Strategi FREN Keluar Dari Jerat Kerugian Menahun

Berkah Rio

Sepanjang tahun ini, PT Smartfren Telecom Tbk. (FREN) menjadi buah bibir karena pergerakan sahamnya yang progresif. Performa bagus tersebut tak lepas dari kinerja keuangan yang terus membaik, setidaknya dalam tiga tahun terakhir. 

Selama satu dekade terakhir, pendapatan emiten berkode saham FREN ini sejatinya terus meningkat dari tahun ke tahun, tetapi tak pernah luput dari jerat kerugian.

Kerugian emiten ini bahkan cenderung terus meningkat dan mencapai level tertinggi pada 2018 dengan total kerugian mencapai Rp3,55 triliun. Namun, setelahnya tingkat kerugian perseroan berkurang, tercermin pada paruh pertama tahun ini.

Artinya, ada harapan bahwa emiten ini bakal segera menuju era pencapaian laba. Tinggal sekarang, seberapa besar potensi bagi terwujudnya harapan itu.

 

Mengenal FREN

Berdasarkan informasi di website resminya, FREN memperkenalkan diri sebagai salah satu perusahaan penyedia layanan telekomunikasi di Indonesia. Emiten ini merupakan bagian dari keluarga besar Grup Sinarmas.

Dalam beberapa tahun terakhir, emiten ini telah melalui sejumlah milestone yang bakal membuka potensi besar bagi bisnisnya secara jangka panjang.

Pada tahun 2015, Smartfren berinovasi dengan meluncurkan layanan 4G LTE Advanced komersial pertama di Indonesia. Selanjutnya, pada awal 2016, Smartfren kembali mencetak sejarah sebagai perusahaan telekomunikasi pertama di Indonesia yang menyediakan layanan Voice over LTE (VoLTE) secara komersial.

Pada tahun 2017, Smartfren mengukuhkan posisinya sebagai penyedia layanan operator 4G terdepan melalui migrasi pelanggan CDMA menjadi pelanggan 4G. Dengan demikian, perusahaan ini kini merupakan satu-satunya operator yang beroperasi di jaringan 4G sepenuhnya.

Dengan wilayah cakupan jaringan yang luas, melalui sekitar 15.000 BTS 4G yang tersebar di 200 kota di seluruh Indonesia, Smartfren telah didaulat menjadi official telco partner untuk sejumlah brand smartphone global ternama.

Smartfren menyediakan layanan data yang fleksibel melalui pilihan paket data yang bervariasi, dan melalui smartphone Andromax dan MiFi modem. Perseroan menawarkan beragam produk serta layanan data dan suara, solusi bisnis dan layanan digital.

Pada Mei 2021 lalu, Smartfren bersama Telkomsel memenangkan lelang spektrum frekuensi 2,3HHz. Perseroan yang sebelumnya memiliki 30 MHz di pita 2,3 GHz bertambah 10 MHz menjadi 40MHz.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menginformasikan bahwa proses refarming pita frekuensi 2,3GHz ini berjalan lancar dan telah selesai sekitar 67% per akhir Agustus 2021 ini. Sebanyak 6 dari 9 klaster telah rampung dikerjakan. Ditargetkan seluruh proses refarming dapat selesai pada akhir September 2021.

Refarming pada prinsipnya menyatukan pita frekuensi radio yang tadinya terpisah melalui proses penataan ulang. Alhasil, pita frekuensi bakal menjadi makin lebar sehingga bisa menampung lebih banyak data.

Aktivitas ini bakal menjadikan jaringan Smartfren makin lancar. Ini tentu akan makin menguntungkan bagi perseroan dan juga masyarakat selaku pelanggan. Kualitas layanan yang dinikmati pelanggan bakal lebih unggul, baik itu di layanan 4G maupun 5G.

Untuk diketahui, frekuensi 2,3MHz adalah frekuensi yang bakal diperuntukkan bagi teknologi generasi kelima atau 5G. Teknologi ini masih baru di Indonesia dan memiliki potensi yang sangat besar di masa mendatang. Posisi strategis FREN selaku pemenang lelang di frekuensi ini membuka potensi pemanfaatan 5G oleh perseroan di masa mendatang.

