Bisnis

Mossack Fonseca dalam Pusaran Perang Suriah (Bagian Pertama)

Abed Al-Khalaf pergi melarikan diri dari Suriah pada tahun 2015, dia terpaksa meninggalkan istri dan tujuh anaknya. Abed adalah satu dari jutaan korban lain ihwal konflik Suriah yang belum juga berhenti hingga saat ini.

“Situasinya seperti di neraka, lebih dari itu, lebih dari yang Anda bisa bayangkan,” kata Abed kepada BBC, pada September 2020 lalu, ketika mengenang kembali masa-masa ia berada di tengah perang yang berlangsung sejak 2011 itu.

Abed kini sudah berada di Inggris dan bisa berkumpul lagi dengan keluarganya. Namun, sebelum itu terjadi, ia mesti menempuh perjalanan sejauh 3.000 mil melewati sejumlah negara seperti Hungaria, Austria, Jerman, dan Prancis dalam kondisi buruk. Ia sendirian, tanpa uang, dan trauma perang yang menjelma mimpi buruk setiap malam.

Abed bukan satu-satunya kisah heroik pengungsi Suriah yang berupaya kabur dari negaranya, kisah serupa juga dapat Anda temukan dengan memasukkan kata kunci “Syrian refugees’ story” di situs penjelajah. 

UNHCR mencatat 6,8 juta orang Suriah menjadi pengungsi dan pencari suaka. Mereka kabur dari Suriah secara bergelombang sejak 2011 sampai saat ini akibat konflik antara rezim Bashar al-Assad dan sekelompok organisasi islam seperti ISIS.

Sulit untuk mencari siapa yang salah dan lebih baik dalam perang Suriah. Vox menjelaskan ada banyak pihak yang mencoba menguasai tanah Syam. Mereka bahkan tak tahu apa yang diperjuangkan dan dengan siapa mereka berperang. 

Mulai dari Jabhat al-Nusra hingga kelahiran ISIS, tangisan di Suriah tak pernah berhenti. Ketika Rezim Assad berupaya menggunakan kekuatan militer dengan menggunakan senjata kimia pada akhir Maret 2017, ISIS membalasnya dengan serangan roket.

Selayaknya hukum rimba, satu peluru dibalas peluru lain. Satu gedung hancur, dibalas dengan menghancurkan gedung lainnya. Menjadikan Suriah sebagai arena pertarungan yang tak pernah selesai.  

Imbasnya, warga sipil lah yang paling banyak menjadi korban. UNHCR memperkirakan lebih dari setengah juta orang meninggal selama perang Suriah. Jumlah ini akan terus bertambah seiring perang yang belum selesai.

Beribu kilometer dari Suriah, sebuah perusahaan firma hukum bermana Mossack Fonseca (Mossfon) yang berbasis di Panama diam-diam terlibat membantu rezim Assad memanaskan perang saudara. Mossfon mengatur pendirian perusahaan offshore dan cangkang milik kroni Assad di pelbagai negara surga pajak yang berhasil melampaui sanksi PBB dan embargo ekonomi negara Barat.

Hubungan Mossfon dan kroni Assad menjadi bagian dalam skandal keuangan The Panama Papers. The Panama Papers berisi 11,5 juta dokumen finansial rahasia milik Mossfon yang bocor pada 2015 lalu. Pembocor dokumen seorang anonim yang menyebut dirinya John Doe.

Frederik Obermaier dan Bastian Obermeyer adalah duo jurnalis dari koran Jerman Süddeutsche Zeitung (SZ) yang menerima dokumen tersebut. Bersama International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ) dan ratusan media massa dunia lain, mereka menelusuri keabsahannya.

Hasil penelusuran Frederik dan Bastian terpublikasi sebagai rangkaian laporan jurnalistik di SZ dan buku berjudul The Panama Papers: Breaking The Story of How The Rich & Powerful Hide Their Money. Keduanya menjadi rujukan utama artikel ini.

 

Mossfon dan Keluarga Assad 

“Makhlouf adalah pencuri!”

Teriakan tersebut mewarnai demonstrasi anti Assad pada 2011, selain pembakaran foto Assad. Demonstrasi inilah yang menjadi titik permulaan perang saudara di Suriah. Makhlouf yang dimaksud adalah Rami Makhlouf, sepupu dan teman bermain saat Assad kecil.

The New York Times, menyebut Makhlouf sebagai simbol peralihan dari kroni ekonomi sosialisme menjadi kroni kapitalisme di Suriah. Membuat yang kaya makin kaya, dan yang miskin makin sengsara. Ia bahkan disebut sebagai orang terkaya di Suriah sebab mendapat keistimewaan berbisnis dari rezim Assad. 

