menghentikan pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting atau tidak mendesak supaya memiliki kesehatan keuangan yang baik.

Strategi detoks finansial finansial itu bermanfaat ketika kita hendak memperbaiki kesehatan keuangan atau menghadapi tantangan dalam situasi yang tidak diinginkan seperti ketika pandemi corona menyerang seperti saat ini.

Dalam situasi pandemi seperti ini, tidak sedikit dari kita yang terdampak secara finansial. Diberhentikan dari pekerjaan, dirumahkan, dipotong gajinya atau berkurang penghasilan bisnisnya adalah sebagian situasi yang dialami oleh para pekerja.

Berikut ini sejumlah tips sederhana untuk melakukan detoks finansial sebagai bagian dari upaya memperbaiki kesehatan keuangan:

1. Evaluasi Pengeluaran

Evaluasi pengeluaraan adalah sebuah proses meninjau ulang apa saja pengeluaran dalam kurun beberapa bulan terakhir. Peninjauan ulang itu perlu dilakukan untuk memilah setiap pengeluaran untuk dipilih lagi sesuai prioritas.

Dalam proses itu, kita bisa menentukan pengeluaran apa saja yang perlu dilanjutkan dan pengeluaran apa saja yang tidak perlu dilanjutkan atau dihentikan. Tentu saja, proses evaluasi itu pasti berbeda-beda untuk setiap orang yang memiliki jumlah penghasilan yang bervariasi. 

Sebagai contoh, seseorang memiliki kebiasaan membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan atau tidak mendesak melalui marketplace. Karena kebiasaan itu, orang tersebut tidak memiliki uang untuk ditabung atau diinvestasikan.

Dalam proses evaluasi itu, orang tersebut perlu memutuskan untuk menghentikan kebiasaan tersebut supaya memiliki ruang untuk menabung lebih banyak. Evaluasi penting dilakukan untuk mengidentifikasi setiap pengeluaran yang bisa diubah menjadi simpanan atau investasi.

2. Rencanakan Pengeluaran

Setelah mengevaluasi pola pengeluaran lama, kita bisa merencanakan pola pengeluaran baru. Rencana ini dibuat berdasarkan evaluasi dari pola pengeluaran lama tersebut.

Perencanaan itu bisa dibuat untuk keperluan pengeluaran di bulan berikutnya. Dengan demikian, ketika kita menerima penghasilan atau gaji, kita bisa mengalokasikan penghasilan itu untuk pengeluaran yang lebih baik.

Perencanaan pengeluaran bisa diawali dari alokasi untuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan. Setelah itu, kita bisa menyusun rencana untuk pengeluaran lainnya seperti membayar utang, menabung dan sebagainya.

Kita bisa menerapkan cara pandang berdasarkan tujuan (goal-based mindset) dalam menentukan perencanaan ini. Misalnya, pengeluaran sekian Rupiah untuk tujuan X. Dengan demikian, setiap pengeluaran menjadi terukur kegunaannya.

3. Eksekusi

Setelah perencanaan dibuat, kita bisa membuat keputusan pengeluaran berdasarkan perencanaan tersebut. Tentu saja, rencana itu memiliki ruang untuk direvisi apabila kita harus mengeluarkan pengeluaran untuk sesuatu yang mendesak.

Misalnya, ada peristiwa tidak terduga yang terjadi seperti ban kendaraan bocor sehingga harus menambal/mengganti ban, lampu rumah mati sehingga harus membeli lampu baru atau sepatu jebol sehingga harus membeli sepatu baru.

Oleh karena itu, dalam membuat perencanaan anggaran, kita bisa memberikan ruang bagi anggaran untuk kebutuhan yang tidak terduga. Setiap eksekusi berdasarkan perencanaan memiliki kepuasan tersendiri.

4. Minta Pertolongan

Apabila kita tidak bisa melakukan evaluasi atau perencanaan pengeluaran itu sendirian, kita bisa meminta pertolongan dari kerabat/teman/keluarga/pasangan/ahli yang kita percaya dan memiliki kapasitas untuk membantu.

Benar, tidak mudah untuk memulai percakapan mengenai keuangan pribadi. Namun, tidak mencari solusi atas sebuah tantangan keuangan juga tidak disarankan. Oleh karena itu, kita bisa mulai mencari orang yang kita percaya untuk membahas keuangan.

Orang lain bukan hanya bisa memberikan saran atau masukan namun juga mengontrol pengeluaran kita. Dengan adanya kontrol dari pihak luar, kita tidak bisa "sewenang-wenang" mengeluarkan uang yang kita miliki. Tentu saja, tujuannya untuk memperbaiki kesehatan keuangan menjadi lebih baik. Tulisan lain tentang tips keuangan bisa diakses di sini.

 

 

Apabila Anda berencana untuk berinvestasi saham, Big Alpha telah menyusun sebuah e-book kuartalan yang berisi 15 saham pilihan. Klik di sini untuk melakukan pemesanan.

 

Related Posts

Indonesia Menuju Resesi?

Leave a Comment

You need to sign in before leave a comment. Fields marked with an * are required.

Sign in

Subscribe To Big Alpha

Subscribe now and get exclusive news, advisory and more.