Kita sadar, perkembangan era digital terjadi dengan kian pesat, terutama karena dipaksa oleh keadaan pandemi. Makin banyak masyarakat yang terbiasa memanfaatkan teknologi digital untuk sejumlah aktivitas yang dulunya lebih disukai untuk dilakukan secara offline.

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi, jumlah penduduk, penetrasi internet, dan adopsi teknologi digital dalam proses bisnis yang bakal makin meluas, permintaan terhadap layanan data pun akan makin tinggi.

Posisi strategis FREN selaku pemenang lelang 2,3MHz tentu memberikan keuntungan kompetitif bagi perseroan untuk memanfaatkan peluang besar ini.

 

 

Pertumbuhan Bisnis FREN

Seperti telah disinggung sebelumnya, FREN konsisten membukukan kerugian lebih dari satu dekade terakhir. Hingga paruh pertama tahun ini, FREN pun masih rugi. Namun, kabar baiknya, tingkat kerugian perseroan  berkurang signifikan.

Rugi FREN pada paruh pertama tahun ini mencapai Rp452 miliar. Nilai tersebut turun 63% dibandingkan dengan tingkat kerugian pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp1,22 triliun.

Pencapaian ini terjadi seiring dengan naiknya pendapatan sebesar 15,11% year-on-year (YoY) menjadi Rp4,95 triliun, dari sebelumnya Rp4,30 triliun. Kerugian terjadi karena beban usaha FREN masih selalu lebih tinggi ketimbang pendapatannya.

Menariknya, meski pendapatan meningkat, beban usaha perseroan pada paruh pertama tahun ini justru turun 2,7% YoY dibandingkan dengan semester I/2020 lalu, yakni dari Rp5,17 triliun menjadi Rp5,03 triliun. Hal ini turut membantu menekan rugi usaha perseroan.

Berikut ini historis kinerja pendapatan dan rugi FREN dalam lebih dari satu dekade terakhir:

Jika diperinci, pertumbuhan pendapatan usaha FREN pada paruh pertama tahun ini terutama ditopang oleh segmen data yang tumbuh 15,6% YoY menjadi Rp4,6 triliun, sedangkan segmen non-data justru turun 40% YoY menjadi hanya Rp136 miliar.

Sementara itu, pendapatan jasa interkoneksi juga tumbuh tinggi mencapai 45,4% YoY, meski nilainya hanya Rp90 miliar. Demikian juga segmen lain-lain melesat 147,6% YoY menjadi Rp153 miliar.

Penurunan tingkat kerugian FREN yang signifikan pada paruh pertama tahun ini tentu membuka harapan bahwa kondisi ini berpotensi berlanjut. Sebab, kerugian yang terus terjadi selama ini telah menekan ekuitasnya dan mengharuskan perseroan terus melakukan suntikan modal tanpa mampu memberikan imbal hasil keuntungan bagi pemegang saham.

Selama beberapa tahun terakhir, pemegang saham FREN konsisten melakukan suntikan modal, termasuk pada awal tahun ini. Suntikan modal ini memungkinkan perseroan dapat tetap mempertahankan bisnisnya meskipun rugi.

Hingga paruh pertama tahun ini, total ekuitas perseroan mencapai Rp12,61 triliun, sedangkan asetnya mencapai Rp41,77 triliun. Kondisi neraca keuangan ini sudah jauh berbeda dibandingkan dengan posisi satu dekade lalu. Pada 2010, ekuitas perseroan masih minus Rp120 miliar dan aset hanya Rp4,48 triliun.

 

Prospek Bisnis FREN

Kinerja keuangan FREN yang terus membaik selama tiga tahun terakhir tentu menjadi pertanda positif bahwa kinerja bisnis perseroan berangsur tumbuh dan berada pada jalur yang menjanjikan. Apalagi, peningkatan kinerja terjadi di tengah tekanan ekonomi akibat pandemi.

Meskipun demikian, tingkat persaingan di bisnis telekomunikasi sangat tinggi. FREN masih harus bekerja ekstra keras jika ingin mengambil tempat di tengah peta persaingan yang didominasi oleh pemain raksasa seperti Telkomsel.

FREN tentu berpotensi untuk turut serta meramaikan peta persaingan di teknologi 5G. Namun, dalam jangka pendek kehadiran teknologi ini belum akan berdampak signifikan bagi kinerja bisnis perusahaan telekomunikasi.