Salah satu sumber kekayaan Makhlouf adalah Syriatel, sebuah perusahaan telekomunikasi yang menjalankan jaringan telepon di seluruh Suriah. Demonstran anti-Assad membakar dan menghancurkan gedung kantor milik Syriatel di Damaskus dan wilayah lain sebagai simbol penolakan pada rezim dan kroninya.

Namun, yang luput dari pengetahuan para demonstran dan warga Suriah lain, Makhlouf memiliki perusahaan luar negeri yang terdaftar di British Virgin Island dan Panama. Hal inilah yang terungkap dari penelusuran Frederik dan Bastian atas dokumen The Panama Papers.

Duo jurnalis itu menemukan nama Makhlouf sebagai pemilik Ramak Ltd. yang berdiri pada 1996 dan berbasis di British Virgin Island. Saat mendirikan perusahaan itu, Makhlouf baru berusia pertengahan dua puluhan. Berada di lingkaran erat rezim Assad, ia dengan mudah mendulang uang untuk memodali pendirian perusahaan itu.

Makhlouf tercatat sebagai klien Mossfon sejak 1998. Ia memakai jasa firma hukum tersebut untuk mendirikan perusahaan cangkangnya. Saat Amerika Serikat (AS) memberi sanksi larangan berbisnis dengan Makhlouf lantaran dianggap terlibat dalam korupsi rezim Assad pada 2008, Mossfon tetap menjadikannya klien.

Padahal, Ramak Ltd juga memiliki kantor cabang di Las Vegas. Semestinya Mossfon memahami risiko hukum dari memfasilitasi bisnis Ramak Ltd. Namun, Jurgen Mossack dan Ramon Fonseca sebagai pemilik Mossfon seperti tak melihat risiko tersebut.

Seperti dikatakan Frederik dan Bastian dalam bukunya, “fungsi perusahaan cangkang adalah mengalirkan uang ke pemiliknya tanpa memunculkan nama mereka dan jasa itulah yang diberikan Mossfon.” Sampai 2011, Makhlouf masih tercatat sebagai klien Mossfon dalam dokumen The Panama Papers.  

Perusahaan lain milik Makhlouf yang tercatat pendiriannya menggunakan jasa Mossfon, adalah  Polter Investment yang berbasis di British Virgin Island. Dalam dokumen Mossfon, tercatat Makhlouf memiliki 70% saham perusahaan tersebut.

Tak ketinggalan dalam daftar perusahaan milik Makhlouf adalah Drex Technologies. US Department of Treasury pada 2012 menyebut perusahaan ini digunakan Makhlouf memfasilitasi dan mengelola holding keuangan internasionalnya. Drex berdiri pada 4 Juli 2000 dan berbasis di British Virgin Island. 

Operasi perusahaan cangkang milik Makhlouf berhasil melampaui sanksi AS. Uang terus mengalir ke kantong Makhlouf dan pada akhirnya ke tangan Assad sebagai eksekutor. Uang tersebut, seperti dikutip dari SZ, antara lain untuk memasok senjata bagi milisi pendukung Assad: Shabiha; membuat gas beracun; dan mengoperasikan fasilitas penyiksaan bagi kelompok anti rezim.

Penelusuran Frederik dan Bastian pun menemukan hubungan Mossfon dengan tiga saudara kandung Makhlouf, yakni: Hafez Makhlouf, Iyad Makhlouf, dan Ihab Makhlouf. 

Hafez adalah brigadir dan komandan wilayah dari Dinas Intelijen Suriah. Ia tercatat bertanggung jawab atas pembuatan fasilitas penyiksaan di Damaskus dan serangan gas beracun di Ghuta pada 2013 yang menewaskan ratusan warga Suriah. Dalam The Panama Papers, ia tercatat sebagai pemilik Eagle Trading & Contracting Ltd.

Lalu, Iyad tercatat sebagai kapten tentara Suriah dan perwira dinas rahasia yang terlibat dalam serangan kepada warga sipil. Sementara Ihab adalah wakil presiden Syriatel yang diduga mendanai aktivitas rezim sebelum dan selama perang Suriah. Mereka bertiga mendapat sanksi dari Uni Eropa pada 2011 dan tercatat memiliki perusahaan yang dikelola dan didirikan Mossfon. Setidaknya seluruh perusahaan tersebut aktif Sampai 2012.

