Tarik Tambang Versi Unilever

Fauzan Ahmad

Lemahnya daya beli masyarakat akibat pagebluk Covid-19 adalah masalah besar yang menghambat mayoritas perusahaan barang konsumen. Namun, bukan berarti pemulihan daya beli yang mulai tampak sejak awal tahun ini akan serta merta menggaransi terdongkraknya rapor perusahaan-perusahaan tersebut.

PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) adalah contoh kasus paling menyita perhatian. Sepanjang semester I/2021, di tengah membaiknya daya beli konsumen di Indonesia, entitas anak Unilever Plc ini justru membukukan pelemahan kinerja.

Mentok pada kisaran Rp3,04 triliun, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk UNVR amblas 15,7 persen secara year on year (yoy) dari catatan Rp3,61 triliun.

Ini merupakan kali kedua beruntun perusahaan membukukan kontraksi laba paruh tahun. Dan, bila kondisi tak banyak berubah sampai pengujung kalender, bukan mustahil UNVR akan mengulang kemerosotan kinerja tahunan yang mereka alami pada 2020.

Sebagai persediaan barang konsumer, sebelum pandemi UNVR punya reputasi mentereng dibandingkan para kompetitor seperti PT Mayora Indah Tbk. (MYOR) dan PT Garudafood Tbk. (GOOD). Satu faktor penyebabnya adalah kinerja segmen non makanan. Segmen ini menjadi nilai tambah Unilever di tengah persaingan memperebutkan pangsa pasar dalam negeri.

Tak heran bila pada masa pra pandemi, UNVR membukukan pertumbuhan bisnis secara konsisten mengingat margin laba bisnis non makanan mereka (di atas 50 persen) acap kali lebih tinggi ketimbang margin laba penjualan segmen makanan yang berkisar 39-45 persen.

Namun ironisnya, pada tahun ini, nilai tambah itu justru berpotensi besar menjadi bumerang. Sebab bila dipetakan, tampak jelas bahwa penurunan kinerja UNVR sepanjang semester I/2021 justru banyak dipicu oleh lesunya segmen tersebut.

Total sepanjang Januari-Juni 2021, segmen nonmakanan hanya mampu menyumbang pemasukan Rp13,48 triliun. Angka ini menyusut 10,7 persen dibandingkan realisasi pemasukan segmen yang sama pada semester I/2020, yang berkisar Rp15,1 triliun. Catatan pada paruh pertama tahun ini juga baru setara 44,97 persen ketimbang realisasi kinerja segmen nonmakanan sepanjang tahun lalu.

Situasi makin menyudutkan karena di saat bersamaan, kenaikan harga komoditas juga berpengaruh terhadap pelemahan margin laba perusahaan di segmen non makanan.

Sebagai emiten barang konsumer, margin laba UNVR memang sangat bergantung pada tren harga minyak mentah dan minyak sawit. Terutama untuk produk-produk seperti sabun, shampoo dan deterjen. 

Dampak harga bahan baku terhadap profitabilitas perusahaan juga sempat diakui Presiden Direktur UNVR Ira Novianti.

“Kondisi [penurunan laba] juga ditambah dengan harga komoditas yang mulai mempengaruhi biaya produk,” kata Ira saat merilis laporan keuangan terakhir perusahaan, pengujung bulan lalu.

Menurut hitung kami, segmen nonmakanan UNVR sepanjang tahun berjalan membukukan margin laba kotor 54,04 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan margin laba kotor segmen nonmakanan sepanjang tahun 2020 (56,06 persen), apalagi dibandingkan catatan year on year (56,77 persen).

Margin laba segmen non makanan tersebut juga merupakan yang terendah dalam rekam jejak (tahunan) perusahaan selama 4 tahun terakhir. Ini juga merupakan kali pertama UNVR merasakan penyusutan laba segmen nonmakanan sejak 2018.

Rapor jeblok itulah yang seakan mengeliminir perbaikan kinerja segmen makanan dan minuman UNVR, yang sebenarnya mulai diuntungkan oleh pemulihan daya beli konsumen sepanjang semester I/2021.

Per Juni 2021, segmen makanan dan minuman UNVR membukukan penguatan margin hingga 5,1 persen. Imbasnya, perusahaan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bruto segmen makanan dan minuman 13,42 persen kendati secara pendapatan rapor perusahaan cuma naik 0,32 persen.

Sebenarnya, masalah harga bahan baku yang naik dan berimbas terhadap kinerja sebagian segmen bukan perkara baru. Tahun lalu, harga komoditas terutama minyak sawit yang juga tak kalah melambung juga sempat memusingkan perusahaan.

Hanya saja, efek negatifnya masih mampu terminimalisir lantaran pada 2020 UNVR—terutama pada semester kedua—UNVR menaikkan harga sejumlah barang-barang hasil produksinya. Khususnya produk-produk non makanan yang ditaksir mengalami kenaikan harga rata-rata 2 persen.

“Kenaikan marjin kotor [segmen non makanan 2020] disebabkan oleh kenaikan harga produk dan efisiensi dalam pengelolaan biaya seperti pembelian material dalam kondisi harga terbaik serta efisiensi biaya produksi di pabrik,” papar Direktur Keuangan Arif Hudaya dalam salah satu paparan publik akhir tahun lalu. 