Ada beberapa faktor penyebabnya, antara lain jangkauan jaringan 5G yang masih terbatas, terbatasnya ponsel atau gawai yang mendukung fitur 5G, serta harga layanan paket datanya yang tentu lebih mahal ketimbang 4G.

Di luar itu, FREN masih harus meningkatkan jumlah pelanggannya lebih banyak lagi agar bisnisnya mencapai level keekonomian yang memadai untuk menghasilkan laba.

Sejauh ini, pelanggan FREN memang terus meningkat. Pada 2017, jumlah pelanggan prabayar FREN baru 12 juta, tetapi pada paruh pertama tahun ini sudah mencapai 30 juta. Namun, jumlah ini belum cukup untuk menolong perseroan menghasilkan laba.

Pelanggan FREN tentu masih berpotensi meningkat di masa mendatang, terutama karena perseroan didukung oleh harga paket data yang lebih terjangkau. Namun, perseroan perlu bersaing untuk memperluas jangkauan layanannya agar makin banyak akuisisi pelanggan baru.

Perseroan mungkin saja harus mencoba mengikuti langkah pesaingnya yang berupaya mencari celah melalui ekspansi ke sejumlah lini bisnis lain yang masih terkait. Hanya saja, langkah ini juga tentu butuh modal dan penuh risiko.

Manajemen FREN berdalih bahwa saat ini perseroan memang masih dalam fase pengembangan bisnis. Fokus perseroan adalah untuk ekspansi dan meningkatkan cakupan jaringan sehingga biaya operasional bisnis pun masih tinggi.

Alhasil, perseroan masih rugi. Namun, saatnya akan tiba langkah investasi perseroan berbuah keuntungan.

Langkah ekspansi ini antara lain dibuktikan dengan keputusan akuisisi atas 20,5% saham PT Mora Telematika Indonesia atau Moratelindo senilai Rp360 miliar pada Mei 2021 lalu. Akuisisi dilakukan oleh anak usaha FREN, yakni PT Smart Telecom (Smartel).

Moratelindo memiliki kabel serat optik yang terbentang sepanjang lebih dari 50.000 km. Infrastruktur ini dapat membantu perseroan dalam memperkuat jaringan telekomunikasi, terutama untuk mendukung pengembangan layanan 5G FREN.

Langkah ini bakal menjadi penopang bagi bisnisnya dalam jangka panjang. Sebab, FREN akan mendapatkan fasilitas jaringan infrastruktur Moratelindo di luar Jawa. Ini bakal membantu perseroan memperluas jangkauannya dengan lebih murah dan meningkatkan basis pelanggan.

Kerja sama ini juga memungkinkan kolaborasi antara FREN dan Moratelindo dalam membantu memasarkan produk mitra kepada basis pelanggan masing-masing. Moratelindo saat ini memiliki layanan internet rumah, yakni Oxygen.id, yang bisa ditawarkan kepada pelanggan FREN. Demikian pun FREN dapat menawarkan layanannya kepada pelanggan Oxygen.id.

Pelanggan korporasi Moratelindo per Mei 2021 dikabarkan sudah mencapai lebih dari 100.000 perusahaan, melesat 150% dibanding posisi akhir 2020 yang baru 60.000 korporasi. Perseroan menargetkan jumlah pelanggan akan mencapai 120.000 pada akhir tahun ini, lalu 200.000 pada akhir paruh pertama 2022.

Jika nantinya jaringan 5G FREN sudah resmi beroperasi, perseroan berpeluang untuk masuk ke basis pelanggan Moratelindo ini. Lagipula, teknologi 5G akan sangat membantu korporasi dalam menjalankan bisnisnya secara digital.

Untuk pelanggan ritel, teknologi 5G mungkin belum begitu mendesak dan harganya pun pada tahap awal tidak ekonomis dibandingkan dengan 4G. Namun, bagi nasabah korporasi, kualitas jaringan layanan justru adalah kunci utama.

Jika rencana ekspansi bisnis ini berjalan lancar, tentu peluang bagi pertumbuhan FREN di masa mendatang bakal menjadi lebih tinggi lagi. Mudah-mudahan dengan itu, FREN dapat keluar dari jerat kerugian yang menahun.

Bisnis