 

Koneksi dengan Penopang Lain Rezim Assad

Perang Suriah yang berkecamuk sejak 2011, tak banyak mempengaruhi keuangan Sulaiman Marouf. Ia adalah sahabat Bashar al-Assad yang bermukim di London. Media Inggris, seperti The Guardian, menyebutnya sebagai Assad London fixer. Ia memang mengalirkan hasil bisnisnya untuk kepentingan rezim Assad.

Pada 2012, saat Uni Eropa memasukkannya dalam daftar sanksi, Sulaiman masih bisa membelikan Asma, istri Assad, vas keramik mewah Ming dan barang Armani. Hal ini seperti terungkap dalam serangkaian email yang dibocorkan WikiLeaks.

Melansir The Guardian, berbekal perusahaan offshore Sulaiman mengakuisisi banyak properti di London. Beberapa di antaranya: flat mewah tepi sungai senilai 1 juta pound di St George Wharf dan apartemen di gedung Albion Riverside yang dirancang Norman Foster senilai 1,2 juta pound.

Seluruh aset tersebut sempat dibekukan saat Uni Eropa memberi sanksi pada Sulaiman. Namun, pada 2014 aset tersebut kembali cair setelah Kantor Luar Negeri Inggris mengeluarkannya dari daftar sanksi lantaran kurangnya bukti di pengadilan.

Kiatan Mossfon dengan Sulaiman dalam pendirian dan pengelolaan belasan perusahaan cangkang di British Virgin Island. Salah satunya Regent Court Investment Limited yang baru berdiri pada 2014. Perusahaan ini, seperti dilansir dari The Guardian, mengakuisisi sebuah flat di St Johns Wood senilai 500 ribu pound pada November 2014.

Sebetulnya, pemerintah Inggris melegalkan pembuatan perusahaan offshore memiliki properti. Bagi penduduk non-Inggris pun bebas pajak penghasilan dan bea materai sampai saat ini. Sebuah aturan yang menguntungkan orang macam Sulaiman dan rezim Assad.

Masalah yang muncul dari praktek pembuatan perusahaan offshore, adalah kerap kali tujuannya untuk mencuci uang ilegal dan menghindari pajak di negara asal. Dalam kasus Mossfon yang memfasilitasi praktik pendirian perusahaan cangkang milik kroni Assad, adalah menghindari sanksi ekonomi dan memastikan kebutuhan perang tetap aman mengalir ke Suriah.

Suplai tersebut termasuk dalam bentuk minyak yang berfungsi menggerakkan mesin-mesin perang rezim Assad. Adalah Maxima Middle East Trading yang melakukannya. Pada Januari 2013, Mossfon membantu perusahaan tersebut membuka rekening di Syria International Islamic Bank, seperti dilansir SZ.

Dalam penelusuran jurnalis SZ, terungkap bahwa Maxima mengoperasikan kantornya di wilayah perdagangan bebas Sharjah, di Uni Emirat Arab. Wilayah ini menjadi inti jalur perdagangan kompleks pasokan minyak ke Suriah dengan kertas palsu. Pada 2014, AS memberi sanksi pada perusahaan ini.

Mossfon, seperti halnya tertuduh lain dalam setiap dokumen yang bocor ke tangan jurnalis, pun membantah memfasilitasi bisnis kroni Assad. Misalnya pada 2015 lalu, perusahaan ini menyatakan pada harian Swiss Tagesanzeiger terkait koneksi dengan Makhlouf bahwa, “Mossack Fonseca tak tahu Tuan Makhlouf adalah kerabat Assad yang secara tidak langsung menggunakan dan menyalahgunakan jasa kami.”

Apapun alasannya, The Panama Papers telah membuktikan mereka memfasilitasi berjalannya bisnis rezim Assad di luar negeri yang berkelindan dengan kekuatan mereka dalam perang Suriah. Pada 2017, pemerintah Panama pun menjebloskan dua pendiri Mossfon ke penjara atas tuduhan memfasilitasi pencucian uang di sejumlah negara.

 

________________________________________________

Tulisan ini adalah bagian dari serial #SkandalEkonomi dan akan terbit setiap akhir pekan. 

Semua orang berhak mendapatkan akses informasi keuangan. Kami bertujuan untuk terus menyampaikan informasi tanpa adanya potensi konflik kepentingan. Menganalisa sebuah isu agar mudah dipahami dan mengapa hal tersebut penting. Kontribusi dari kamu memastikan kami untuk tetap independen serta terus memproduksi konten secara inklusif. Jika kamu suka dengan tulisan ini, kamu bisa traktir kami satu gelas kopi yang biasa kamu beli.

Related articles

Others You Might Like

Leave a Comment

You need to login before leave a comment.

Login