Kini dengan potensi margin tergerus lagi seiring masih tingginya harga minyak dan CPO, pertanyaan pun muncul. Di Akankah Unilever menaikkan lagi harga jual produknya guna membukukan pertumbuhan laba di akhir tahun?

Bila berkaca dari kebijakan entitas induk UNVR, yakni Unilever Plc, hal tersebut masih mungkin terjadi.

Seperti diwartakan Bloomberg belum lama ini, Chief Financial Officer Unilever Plc Global, Graeme Pitkethly mengatakan bahwa Unilever telah memang menaikkan harga produk lebih cepat di beberapa wilayah seperti Brazil, India dan Amerika Serikat. Ada beberapa faktor pemicu. Mulai dari kenaikan beban rantai pasok, hingga masalah harga komoditas sebagaimana yang terjadi di Indonesia.

Dan sebagaimana di Indonesia pula, secara global ancaman margin terhadap Unilever cenderung menyerang produk-produk non makanan seperti shampoo, sabun dan deterjen.

“Sebenarnya kondisi seperti ini bukan hal yang sulit dihadapi Unilever, hanya saja kami perlu waktu,” kata Pitkethly

Namun, Pitkethly menambahkan bahwa Grup Unilever akan cenderung berhati-hati dan menahan langkah kebijakan menaikkan harga di beberapa negara krusial. Dia mencontohkan Perancis dan Jerman sebagai kasus di mana Unilever akan cenderung berhati-hati.

Pitkethly tak menyebut secara spesifik apakah Indonesia masuk dalam daftar krusial tersebut. Namun, bila melihat pernyataan-pernyataan manajemen Unilever Indonesia baru-baru ini, agaknya sikap kehati-hatian juga bakal diterapkan di negeri ini.

Dalam paparan usai rilis laporan keuangan, perusahaan memaparkan sejumlah strategi untuk membenahi kinerja pada paruh kedua tahun ini. Dan, di dalamnya tak ada penekanan spesifik soal rencana menaikkan harga.

Namun, bukan berarti manajemen tidak punya trik. Untuk mengakali tekanan margin, UNVR berencana merilis lini produk-produk dengan varian premium. Bakal dibanderol dengan harga lebih mahal dan margin lebih tinggi, produk-produk inilah yang diharapkan bisa menguatkan margin laba perseroan pada segmen nonmakanan.

“Perseroan memiliki strategi menyeimbangkan keberlangsungan bisnis jangka pendek dan jangka panjang. Keduanya sama penting dan kami manifestasikan dalam lima strategi perusahaan,” kata Presdir Ira. 

Selain lini produk premium, Unilever berencana melakukan efisiensi dengan penambahan inovasi saluran, peningkatan adaptasi teknologi dalam penjualan dan operasional, serta tetap mendorong aspek keberlanjutan lingkungan.

Siasat-siasat tersebut diharapkan bisa mendorong masyarakat mengadaptasi pertumbuhan perilaku konsumen, yang merupakan prioritas pertama dari lima strategi UNVR.

Di satu sisi, keputusan untuk tak memasukkan penyesuaian harga sebagai strategi prioritas di Indonesia memang bisa dimaklumi. Pasalnya, ekonomi Indonesia memang masih dibayang-bayangi ketidakpastian.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia pada Juli terakhir menempatkan konsumen pada indeks angka 80,2. Indeks ini merupakan survei ilmiah yang menggambarkan optimisme konsumen dalam membelanjakan uangnya. Dan, angka indeks di bawah 100 menandakan bahwa masyarakat masih dalam fase pesimistis. 

Namun, menjadikan perubahan perilaku konsumen sebagai target jangka panjang perusahaan juga bukanlah perkara mudah.

Survei terakhir yang dilakukan McKinsey terhadap konsumen Indonesia pada akhir tahun lalu menampakkan adanya tren pergeseran kebiasaan belanja. Masyarakat cenderung mulai berhemat dalam mengeluarkan biaya kebutuhan sehari-hari.

Hasilnya konsumen di Indonesia mengadopsi budaya baru untuk berhemat, mereka cenderung membeli produk-produk dengan merek yang lebih murah. 9 dari 10 orang Indonesia telah melakukan hal ini, dan berencana melanjutkan sampai Covid-19 berlalu.   

Kondisi tersebut jelas bukan pertanda bagus bagi Unilever Indonesia, yang terkenal memiliki produk cenderung lebih mahal bila dibandingkan kompetitor macam Grup Wings.

UNVR bukannya tidak punya peluang untuk memenangkan pertarungan “tarik tambang” dengan tren berhemat tersebut. Pasalnya studi McKinsey juga menekankan bahwa produk kebutuhan rumah, yang merupakan penopang utama kinerja UNVR (non makanan), semakin jadi kebutuhan prioritas.

Pandemi diproyeksi menaikkan kesadaran belanja masyarakat terhadap produk konsumer rumahan sekitar 19 persen. Angka ini bahkan diproyeksi melebihi kesadaran terhadap belanja produk-produk snack yang cuma naik 7 persen, serta cuma kalah kenaikannya dari kesadaran belanja produk bahan pokok (+45 persen), perkakas rumah (36 persen) dan hiburan (21 persen). 

Di tengah desakan dan harapan tersebut, patut dinanti bagaimana kelanjutan upaya Unilever Indonesia membenahi rapornya sampai akhir tahun

Bisnis